Minggu, 11 Desember 2011

ikhlas: menyisakan tanda tanya???







bismillah,
ketika hati tergerak untuk menunaikan sebuah amalan, namun tiba-tiba terdengar bisikan 

"ah, ikhlaskah aku melakukannya? bukankah percuma saja jika amal yang ku lakukan ini tanpa dibersamai dengan keikhlasan? layaknya tumpukan demi yang nampak bermassa dan padat, namun hilang dalam sekejap ketika angin menghembusnya?"

"seribu yang ikhlas lebih baik daripada shadaqah satu juta namun tak ikhlas"
mungkin memang benar sekilas. tetapi......, jangan sampai kita rancu mengartikan kata "ikhlas" dengan "merasa ringan".

bisa jadi yang seribu terasa ikhlas karna mengeluarkannya terasa ringan baginya, sedang yang sejuta tak ikhlas karena berat mengeluarkannya untuk diinfaqkan.

teringat akan firman Allah
"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. " (QS. At Taubah:41)


berangkatlah... meski kamu merasa ringan, maupun berat....

sepenggal ayat ini mengingatkan kita pada para sahabat yang mulia, ketika turun ayat mewajibkan mereka untuk berperang melawan kaum musyrikin, 
meskipun dalam hati berat, benci dengan pertumpahan darah, 
namun...., karena cinta, ketaatan, dan iman yang menyala membuat mereka berangkat.

yah! berangkat, meskipun dalam keadaan ringan...maupun berat. 
lantas tidak ikhlaskah mereka?? tidak!! 
meski hati enggan, tapi raga bergerak, kaki tetap melangkah menyambut panggilan jihad. 
benar, ikhlas memang harus di perjuangkan. ikhlas memang harus diupayakan. 

ikhlas, bukanlah sesuatu yang pasif, bukan kata benda, tapi kata kerja.

karena mereka yakin,
karena keimanan yang membimbing mereka. karena bentuk cinta untuk menegakkan agama Allah yang mulia
membuat saya mengerti, keikhlasan itu,
tidak hanya melakukan sesuatu yang terasa ringan, namun juga berat bagi kita. dan  kita tetap melakukannya, karena mengharap ridhoNya, karena memenuhi perintahNya, itulah ikhlas yang diajarkan para sahabat Rasulullah yang mulia pada kita.


ikhlas, selalu menyisakan tanda tanya.
ah, tapi jika ikhlas adalah kata kerja,
maka yang harus kita lakukan adalah  Lakukan....!!! dan biarkan hikmah-hikmah yang tersingkat dalam perjalanan mengamalkan ini memperkokoh keikhlasan kita

Selasa, 01 November 2011

Agar Bisa menikmati Indahnya...

kehidupan memang memberikan kita banyak pilihan. dan masing-masing dari kita bebas menentukan pilihan yang mana yang akan kita ambil. tetapi, setiap keputusan dan pilihan kita, memiliki konsekuensi yang harus dipertanggung jawabkan. tidak hanya pada orang lain, ataupun pada diri sendiri. tetapi, pada yang memberi kita kehidupan ini.

saya rasa, semua orang pasti pernah merasa ragu atau bimbang dengan pilihannya. tetapi, yang mungkin bisa dilakukan adalah kembali berkaca pada hati, bercermin pada nurani, dan menyandarkannya pada ridho Ilahi.

manusia hanya bisa berikhtiar, karena mereka tertabir dari masa depan.
karena yang bisa memutuskan kebenaran hanyalah Allah SWT. semoga setiap langkah yang kita tempuh diridhoi olehNya.

sebuah notes yang mengingatkan saya, yang sering sekali khilaf. semoga dapat bermanfaat juga untuk kita semua, apapun pilihan hidup kita.

Bismillah.
Engkau hanya memerlukan kesadaran, bahwa yang engkau lakukan seluruhnya dalam dakwah ini adalah untuk Allah. Kerjamu untuk Allah. Keringatmu untuk Allah. Waktu yang engkau habiskan untuk Allah. Harta yang engkau alokasikan dalam dakwah adalah untuk Allah. Pikiran yang engkau curahkan untuk Allah. Tenaga yang engkau sumbangkan untuk Allah.

Berjalanmu dalam melakukan semua kegiatan, berangkat dan pulangnya, untuk Allah. Dudukmu dalam mengikuti rapat dan koordinasi, untuk Allah. Suaramu saat engkau menyampaikan pendapat dan pandangan, untuk Allah. Mengawali dan mengakhiri rapat dan semua pertemuanmu, untuk Allah. Program kerja yang engkau tunaikan, untuk Allah. Berlelah-lelahmu untuk Allah. Berpagi-pagimu untuk Allah. Bermalam-malammu untuk Allah.




Engkau hanya memerlukan kesetiaan, bahwa segala yang engkau pikirkan adalah untuk Allah. Segala yang engkau kerjakan adalah untuk Allah. Segala yang engkau rancang adalah untuk Allah. Segala yang engkau inginkan adalah ridha Allah.

Engkau tidak perlu memusingkan dirimu akan mendapatkan apa dalam jalan dakwah ini, karena itu urusan Allah. Engkau tidak perlu merisaukan posisimu seperti apa dalam organisasi dakwah karena telah diatur oleh Allah. Mungkin saja engkau mengetahui ada sebagian orang yang hasad kepadamu, kepada posisimu, kepada kedudukanmu, namun engkau telah menyerahkan semuanya kepada Allah. Engkau tidak perlu menyimpan rasa iri dengki atas posisi, kedudukan, jabatan, dan harta benda yang dimiliki saudaramu di jalan dakwah, karena engkau lebih menginginkan kedudukan mulia di sisi Allah.

Engkau tidak perlu resah memikirkan omongan dan sikap orang kepadamu, selama engkau selalu bersandar kepada Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk berharap-harap jabatan, posisi, kedudukan, kekuasaan tertentu dalam perjalanan dakwah, karena telah dikelola oleh Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk mencari-cari gemerlapnya pujian dalam mengemban amanah dakwah, karena segala puji hanyalah milik Allah.

Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu membawa kesadaran Rabbaniyah dalam segala langkah. Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu mengingat Allah dalam segala kegiatan. Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk memberikan kontribusi terbaik di jalan dakwah, dengan segala potensi dan kemampuan yang engkau miliki, karena Allah.

