Sabtu, 23 September 2017

Saat aku menuliskannya

Saat aku menulis kalimat-kalimat yang terlihat sok bijak. Kadang, aku bukan sedang menceramahi dirimu, justru aku sebenarnya sedang menguatkan diriku sendiri.
Saat aku menulis kalimat-kalimat galau. Bukan selalu aku sedang terpuruk, aku hanya sedang menikmati proses yang pernah kulalui. Hanya menghibur diri.
Saat aku menulis kalimat-kalimat yang terkesan garing, memaksakan terlihat lucu. Aku bukan sedang mencoba membuatmu tertawa, aku hanya sedang berusaha menertawakan diriku sendiri.
Tulisan-tulisan itu kadang kusampaikan untuk menampar diriku sendiri. Untuk menghibur diriku sendiri. Meski aku kadang terlihat seperti mengatakan pada orang lain. Aku hanya sedang mencoba, mendengarkan diriku seolah-olah mendengarkan orang lain.
–boycandra

Sabar

Sabar  arti harfiahnya adalah "menahan".
Memiliki sabar berarti bisa menahan diri dari melakukan sesuatu yang tidak disukai atau di ridhoi-Nya. Pada saat-saat sulit, sabar berarti tidak mengeluh, tidak memikirkan pemikiran negatif tentang-Nya, dan tidak berhenti menyembah Dia dan malah berlindung pada hal-hal lain.

Pada saat mudah, sabar berarti menahan diri dari menggunakan rahmat-Nya untuk tidak menaati-Nya. hal ini juga berarti untuk terus menyembah-Nya dengan tekun seperti saat kita di masa-masa sulit, bukan malah terlena dalam waktu dan kemudian membuat kita berpuas diri dan malas kembali taat pada-Nya.

Memiliki sabar berarti teguh. Terlepas dari apa yang diberikan hidup pada kita, jika kita memiliki sabar, kita akan terus mematuhi dan menyembah-Nya, menahan diri dari melakukan hal-hal yang mengecewakan-Nya.

(From tumblr)


*sabar....masih harus terus belajar (T-T  )

"I think the reason we get impatient, stop, and give up is because we want to get paid. But it isn’t Pay Day yet".
— Yasmin Mogahed

Kamis, 17 Agustus 2017

Cinta adalah jalan ketaatan





Cinta itu bukan tujuan, tapi salah satu alat untuk mencapai tujuan. Sebab bila cinta sudah dijadikan sebagai tujuan ia pasti akan tersesat sebab salah tujuan


Semua akan indah bila dihiasi dengan cinta, tapi cinta itu sendiri harus terangkai dalam bingkai yang benar, dengan cara yang benar, dan dengan tujuan yang hakiki

Bila hanya mencinta maka hewan juga punya, manusia mana juga bisa, tak perlu iman untuk mencintai tak perlu ilmu untuk memiliki rasa cinta, sebab cinta hanya alat

Tapi memahami arah cinta, cara mencinta, itu semua perlu ilmu, perlu pemahaman yang benar tentang tujuan hidup. Bila sudah begitu, barulah cinta jadi punya arti

Hidup hanya sementara, dan kita tahu semua akan berakhir, apakah dunia yang lebih dulu berakhir atau kita yang duluan pergi, setelah itu ada kehidupan lagi

Yang berpikir takkan mampu menafikkan keberadaan Allah dan kebenaran Islam. Maka tujuan hidup bagi yang beriman sudah pasti, mereka senantiasa mencari ridha Allah

Maka cinta hanyalah satu alat yang Allah berikan pada manusia agar manusia bisa mendapatkan ridha-Nya, cinta baru akan hakiki dan berarti bila ditujukan kesana

Lalu ada yang menagatasnamakan cinta untuk maksiat, jadikan cinta diatas ketaatan, jadikan cinta sebagai alasan untuk melanggar perintah Allah, ini keliru

Sebagaimana mobil bisa mengantarkan kita menuju tujuan, cinta adalah alat yang mengantarkan kita menuju ridha Allah, bagaimana bisa alat lebih utama dari tujuan?

