Kamis, 20 November 2014

being me in my life

No matter what's gonna be happen in the future,
I hope there won't be anything i regret. Talking about future is like watching a fantasy movie for me. You won't be able to predict what will happen, even when you already think a lot and making some predictions. There's still many other possibility about whats happen next that u never imagine before. Yaa,, that's truly like fantasy movie, isn't it? Everything are beyond the imagination *lol (not all of course) :p

For not regretting anything, i have to do my best now. Preparing well, and...pray also. As we know that everything happen are under His permission and His control, so just do ur best let the result be His responsibility. Since His plan is always be the best plan :)
And i hope it won't be 'just a plan' for me. Come on!!! You need to take it seriously, dii...

Hhh...so that's how life is. It's more than just melodramatic, it's more than just action, more than just comedy, or even horror. Hahaha... It's complicated. Or should i called it 'completed-genre-movie'? Hehe.  This movie is still playing since 23 years ago. And it can be stop anytime. So, What kind of story that i made? Is it great? I hope it won't be a bored one even actually i have been bored with myself for keep falling in the same mistakes =( *hiks...

This main star is not bright or good enough, just the dumb one with some careless things inside herself but believe me, she always try to be a good one. Even sometimes she keep doing many mistakes, but she won't let herself keep on that mistakes forever.

She's not that good,
She's not that pretty,
She's not that smart,
She's not that bright,
She is just...an ordinary girl that always want to be a good person. And she struggle for that forever.. Inshaa Allah



Selasa, 02 September 2014

Tingkatan Berbuat Baik

Berbuat baik ternyata ada tingkatannya.
Tingkatan tertinggi berbuat baik pada Allah dan RasulNya. Mengapa tertinggi? Karena untuk selalu ikhlas melaksanakannya memang tak mudah. Seperti ikhlasnya para muslimah perancis untuk tetap mempertahankan jilbab ditengah larangan pemerintahnya, seperti para penduduk Gaza yang lebih memilih memakan kucing untuk mengganjal lapar dibanding kenyang dengan hidangan berlimpah tapi berkhianat pada Rabb-nya, seperti imam ahmad bin hambal yg rela disiksa dan dijebloskan ke penjara berkali kali demi mempertahankan kebenaran: al qur'an bukan makhluk tapi wahyu. Ya, memang tak mudah untuk berbuat baik pada Allah dan RasulNya.

Tingkatan berbuat baik selanjutnya adalah berbuat baik pada orang yang menyayangi kita. Contoh paling dekatnya adalah orang tua. Bahkan untuk mengeluh dan berucap 'aah!' Saja pada mereka Allah melarang kita. Percayalah, manusia paling ikhlas dalam menolong dan membantu kita di dunia ini, ialah orang tua kita! Yang paling peduli dan siap mengulurkan tangannya tanpa pamrih, tanpa mengharap lebih. Maka apalah guna memiliki anak seorang hartawan, jika membesuk ibunya saja ia enggan. Apa gunanya anak berpangkat tinggi, jika ia lupa dengan ayahnya yang bekerja dari pagi hingga pagi lagi?
Sebuah teladan indah dicontohkan oleh seorang Doktor dari universitas tempat saya belajar, "tanpa ibu saya ini", katanya sambil mendekap sayang wanita berpakaian sederhana disampingnya, "mungkin sekarang saya hanyalah seorang kuli" ucapnya.
Sungguh ibu dan anak yang beruntung.

Tingkatan terendah dari berbuat baik adalah berbuat baik pada alam dan seisinya. Ya, karena islam adalah rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi sekalian alam. Maka berbuat baik tak hanya sebatas pada sesama manusia, namun kepada seluruh makhluk-Nya. Ingatkah kita, bahkan seorang pelacur pun memperoleh surga karena kebaikannya memberi minum seekor anjing?
Karena manusia diciptakan sebagai pemimpin di bumi, maka berbuat baik pada alam juga merupakan tugas yang diembankan pada tiap-tiap diri.

Sabtu, 09 Agustus 2014

Suatu saat nanti, kalian akan jatuh cinta.

Suatu hari nanti, kalian akan jatuh cinta tanpa dibuat buat. Tanpa perasaan posesif yang kekanak-kanakan atau perasaan ingin pamer kasih sayang yang berlebihan.

Akan kalian temui seseorang yang membuat kalian jatuh hati tanpa alasan.
Yang membuat kalian tidak takut pada jutaan omong kosong soal sakitnya patah hati.
Yang membuat kalian menjadi diri kalian sendiri.
Tidak dengan ucapan manis atau perilaku berpura-pura.
Kalian akan jatuh cinta dengan seadanya, tapi juga dengan segalanya.

Kalian akan jatuh cinta dan berani mempertanggung jawabkannya.
Bukan dengan pujian palsu atau rasa kagum sesaat,
Tapi dengan tatap mata dan rasa saling percaya.

Suatu waktu nanti akan datang seseorang yang akan membuat kalian jatuh cinta tanpa alasan. Yang akan kalian jadikan prioritas.
Bukan sekedar kalian banggakan di sosial media namun kalian bohongi di kehidupan nyata

Suatu hari nanti kalian akan bertemu seseorang yang akan mendengarkan kalian di sisa hidupnya. Yang akan membuat kalian paham benar apa itu kasih sayang.
Membuat kalian tak sabar untuk menghabiskan hari tua bersama, berdua, tanpa ragu, tanpa sempat terpikir untuk berpindah ke lain hati.

From tumblr

Sabtu, 12 Juli 2014

Menikmati Perjuangan 'Summer Ramadhan' di Inggris

By Ummi shiddiq

Ramadhan tahun ini di tempat kami tinggal kembali jatuh pada musim panas di mana muslim di Inggris berpuasa (fasting) sekitar 19 jam, dimulai dari batas sahur sebelum jam 3 pagi dan mulai berbuka lagi malam sebelum jam 10 malam; jauh lebih panjang dibanding di Indonesia yang rata-rata sekitar 12-13 jam, dan selalu sama tiap tahunnya.

Sebenarnya ‘summer Ramadhan’ bukan hal yang baru sama sekali karena kami sudah mulai menjalankannya 4 tahun yang lalu di mana saat itu puasa mesti dijalani sekitar 17 jam setiap harinya.
Teringat ketika kami melalui Ramadhan pertama kami di Inggris 15 tahun yang lalu, begitu mudah dilalui karena bersamaan dengan musim dingin (winter). Puasa tiap harinya kurang dari 10 jam, ditunjang dengan udara dingin sehingga tidak merasakan haus – berbeda jika cuaca sedang panas. Di satu riwayat, Khalifah Umar RA dan Abu Huraihah RA mengibaratkan berpuasa di musim dingin seperti memperoleh pampasan perang (ghanimah) tanpa harus berperang – istilahnya seperti ‘rezeki nomplok’.  Saya tahu persis makna dari kalimat ini karena saya sendiri merasa sangat beruntung karena lewat winter Ramadhan anak-anak bisa diajarkan untuk mulai berpuasa penuh sejak usia mereka masih sangat dini tanpa ada masalah.  Menjalankan puasa sunat selama winter juga terasa sangat mudah dan bisa dijadikan kesempatan emas untuk meraup jumlah puasa sebanyak-banyaknya, menumpuk amal. Layaknya seperti kisah Ali Baba yang sedang mengumpulkan emas sebanyak2nya di dalam gua harta karun; Ali Baba di sini adalah seorang muslim, emas adalah ibadah puasa dan gua harta karun adalah musim dingin.