Engkau hanya perlu menyadari bahwa kemuliaan itu hanya milik Allah. Bukan pada jabatan, posisi, kedudukan, harta dan materi duniawi. Engkau hanya perlu memupuk dan menguatkan kecintaan kepada Allah, karena pada sisi Allah terdapat segala kekuatan dan kesempurnaan. Tidak ada orang terhina selama dia mendekat kepada Allah. Tidak ada orang mulia dalam menjauhi Allah.

Maka, resapilah setiap hari setiap saat, betapa nikmat berada di jalan dakwah ini. Karena proposalmu adalah kepada Allah, bukan kepada manusia. Proposalmu adalah kerja di jalanNya, bukan untuk posisi dunia.

Selamat menempuh jalan dakwah yang begitu nikmat, setiap waktu setiap saat.
(Ust. cahyadi Takariawan)
http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=1799

Senin, 10 Oktober 2011

Yuks Shadaqah saudaraku...!


عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ نَاساً مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ، وَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ : أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا يَتَصَدَّقُوْنَ : إِنَّ لَكُمْ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً وَنَهْيٍ عَن مُنْكَرٍ صَدَقَةً وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ .
[رواه مسلم]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Dzar radhiallahuanhu : Sesungguhnya sejumlah orang dari shahabat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam:

“ Wahai Rasululullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala yang banyak, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka (sedang kami tidak dapat melakukannya)”.


(Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam) bersabda : Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu untuk kalian yang bisa kalian shadaqahkan?:




Sesungguhnya setiap tashbih (subhanallah) merupakan sedekah, setiap takbir (Allahu akbar) merupakan shadaqah, setiap tahmid (alhamdulillah) merupakan shadaqah, setiap tahlil (Laa ilaa ha ilallah) merupakan shadaqah, amar ma’ruf nahi munkar merupakan shadaqah dan bersetubuh dengan istri merupakan shadaqah. 


Mereka bertanya : “Ya Rasulullah apakah jika diantara kami menyalurkan hasrat biologisnya (kepada istrinya) juga mendapat pahala?”, 
beliau bersabda : “Bukankah jika ia menyalurkan pada yang haram itu berdosa? Maka demikian pula apabila ia menyalurkannya pada yang halal, maka ia juga akan mendapat pahala”. (Riwayat Muslim)

-------------

Subhanallah.., begitu dimudahkannya kita untuk bershadaqah. Jadi, gak ada alasan lagi untuk minder dengan keadaan kita. Baik kaya atau pun miskin, tetap memiliki kesempatan yang begitu luas untuk berlomba-lomba meraih cinta Allah. Yuk berfastabiqul Khoirots ^O^

Minggu, 26 Juni 2011

Senjata terampuh seorang muslim

   
      Senjata terampuh seorang muslim = doa. ketika segala upaya telah diusahakan, ketika segala ikhtiar telah dilakukan, ketika semua kemungkinan sudah berusaha diperjuangkan, namun hasilnya tetap nihil, maka satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menggunakan senjata terampuh kita, yaitu doa

jika usaha kita terbatas, maka ada Allah yang Maha kuasa.

          saya percaya dan yakin itu, selalu berusaha berbaik sangka pada Allah. karena memang Allah sesuai prasangka hamba-hambaNya. dan Allah akan menjawab semua doa yang dipanjatkan pada-Nya.
untuk hal-hal yang tidak kita minta saja Allah tak pernah absen untuk memberi, maka untuk doa-doa yang kita panjatkan, bersiaplah untuk menerima lebih dari yang kita minta.

        dan hari ini lagi-lagi Allah menunjukkan kuasa-Nya, ketika masalah datang, berat, segala hal telah diusahakan, namun, gambaran akan hasil kedepan tidak akan sebaik yang kita inginkan, bahkan kebalikan dari yang kita harapkan,
           ketika hanya pasrah yang bisa kita lakukan, saya hanya bisa meminta pada Allah, atas apa yang saya tidak kuasa mengaturnya, karna Dia-lah yang Maha Kuasa. Dia-lah yang maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.
           dan keajaiban itu datang secara tiba-tiba. dengan begitu mudahnya. rasanya sulit untuk saya percaya, tapi beginilah jika Allah sudah berkehendak, segala tampak begitu mudah, begitulah jika Allah sudah memudahkan. tak terhitung sudah berapa kali sebuah permasalahan teratasi sebuah doa :)

begitu bersyukurnya saya, ada Allah, sebaik-baiknya tempat mengadu,sebaik-baiknya tempat meminta.

sungguh, kenikmatan terbesar bagi seorang muslim adalah, kita punya Allah sebagai Rabb kita.

Alhamdulillah, wa syukurillah laa khaula wa laa kuwwata illa billah.
:D

Minggu, 12 Juni 2011

Satu waktu jadi sholeh, lain waktu...., masih sholeh gag yah??



Saya sering mendengar istilah STMJ (sholat Tekun, Maksiat Jalan), ada lagi istilah tindakan penyeimbangan, misalnya, setelah melakukan penggelapan uang atau korupsi, kemudian sebagian uang itu disumbangkan ke panti asuhan atau yayasan sosial yang lain. dalilnya untuk menghapus dosa katanya.

“biar seimbang, ibadahnya ngimbangi dosanya” dialog seorang pemain dalam film layar lebar yang saya tonton.