Jangan bilang cinta bila itu melanggar perintah Allah, sebab dengan mudah Allah cabut cinta itu lalu berganti penyesalan, tak ada cinta bila tanpa ketaatan pada Allah

Latihlah cinta agar mau tunduk pada ketaatan, maka Allah Sang sumber cinta akan melimpahkan padamu cinta-Nya, hingga engkau akan mengetahui hakikat cinta ☺☺

- Felix Siauw -

Minggu, 06 Agustus 2017

BFF



Tidak semua yg tersenyum pada kita itu teman, dan tidak semua yang menyakiti kita itu musuh.
Tidak semua yang bermanis-manis ria kepada kita itu sahabat, dan tidak semua yang berkata tegas, terasa jleb, sakit itu lawan.
Poin dari nasehat lama ini bukan menyuruh kita agar suuzon dengan orang-orang; melainkan agar kita paham, bahwa sesuatu yang kita sukai belum tentu baik bagi kita, pun sebaliknya, sesuatu yang kita benci, boleh jadi sangat baik bagi kita.
-Tere Liye-

Sahabat sejati memang bukan mereka yang hanya mau membela saat kita benar, tapi juga meluruskan saat kita salah.
Alhamdulillah,, puji syukur pada Allah yang telah menganugerahkan saya begitu banyak sahabat yang mau bersabar berteman dengan saya selama ini 😅
Alhamdulillah, mereka juga tidak pelit memberikan saran dan teguran saat saya mulai melenceng. 
Dari yang pakai bahasa halus macam "afwan ya ukht, jangan tersinggung tapi menurut ana anti itu begini dan begitu...."
Sampai yang bahasa tanpa perlu difilter macam "duh...ancen yoh butuh kesabaran berteman denganmu iki. Ish!" 😂😂😂
Tapi percayalah apa-apa yang mereka utarakan itu memang benar adanya untuk kebaikan saya. Mau apapun bentuk bahasanya tapi maksudnya kan sama : because i care about you so i want you to be better *ciyee

Jika padamu ada kawan baik yg membantu ketaatan, 
Genggamlah erat dia di tangan. Sebab memperoleh sahabat sebenarnya amatlah sukar, adapun berpisah sangatlah mudah"
-Asy Syafi'i

Saranghae chinguya~ 🙆🙆🙆


Senin, 10 Juli 2017

Rahasia Dua Lelaki

Dari balik tabir, kudengar wanita itu berbicara
Mengisahkan pengalamannya yg akan menjadi guru:

Aku bertemu dua lelaki, dia mulai bercerita
Dengan suara lembut, riang, sekaligus sendu
Aku menerka demikian pula wajahnya

Kurasa dua-duanya mampu membuatku tak bisa menolak
Jika mereka punya kehendak
Oh ya, kudengar sambil dalam hati mengucap  'Rabbi'...

Lelaki pertama berparas titisan Yussuf
Hartanya warisan Sulaiman
Gagahnya serupa Musa
Wanita itu berhenti, sejenak menghela napasnya
Aku menggigit bibir dan mendalamkan tundukku

Dan tahukah kau, suaranya cekat kini
Setelah bicara padanya, aku pulang terpesona
Merasa berjumpa dengan lelaki paling rupawan
Bercakap dengan insan paling bijaksana

Aku tak ingin tahu lebih banyak
jadi kutanyakan padanya tentang lelaki kedua
Dan sepertinya dia tersenyum
Seusai berbincang dengan lelaki kedua, katanya
Aku pulang dengan bahagia, merasa penuh pesona
Merasa menjadi wanita paling jelita
Merasa diriku perempuan paling cendikia

Jadi diantara mereka, tanyaku sambil mengepalkan jemari
Siapa yang lebih tampan, siapa yang lebih mengagumkan?

Kurasa dia tersenyum lagi, menertawakanku barangkali
Laki-laki pertama lebih mencintai dirinya sendiri
Dia bersuka cita saat menebarkan pesona
Dia bahagia ketika banyak hati memujanya

Laki-laki kedua mempesona, bukan karena dirinya
Daya pikatnya ada pada perhatiannya, yang membuatku
Merasa ada, merasa bermakna, merasa berharga
Jadi, aku menyimpulkan perlahan
Kau memilih yang kedua...

Dia tersenyum lagi, aku telah mendapatkan yang ketiga
Laki-laki suci, yang memuliakanku dengan menikahiku
Dia menjaga kesuciannya dengan pernikahan
Dia menjaga pernikahannya dengan kesucian
Dia berupaya untuk mempunyai pesona lelaki pertama tanpa mengumbarnya
Dia belajar memiliki pesona lelaki kedua untuk mengagungkan istrinya
Meski jauh dari sempurna, dia mengingatkanku pada sabda sang Nabi,
Sebaik-baik lelaki adalah yang paling memuliakan perempuan
Aku tersenyum kini, tunggu, apakah engkau ini istriku...


-Salim A. Fillah-

Minggu, 02 Juli 2017

Hi bloggie!

Hi bloggie!^^
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin dibagikan belakangan ini tapi....niat berbagi pupus terkalahkan dengan rasa malas dan lelah, dan berakhir membuka youtube dan sosmed *astaghfirullah...ckckck

By the way, tidak terasa sudah 7 tahun berlalu semenjak blog ini pertama kali saya buat. Tepatnya tahun 2010 silam saat masih jadi mahasiswa baru.