Tahun berganti, Ramadhan turut bergeser dari winter ke spring (musim semi) hingga akhirnya masuk ke summer (musim panas) di mana siang bisa sepanjang 17-21 jam dan suhu sekitar 28C.  Pertama kali menyadari akan menjalani summer Ramadhan 4 tahun yang lalu, saya memiliki banyak keraguan.  Bisakah saya melalui 17 jam tanpa air dan makanan di tengah cuaca yang panas? Sanggupkah saya melalui aktivitas sehari2 di rumah dan kantor dengan kurang makan dan tidur? Bisakah anak-anak, walaupun mereka sudah terbiasa berpuasa dan sudah lebih besar, bertahan hingga waktu berbuka?

Saya mencari tahu bagaimana muslim Eropa selama ini menjalankan summer Ramadhan dan belajar mengenali beberapa fatwa.  Sebenarnya apa yang kami lalui tidak seberapa dibanding muslim di belahan utara Eropa, seperti Finlandia atau Islandia, di mana pada bulan-bulan tertentu matahari tidak pernah sungguh-sungguh terbenam.

Ulama di Eropa membolehkan mereka yang berpuasa lebih dari 18 jam untuk mengacu jadwal shalat dan puasa ke negara terdekat yang memiliki jadwal matahari terbenam dan terbit yang lebih teratur seperti Saudi Arabia, Mesir atau Turki.  Ini terutama untuk mereka yang tinggal di mana matahari selalu terbit 24 jam.  Tapi selama batas matahari terbenam masih jelas walaupun sangat lama, muslim lebih dianjurkan untuk berupaya mengikuti waktu lokal dengan merujuk ke Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 187:

”… dan makan minumlah hingga terang bagimu benang: putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam…”

Seorang kenalan yang tinggal di Finlandia, memilih untuk berpuasa mengikuti waktu Mekah – 18 jam sehari karena merasa itu sesuai kemampuannya dan tetap mengikuti fatwa.

 Sementara seorang pemilik toko asal Lebanon yang tinggal di sebuah pulau dekat Islandia lebih memilih untuk berpuasa lebih dari 22 jam, sesuai waktu lokal.  Alasannya? Dia percaya dia dan keluarganya adalah satu2nya muslim di pulau itu, dan dia berharap dengan ibadah Ramadhannya yang berat dan panjang, rahmat Allah terus tercurah untuk pulau kecil itu beserta penduduknya. Masya Allah, sungguh saya tercekat mendengar jawaban beliau yang sangat inspiratif sehingga saya bertekad, selama masih sehat wal ‘afiat, untuk ikut berupaya sekuatnya berpuasa mengikuti waktu lokal betapapun panjangnya.

Ramadhan paling berat yang saya rasakan adalah dua tahun terakhir ini di mana panjang puasa mencapai 21 jam. Tahun lalu Inggris diterpa heatwave selama Ramadhan. Heatwave adalah periode yang sangat panas di mana suhu bisa mencapai 36 celsius. Mungkin dengan suhu seperti itu kedengarannya biasa terjadi di beberapa tempat di Indonesia.  Tapi perbedaannya dengan heatwave, matahari terasa sangat besar dan dekat tanpa angin dan awan untuk pereda panas, mengakibatkan hawa udara terasa sangat kering, dan hal ini bisa berlangsung berhari-hari hingga aspal jalanan atau tiang lampu listrik bisa sampai meleleh.  Beberapa teman muslim di kantor memutuskan untuk membatalkan puasa karena merasa tidak sanggup lagi.  Saya sendiri hampir-hampir tidak kuat. Untuk menyiasatinya saya memilih mengambil banyak cuti kerja dan lebih banyak berdiam di rumah.

Minggu pertama penuh dengan serangan sakit yang hebat di kepala dan kerongkongan terasa begitu kering dan menggumpal. Saya banyak mengeluh dan mengadu kepada Allah, mengapa ibadah harus sedemikian berat? Bukankah Islam itu mudah dan Allah tidak suka memberatkan hambanya? Kepada kolega non muslim saya berupaya terlihat bugar dan memaparkan teori penghibur saya tentang keadilan antara winter Ramadhan yang sangat mudah untuk mengimbangi summer Ramadhan yang panjang dan berat. Tapi di dalam hati sejujurnya saya merasa berat menjalani hari-hari yang sangat panas dan panjang, terutama tanpa air. Mood saya juga naik turun karena letih menyemangati  diri sendiri dan anak-anak dengan badan yang kian lemah.  Sebagai ibu saya juga merasa dilematis, khawatir jika ada yang jatuh sakit tapi di satu sisi ingin mereka bisa bertahan dan belajar bersabar untuk menguatkan dien mereka. Subhanallah, kedua remaja saya justru malah menolak jika dianjurkan untuk berbuka awal walaupun sudah terlihat lemah.  Malahan mereka lebih cepat beradaptasi dengan panas terik dan kegiatan sekolah.

Kegiatan ifthar atau berbuka juga harus dimanfaatkan seefektif mungkin karena sangat pendek; berbuka dan makan, salat dan tarawih, serta sahur semua harus bisa dijalani dalam waktu 3 jam di tengah malam.  Belakangan kami merasa cukup makan sekali pada saat berbuka. Sahur biasanya cukup dengan air atau susu dan sekerat roti kering atau kurma karena  masih merasa kenyang.  Dampaknya siang hari kami cepat merasa letih karena kurang tidur, kurang makan dan air, ibadah dan kegiatan siang juga terasa berjalan sangat lambat.

Minggu kedua, kami mulai terbiasa dengan rutinitas Ramadhan dengan rasa lapar dan dahaga yang panjang.  Saya pun mulai mengurangi keluhan, aktivitas di rumah dan kantor juga perlahan kembali normal seperti semula.  Sakit kepala juga sudah banyak berkurang dan saya bisa lebih berkonsentrasi dengan ibadah dan aktivitas lainnya.

Minggu ketiga dan keempat, Ramadhan sudah menjadi bagian dari gaya hidup kami: Makan cukup sekali dan menunya juga lebih sehat dengan lebih banyak porsi sayur dan buah; cukup minum air, jus dan susu, tidur malam yang sedikit dikompensasi dengan 2 waktu tidur: setelah subuh sampai waktu kerja/sekolah, dan setelah asar.  Begitu hingga Ramadhan pun berakhir.

Seusai summer Ramadhan yang terberat, saya berupaya merefleksikan diri. Walaupun terasa berat di awalnya, dengan pertolongan Allah SWT kami  dapat memenuhi ibadah puasa. Ternyata niat yang teguh bertekad untuk bisa berpuasa sepanjang waktu setempat yang sudah ditetapkan Allah adalah modal awal yang sangat krusial; dan niat itu harus terus ditegaskan setiap hari sebagai pengingat. Summer Ramadhan juga banyak mengajarkan saya untuk lebih disiplin dalam memanfaatkan dan mengorganisasi waktu; belajar untuk bisa lebih menahan diri untuk tetap stabil, self-control, berupaya lebih bersabar menahan keletihan dari lapar haus dan sakit sehingga tidak mempengaruhi emosi dalam beribadah dan bermuamalah.