Terlepas dialog itu hanya karangan seorang script writer, atau improvisasi dari naskah,  kalimat itu tentunya adalah cerminan dari masyarakat saat ini. Menyindir mungkin maksudnya.
Atau mungkin gak perlu seekstrim itu, contohnya saja, banyak dari kita ini mungkin yang setelah datang ke kajian, atau kuliah agama, atau setelah  ketemu ustadz, semangat ber-islamnya tinggi, menggebu-gebu, serasa diri kembali putih, semangat banget untuk membenahi diri untuk jadi lebih baik.
“Pokoknya setelah ini saya harus jadi orang yang lebih baik, harus berubah!!”
Apalagi para pemuda, yang semangatnya menggelora. Masa muda, masa yang berapi-api..... (koq jadi nyanyi yah?).
 tapi, setelah sehari, dua hari, paling lama seminggu kemudian, disaat sudah gak ketemu ustadz lagi, belom datang kajian lagi, gak dapat kuliah agama karena dosennya berhalangan hadir, ditambah dengan teman-teman disekeliling yang membuat hati bahagia, tertawa lepas, hari jadi penuh warna (sedikit mendramatisir),
Rasa-rasanya semangat memperbaiki iman dan taqwa itu menghilang entah kemana, mungkin menguap bersama udara panas di sekitar kita (jika kebetulan musim kemarau), atau luntur bagai baju yang terlalu lama direndam dan gak segera dijemur karena hujan deres (kalo musim hujan), atau mungkin ketinggalan dirumah ustadznya kali yah?hehe. astaghfirullah.....
Ya memang seperti itulah manusia hakikatnya, imannya gak bisa konstant kayak malaikat yang selalu tunduk patuh pada tihtah Tuhannya, yang selalu senantiasa berdzikir di sisi Rabbnya, yang selalu mendoakan orang-orang mukmin yang berusaha menjalankan perintah Allah, meski kita gak pernah minta mereka untuk selalu mendoakan kita.

Ooh, jadi wajar dong kalo giat sholat, ngaji, datang kajian, puasanya bersiklus, kan sudah fitrahnya manusia.
Jadi kalo lagi futurpun wajar dong?? Namanya juga manusia.....,

Yup, setuju banget. Emang wajar banget sifat kita yang kaya gitu. Iman itu emang kadang bertambah

“…dan jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya)….” (QS. Al-Anfāl(8): 2)

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)….” (QS. Al-Fath(48): 4)  

Dan bisa berkurang, atau bahkan hilang

Iman seseorang berkurang bahkan hilang ketika ia berbuat maksiat (HR Bukhari dan Muslim).

Tapi, kita tidak dibiarkan saja membiarkan iman kita bergejolak ditempat, tidak pasti, and gak ada peningkatan atau Naudzubillahi min dzalik penurunan atau bahkan ilang gitu aja. Emang surga punya nenek moyang Loe apa? Hehe, piss man!
Meskipun keimanan kita gak konstant, tapi ada keunggulannya juga, karena gak konstan, kadar keimanan kita bisa terus meningkat, bertambah levelnya, sesuai perlakuan peng-UpGrade-an yang kiat lakukan.
Caranya gimana? Banyak! Macem-macem, tergantung kita mau pilih cara yang mana, and yang pasti kudu Istiqomah. Ada sebuah cerita di jaman rasulullah dalam riwayat Imam Muslim,
...............
Suatu hari, abu Bakar Ash-Shiddiq berkunjung menemui Hanzhalah ibn Ar-Rabi’ dan menanyakan kabarnya

“hanzhalah telah munafik!” katan Hanzhalah sendu.

“subhanallah,” Hardik abu Bakar, “Apa yang engkau ucapkan?”

“Aku sering bersama Rasulullah” kata Hanzhalah, “Beliau mengingatkan tentang surga dan neraka seolah-olah aku melihatnya dengan mata kepala. Namun ketika aku keluar dari sisi beliau, lalu bercengkerama dengan anak-anak serta sibuk dengan pekerjaan, aku pun banyak melupakannya. Semua bayangan tentang Allah, surga dan neraka seakan tak bersisa.”

“Demi Allah! Sesungguhnya kami juga merasakan hal seperti itu!” sahut Abu Bakar membenarkan.
Mereka kemudian mendatangi Rasulullah dan menanyakan urusannya. dengan penuh semangat sekaligus kegelisahan.
mereka mengadukan keadaan dirinya yang serasa berbeda.
Rasulullah tersenyum.
“Demi dzat yang jiwaku di TanganNya” demikian sabda beliau, “Seandainya kalian selalu dalam keadaan sebagaimana ketika kalian ada di sisiku dan berdzikir, niscaya malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat-tempat tidur, dan dijalan-jalan kalian. Akan tetapi sesaat demi sesaat, wahai Hanzhalah! Sesaat demi sesaat wahai Hanzhalah, sesaat demi sesaat!”
..............
Para sahabat nabipun juga mengalami fase-fase penurunan seperti itu, dan Rasulullah pun juga menegaskan, sesaat demi sesaat.
Sesaat demi sesaat, kita berusaha kembali memantapkan hati, meneguhkan tekat, menata niat, untuk selalu istiqomah dalam kebaikan.
Sesaat demi sesaat, kembali mendekatkan diri pada-Nya, melalui ibadah kita, sholat kita, dzikir kita, tilawah kita.
Sesaat demi sesaat menyempatkan diri untuk bergabung dalam majelis-majelis ilmu yang menyadarkan kembali kita akan hakikat hidup di dunia.
Dan yang gak kalah efektifnya adalah, selalu menyibukkan diri dengan kebaikan dan berkumpul dengan orang-orang yang selalu bisa mengingatkan kita untuk selalu dalam kebaikan.

Emang bener-bener bahagia rasanya dikelilingi oleh saudara-saudara yang selalu berlomba-lomba untuk mengamalkan kebaikan.
 Namun yang membuat perlombaan ini indahnya melebihi perlombaan yang lain adalah, masing-masing peseta lomba, tidak saling meninggalkan, berusaha menjatuhkan yang lain untuk membuat dirinya unggul, tidak demikian.
Yang membuat perlombaan ini indah adalah, masing-masing peserta tidak hanya merasa bertanggung jawab menjadikan dirinya unggul, tapi juga merasa bertanggung jawab membuat semua peserta unggul.
Jadi penjagaan diri dalam kebaikan yang juga efektif adalah selalu membersamai orang-orang yang baik. Mau sholeh, yah kumpul sama orang yang sholeh, biar ketularan. Dan bisa nularin temen yang lain.
Semua orang sama, punya potensi kebaikan masing-masing, tergantung gimana kita mau meng-upGrade potensi kebaikan itu supaya meningkat levelnya, and dapat mengurangi dan melemahkan potensi yang gak baik dari diri kita.
Semua tergantung sejauh mana kita mau berusaha. Karena memang

apakah menyangka manusia bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan “kami telah beriman”, padahal mereka tidak kena percobaan?” (QS. Al-Ankabut : 1)

Sebuah pesan pengingat, khususnya untuk saya (hikss...) untuk selalu berusaha istiqomah.