Ketika itu saya disarankan mbak army yang baik hati (begitu kalau tidak salah usernamenya kala itu) untuk membuat blog karena saya bercerita saya suka menulis. Tapi belum jelas arah tulisannya kemana, terus masih gak karuan juga tulisannya.
Kata mbak Army 'udah dibiasain aja dulu nulis. Nulis apa saja, asal disempatkan tiap jangka waktu. Biar semakin terlatih dan terasah.

Akhirnya jadilah blog ini saya buat.
Awal niatnya cuma iseng sampai akhirnya...tetep iseng sih. Hahahaha 😂

Sebenarnya blog ini ingin saya buat semacam diary atau buku catatan buat saya pribadi, supaya di suatu hari nanti saat saya buka-buka ulang postingan saya ini, blog ini bisa jadi pengingat dan motivasi atas apa yang pernah saya dapat dan lalui.

tapi kadang terpikir juga, kalau seandainya kita bisa menulis sesuatu yang bermanfaat, berguna lalu bisa menginspirasi dan diamalkan orang lain kan keren jadinya. Seperti saya yang kemudian menemukan jalan hidup melalui buah karya seorang penulis.

Dan dengan demikian kan saya dapat pahala juga. *Aamiin...
tapi kayaknya masih jauh banget ya antara kenyataan saat ini dengan keinginan dan impian.
Yaa... tak mengapa. Yang penting terus berupaya
*ngomong opo toh di...di...

So, 7 tahun bukan waktu yang sebentar. Banyak kejadian yang mengubah dan membentuk diri saya, dari awalnya anak remaja yang baru lulus SMA jadi seorang manusia dewasa. Dan harus saya akui, gak ada yang sesuai prediksi saya sebelumnya. Hahahahahaha

Tapi mashaa Allah ya, Allah memang yang paling tahu yang terbaik bagi kita. Jadi ingat tulisan awal di blog ini. 'Hidup itu ibarat puzzle'

Ya memang benar sekali hidup ibarat puzzle yang belum terselesaikan. karena belum selesai, jadi belum tahu akhirnya, karena belum tahu maka kita harus terus mencoba dan berusaha. Esok lusa akan kita pahami juga.

Yang jelas, saya masih setia dengan prinsip saya dulu: berusaha menjalani hidup yang tidak membuat kita menyesal dikemudian hari.

Dan dalam hal ini saya punya beberapa cerita yang....ehem! Kembali mengingatkan saya bahwa puzzle hidup kita ini adalah Allah yang punya kuasa. Jadi banyak- banyaklah berdoa padaNya. Tentu saja doa dan dijemput dengan gerak upaya.

Contoh kisah nih:
Dulu saat menjelang lulus SMA saya pernah membuat peta konsep hidup saya pasca SMA *begaya

Saya tulis semua impian dan cita-cita. Punya bisnis sendiri, nulis buku, punya butik, bikin sekolah plus asramanya, dll. Pun demikian dalam berdoa sudah banyak sekali permintaan-permintaan yang saya mohonkan.
Mulai dari yang realistis sampai yang gak pake mikir *lol

Daan...peta konsep itu berakhir terlupakan bertahun-tahun. Dan baru-baru ini ditemukan oleh ibu saya dan di baca (malunyaaa...!!! *yasudah tapi mau gimana lagi). Akhirnya setelah bertemu lagi dengannya saya semakin malu
Yaelah ini anak abege bagus banget karangan indahnya yak? 

Malu karena pada akhirnya saya belum menjamah sama sekali impian-impian saya itu saat saya lulus kuliah. Sempat berpikir "pada akhirnya hidup saya ya gini-gini aja".
Tapi saya mulai berpikir ulang saat saya menonton salah satu acara yang cukup menginspirasi saya.

"Hey! Kamu masih 20an tahun. Masih panjang perjalananmu *inshaa Allah. Belum juga 40 tahun!. Baru juga masuk tahap dewasa awal, baru juga masuk ke komunitas masyarakat. Gak dianggep anak-anak lagi maksudnya

JUSTRU saat ini adalah titik awalmu. Saat kamu gak lagi terikat dengan tugas belajar, saat 24 jam waktumu bebas kamu manfaatkan. Kenapa nggak coba dijalankan?