Secara scientific manusia sesungguhnya mampu bertahan hidup sehat dengan makan sekali sehari dengan menu seimbang.  Saya hanya cukup menahan lapar haus selama 21 jam dan paling tidak tahu bahwa pada akhir puasa akan ada hidangan yang memuaskan dahaga dan lapar, dan hanya berlangsung selama sebulan. Lain halnya untuk sebagian orang, mereka tidak punya pilihan tapi harus terus berpuasa bahkan di luar Ramadhan dan tidak ada jaminan akan ada hidangan tersedia saat berbuka.

Yang paling berkesan buat saya adalah saat di mana saya berada pada posisi terendah sebagai manusia, dengan sakit kepala yang luar biasa dan lapar haus yang mencekam, saya hanya bisa meratap kepada Allah – memohon belas kasihan dan pertolongan-Nya. Betapa tidak berdayanya saya hanya dengan sedikit kurang makan dan minum, betapa terasa menderitanya saya di tengah hawa yang panas, menyadarkan bahwa sungguh kecil dan lemah diri ini. Semua itu seperti mengembalikan kedudukan saya sebagai hamba-Nya yang cuma bisa bergantung kepada yang Maha Penguasa, Allah SWT. Maka sungguh sangat tidak pantas jika di kemudian hari saya jadi malas bersyukur dan merasa sombong dengan segala nikmat ini.

Usai summer Ramadhan, saya sudah merindukan lagi untuk bisa menikmati perjuangan itu kembali. Saya ingat puasa terakhir di tanah kelahiran yang bagi saya terasa sekadar menahan lapar haus tanpa kesulitan berarti. Saya jadi malas berupaya untuk berkomunikasi yang sesungguhnya, to create a meaningful connection, dengan Allah. Saya mulai kehilangan makna Ramadhan yang sejati dan puasa menjadi hanya sekedar rutinitas. Di tanah empat musim ini di mana Ramadhan setiap tahunnya selalu dinamis dan tidak sama, saya seperti menemukan kembali arti lapar dan dahaga sesungguhnya, mengenali lagi arti pasrah dan tawakal dengan berharap dan menggantungkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah ta’ala. Semoga buah summer Ramadhan ini bisa terus saya jaga dan nikmati, hingga perjumpaan di Ramadhan berikutnya. Insya Allah.

Source: dakwatuna.com

Masya Allah... Malu rasanya kalau kita di Indonesia yg cuma puasa 13 jam tiap tahunnya masih banyak mengeluh.
Ayuk,, tak terasa setengah ramadhan telah terlewati sudah, mari yang setengah ini kita maksimalkan sebisa kita :)

Kamis, 17 April 2014

Pelaku Santai (saya tipe kepribadian)

 ~(-_- ~) gua santaiii bro.... (~ -_-)~ Pelaku Santai (saya tipe kepribadian)

Banyuwangi

Sebenarnya udah lama mau ngupload, tapi baru sempat sekarang, hehe. jadi saudara-saudara, ini kali kedua saya berkesempatan mengunjungi Banyuwangi, dan dua-duanya dalam rangka kondangan ke nikahan kakak kelas. namun yang membuat perjalanan  kali ini berbeda adalah karena saya menginap di rumah sahabat sekaligus temen seperjuangan saya di LKI dulu. ukhtina isna Afifaya (itung-itung sekaligus silaturahim).
Duh, kalau diingat-ingat, kami sangat berterima kasih sekali dengan Isna dan kedua orang tuanya, karena kami dilayani seperti anak sendiri.diajak jalan-jalan pula. tak hanya itu saudara-saudara, waktu akan pulang, kitapun dibekali oleh-oleh, jadi kami gak perlu repot nyari buah tangan buat para penghuni kontrakan. duuh, berasa pulang kampung beneran pokoknya,tapi pulang ke kampung orang,haha.
Baiklah, karena tak lengkap rasanya jika cerita ini tak disertakan gambar-gambar hasil jepretan amatiran saya, maka ini dia gambar-gambarnya :D (mohon maaf karna sedikit,maklum, fotonya tersebar di berbagai kamera & belum sempat dikumpulkan semua) (-__-) 





Minggu, 13 April 2014

Hati Yang Merunduk

Inilah engkau yang menjadi jalan hidayah bagi semesta, rahmat dan cahaya yang menerangi gelap hati, Allah menuntunmu untuk merundukkan diri. Sebab bagi hati yang merunduk tak ada lagi kerendahan tuk jatuh. Sebab dalam hati yang merunduk, terbuncah cinta yang utuh. Sebab atas hati yang merunduk, segala kepongahan akan takluk. Sebab pada hati yang merunduk, cinta manusia mengalir teruntuk. Sebab terhadap hati yang merunduk, semesta akan bertepuk.
Tapi segala ketundukan dan kekhusyukan hatimu hanyalah untuk mengundang cintaNya, bukan sorak-sorai manusia.
Maka izinkan kami belajar darimu wahai hati yang merunduk. Bahwa jika diri merasa besar, kami harus memeriksa hati. Mungkin ia sedang bengkak. Jika diri merasa suci, kami harus memeriksa jiwa. Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani. Jika diri merasa tinggi, kami harus memeriksa batin. Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan. Dan jika diri merasa wangi, kami harus memeriksa niat. Mungkin itu asap dari ‘amal shalih yang hangus dibakar riya’.
Shalawat dan salam bagimu duhai Nabi yang rendah hati; yang terpuji di langit dan bumi.
(Salim A. Fillah)

Kamis, 27 Maret 2014

Sahabat Sang Nurani

Satu saat, kuminta nasehat pada seorang sahabat
Aku merasa tak layak akh, katanya
Aku tersenyum dan berkata
Jika tiap kesalahan kita dipertimbangkan
Sungguh di dunia ini tak ada lagi
Orang yang layak memberi nasehat
Memang merupakan kesalahan
Jika kita terus saja saling menasehati
Tapi dalam diri tak ada hasrat untuk berbenah
Dan menjadi lebih baik lagi di tiap bilangan hari
Tapi adalah kesalahan juga
Jika dalam ukhuwah tak ada saling menasehati
Hanya karena kita berselimut baik sangka kepada saudara
Dan adalah kesalahan terbesar
Jika kita enggan saling menasehati
Hanya agar kita sendiri tetap
Merasa nyaman berkawan kesalahan
Subhanallah, di jalan cinta para pejuang
Nasehat adalah ketulusan
Kawan sejati bagi nurani
Menjaga cinta dalam ridha-Nya
Salim A. Fillah.
Jalan Cinta Para Pejuang, hal.283