Wahai Zat yang membolak-balik hati. Tetapkanlah hatiku dalam agama-Mu. (HR. Turmudzi dan Ahmad)

Daftar Pustaka
Al qur’an
Al hadist
Dalam dekapan Ukhuwah, Salim a. Fillah




Senin, 06 Juni 2011

semua orang adalah guru kita

Puisi ini saya kutip dari buku ‘Dalam Dekapan Ukhuwah’ karya ustadz Salim A. Fillah.
Membacanya membuat saya menyadari, bahwa setiap orang disekitar kita, baik yang antagonis maupun protogonis,
 Semua.
Yang menurut kita benar, bahkan yang salah.
Yang membuat kita ingin meniru dirinya,
maupun yang membuat kita bersyukur tidak menjadi dirinya, memang seharusnya berada disana,
 Di sekitar kita.
 Untuk membuat kita sadar dan memahami bagaimana menjadi bijaksana ^,^


.....................


Tanah Gersang
Dalam hubungan-hubungan yang kita jalin di kehidupan,
Setiap orang adalah guru bagi kita.
Ya, setiap orang. Siapapun mereka. Yang baik, juga yang jahat. Betapapun yang mereka berikan kepada kita selama ini hanyalah luka, rasa sakit, kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru-guru kita. Bukan karena mereka orang-orang yang bijaksana. Melainkan karena kitalah yang sedang belajar untuk menjadi bijaksana.
Mereka mungkin tanah gersang. Dan kitalah murid yang belajar untuk menjadi bijaksana. Kita belajar untuk menjadi embun pada paginya, awan teduh bagi siangnya, dan rembulan yang menghias malamnya.
Tetapi barangkali, kita justru adalah tanah yang paling gersang. Lebih gersang dari sawah yang kerontang. Lebih cengkar dari lahan kering di kemarau yang panjang. Lebih tandus dari padang rumput yang terbakar dan hangus. Maka bagi kita sang tanah gersang, selalu ada kesempatan menjadi murid yang bijaksana.
Seperti matahari yang tak hendak dekat-dekat bumi karena kawatir nyalanya bisa memusnahkan kehidupan. Seperti gunung api yang lahar panasnya kelak menjelma lahan subur, sejuk menghijau berwujud hutan.
Dan seperti batu cadas yang memberi kesempatan lumut untuk tumbuh di permukaannya. Dia izinkan sang lumut menghancurkan tubuhnya, melembutkan kekerasannya. Demi terciptanya butir-butir tanah. Demi tersedianya unsur hara agar pepohonan berbuah
(Salim A. Fillah; Dalam Dekapan Ukhuwah)

Kamis, 19 Mei 2011

masuk surga susah.....???


Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata 'kapankah datang pertolongan Allah?'. ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat                (QS. Al-Baqarah:214)



Just like my friend said, heaven isn’t easy to reached.
Kita tidak hidup di zaman Nabi hidup, dimana dapat langsung berkaca pada tauladan beliau. Kita tidak juga merasakan kedekatan dengan islam seperti yang dirasakan para sahabat, dimana mereka disana saat wahyu-wahyu dari Allah turun untuk selalu mengingatkan dan menjaga keimanan mereka.
Tapi ingatlah juga sabda Rasulullah dalam sebuah hadist ketika sedang berbincang dengan para sahabat
Rasulullah : 
“Ayyul khalqi ajabu ilaikum imanan ? Mahluk manakah yang keimanannya mencengangkan kalian ?”

Sahabat : 

“Malaikat, Ya Rasul Allah”


Rasulullah : 
“Bagaimana malaikat tak beriman, bukankah mereka berada di samping Tuhannya ?”

Sahabat : “Para nabi, Ya Rasul Allah”


Rasulullah : “Bagaimana nabi tak beriman, bukankah kepada mereka turun wahyu Tuhan ?”


Sahabat : “Kami, para sahabatmu, Ya Rasul Allah”


Rasulullah : “Bagaimana kalian tidak beriman, bukankah aku ditengah-tengah kalian ?“


Sahabat : “Kalau begitu, siapakah mereka Ya Rasul Allah ? Siapa gerangan mereka yang imannya paling mempesona ?”


Rasulullah : “Yang paling menakjubkan imannya adalah mereka yang datang sesudahku beriman padaku, padahal tidak pernah melihatku dan berjumpa denganku. Yang paling mempesona imannya adalah mereka yang tiba setelah aku tiada tapi membenarkanku tanpa pernah melihatku.”


Sahabat : “Bukankah kami ini saudaramu juga, Ya Rasul Allah ?”


Rasulullah : “Kalian adalah sahabat-sahabatku. Saudaraku adalah mereka yang tidak pernah berjumpa denganku. Mereka beriman pada yang ghaib, mendirikan salat, menginfakkan sebagian rezeki. Alangkah bahagianya aku memenuhi mereka.”

Heaven is really not easy to be reach.

Tapi satu yang kadang kita sering lupa 

ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”
                                                                                 
Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih (QS. Al-Maaidah: 58)
 Kuncinya adalah selalu berusaha, mari sama-sama berjuang menjadikan diri kita umat yang keimanannya mempesona dan beliau tak sabar untuk bertemu dengan kita ^^

bukankah Sesungguhnya perjuangan seorang muslim sejati belum berhenti sampai kedua telapak kakinya menginjak pintu surga?

semoga kita senantiasa istiqomah. karena menjadi baik itu memang bukan hal yang mudah, layaknya sulitnya kita mendaki gunung. tapi berusaha untuk tetap baik atau bertahan dalam kebaikan itu lebih susah,  layaknya sulitnya bertahan di puncak gunung.

manusia bukanlah malaikat yang keimanannya selalu tetap, tapi kita juga tidak akan mau menjadi seperti setan. 
lantas? kita setengah malaikat setengah setan? hehehehe mau jadi kayak gitu emangnya?, 
well, ada masa saat keimanan itu turun ada saatnya naik, mari sama-sama menjaga keimanan kita, salah satu caranya dengan cara berkumpul dengan orang-orang yang baik, alias sholeh.  tenang aja, gag bakal ditolak kok kalo mau kumpul-kumpul sama mereka, malah pasti langsung disambut dengan senyuman (kalo mereka gak senyum, yah kita yang senyum duluan, itung-itung ibadah) 


wallahu 'alam bisshawab...