Berhasil enggak urusan nanti yang penting toh USAHA. Bekerjalah biar nanti Allah yang melihat dan tunjukkan hasilnya entar (QS.At-Taubah: 104)

Ya begitulah, akhirnya sedikit-sedikit saat ini saya mencoba 'menyicil' untuk menggapai cita-cita yang tertunda. Doain ya,,
Paling enggak, pun seandainya Allah punya rencana lain buat saya, saya sudah membuktikan bahwa saya sudah berupaya memperjuangkan impian saya. Gak cuma berandai-andai saja.
Jadi paling tidak saat usia saya mencapai 40 tahun *inshaa Allah dan anak-anak saya bertanya "ibu dulu cita-citanya apa?"
Saya gak akan dengan sesal atau mata menerawang menjelaskannya. Tapi dengan mata berbinar dan senyum kepuasaan atas upaya saya memperjuangkannya.

Mudahkah? Tentu saja....enggak!! Perlu banyak usaha,ikhtiar yang tak berputus. Butuh mental baja. Butuh baaanyaaakkk perjuangan dan upaya.
Ya wajar sih ya. Kan katanya 'there is no growth in a comfort zone'
Walaupun kadang masih sering capek, males dan nangis (saat keluar alaynya) tapi....yah semoga saya bisa terus bertahan!

Apa cukup dengan usaha?
Tentu tidak. Doa itu lho sebenarnya senjata utamanya. Doa-doa kita inilah yang bisa mengubah takdir atau ketetapan Allah atas kita *jika Allah meridhoinya.
Walaupun sebenarnya Allah sudah tahu apa yang kita maksud dan inginkan, tapi sebenarnya Allah suka dengan hambaNya yang intens berkomunikasi dan mengingatNya.
Allah sayang dengan hamba yang tawadlu dan merendah serta sadar bahwa segala ikhtiar dan upaya itu hanya bisa GOAL dengan ridhoNya semata. *diah...ileng di! Ojo males males dungo!!

Tapi bener lho. Allah akan mengabulkan tiap pinta kita JIKA hal itu memang yang terbaik untuk kita. Sayang kadang karena tak selalu timing pengabulannya itu kita duga, akhirnya kita lupa dengannya. Akhirnya lupa bersyukur juga.
* ini juga tamparan banget bagi saya.
Akhir-akhir ini saya ribut menggalaukan sesuatu. Tapi saat saya baca lagi peta konsep impian SMA saya dulu, saya jadi tersadar...
"HEY,, Bukannya itu memang yang pernah kamu minta?"

Astaghfirullah,,, emang ya. Allah lebih tahu tentang kita dibanding diri kita sendiri.

Begitulah....postingan panjang nan tidak fokus kali ini. Semoga bermanfaat *jika ada. Ada sih mungkin, buat saya pribadi saat membaca ulang agar memotivasi. Hehe

Se-ma-ngat!!

Sabtu, 13 Mei 2017

Menyikapi Permasalahan

Sebenarnya dalam hidup ini kita menjumpai berbagai kejadian dan permasalahan yang jika disederhanakan bisa dikelompokkan menjadi tiga kelompok. 
kelompok pertama, adalah permasalahan atau persoalan yang bisa kita pengaruhi dan kendalikan. 
contohnya adalah permasalahan diri kita sendiri. misalnya,  saya malas, saya tidak punya pengetahuan tentang ini dan itu. masalah ini bisa kita kendalikan dan pengaruhi. kita bisa mempengaruhi diri untuk lebih kiat belajar, lebih giat mencari ilmu, lebih giat berlatih. kita juga mempunyai kendali seutuhnya terhadap diri. apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi hal itu serta apa pula yang harus saya hindari dan batasi agar hal yang tidak diinginkan itu tidak menjadi semakin buruk. 
Masing-masing dari kita pasti memahami kelemahan atau kekurangan diri, dan kita pun memahami dampak buruk dari kelemahan itu pada hidup kita ke depan, maka untuk menjaga hidup agar dinamis, agar tidak terperangkap pada rutinitas stagnan, dan agar mampu menjadi pribadi yang selalu menjadi insan yang lebih baik, kita harus memiliki targetan-targetan dalam hidup. dan disinilah harusnya kita tempatkan prioritas yang paling utama. 
karena meskipun saat ini kita hidup bermasyarakat, saling bahu-membahu, dan tolong -menolong, tapi pada akhirnya nanti kita akan mempertanggung jawabkan segala amal perbuatan kita secara individu, secara personal. tak ada lagi tolong menolong atau campur tangan orang lain. apa yang telah kamu lakukan, untuk apa waktumu kau habiskan dan kepada siapa segala perbuatan itu kau tujukan. apakah realita kehidupanmu sama seperti janji-janji dan ucapanmu disetiap sholatmu. 
Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah untukMu, Duhai Tuhan semesta alam.
Sayangnya, hal penting ini selalu diletakkan pada prioritas terakhir *termasuk saya, hiks (T-T)
Kelompok kedua,  adalah permasalahan yang bisa kita pengaruhi namun tidak bisa kendalikan. contohnya seperti dakwah, mengajak kepada islam.