Dan Untuk(ku) Perempuan



“Anda dengan kecantikan yang anda miliki lebih anggun dari pada mentari. 
Anda, dengan akhlaq yang anda miliki, lebih harum dari pada kasturi. 
Anda, dengan kerendahdirian yang anda miliki, lebih tinggi daripada rembulan.
Anda dengan sifat keibuan yang anda miliki, lebih menyegarkan daripada hujan. 
Oleh karena itu, peliharalah kecantikan itu dengan iman. Peliharalah kecantikan itu dengan sifat qana’ah. Dan peliharalah kesucian diri itu dengan hijab
Ketahuilah bahwa perhiasan anda bukan terletak pada emas dan perak dan bukan pula pada berlian yang anda kenakan, melainkan pada dua raka’at dipenghujung malam, kehausan ditengah hari yang terik sebab puasa karena Allah, shadaqah yang tersembunyi tanpa ada yang mengetahuinya selain Allah, air mata hangat yang membersihkan dosa, sujud yang lama diatas hampara sajadah, dan rasa malu kepada Allah saat dorongan kejahatan dan rayuan setan datang menggoda. 
Jadikanlah taqwa itu bak pakaian anda, niscaya anda akan menjadi wanita yang tercantik didunia meskipun pakaian anda tambal sulam. Jadikanlah rasa malu sebagai baju kurung anda, niscaya anda akan menjadi wanita paling anggun didunia meskipun anda tidak beralas kaki. Hindarilah pola hidup seperti yang dilakukan wanita-wanita fasiq dan nonmuslim, yang suka memperlihatkan daya tarik untuk memikat lawan jenis dan menjadikan tubuhnya sebagai komodity kaum pria tanpa mengidahkan norma-norma susila, karena sesungguhnya mereka adalah bahan bakar neraka Jahannam. “Tiada yang memasukinya kecuali orang-orang yang paling celaka’ (QS 92: 15) “

Kamis, 13 Maret 2014

Paralayang

            Hari ini, seperti hari hari yang lain, keluarga An-Nahl membuka pagi dengan sholat subuh berjamaah, matsurat pagi bersama dan taujih. hingga sebuah ketukan pintu rumah membuyarkan aktivitas kami.                     

         "assalamu'alaykum...." terdengar sebuah suara. Sejurus kemudian sesosok cewek berjilbab biru mengenakan  jaket biru dongker bertas ransel lengkap dengan helm merah telah memasuki rumah kami. setelah salam yang diucapkannya di awal, ia tidak mengucapkan satupun lagi kata. Ia diam dan matanya memandangi satu per satu wajah kami yang terbengong-bengong.
          
Matanya kemudian menangkap wajah saya. tanpa berkata-kata ia cuma mengangguk. membuat saya semakin bingung. Bukan karena saya tidak mengenal sosok tersebut yang tanpa kabar berita langsung mendatangi rumah kami ba'da subuh. Saya mengenalnya, kenal dekat malah.
          
             "Eh ukht, numpang ngecash hp dong" katanya kemudian dengan gestur mencari cari colokan listrik plus charger hp.
                 Kami masih terdiam di posisi yang sama. Tasia, si bungsu dikontrakan menoleh bertanya "mbak diah udah janjian?" wajahnya bingung. dan saya yang ditatap tetep bengong dan perlahan menggeleng. Setelah mencash hpnya sosok itu kembali menatap saya. 
                 
                "ayo ukht, berangkat" katanya, semakin gak jelas.
                  
                 "kemana?" ucap saya akhirnya. 
             
             "bawa kamera ya, antum punya kamera gak?" katanya lagi, mengacuhkan pertanyaan saya barusan.
              Saya diam berusaha mencerna situasi, tapi tetap gagal paham. "anti ngapain kesini subuh-subuh gini?" tanya saya.
              Ia tersenyum, oh bukan! nyengir lebih tepatnya. "hehe, ayo ke paralayang..." katanya tanpa beban.
             "Perasaan gak ada janjian deh" protes saya.
            
             "hapeku mati ukht...ayo cepet." katanya lagi tanpa rasa berdosa.
             
             Saya pingin protes lebih banyak lagi, namun urung. Yaudahlah asik juga kayaknya kesana, pikir saya. Semenjak kami berdua berteman dekat, Elivi (oh iya, saya lupa mengenalkan namanya. namanya Elivi salah satu sahabat terunik saya) selalu meng-iming-iming saya tentang paralayang.
     
             "pemandangannya ukh... buuaagus bangeeeet, antum harus ngerasain sensasinya saat awan berjalan melewati antum. udaranya dingin.......kalau tilawah disana...puiiih,, 2 juz pun habis, gak kerasa" katanya bersemangat.

            "gak usah cerita kalau gak mau ngajakin kesana!" timpal saya jutek. maklum, saya sudah terlalu sering mendengar cerita tentang paralayang darinya. Sekali dua kali, masih mendengarkan dengan seksama, lama-lama, mulai melengos dan berlalu. haha

             "Kenapa sih pi, tiba-tiba gini ngajakin ke paralayang?" tanya saya di jalan.

             "karena aku liat tadi langitnya cerah ukht" jawabnya singkat.

             "lah terus?" tanya saya tidak mengerti.

             "ya jadi kayaknya enak aja duduk-duduk disana" jawabnya. 
            
             Saya terdiam, tidak berminat melanjutkan percakapan. Teman saya yang satu ini memang begitu, sering tidak terduga. orangnya lucu sekali. meskipun yang lebih sering ngelawak adalah saya, tapi Elivi dengan 'ketidak terdugaan'nya itu selalu membuat saya speechless kemudian ngakak sendiri. Kalau ngelihat saya ngakak karena sikapnya, dia selalu bingung.

           "kenapa sih ukht, ketawa ketawa gak jelas" tanyanya bingung..

           "hahaha...pi...pi...anti emang sesuatu banget" jawab saya sambil tetap tertawa memegangi perut.

Begitulah, mungkin karena itu kami cocok. saya suka ngebanyol dan ngisengin dia, dia suka mengejutkan saya dengan 'ketidakterdugaannya'. terbukti. biar kenal sebentar, kami langsung akrab. kemana-mana seringnya barengan (sebenarnya karena sayanya yang suka nebeng motornya sih, hihi).

Pernah ketika datang ke suatu kajian, saya (lagi-lagi) nebeng motornya. ketika sampai di pengajian, rupanya ada sepasang pengantin baru hadir, dan sang Ustadz, langsung menyalami "ahlan wa sahlan pengantin baru.." sapa beliau sambil tersenyum. yang disapa cuma tersipu. melihat itu Elivi berbisik kepada saya

            "tuh ukht, datang kajian tuh bareng suami, ana bosen datang kajiannya bareng ama anti mulu" katanya.

                "eh..eh...jangan salah, gini gini nih temen bisa jadi saksi di akhirat nanti, kalau anti pernah dateng ke kajian. siapa tahu aje, gara-gara kesaksian ana, anti bisa dimasukin ke surga" jawab saya meng-copy-paste ucapan ustadz di depan. dan kamipun kembali tertawa.