Minggu, 15 Mei 2011

Jihad....., Syeerreeemmm (?)



What will you think if you hear this word?
 Hmmmm, pasti kebanyakan orang (termasuk saya, beberapa waktu yang lalu) akan membayangkan sebuah gambaran gedung-gedung yang porak poranda yang diselimuti asap tebal yang menyakitkan ketika memasuki rongga paru-paru kita. Sayup-sayup terdengar suara tangis dan rintihan menyayat hati dari orang-orang yang meregang nyawa terkena ledakan dan tertimbun runtuhan bangunan (ini bayangan tentang jihad apa salah satu adegan di film action yak?)


Mungkin bayangan diatas yang langsung timbul di benak kita, but im sure, not everyone think so (atau jangan-jangan Cuma saya dulu aja yang mikir kayak gini,hehe)
Anyways, let share some info that i get about it. Ini dari sebuah kajian yang saya ikuti (by the way, udah gak parno or skeptic lagi khan denger kata ‘kajian’?, jangan sampai maraknya kasus NII membuat kita menjauh dari mengikutinya, rugi amat menjauhi taman-taman surga,weeeisss)
Sebelum men-jugde bahwa Jihad adalah sesuatu yang berbahaya, suatu tindakan anarki, tindakan tidak berperi kemanusiaan, dan berbagai tuduhan-tuduhan kejam lainnya, kita harus tau dulu sejarahnya Jihad. 
Harus tahu dulu, bagaimanakah Jihad yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat dulu.
Apakah jihad beliau dulu dengan cara membabi buta? Apakah pasukan islam menyerang secara tiba-tiba tanpa mengindahkan lingkungan sekitar dimana banyak terdapat warga sipil yang tidak berdosa, anak-anak, wanita? Seperti itukah? 
Hmmm, baca shirah aja ah untuk lebih jelasnya (saya juga nih maksudnya) 
Jihad itu suatu yang mulia, sesuatu yang akhirnya mempertemukan kita dengan kejayaan Islam di masa lalu dan bahkan bisa kita rasakan sampai saat ini.

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلّاً وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْراً عَظِيماً
Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk, satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. (QS. An-Nisaa`: 95)
Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728H) mendefinisikan jihad dengan pernyataan: Jihad artinya mengerahkan seluruh kemampuan yaitu kemampuan mendapatkan yang dicintai Allah dan menolak yang dibenci Allah.[ Majmu’ Al Fatawa 10/192-193]
Dan beliau juga menyatakan: Jihad hakikatnya adalah bersungguh-sungguh mencapai sesuatu yang Allah cintai berupa iman dan amal sholeh dan menolak sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.[ ibid 10/191]
            So, terlepas dari pendapat dari para ulama tentang definisi jihad, artinya perang yang sebenarnyakah, menyebarkan kebaikankah, perang melawan hawa nafsukah, Jihad merupakan amalan yang mengantarkan pelakunya pada pahala dan ridho allah, dan bahkan Syahid bagi yang gugur dalam berjihad, yang pastinya menjadi cita-cita seorang muslim.
            Sebuah cerita tentang seorang mujahid di afganistan, ketika sedang meregang nyawa setelah berjihad, ia berkata pada teman disampingnya bahwa ia melihat 72 bidadari surga melambaikan tangan kearahnya.
Subhanallah, dijamin gak hanya teman sang mujahid yang mupeng,kita-kita yang denger ceritanya pasti juga. 
“Ketika melihat kehebatan rasulullah dan para sahabat dalam berjihad juga melihat pahlawan-pahlawan kemerdekaan yang dulu berjuang, kita pasti akan merasa takjub dan bangga. Tapi bangga saja tidak cukup. Kalau kita hanya duduk dan melamunkannya belaka hasil dari perjuangan mereka tidak akan berlanjut dan berkembang, untuk itulah kita harus meneruskan perjuangan mereka” kata Ustadz yang menjadi pemateri kala itu.
Tentunya Jihad yang kita lakukan juga harus sesuai dengan perkembangan jaman dan kondisi saat ini. Jihad dengan tenaga, berjihad dengan ilmu, berjihad untuk kemuliaan agama Allah ini.
(uwaaaa~, T.O.P B.G.T dah). 
Tapi gak menutup kemungkinan kita jihad dalam bentuk perang lho ya, tengoklah saudara-saudara kita di Palestina, Afganistan, irak, dan negara-negara lain yang saat ini tengah berjuang untuk menegakkan agama Allah di bumi mereka. Jihad mereka jelaskan dalam bentuk perang melihat kondisinya, mengancam nyawa.
But wait, saya belum selesai menjelaskannya (duilee, menjelaskan katanya).
Penjelasan diatas belum sepenuhnya dapat menghapus paham keidentikan kata ‘jihad’ dengan ‘teroris’ kan?
Sekedar info, presentase teroris yang ngakunya beragama islam dibandingkan jumlah teroris yang ada diseluruh dunia Cuma 4% (lha, gini kok kayaknya orang islam itu sumber terorisme,ckckck)
Back to Jihad, nih ada beberapa ayat tentang jihad. Ayo kita baca dan kita pahami

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas. (QS Al Baqarah: 190)


Do you realize something? Yup, exactly!
Jihad HANYA DILAKUKAN PADA ORANG-ORANG MEMERANGI AGAMA ALLAH, jadi gak hanya karena orang itu kafir ato musyrik, kita wajib memeranginya gitu (liat ayat ke 190 di atas deh).

"Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil" (QS. Al Mumtahanah, 8). 

"Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu orang lain mengusirmu".(QS. Al-Mumtahanah, 9)

Sekarang mari kita bandingkan dengan terorisme yang marak terjadi.
Gak usah saya jelaskan ya? Udah jelas banget kan perbedaannya?
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). (QS. Al Baqarah: 256)

إِلَّا الَّذِينَ يَصِلُونَ إِلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ أَوْ جَاءُوكُمْ حَصِرَتْ صُدُورُهُمْ أَنْ يُقَاتِلُوكُمْ أَوْ يُقَاتِلُوا قَوْمَهُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَسَلَّطَهُمْ عَلَيْكُمْ فَلَقَاتَلُوكُمْ فَإِنِ اعْتَزَلُوكُمْ فَلَمْ يُقَاتِلُوكُمْ وَأَلْقَوْا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ فَمَا جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلاً
Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk melawan dan membunuh) mereka. (QS. An-Nisaa`: 90)

Oke-oke? Udah nggak parno lagi khan dengan kata jihad? Semoga kita termasuk kedalam orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Amiin
Wallahu ‘alam bissawab

Jumat, 29 April 2011

Ada Apa dengan Islam....???


Bulan april tahun 2011, di Indonesia saat ini sedang booming berita tentang BOM, bom yg dibungkus buku, bom yang di bungkus tas, de Es bE. Berita tentang siapa sebenarnya pengirim ato si Empu bom ini sendiri masih misterius (sepengetahuan saya yang notabene jarang ngikuti berita, tapi drama ngikuti pastinya,huss........ ngawur ajah!! nggak ding, nggak salah maksudnya) dan seperti yang sudah terjadi sebelumnya, lagi-lagi bom-bom ini KATANYA berasal dari kelompok-kelompok yang mengaku dengan gerakan berlandaskan agama Islam.

Tak lama kemudian, muncul kasus penculikan beberapa mahasiswa dari beberapa Perguruan Tinggi di sejumlah wilayah yang kemudian di Bai’at utk masuk kelompok2 yang lagi-lagi mengatas namakan agama Islam.

Sebel....??? BANGET!! Siapa yang punya perasaan sama dengan saya angkat tangan!
Okeh, satu juta orang lebih. Saya sebagai mahasiswa, yang notabene muslim, berjilbab, jadi ikut-ikutan dikhawatirkan sama keluarga (tapi yang ini saya gag sebel, malah seneng berarti keluarga saya sayang sama saya, narsis mode: ON) Tapi sebel without doing anything juga gag ada manfaatnya, gag dapet solusinya juga. Jadi sharing aja deh, saya mau sedikit membagi unek-unek saya.


First of All, before judge anyone else, let’s look at our self first. Untuk saudara-saudara saya muslim di manapun kita berada, mari bertanya pada diri kita masing-masing dulu. sudah cukup mengenalkah kita dengan agama kita tercinta ini? Kalo sudah, sejauh mana? Sudah cukup kenalkah kita pada Rabb qta, Allah azza wa jalla? Sudah kenalkah kita pada sifat-sifat-Nya? Sudah cukup kenalkah kita pada Rasulullah kita, Muhammad Saw? Apakah memang fenomena-fenomena yang terjadi saat ini memang benar-benar sesuai dengan apa yang diajarkan beliau saat beliau menjadi Khalifah dulu? sudah benarkah kita dalam berislam? 


banyak yah pertanyaannya?


Pertanyaan-pertanyaan diatas bukan untuk sekedar dijawab ‘YA’ dan ‘TIDAK’ aja lho yah, harus ada sumber alias sources yang jelas dari setiap jawaban yang jadi landasan kita. Harus kritis dong, as a young generation. Jangan mudah membenarkan, jangan mudah menyalahkan. Jangan mudah membenci, jangan mudah pula menyukai, sebelum antum tahu bagaimana sebenar-benarnya islam memandang masalah-masalah ini (sebelum masuk lebih dalam, saya mau menegaskan sekali lagi nih, ini semua murni opini atawa pendapat saya berdasarkan info dan pengetahuan yang saya ketahui, jadi ada baiknya pembaca cari referensi sendiri yang sahih klo mau dapat jelasnya, ex: Al Qur’an and al hadist).


Pertama, banyak berita yang menyebutkan islam mencintai kekerasan, hukum rajam, membolehkan memukul istri, de es be. Pernah liat film fitna? Ada beberapa potongan ayat al Qur’an yang diambil lalu ditampilkan gambar algojo yang wajahnya ditutupi pake kain hitam memenggal kepala seseorang dengan sadisnya (saya nonton pas kelas 2 SMA, lupa detailnya) waktu nonton saya marah, dan berkata “ini apaan? Al qur’an gag mungkin isinya kayak gini” lalu teman saya yang nonis ato no islam disebelah menyahut “terus ini apa dong klo bukan ayat Al Qur’an?”.


Saya sangat menyesal sekali karna waktu itu tidak bisa menjawab apa-apa. Hanya terdiam. karna memang saya jarang baca Al Qur’an saat itu, apalagi terjemahannya. Saya Cuma diam dengan sesekali berkata ‘gag, Al Qur’an gag mungkin kayak gitu’.

sayangnya waktu gag bisa kembali.hikkss....,

Padahal klo mau aktif belajar dan kritis, kita pasti dapat melihat kesalahannya. Contohnya film fitna tadi, klo waktu itu saya anak yang terbiasa baca Al Qur’an dan membawa al Qur’an selalu di tas saya, maka dengan mudah saya cari ayatnya dan liat keseluruhannya ayat tersebut dan mencari apa maksudnya,


‘Oh...., ternyata itu potongan ayat yang menceritakan tentang peperangan yang terjadi di zaman rasulullah’
Begitu juga masalah hukum rajam, memukul istri,dll. Sekali lagi kalo kita mau mengenal islam lebih dekat maka kita pasti menemukan keindahan dan kedamaian disetiap ajarannya
.


‘Oh, ternyata mendekati zina (segala hal yang bisa mendatangkan nafsu syahwat) aja udah dilarang di al Qur’an apalagi sampai zinanya sendiri, dan zina itu termasuk dosa besar. Dan ruginya juga balik ke kita, karna kita telah menghinakan diri kita sendiri’. 