“Katakanlah: “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (ilmu dan keyakinan). Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [Yusuf:108].

"Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Rabbku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Rabbku Maha Pemelihara segala sesuatu." (QS. 11:57)

karena di dalam Islam tidak ada paksaan dalam memeluk suatu agama. mengajak manusia lain kepada Islam adalah tugas seluruh muslim. dan jika tugas sudah disampaikan maka gugurlah sudah kewajibannya. seperti yang telah dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul. Nuh As. berdakwah kepada kaumnya hampir 1000 tahun tapi jumlah pengikutnya pun bisa dihitung dengan jari. maka jelas sudah Islam disebarkan tidak dengan kekerasan atau paksaan tapi mengajak dengan hikmah. 

lalu apa kaitannya dengan permasalahan kelompok kedua?
kelompok kedua seperti yang sudah disebutkan diawal adalah kelompok permasalahan yang hanya bisa kita pengaruhi tapi tak bisa kendalikan. seperti dakwah kita hanya bisa mengajak, namun apakah hati manusia tersebut mau menerimanya itu sudah tidak bisa kita kendalikan. semua kembali bergantung pada upaya dan kemauan orang tersebut.

Kelompok ketiga, adalah permasalahan yang tidak bisa kita pengaruhi dan kendalikan. contohnya adalah ketetapan Allah. adakalanya ketetapan Allah tidak sesuai dengan keinginan atau bayangan kita. kadang takdir Allah berseberangan dengan rencana kita dan hal ini kemudian membuat kita mengeluh meratapi dan kufur nikmat. padahal hal itu telah nyata tak bisa kita hindari atau pengaruhi.
sayangnya, banyak manusia yang salah mengurutkan prioritas permasalahan ini, dan menjadikan kelompok ketiga ini menjadi prioritas utama, sehingga banyak waktu yang akhirnya terhabiskan dengan percuma. padahal Allah menyebutkan dalam firmanNya :

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At Taubah:51)
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

 karena waktu yang kita memiliki ini terbatas, dan kita tidak pernah tahu kapankah batas akhir dari waktu itu, maka cermat memprioritaskan permasalahan adalah kunci kesuksesan yang harus kita miliki. kadang banyaknya hal yang dikerjakan serta kualitas diri seseorang dapat berbeda jauh antara satu orang dengan orang lainnya. kenapa? padahal waktu mereka sama-sama 24jam/ hari. jawabannya ada pada PENGELOLAAN WAKTU dan efektivitas dan pemrioritasan masalahnya. 

*sungguh peEr besar buat saya yang masiiih sangat sering terlena. hehehe...hiks

-sedikit penggalan tausiah dari ust. Ahmad Arqom, semoga tidak ada yang terlewatkan-

Jumat, 21 April 2017

Karena ujian itu berbeda

Katanya, kita akan diuji dengan hal yang paling kita cintai, kita akan diuji dengan hal yang menjadi kekuatan atau keunggulan kita.

Seperti maryam binti 'imran yang diuji melalui ujian kesucian. Bagaimana tidak, kesucian yang selama ini dijunjungnya kemudian mulai diragukan khalayak ramai tatkala ia datang membawa seorang putra; tanpa ayah. Mungkin begitu menyakitkan bagi Maryam, setidaknya bagi saya jika saya yang merasakan. 
Wanita yang selalu menjaga kesucian dirinya ini lalu di cap sebagai pezina, karena hadirnya karunia yang diberikan Rabbnya.

Belum lagi saat kehamilan semakin besar dan berat, ia pun harus pergi meninggalkan rumah tempat berteduhnya, sendirian.
Dan puncaknya, saat detik-detik kelahiran putranya tiba ia tersiksa diantara sakit dan dahaga. Tubuhnya kesakitan dan ia kelaparan. namun disekelilingnya tiada apapun kecuali gurun yang luas. Bersandarlah ia akhirnya di bawah pohon kurma yang kokoh. Disanalah akhirnya ia sendiri, berjuang diantara hidup dan mati melahirkan sang al masih.

Saat proses melahirkan yang melelahkan itu akhirnya usai, tubuhnya semakin lemas dan makin terasa betapa laparnya ia. Lalu Allah menyuruhnya untuk menggoyahkan pohon kurma itu agar jatuh beberapa buahnya.
Bayangkanlah kawan, maryam bukan seorang laki-laki bertubuh kekar yang kuat tenaganya. Ia hanya seorang wanita dan baru saja melahirkan pula. Sementara pohon itu kokoh dan besar. Seorang laki-laki saja akan cukup kesulitan menggoyahkannya.