Begitulah, akhirnya kami sampai di paralayang dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. eh, ada ding!. kami lupa bawa bekal makanan, akhirnya kami cari-cari toko kelontong terdekat untuk mencari snack sekedar pengganjal perut. dan Elivi yang beliin, karena saya lupa bawa dompet. hihi (malu-maluin). Dan here's some pictures of paralayang yang selalu dibangga-banggakan Elivi :







             






Minggu, 23 Februari 2014

Menapaki jejak perjuangan

'Sebuah Perjuangan tak selalu heroik' 

Saya mendapat kalimat itu dari suatu sumber (dicari-cari lagi gak nemu, maaf tak bisa dicantumkan). beberapa orang yang saya kenal begitu menginspirasi saya dengan sepak terjangnya yang luar biasa di bidang masing-masing. saya jadi berpikir "lalu hal spektakuler apa yang bisa kau hasilkan?"  diam sesaat. lalu menjawab 'gak ada'. 

kadang kita berpikir keras. 'apa nih?', apa yang bisa bikin beda? apa yang buat jadi luar biasa? atau bahasa lainnya, apa yang membuat perjuangan kita ini nampak keheroikannya?. padahal kawan, (masih menurut sumber yang sama) perjuangan gak harus heroik untuk disebut perjuangan. lihatlah para sahabat. memang ada seorang Khalid bin Walid, sang pedang Allah yang begitu piawai di bumi peperangan, strateginya begitu tepat dan tajam. membuat banyak sahabat berdecak.

namun di lain sisi, juga ada amalan sederhana seorang Ummu Majan, yang segenap hati menjalankan amanahnya menyapu dan menjaga kebersihan masjid di madinah. amalannya sederhana, namun ikhlas dan konsisten beliau laksanakan. amalannya sederhana, tapi tujuannya mulia. 'ingin agar seluruh pengunjung masjid dapat beribadah dengan nyaman dan khusyuk. ingin agar rumah Allah terlindungi dari najis dan kotoran yang dapat merusak kesuciannya'. 

tak hanya dua orang sahabat Nabi itu, Mungkin banyak sahabat nabi lainnya yang tak kita kenal namanya tapi mereka memiliki amalan yang 'spesial' di mata Allah maupun manusia lainnya. kuncinya adalah 'bergerak, dan bermanfaat serta ikhlas karena Allah'.

Disuatu kesempatan saya bertemu seorang ibu yang menurut saya sangat inspiratif. beliau merupakan pendiri sebuah lembaga pemberdayaan masjid dan mushalla. sudah banyak kegiatan-kegiatan edukatif dan produktif yang dihasilkan dari masjid-masjid yang beliau bina. tak hanya itu, beliau juga sukses (menurut pandangan saya) mendidik anak-anaknya menjadi anak yang cerdas dan tanggap lingkungan serta bervisi. 

saat itu saya bertanya pada beliau "langkah awal apa yang harus saya lakukan untuk membuat suatu gerakan yang bermanfaat seperti ibu?"
beliau tersenyum kemudian menjawab.
"itulah kesalahan kebanyakan orang. mereka selalu bertanya, apa yang awalnya harus saya lakukan, atau mulai darimana, atau hal besar apa yang akan saya lakukan?. saya tak pernah berpikir mulai darimana, karena bertanya seperti itu menandakan kita kurang kreatif"

Sang ibu melanjutkan lagi. "keinginan awal saya dulu hanya 'ingin mengajar ngaji di TPA'. karena saya merasa malu, bisa ngaji tapi tidak membagi ilmu yang saya miliki. kala itu saya tersindir dengan teman kristiani saya, yang dalam kesibukannya sebagai ketua osis masih menyempatkan diri tiap minggunya untuk mengajar anak-anak kampung di sekolah minggu. Dia mengajarkan pelajaran dasar seperti berhitung, bahasa inggris, dan lain-lain dengan bermodal gitar, dia mengajar dengan nyanyian agar mudah dihafal. dan yang membuat saya lebih malu lagi, anak-anak yang diajar kebanyakan adalah muslim.

sayapun termotivasi untuk berkontribusi. diawali dengan menjadi guru ngaji di TPA. dan ketika pekerjaan ini saya lakukan dengan sungguh-sungguh dan rutin, Allah menunjukkan hasilnya. ya seperti sekarang ini". tutur beliau

Saya manggut-manggut. Terbukti memang, hal luar biasa itu berawal dari sebuah kesederhanaan. dan seringnya kesederhanaan yang dilakukan secara istiqomah inilah yang menjadikannya jadi sesuatu yang "Luar biasa".
Jadi keingetan juga dengan cerita dek Andita tentang sebuah keluarga dosen di UB yang istiqomah mencucikan mukena yang ada di Mall-Mall. Simple right?? kita juga bisa melakukannya. tapi...nyatanya apakah banyak yang melakukannya? mencari dan mencucikan mukena di tempat-tempat umum? 

simpel kan? mencucikan mukena. tapi kalau dilakukan terus menerus? apakah masih hal yang dianggap biasa?. simpel memang. mencucikan mukena. tapi manfaat dari perbuatan simpel itu sungguh besar pahalanya : menjaga agar yang beribadah dengan mukena itu lebih sempurna sholatnya, karena kesucian mukenanya lebih terjaga. kalau satu kali mukena yang dipakai mengalirkan pahala, kalau mukena yang dicuci gak hanya 1 saja, tapi dari berbagai tempat, dan masing-masing mengalirkan pahala dalam setiap pemakaiannya, masihkah amalan itu disebut amalan sederhana??

sebuah perjuangan memang tak selalu nampak heroik, dan gak harus selalu heroik. karena sesungguhnya hanya Allah yang tahu nilai amalan kita. kan kita gak pernah tahu amalan mana yang akan mengantarkan kita ke surga.

Saya yakin, Allah telah menganugerahkan potensi spesial di masing-masing diri kita. saya, kawan semuanya, pasti ada. dan beda-beda. Dan saat tiap potensi ini disalurkan untuk kemaslahatan umat bersama, akan tercipta kebermanfaatan komprehensif yang akan dihasilkan lebih banyak.

*melirik ke sekitar

dimulai dari yang kecil, yang paling deket. kalau urusan pribadi aja gak bisa beres, gimana mau ngurusin orang lain (ngomong sendiri). 

ayo semangat, bersama-sama. :)

"Godaan terbesar seorang pahlawan adalah menjadi orang yang biasa-biasa saja"
(Anis Matta)

Program Keliling Mall


Sedikit berbagi, kisah di sekitar penghujung tahun 2013

Kala itu, hari pengerjaan tugas take home UAS B.Inggris, yang juga ada sidang MUM, dan waktunya nge-liqoi juga (Ah, memang padat !) Tak apa because life is never flat ^_^

Sambil menunggu kawand yang masih di sidang MUM, sambil buat sript writ video take home B.Inggris, dan sambi sambi lainnya, hahaha @mushola tercinta [Al-Fatih FKH-UB]

Hingga jelang dzuhur, dan agenda ketiga masih belum beresss, karena ada sesuatu hal dan akhirnya kami putuskan migrasi ke mushola tetangga sebelah (baca: AlHadiid FT-UB)

Di sanalah, kubertemu dg sosok ibu yg hmm… luar biasa, sepertinya 1001 orang yg bisa seperti beliau ^_^ *maaf kalau sedikit lebay

Kuberesskan agenda ketiga di mushola yg juga jadi tempat kongkow2 anak2 FT, melingkar bersama adik2, menyenangkan memang :D hingga di pertengahan agenda, ada seorang ibu dan 3 puteri kecilnya memasuki mushola, wudhu, dan kemudian sholat (krn mmg sudah waktunya dzuhur)

Setelah sholat, mereka ber-gadget ria, bukan.. bukan untuk main game,..si bungsu yang bergadget sambil tidur di pangkuan sang ibu, dan si sulung yg duduk dekat denganku, sedikit kuintip gadget si sulung, (masyaAlloh, ternyata sedang buka aplikasi Al-Qur’an dan dg sayup-sayup ia baca ayat demi ayat) :’)

Sembari menunataskan lingkaranku dg adik2, ku ingin sekali rasanya mengetahui lebih dalam kisah ibu dan puteri2 sholihahnya ini ^_^