‘Eehhmmm, berarti islam sangat menjunjung tinggi martabat manusia yah?’ 


hayoo, pernah mikir kayak gitu gag? Ternyata ada ajaran yang sangat indah dibalik hukum rajam yang Cuma diliat kejamnya doang itu. hukum rajam ini gak serta merta diterapkan begitu aja, tapi sebelum-sebelumnya ada ayat-ayat al-Qur'an yang menjelaskan tentang perintah menjauhi zina (jaman sekarang udah pada liat kan efek negatif dari zina ini udah seserem and se'gawat' apa?), jadi orang yang melakukan zina ini adalah orang yang udah kelewatan banget, karena perintahnya gak boleh deketin, eh dia malah udah ngelakuin. so, hukum rajam diterapkan juga untuk semakin mempertegas larangan. biar gak ada yang berani betul buat 'deketin'. nah, hasilnya pasti banyak yang mematuhi kan? artinya tingkat aktivitas perzinahan yang beredar juga berkurang drastis. masyarakat jd lebih aman dan bermartabat (secara, siapa juga yang mau dirajam) ^^


Lalu untuk masalah memukul istri..... , Rasulullah Saw. dalam sebuah haditsnya bersabda,
‘La tadhribu imaallah!’[Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majah] Maknanya, ‘Jangan kalian pukul kaum perempuan!’ 


Dalam hadits yang lain, beliau menjelaskan bahwa sebaik-baik lelaki atau suami adalah yang berbuat baik pada isterinya. [Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Hibban] 


“Sebab itu, maka Wanita yang saleh ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu kuatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS: An-Nisa:34)


Tuh kan?


masalah pengeboman juga, check dulu yang satu ini


“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl:125)


Jadi islam disampaikan dengan cara damai, cara yang baik. Dengan hikmah, dan pelajaran yang baik pula, artinya yang mengajarkan islam terlebih dulu harus bisa menjadi tauladan kebaikan, atau minimal sama-sama melakukan kebaikannya ketika mulai mengajarkannya. 


Terus kok ada perang di Jaman Rasulullah, katanya damai?


Peperangan terjadi karna sebab-sebab tertentu. Salah satunya aja nih, dulu khan umat islam dimusuhi sama kaum kafir Quraisy, sampai-sampai Rasullah hampir dibunuh di rumahnya. Jadi memang peperangan mutlak diperlukan.


Masalah mahasiswa yang diculik itu tuh gimana?


Dari berita-berita di TV, katanya para mahasiswa ini setelah masuk ke dalam kelompok-kelompok ini kemudian berubah. Jadi pendiam, suka membantah orang tua, tiba-tiba celana jadi cingkrang, pake jilbab panjang, bahkan pake cadar (kalo masalah pakaian ini nih saya tersungging berat.



 Gara-gara berita ini, para akhwat jilbab panjang, para ACC atau Asosiasi Celana Cingkrang jadi ikut-ikutan dicurigai, padahal ini kan kita berusaha berpenampilan seperti yang di syariatkan oleh islam,
tapi no problemo, we’re proud to be a muslim, gag peduli anggapan orang yang penting kita dianggap indah dimata Sang Maha pemilik keindahan, Allah SWT,hehehe)


Balik ke perubahan sikap, kembali saya lontarkan pertanyaan, 

benarkah harus seperti itu? Saya pikir semua juga tahu bagaimana Rasulullah mengajarkan pada kita menghormati dan menyayangi orang tua, sampai-sampai berkata ‘ah..!!’ saja tidak boleh. Contoh-contoh lain bisa diliat di beberapa hadist.

Cukup panjang juga yah? Hehe. 


Well, intinya As a Muslim, kita harus mengenal islam kita ini dengan menyeluruh, agar gag gampang terpengaruh dengan segala pemberitaan ataupun segala kondisi yang terjadi. 


Menuntut ilmu agama di samping ilmu dunia itu BUKAN PERLU, tapi BUTUH, karna memang Allah telah memberikan Al Qur’an as our guide in this life. Klo qta jauh dari guidenya, gimana bisa sampai tujuan dengan selamat? 


Semakin kita kenal, maka akan semakin sayang kita pada Allah, Rasulullah, dan agama ini pastinya hingga akhirnya kita dapat mengucapkan dengan lantang
‘Im proud to be A muslim....!!’ 


Wallahu ‘alam.

Kamis, 28 April 2011

a letter for my beloved friends


wah, kangen teman2. wooiii, meind freundin...!! gimana kabarnya disana. miss you all like crazy nih disini (lebay)
hehehe,
sepertinya aura-aura ke'SMA'annya sudah mulai pudar. udah dewasa semua. you are starting looks like a women now.sepertinya semuanya baik2 aja. sehat juga keliahatannya (dari fotonya)
beberapa bulan lagi udah semester 5 yah? udah tua yah kita, udah menginjak kepala dua lagi.


i really can see ur truly self, now.
you all have a different colour. different type of women but those all are really beautifull in your own ways.


sukses terus yah, aku percaya kalian akan selalu bisa memberikan yang terbaik untuk diri sendiri, dan sesama. i'll always support and watching you (hiiiii, a bit scary, isn't it?) hahaha, maksudnya i'll always be here for you even we can't always meet everyday like before.

terima kasih atas bantuannya selama ini, terima kasih untuk semua dukungan, dan kesabarannya dalam menghadapi keusilaan dan kelemotan saya.

semoga Allah swt senantiasa melimpahkan kebaikan, dan karunia-Nya untuk para gadis cantik yang saya sayangi ini
saranghaeYo uri chingu!
sukses terus yah

Senin, 11 April 2011

Banyak tahu atau tahu banyak??


apa bedanya 'banyak tahu' dengan 'tahu banyak'??
terdiri dari dua suku kata yang sama namun hanya dengan perbedaan letak saja sudah menghasilkan makna yang jauh berbeda.
hmmmm....,

yang paling baik yang mana??
 kita simak jawaban berikut ini, survey membuktikan....... (berasa pembawa acara kuis)



Accourding the sources i know, 
banyak tahu itu berarti seseorang banyak mengetahui berbagai hal, tapi sekedar tahu aja, gak mendalam, tidak mengetahui hal itu sampai mendetail.
contoh orang yang banyak tahu :

A: Eh, tadi aq liat si X ngambil mangganya pak Y lho

B: hah? masa? kemaren katamu si X punya buah mangga banyak yah di simpen dirumahnya?

A: iyaa, hmmm..., apa mangga yang dirumahnya kemaren juga dari pohon mangganya pak Y yah?? waaah..., bahaya nih

B:  jadi si X nyuri mangga gitu?