Lihatlah bagaimana Allah mengujinya. Dengarlah bagaimana kisah perjuangannya. Tak heran jika ia disebut Rasulullah termasuk ledalam 1 dari 4 wanita dunia paling utama.

beralih pada kisah si gagah Yussuf As . Yang diuji Allah dengan ketampanannya. Dengan wajah yang luar biasa rupawan bisa saja dengan mudah ia mendapatkan banyak wanita, tapi dengan keimanan yang menyala ia ternyata lebih memilih penjara yang sunyi dibanding berdua dengan wanita cantik di kamar seorang diri.

Pun dengan kejamnya fitnah dan perlakuan saudara-saudaranya yang iri kepadanya, saat tanduk kuasa telah ada digenggamnya, saat Allah memberinya kesempatan membalas semua perilaku keji mereka, Yussuf memilih mengubur kenangan menyakitkan itu dalam-dalam, melewatkannya begitu saja cerita itu saat sang Ayah yang baru berjumpa menanyakan tentang perihal dirinya. Dengan hati penuh syukur, kemudian yang ia sampaikan pada ayahnya hanyalah "Tuhanku telah berlaku baik padaku", menceritakan betapa bermurah hati Allah mengijinkannya menjadi pejabat di negeri makmur mesir. Dan sungguh hal inilah yang menjadikan Yussuf lelaki gagah nan tampan yang sesungguhnya.  Hatinya sungguhlah rupawan.

Lantas kita? Patutkah mengeluhkan sulitnya kondisi kita saat Maryam atau Yussuf yang mulia pun juga tetap harus mengalami ujian sebelum akhirnya mendapat kemuliaan di sisi Allah? Ujian kita pasti tak seberapa dibanding mereka, karena keimanan kita pun tak ada nilainya. 
Lantas? Masih secepat itukah kita akan menyerah dan terus mengulang mengeluhkannya?

Sabtu, 18 Maret 2017

masa

Hari ini saya dapat kiriman foto adek-adek akhwat di kampus. semua tampak cantik dengan senyum manisnya ,hanya sayangnya....wajah-wajah itu..sudah tidak ada yang saya kenali. hahahaha...
 
Baiklah sebenarnya ada satu orang yang saya kenali, dan dia sudah tergolong sang 'senior' di kumpulan itu. adik yang sebenarnya hanya saya tahu sekilas. kenal sebentar di bulan-bulan akhir menjelang kelulusan saya. saat itu si adik masih mahasiswa baru yang polos dan lugu. tapi sekarang dia sudah menjadi public figure kampus. pembicara disini dan disitu, tampil disini dan disana.
 
Hehh....waktu sungguh sangat cepat berlalu. setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Yap, itulah kenapa kaderisasi adalah suatu keniscayaan. kaderisasi itu perangkat utama dari amal jariyah.  meski si pelaku silih berganti, tapi niat dan amalnya tetap berlanjut.
 
Lihatlah meski saya tidak lagi mengenal mereka, tapi saya kenal betul jaket hitam yang mereka kenakan itu. jaket hitam dengan desain sederhana yang dari tahun ke tahun tak pernah ada perubahan. tidak ada perintah untuk tak mengubah sebenarnya. hanya saja, dengan tetapnya desainnya jadi seolah menyatukan kita. menyatukan saya dengan mereka. karena jaket yang mereka kenakan juga sama persis dengan jaket yang saya punya. Ish kariman Aumut Syahidan.  hidup mulia atau mati syahid. serem ya? hehe...awalnya saya juga berpikir demikian. kok gitu amat nih motto ya? serasa ngajakin mati gitu...hiiyyyy!!!
 
tapi enggak demikian maksudnya. jadi, hidup ini kan pilihan. saya mau hidup seperti apa dan mau jadi apa itu terserah kita. nah jika hidup ini pilihan, mengapa kita tidak memilih hidup menjadi orang mulia? bukan mulia karena harta atau kedudukan, tapi mulia karena amal perbuatan kita, karena akhlak atau perilaku kita, dan karena ibadah. tak peduli kita miskin atau kaya, saat tua maupun muda, kita selalu punya kesempatan untuk menjadi manusia mulia, mulia  dimata Tuhan, bukan sekedar anggapan manusia.
 