Dan Alhamdulillah, selesai juga agenda nge-liqoi… daan melihat agendaku telah selesai, dg hati-hati sang ibu bertanya padaku “Maaf mbak, kalau di sini yang bagian nyuci2 mukenah siapa ya?” dengan sedikit kikuk kujelaskan pada sang ibu “Maaf bu, kebetulan saya bukan dari FT, tapi dari fakultas sebelah, Kedokteran Hewan, kebetulan sdg main saja kesini, insyaAlloh dari teman2 Rohis FT Al-Hadiid bu yang bertanggung jawab mencucikan mukenah2 di sini”

Lantas sang ibu bercerita, kalau beliau adalah isteri dari dosen FT, tepatnya dosen Arsitektur, dan ternyata beliau juga alumni FT kawan-kawan, tepatnya teknik Elektro :D #Mantapks.. Perempuan -> Elektro? Wiw Bingits :D Hehehe tapi di sini bukan romansa cinta mahasiswa Teknik yang akan saya bahas, sama sekali bukan, bukan kawan-kawan :D hehehe

Kemudian sang ibu bertanya tentang agenda-agenda kemuslimahan di Univ.Brawijaya, saya jelaskan sebisanya, hingga pembahasan kembali pada masalah mukenah, sang ibu bercerita, kalau sedang memiliki program kecil-kecilan (Ah, tapi menurut saya program yang sedang ibuny garap adalah program besar nan bermanfaat) jadi sang ibu ini senantiasa mencucikan mukenah yang ada di Mall-Mall (beliau prihatin dengan kondisinya) kurang lebih begini penuturannya “Iya mbak, saya kadang prihatin dengan mukenah yang di mall-mall, jadi ndak nyaman juga dipakai buat sholat.. bukan sekedar (maaf, bau) tapi juga kesuciannya belum tentu terjamin juga” mulai penasaran, ku bertanya-tanya tentang program yang ibu tsb buat, “untuk teknisnya seperti apa bu?” “jadi saya bawa untuk dicuci, kemudian saya tinggal beberapa mukena untuk dipakai sampai mukena yang dicuci bisa saya kembalikan” “masyaAlloh ;’)” Berdecak kagum kawand !!! Jarang sekali saat ini ada orang yg peduli akan hal sederhana seperti itu, tak diketahui amalnya oleh org lain cukup sang ibu, keluarga, dan Alloh saja :’) dari satu mall ke mall yang lain :’)

dan tadi diajak suami mbak, “ayo ke kampus mah, rasanya ada juga itu di mushola Teknik” begitu sang ibu menirukan gaya bicara suaminya, “jadi tadi saya dan anak-anak mampir kesini mbak sekalian sholat dzuhur” Terfikir kenapa ndak saya beri no.kaput (ketua keputrian) Al-Hadiid, akhirnya saya beri no. mbak Andina (hanya beda satu huruf dengan nama saya) kepada sang Ibu… hihi, memberanikan diri, mencoba menanyakan kalau untuk luar FT bagaimana bu? Saya bertanya untuk mukena Si Lebah ^_^ Alhamdulillah, boleh kata sang Ibu, akhirnya tukar menukar nomor pun dilakukan :’)

Setelah topik mukenah, kembali pada topik bebas :D Saya tanyakan puteri-puterinya mau kuliah di jurusan apa nantinya, hehe… ujar sang ibu, “ndak usah di teknik yaa nak, cukup mamah sama papah aja yang di teknik ^_^” weleh-weleh bu…

Akhirnya pak dosen menjemput sang isteri dan puteri-puterinya, obrolan dicukupkan sementara sampai waktu yang tak ditentukan, sang ibu dan puteri2nya berpamitan, ahh, keluarga harmonis, isteri sholihah, program yang luar biasa, puteri-puteri sholihah :D Biarpun terkesan modern, kecil2 sudah menggunakan gadged dsb, setiap hari berkeliling dari satu mall ke mall yang lain, tapi tetap Ilallah :’) menggunakan gadged untuk bertilawah, berkeliling mall ternyata untuk mencucikan mukenah yang ada di mall tersebut, MasyaAlloh :’) terimakasih Robbi, hari itu telah Engkau pertemukan aku dengan sosoknya, lagi-lagi.. terhencak kagum, amalan sederhana namun begitu bermanfaat :’) Bukankah sabda kekasih-Nya “Sebaik-baik insan adalah insan yg bermanfaat?”, karena kita tak pernah tahu, amalan apa yang kan membawa kita menuju JannahNya :’) Tak ada yang pernah tau kawand, tugas kita hanya berusaha dan terus berusaha, beramal sebanyak dan sebaiik mungkin ^_^
                “Ya Rabb, jadikanlah kami sebaik-baik insan ya Alloh… insan yang dapat bermanfaat sebaik-baiknya” aamiin

Di akhir sesi lingkaranku bersama adik-adik, “dek, tak ada skenario-Nya yang tak mengandung hikmah, tak ada dek… seperti hari ini, biarpun hari ini kita harus sedikit berjalan dan liqo di mushola tetangga, tapi hari ini Alloh mentarbiyah kita dari sosok sang Ibu” Ibu Rahayu nama beliau, cantik :’) seperti mbak Pipik Dian Irawati, isteri alm. Ustadz Jefri, hehe…

#Mencoba, kurang lebih satu minggu setelah perjumpaan aku dengan sang ibu, hari itu janjian dengan beliau untuk membantu mencucikan mukenah Si Lebah, karena sang ibu masih ada urusan di kantor, akhirnya mukenah diambil oleh suami beliau dan puteri-puterinya, ada yg unik waktu itu “ini saja mbak? saya kira banyak” kata pak dosen.. “nggih pak” waah, dalam hatiku, sepertinya satu bag plastic itu sudah banyak deh, hehe … dan setelah selesai dicucikan Ibu Rahayu kembali menghubungi saya, bahwa mukenah sudah ‘jadi’ dan kembali beliau antarkan sendiri mukenah-mukenah Si Lebah dengan roda empatnya :D

Kini sudah session 2 Si Lebah menggunakan program ibu Rahayu :’) sukses full barokah yah ibu untuk programnya :D