A: bisa jadi....,

C:  heeeiiiy..., jangan su'udzon dulu, kemaren aku denger si X emang nyimpen mangga banyak di rumah. dan mangga itu emang beneran punya pak Y, tapi temen kita si X bukan nyuri tuh mangga, tapi emang dia disuruh pak Y buat ngambilin mangganya beliau.

A: ngapain pak Y nyuruh si X ngambilin mangganya? baik hati banget.

C: dengerin dulu, pak Y itu mau bikin bisnis manisan mangga, nah kebetulan ibunya si X kan jago bikin manisan mangga se-antero kampung tuh, makanya diajak kerjasama sama beliau, gituu... 

B: ooouuh, iya sih aku pernah denger langsung dari pak Y kalau beliau emang bercita-cita jadi intrepreneur, sejak mahasiswa malah pengennya, tapi beliau masih bingung bisnis apa yang sekiranya cocok dijalankan di daerah sekitar sini.

A: oooohh..., gitu yah? hehehe

Dari cuplikan dialog diatas bisa diambil analoginya. 
Si A adalah contoh orang yang banyak tahu. Dia tahu klo hari ini si X ngambil mangga di pohonnya pak Y, dia tahu kalo di rumahnya X terdapat banyak buah mangga (entah gimana caranya bisa dapat info sebanyak itu) tapi dia gak tahu banyak, alias gak tahu secara detail tentang kejadian yang sebenarnya.
Bahayanya kalau modal hanya ke’banyak tahu’an ini menimbulkan kesalah pahaman, atau bahkan fitnah (na’udzubillah). Contohnya si A yang hampir aja menuduh si X pencuri, apa jadinya klo si A akhirnya melaporkan si X ke polisi? Bisnis manisan terganggu, hubungan baik antara si A dan si X pun rusak.
What about Tahu banyak?
Tahu banyak berarti, dia tidak selalu tahu banyak hal namun ketika dia mengetahuinya, dia bener-bener paham dan mengerti tentang hal itu. Dalam hal ini contohnya si B. Meskipun dia gak tahu permasalahan yang menimpa si X, tapi dia tahu, ketika perbincangan berlanjut tentang topik keinginan dan cita-cita pak Y. Bahkan sejak kapan keinginan itu bermula.

Jadi Which one would be the best?

Jawabannya: kayak si C, dia banyak tahu, tapi juga tahu banyak.(hehe)  
Gak cukup banyak tahu, karena klo gag berhati-hati menyampaikan informasi, bisa menimbulkan informasi yang keliru yang bisa merugikan orang lain
Gak cukup tahu banyak, karena menjadi ahli dalam suatu hal kalo gag di bagi dan minta bagian dari ahli lainnya (baca: saling berbagi) juga gak akan bisa menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik.
wallahu 'alam (karena saya merasa gak tahu banyak and gak banyak tahu)



نَضَّرَ اللهُ امْرَءًا سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ، فَرُبَّ مُبَلَّغٌ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ
"Semoga Allah memuliakan seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu dia menyampaikannya (kepada yang lain) sebagaimana yang dia dengar, maka kadang-kadang orang yang disampaikan ilmu lebih memahami daripada orang yang mendengarnya." (HR. At-Tirmidziy no.2659 dan isnadnya shahih, lihat Jaami'ul Ushuul 8/18)

Minggu, 20 Maret 2011

Hidup adalah Pemberian


“Hidup adalah mutlak sebuah PEMBERIAN, Maka siapa-siapa yang enggan untuk memberikan atas apa yang mereka ‘punya’ maka hakikatnya mereka tidak memiliki kehidupan”



Kalimat diatas saya kutip dari slide motivator yang mengisi di suatu acara dikampus saya.

“coba sebutkan bagian mana dari tubuh ataupun hidup anda ini yang bukan merupakan suatu pemberian?” tanyanya kala itu.<span class="fullpost">
Tidak ada yang bisa menjawab karena memang tidak ada bagian dari hidup anda, saya ataupun kita semua yang bukan merupakan suatu pemberian. Baju, pemberian orang tua, kalaupun beli sendiri, pasti uangnya dari orang tua (ngledek maksudnya?) weeeits....., bukan saudara-saudara. Maksud saya, kalaupun kita sudah berpenghasilan sendiripun anda pasti setuju jika saya katakan bahwa keberhasilan anda saat ini tak luput dari jerih payah orang tua anda yang senantiasa MEMBERIKAN segala jerih payah usaha dan kasih sayangnya pada kita (yah kan?.....yah kan.....?).
Yang itu baru dari orang tua, belum lagi dari yang lain-lainnya. Apalagi kalau yang kita bicarakan adalah pemberian sang maha Pemberi, Allah azza wa jalla. Beeiih...., Orang tua kita adalah satu PEMBERIAN Allah untuk kita. Ditambah jasad, nafas, ruh, De Es Be.
Hiks...,hiks...., hiks....(feeling really bad after realise it)
Saya jadi berpikir, apa yang sudah saya berikan selama hidup saya kepada orang lain. Memberi pekerjaan atau tepatnya nambah pekerjaan teman-teman saya sih iya, memberi kesulitan.., heeeeh....., jangan deh jangan sampe. Na’udzubillah.
‘Berusaha’, ‘berjuang’ atau ‘semangat’ kayaknya kata-kata ini sering sekali terucap dari diri saya. Tapi pada kenyataannya saya takut belum benar-benar ‘berusaha’, belum bener-bener ’berjuang’, ataupun belum sepenuhnya ’semangat’ untuk melakukan segala amanah dan tugas saya. Saya masih merasa jalan di tempat.
Setelah banyak sekali PEMBERIAN yang saya terima, ternyata saya masih belum bisa memberikan apa-apa pada semua.
Ckckckckckckck, mengecewakan.
Impian saya banyak sekali, berarti bnyak pula hal yang harus saya lakukan. Tetap berjuang untuk memberi lebih banyak, agar bisa menjadi manusia yang memiliki hakikat kehidupan (^__^), karena hidup adalah sebuah pemberian, maka mari berfastabiqul khoirot dengan memberi sebanyak-banyaknya kebaikan untuk lingkungan kita



Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya
(Laskar pelangi: Andrea hirata)</span>