dan tak hanya hidup, matipun menyediakan beberapa pilihan. mati dalam kondisi terlaknat, atau khusnul khotimah?. setiap yang bernyawa akan mengalaminya, kematian. jika tiba saatnya, kita tidak akan sanggup menundanya walau sedetik. nah, jika dalam hidup saja kita memilih yang terbaik, mengapa saat mati kita tidak memilih mati dalam kondisi terbaik? dan sebaik-baik kondisi saat kita mati adalah mati syahid, yang dijamin surga, yang dijamin diampuni dosa-dosanya. siapa yang tidak menginginkannya kawan?
 
maka sungguh indah bukan, makna tulisan yang tertulis dijaket hitam itu, Ish kariman, aumut syahidan. hidup mulia atau mati syahid.
 
dan tentu yang juga tak kalah meaningful adalah tulisan yang tertera di bagian punggung si jaket hitam, keluarga besar muslim fakultas......Universitas.....
dibanding menuliskan nama lembaga kami, tulisan keluarga besar muslim itu sungguh menyentuh sekali. menandakan lembaga ini bukan milik anggotanya saja, tapi semua civitas akademia. jaket itu bukan jaket lembaga, tapi jaket seluruh civitas muslim fakultas. karena kita semua saudara, tak ada yang lebih baik atau lebih sholeh, semua bersaudara, semua satu keluarga. ahh.... jadi makin bangga memakainya.
 
btw, ini kenapa jadi bahas jaket ya? hehehe. namanya juga curhat. jadi apa yang terlintas ditulis saja. 
 
mengarungi samudera kehidupan,
kita ibarat para pengembara,
hidup ini adalah perjuangan,
tiada masa tuk berpangku tangan
 
*S.E.M.A.N.G.A.T.!!!! 
 


Kamis, 23 Februari 2017

Pentingnya Kemandirian Ekonomi Seorang Muslim

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA.
Said bin Musayyib –rahimahullah- berpendapat bahwa cinta harta itu baik. Bukan semata ‘cinta harta’ yang menjadi ukuran kebaikan. Tapi, kebaikan cinta harta ada pada implikasinya._ Bagi Sayyidu al Tabi`iin yang bergelar ‘alim ahli al madinati itu, cinta harta menjadi baik karena dalam harta ada ibadah, amanah, kehormatan, dan kemandirian.
Kemandirian harta (baca: ekonomi) menjadi perhatian khusus Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallama. Nabi mendorong individu agar mandiri, yang dimulai dari pemanfaatan sumberdaya pribadi, meskipun kecil dan sederhana.
Dikisahkan, seorang sahabat Anshar meminta bantuan Rasulullah, tapi tidak diberi. Oleh Nabi, si sahabat diajak berfikir: sumberdaya apa yang dimiliki?Ia pun menyebutkan beberapa perabot rumah tangga yang sederhana.
Rasulullah menyuruh mengambil perabot-perabot itu dan membantu menjual secara lelang. Setelah terjual dengan harga 2 dirham, Rasulullah mengarahkan agar uang itu digunakan untuk konsumsi keluarga (1 dirham) dan membeli kapak (1 dirham).
Setelah kapak terbeli, Rasulullah berpesan: “Dengan kapak ini carilah kayu, dan jangan menemuiku kecuali setelah 15 hari”. Setelah 15 hari bekerja mencari kayu, si sahabat melaporkan bahwa ia memperoleh 10 dirham.
Nabi pun menanggapi: “Bekerja mencari kayu lebih baik dari pada meminta-minta yang menyebabkan noda hitam di wajah kelak pada hari kiamat”. (HR. Abu Daud).
Dan diriwayat Imam Bukhari disebutkan respon Nabi: “Meskipun hanya bekerja mencari kayu, yang demikian lebih baik daripada bergantung pada orang lain.”
Abdurrahman bin Auf  lebih memilih modal sendiri meskipun kecil, hanya 4 dirham (sekitar Rp. 280.000), meskipun mendapat tawaran hibah dari Saad bin Rabi`.
Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallama- juga mendorong umat agar mandiri. Beliau mendorong Usman bin Affan mengambil alih sumberdaya alam (air) yang dikuasai Yahudi.
Dan Rasulullah juga memilih lokasi strategis sebagai pasar mandiri yang dimiliki umat Islam.
Mandiri ekonomi penting bagi individu, organisasi, bahkan umat.
Menurut Qardhawi dalam Malamih al Mujtama` al Muslim, umat yang mandiri ekonomi akan memiliki izzah. Tidak mudah didekte oleh bangsa lain, bebas menentukan arah dan masa depannya. Berbeda bila umat bergantung pada negara lain, sangat rentan hidup dalam bayang-bayang bahkan tidak bebas menentukan arah hidupnya.
Demikian pula dengan organisasi, ormas atau orpol. Ormas/orpol yang mandiri ekonomi akan memiliki izzah. Tidak mudah didekte pihak lain dan akan lebih efektif membina umat serta dalam menunaikan fungsi hisbah, yang menjadi esensi keberadaan ormas/orpol.
Individu yang mandiri ekonomi juga akan memiliki izzah, sebagaimana pesan Nabi Muhammad –shallallahu `alaihi wa sallama- kepada Sa`ad bin Abi Waqqash –radliyallahu `anhu,
“Seandainya engkau tinggalkan keturunanmu berkecukupan (mandiri ekonomi), maka lebih baik daripada kekurangan dan bergantung pada orang lain.” (HR. Bukhari)
Wallahu a`lam bisshawab
Malang, 7 Rabiul Awal 1438H.
Silahkan disebarkan channel Telegram ini, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah kita. Aamiin,