Maaf baru posting, baru teringat lagi ketika Si Lebah sudah session 2, xixi

Semoga menginspirasi kita untuk kian terus bermanfaat :’) Aamiin

-cerita ini diambil dari notes dek Andita A. Aryoko yang dirahmati Allah- 

Sabtu, 22 Februari 2014

Berkunjung ke Madura

         Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 8 agustus saya dan keluarga berkunjung ke keluarga besar ibu di Madura. Ya, kakek nenek saya memang asli orang madura. namun karena bekerja sebagai seorang guru, mbah kung (mbah kakung atau kakek alias grandpa.red) kemudian ditugaskan ke jawa.            
            Jadi ibu saya itu orang madura yang dibesarkan di jawa. oleh sebab itu tante-tante dan om-om saya pun semua di jawa. itulah sebabnya saya tidak bisa berbahasa madura (lho??) hehehe,
           Ya iya, kan semua keluarga ngomongnya pake bahasa jawa, ngapain belajar bahasa madura, pikir saya.
padahal ayah saya yang notabene orang jawa, tepatnya sidoarjo asli pun bisa berbahasa madura, lancar lagi. ckckckck~ *ancene kok arek iki
          hampir 10 tahunan lebih berlalu sejak kunjungan terakhir saya ke Madura (astaghfirullah...). yah,, mungkin salah satu alasannya karena keluarga yang di madura terbilang keluarga jauh,, (kakak atau adeknya mbah.gitu). bahkan dari sekian banyaknya sanak keluarga yang ada di sana yang saya inget namanya cuma dua, bu dheri (kakaknya nenek saya), dan pak lek abas, yang merupakan adiknya kakek saya (astaghfirullah lagi). nama-nama anak mereka?? lupa. antara lupa dan gak tahu sebenarnya. yah, maklumlah berkomunikasi saja kami terhambat (-__-")
          Padahal sadara-saudara di Madura ini selalu menyempatkan berkunjung ke jawa saat salah satu dari kami mengadakan hajatan atau acara lainnya. solidaritas dan kekeluargaan saudara-saudara di Madura ini memang patut banget untuk ditiru (terutama saya tiru). dulu saya sangat tidak suka kalau diajak ke Madura, karna selain gak ada yang dikenal dan semua saudara yang begitu banyaknya itu menggunakan bahasa yang tidak saya mengerti, perjalanan ke Madura terasa lamaaaa dan jauuuuh,, padahal saya ini penderita mabuk darat. muntah-muntah kalau perjalanan kejauhan. apalagi kala itu belum dibangun jembatan Suramadu.
           Namun kawan, dewasa ini (eciyeee~), saya mulai berpikir bahwa alasan-alasan itu terdengar kekanak-kanakan. selain karena saya sudah tidak menjadi penderita mabuk darat, laut dan udara, mengunjungi saudara atau silaturahim adalah hal yang saaangaaaat dianjurkan dalam agama Islam.

"...Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu" (QS. An-Nisa':1)

Anjuran ini juga dibahas dibanyak sekali hadist. salah satunya yang ini :

"Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim" (HR. Bukhari,Muslim, Abu Daud)

Jadi saya pun sudah yakin untuk mengiyakan ajakan buat silaturahim ke Madura kali ini bagaimanapun tidak menyenangkannya nanti. Namun ternyata, semua tidak seperti yang saya duga. perjalanannya menyenangkan, and i have a lot of fun there! banyak pelajaran juga yang saya dapat.

Pertama, karena menyeberang ke madura lewat suramadu ternyata menyajikan pemandangan laut yang indah. akhirnya kesampaian juga liat laut. padahal sudah saya impi-impikan sejak jaman ngerjain skripsi. perjalanan juga jauh lebih cepat. gak perlu ngantri berjam-jam di Tanjung Perak, pelabuhan di Surabaya.

Rombongan kami sampai di tempat saat Ba'da Isya. udah gelap. jadi gak bisa langsung main ke Pantai. saudara-saudara saya tinggal di daerah Camplong, pantai camplong. cukup jauh dari daerah Suramadu. Begitu tahu kami datang, saudara-saudara Madura langsung berkumpul menyambut kami. sama seperti dulu, Semua berkumpul begitu Excited berbagi cerita (tentunya dengan bahasa Madura).

Yang paling senang atas kedatangan kami pastinya Bu Dheri, Bu Dheri ini kakaknya nenek saya. dari seluruh saudara nenek, hanya bu Dheri yang tersisa. usianya sudah sangat tua, beliaupun tidak tahu pasti umurnya. jika ditanya umurnya beliau akan menjawab "banyak sudah." atau "ya kalau sudah tua pasti mati juga". Yang luar biasa dari Bu Dheri ini, beliau memiliki ingatan yang sangat bagus. tidak ada pikunnya sama sekali. beliau mengenali kami semua yang datang, termasuk saya. beliau mengingat semua kejadian, termasuk kakak saya yang sudah punya anak, atau sepupu saya yang sudah jadi PNS, dll. tidak ada yang meleset.

Subhanallah, amalan apa yang dimiliki beliau sehingga Allah menganugerahkan hal ini, batin saya.

Saat mengetahui kami datang, Bu Dheri menangis. saya yang tidak tahu apa yang beliau katakan hanya bisa memeluk untuk menenangkan, namun beliau semakin menangis. setelah itu beliau tidak berhenti menggenggam dan memijat-mijat tangan saya. saya cuma tersenyum saja sementara beliau terus berbicara pada saya. saya menoleh pada ibu berharap ibu menterjemahkan perkataan beliau, tapi ibu sedang bercakap-cakap dengan saudara yang lain. aaahh,, pada detik itu saya menjadi sangat menyesal kenapa tidak mau belajar bahasa madura.


























Esok harinya kami diajak berkeliling kerumah saudara-saudara yang lain. namun sebelum itu, tentu sarapan dulu. karena saudara kami tak akan membiarkan kami pergi dengan perut kosong. daaan,, sungguh bahagianya saya karena menunya semua ikan laut. fresh from the sea, hehe.



Makan seperti ini di Jawa pasti mahal. udah porsinya banyak,, macam-macam lagii. Slurp~
Nampaknya hal menyenangkan ini terlewati saja dari memori saya tentang madura.

Setelah itu para ibu-ibu request ke pasar (ibu-ibu nih ya,, kemanapun berliburnya, tujuannya selalu : Pasar). tapi gak masalah, karena pasarnya ada di pinggir pantaiii,hihi


Sayangnya.. pantainya kurang terawat kebersihannya. padahal pasirnya putih,, bagus banget.

saya baru menyadari. keluarga saya yang di Madura ternyata banyak sekali. dan apa jadinya nanti, jika ibu, bu dhe, pakde, tante atau om saya sudah wafat, siapa yang akan terus menjaga tali silaturahim ini. Tante saya berpesan,
"nanti kalau kalian sudah punya keluarga masing-masing, agendakan buat acara silaturahim begini. mengunjungi tante, bu Dhe, atau pak Dhe. biar tali persaudaraannya nggak terputus"

"insyaAllah tante" jawab saya sambil melirik ke dua sepupu saya.

Silaturahim ternyata banyak sekali hikmahnya. selain berpahala, juga bisa membuat yang dijenguk bahagia dan merasa dipedulikan. selain itu kita jadi tahu, bagaimana kondisi saudara kita, jika ada yang tertimpa musibah harus ditolong, jika berbahagia bisa saling berbagi kebahagiaan. bukankah Rasul menganjurkan mendahulukan saudara atau kerabat dekat jika ingin bersedekah atau berdakwah?

Saya sangat salut dengan kekeluargaan dari keluarga di madura. kadang saat diantara kami ada hajatan atau acara apapun, mereka selalu datang, tak peduli ikatan persaudaraan masih tergolong saudara jauh, tak peduli seberapa capeknya, tak peduli juga biayanya. tak peduli jika nanti disana tidak memperoleh persinggahan yang nyaman. yang penting kewajiban silaturahim sudah tertunaikan.

Saat berangkat, mobil kami penuh dengan beberapa oleh-oleh yang kami persiapkan untuk mereka, namun saat pulang, barang bawaan kami masih penuh, bahkan bertambah. karena mereka membawakan oleh2 yang banyaaak sekali. subhanallah,, saya terharu. padahal kondisi mereka juga bukan orang yang terlalu berlebih. mereka rela menemani kami seharian berkeliling sebagai pemandu jalan mengunjungi sanak saudara, padahal mereka pun juga ada agenda yang harus dikerjakan. tulus ikhlas memuliakan tamu.