Sabtu, 07 Januari 2017

Istimewanya Pemuda

Para pemuda selalu mempesona.
Lihatlah mereka, tidurpun membawa perubahan, apalagi terjaga. 
Para pemuda kahfi memilih kabur dari kampung halaman untuk menyelamatkan keimanan, akhirnya ditidurkan selama beratus tahun kemudian. Dan hal ini jadi pelajaran kelak, betapa hari kebangkitan bukan bualan semata).

Muda identik dengan "hijau". Masih hijau artinya masih bertumbuh, berkembang. Sementara yang matang berarti akan segera membusuk.

Muda identik dengan 'tidak berpengalaman'. TAPI,  jika 'berpengalaman' berarti mengatasi masalah baru dengan cara lama, itu berbahaya!.

Muda identik dengan kebersamaan dalam keprihatinan, solidaritas. 
Kadang kita sulit bersatu saat telah banyak ber'punya', luas berdaya. Hingga tiap hubungan yang dijalin menuntut adanya keuntungan dari masing-masing

Muda identik dengan kejelasan sikap. 
Hitam dan putih, ya atau tidak. Tidak ada jalan ketiga. Ini hal yang tepat untuk utusan aqidah.

Muda identik dengan gejolak. Titik temu dari semua gejolak ini akan jadi sebuah terobosan. Di situlah masa depan, melampau apa yang dicapai oleh pendalaman bidang.

Muda identik dengan pesona dan ketangguhan fisik. Dua hal inilah yang akan membantu sebuah ide perubahan tampil menarik, segar dan cantik.

Muda identik dengan ketergesaan, inginnya sekilas langsung terwujud. Maka ia disabarkan, 'tidurkan gelora' sembari dengan mempersiapkan perangkat.

Muda identik dengan ketergodaan dan gelimang nikmat. Maka, mereka yang memilih jalan sunyi untuk berjuang, sudah pasti istimewa.

Muda juga identik dengan sedikitnya beban sejarah. Maka mereka lebih merdeka dalam bersikap, sebab tak terbelenggu oleh rekam jejak masa lalu.

Muda identik dengan mempertanyakan. Nah, kecerdasan memang disitulah letaknya, bukan dalam jawaban. Sungguh, satu pertanyaan bermutu dapat membuka jawaban beribu-ribu


*from: menyimak kicau merajut makna by Salim A. Fillah (dengan sedikit editan dari saya)


Streaming youtube sembari mendengarkan ceramah asik dari ustadz Salim. Very recommended to watch!  Apalagi kalau kamu pemuda 😊

Kamis, 05 Januari 2017

Bersyukurlah

Bersyukurlah karena engkau tidak memiliki semua yang diinginkan,
Jika kau sudah memiliki semuanya, apalagi yang hendak dicari?

Bersyukurlah saat engkau tidak mengetahui sesuatu,
Karena hal itu memberimu kesempatan untuk belajar.

Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang kau hadapi,
Karena disana ada kesempatan mengembangkan diri.

Bersyukurlah atas keterbatasan yang kau miliki,
Karena hal itu memberimu kesempatan memperbaiki diri.

Bersyukurlah atas setiap tantangan baru,
Karena hal itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.

Bersyukurlah atas kesalahan yang kini telah kau sadari,
Karena hal itu memberimu pelajaran yang sangat berharga.

Bersyukurlah ketika engkau lelah dan bosan,
Karena berarti engkau trlah berbuat sesuatu yang berarti.

Mudah mensyukuri hal-hal baik, namun
Kehidupan yang bermakna dinikmati oleh mereka yang juga bersyukur atas kesulitan.

Rasa syukur bisa mengubah hal negatif menjadi positif.
Berusahalah mensyukuri kesulitan yang kau hadapi
Sehingga kesulitan itu menjadi berkah bagimu


-anonymous-