   Di tengah kunjungan saya mengamati "pemandu jalan" kami. wajahnya mirip dengan wajah nenek saya yang sudah meninggal. beliau tampak sedikit kelelahan. saya menyodorkan sebotol teh padanya sambil tersenyum. beliau tersenyum, sedikit kikuk. mungkin canggung, karena beliau tidak bisa berbahasa Indonesia. aaah,, lagi-lagi saya menyesal tidak bisa berbahasa madura.

Sorenya saat kami pamit pulang, Bu Dheri sempat mencegah kami. beliau masih kangen katanya. namun setelah dibujuk beberapa kali, beliau mengikhlaskan juga kami untuk pulang. hmmm, sungguh silaturahim yang menyenangkan. menghapus kesan buruk saya tentang madura. kalau liat madura ini, jadi inget Korea yang bangga banget sama Busannya atau Jepang dengan Okinawanya. sama-sama daerah pantai kan?

coba kalau dikelola dengan apik, pasti berpotensi sekali untuk dijadikan obyek wisata. pantai berpasir putih yang bersih, hidangan seafood. waaah.... yah semoga madura semakin maju kedepannya. jadi inget motto teman saya yang dari madura "Madura madani"... semoga segera tercapai (aamiin) :)

Foto foto buat kenang-kenangan
Ikan bakal dijual
Laut...laut.. posisi tepat didepan rumah :D
Foto Lagi
Nemu Warung yang Jual Rujak Uleg Madura
Inilah Rujak Uleg madura, dengan Petis special yang cuma ada di madura. Wajib coba,, enak pake banget :)

Yang bikin tambah enak makannya di depan pantai dengan semilir angin

sekian cerita kali ini,, semoga kita selalu menjadi muslim yang selalu menjaga silaturahim :D

Jumat, 21 Februari 2014

Suriah (masih) Berdarah


Maaf jika gambar ini mengganggu harimu


Tapi inilah yang terjadi di Syria berlanjutan ke tahun ketiga. Tiada apa-apa yang istimewa dengan gambar ini, INI HANYALAH KISAH BIASA ANTARA IBU DAN ANAK DI SYRIA.


Sekilas pandang, dan berlalu pergi...

Selasa, 18 Februari 2014

Lagi, Penindasan terhadap Kaum Muslim

      Saat mata kaum muslim dunia masih tertuju pada mirisnya kondisi umat muslim Suriah dan Mesir yang berdarah, dunia Islam kembali dikejutkan oleh berita pembantaian muslim di Afrika Tengah. Dan lama sebelumnya pun, telah kita dengar derita mslim Rohingnya, serta perjuangan tanpa henti mujahid Palestina

Ya Rabb,, 
Mungkin ini teguran dari-Mu pada kami, agar kami tak menjauh dari munajat kami dan sujud kami padaMu
Mungkin ini cara-Mu menghapus dosa-dosa serta maksiat yang kami perbuat
Mungkin ini cara-Mu mengingatkan kami agar tak lagi terlena oleh kesenangan dunia, agar kami terus berupaya berjuang memperbaiki umat ini.
Karena mungkin ini isyarat, bahwa kami harus segera bangkit.
karena memang kemenangan hanya akan terjadi saat kami menyatukan kekuatan bersama.
Dengan Allah dalam dada, dengan Allah tujuannya, maka kami kan berjuang bersamaNya
dan kekuatan manakah yang dapat mengalahkan saat Allah bersama kita?

"Jika Allah menolongmu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkanmu. Jika Allah membiarkanmu, maka siapakah yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal" (QS. Ali-Imran:160)

Dan kami yakin, kemenangan itu akan tiba, saat kebenaran terkuak, hingga terbelalak mata mereka yang mengingkari Ajaran-Nya. Hingga tak henti kucuran tangis penyesalan membasahi mata manusia-manusia yang menentang-Nya. Dan senyum terkembang dihiasi setitik kilau air mata haru penuh syukur disudut mata tergambar hanya pada wajah bening tak kenal gentar kaum mukminin.

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah dirihai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku" (QS. An-Nur:55)

Wahai saudaraku muslimin, akankah kita tetap diam???!






































Karena keimanan butuh dirawat

Oleh Abdullah Haidir 



Umumnya, jalan-jalan ketaatan yang Allah berikan akan mengantarkan kita pada hidayah dan keimanan yang lebih kuat. Sebaliknya, jalan-jalan keburukan dan kemaksiatan yang Allah larang, akan mengantarkan kita pada kelemahan iman dan kesesatan.

Akan tetapi, jangan pernah berhenti pada kondisi yang kita alami sekarang ini. Jika kita berada dalam hidayah, jangan sombong, seakan-akan keselamatan telah diboyong. Sedangkan jika kita berada dalam kubangan dosa, bertaubatlah segera. Jangan putus asa, seakan tidak ada pintu keselamatan yang terbuka.

Prinsipnya…. Jangan pernah berhenti merawat, menjaga, menyuburkan keimanan, baik dengan doa, ibadah dan berbagai ketaatan serta menjauh dari kemaksiatan.

Sebab, dalam beberapa kondisi, hidayah adalah misteri;

Nabi Musa yang diasuh Fir'aun menjadi tokoh beriman dan pejuang, namun Kan'an yang diasuh oleh Nabi Nuh alaihissalam, justeru kufur dan membangkang….

Asiah isteri Fir'aun yang tinggal di istana bersamanya, tetap istiqamah dalam iman. Namun isteri Nabi Nuh dan Nabi Luth alaihimassalam justeru memilih kesesatan.

Abu Thalib yang begitu dekat dengan Rasulullah saw, meninggal tanpa membawa iman, sementara Ushairam (salah seorang shahabat yang baru masuk Islam, tak lama kemudian syahid di medan juang) di kesempatan terakhir kehidupannya membawa syahid meraih impian.

Najasyi, raja Habasyah, negeri tujuan hijrah para shahabat pertama kali, dikabarkan akhirnya menerima Islam dan mati membawa keimanan. Sementara Ubaidillah bin Jahsy yang hijrah bersama isterinya Ummu Habibah ke Habasyah untuk menyelamatkan imannya dari kekejaman kafir Quraisy, justeru di sana murtad, dan akhirnya mati dalam kekufuran.




Di negeri-negeri Islam, tidak sedikit generasi muslim yang kepincut budaya western, sedikit demi sedikit mereka menjauhi Islam sebagai pedomannya. Sementara di Eropa-Amerika yang menjadi sumber budaya tersebut, orang kafir berbondong-bondong mempelajari Islam untuk memeluknya.

Di kantor dakwah tempat saya bekerja (Riyadh), hampir setiap hari ada orang mengucapkan syahadat ingin mendapatkan nikmat Islam, tapi sekitar dua pekan lalu saya kedatangan suami yang membawa isterinya (warga Indonesia). Dia mengadu bahwa isterinya ingin keluar dari Islam...!

Allahumma yaa muqallibal quluub, tsabbit quluubanaa alaa diinik….
Allahumma tawaffana muslimiin wa alhiqnaa bisshaalihiin....


Yaa Allah yang membolakbalikkan hati, tetapkan hati kami dalam agama-Mu…
Ya Allah, matikan kami sebagai orang muslim dan kumpulkan kami bersama orang-orang saleh....