Minggu, 10 Februari 2013

siklus syukur dan sabar

Siklus hidup merupakan perputaran antara syukur dan sabar
Ketika mendapat kenikmatan kita bersyukur, dan ketika dihadiahi musibah atau cobaan kita bersabar. begitulah kiranya rumus hidup. 
Seseorang yang mampu membiasakan bersyukur ketika diberi nikmat, tak pernah lupa, tak pernah luput, maka dialah orang yang beruntung. begitu juga, dia yang mampu mendatangkan kesabaran dalam dirinya ketika berbagai ujian menimpa, dia jugalah orang yang beruntung. 

Rasulullah menyebutnya dalam sebuah hadist riwayat Muslim : 
 “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua perkara (yang menimpanya) adalah kebaikan baginya dan tidaklah hal ini terjadi kecuali hanya pada diri seorang mukmin. Jika dia tertimpa kebahagiaan dia bersyukur maka hal ini adalah baik baginya. Dan jika tertimpa musibah dia bersabar maka itu juga baik baginya.” (HR. Muslim)

 Sabar dan syukur, sering terucap, begitu familiar, tapi tak semua bisa menerapkannya. 

Seseorang mungkin saja dapat menerapkan selalu bersyukur dalam tiap nikmat hidupnya, tapi apakah ia cukup bijak untuk selalu bersabar dalam tiap ujian? 

Pernah saya begitu angkuh berkata 'yes, i have did it'. tapi ternyata saya tertipu. tertipu presepsi pribadi. sabar tak semudah itu ternyata. sabar begitu luas, begitu agung. 

 'Kesabaran bukan hanya tampak saat seseorang dilanda musibah atau permasalahan, tapi ia juga tampak pada keistiqomahan diri dalam melakukan kebaikan atau amal sholih, dan pada keistiqomahan kita menjauhi kemaksiatan' 

 Sabar dalam ketaatan dan sabar dalam menjauhi kemaksiatan. 

 'Sudahkah saya benar-benar bersabar?' hah.., kembali saya tertipu oleh keangkuhan. 

 Semoga saya tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:

"Katakanlah, 'Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat." (QS al-Kahfi: 103-105) 

 Sabar ternyata adalah sebuah sumber kekuatan dan pegangan bagi orang-orang mukmin, 

 “Hai orang-orang yang berfirman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153) 

 Ucapan syukur mungkin begitu mudah terluncur dari mulut kita saat nikmat dan karunia Allah datang, tapi ketika keadaan berubah, ketika situasi serasa menghimpit kita, ketika kesulitan demi kesulitan bergantian hadir, akankah mulut dan hati ini sanggup terus berucap syukur? sanggupkah kita bersabar? tak menyalahkan keadaan, tak berusaha mencari kambing hitam? 

 Allah telah menjanjikan dalam firman-Nya bahwa setelah kesulitan, akan ada kemudahan, Allah telah berjanji, bahwa tak kan ada cobaan yang menimpa diluar kapasitas kita untuk mengatasinya. ketika situasi sulit ini hadir, mampukah diri dengan sepenuh hati meyakini janji-Nya? ketika masih ada ragu, mungkin perlu kita perbarui aqidah kita.
ujian yang kita terima bukanlah untuk membuktikan seberapa tangguh kita, tapi untuk melihat seberapa besar ketergantungan kita pada-Nya

'Amal yaumi seseorang ternyata berbanding lurus dengan kapasitas orang tersebut dalam menghadapi masalah. ketika situasi sulit itu datang, mungkin itu pertanda bahwa kita terlalu jauh dari-Nya. mungkin sholat kita, puasa kita,sedekah, ibadah kita belum maksimal kita jalankan. atau mungkin selama ini ia hanya dijadikan sebagai rutinitas tanpa makna. 

 Ketika situasi sulit itu kembali datang, mungkin itu pertanda, bahwa Allah sebenarnya sangat rindu dengan rintihan kita, rindu dengan doa-doa yang kita panjatkan pada-Nya. mungkin Allah ingin kita menjadi lebih dekat lagi dengan-Nya. 

 'Dan Tuhanmu agungkanlah!'(Al-Mudatsir :3)

"Agungkan, besarkan Allah dalam hatimu, maka semua masalah akan terasa kecil" ucap murabbi saya suatu ketika. 

 Saya percaya, Allah akan menjawab tiap doa hamba-Nya. bukankah dalam sebuah hadist riwayat ahmad disebutkan 

 “Sesungguhnya Allah ta’ala malu bila seorang hamba membentangkan kedua tangannya untuk memohon kebaikan kepada-Nya, lalu Ia mengembalikan kedua tangan hamba itu dalam keadaan hampa/gagal.” (HR. Ahmad (5/438), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1757). 

 Dan ketika doa-doa itu serasa tak kunjung mendapat jawaban, maka hal itu mungkin karena Allah begitu menyukai doa-doa kita, hingga Allah ingin mendengar doa-doa itu lebih lama, 

 Dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu'anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam bersabda, bahwasanya malaikat Jibril 'alaihissallam kasihan melihat seseorang bolak-balik dalam doanya sehingga malaikat Jibril 'alaihissallam berkata kepada Allah Azza wa Jalla

"Wahai Allah, hamba-Mu si fulan sudah sekian lama berdoa tetapi belum juga Engkau kabulkan. Penuhilah segala keperluan (yang diminta)nya, wahai Allah". 

Allah Subhanahu wa Ta'ala pun menjawab : "(Sudah) Biarkan saja hamba-Ku (itu). Tundalah dulu permintaannya. Sungguh aku senang mendengar suaranya (saat sedang bermunajat kepada-Ku)". 

 Adapun ketika seorang hamba berdoa kepada Allah Subhanallahu wa Ta'ala sementara Allah Subhanahu wa Ta'ala membenci hamba tersebut, maka Allah Subhanahu Ta'ala berkata kepada malaikat Jibril 'alaihissallam

"Penuhilah hajat hamba-Ku ini dan segerakanlah. Sesungguhnya Aku amat benci mendengar suaranya!" 
( HR. Imam Al Baihaqi ). 

 Apapun ujiannya, semoga kita bisa selalu ber-khuznudzon pada Allah. karena yang terjadi pastilah yang terbaik. karena Allah tak pernah mendzalimi hamba-hamba-Nya. 

 Siklus sabar dan syukur, sungguh indah jika bisa memainkannya dengan bijak dalam kehidupan kita. bersyukur karena Dia tak pernah berhenti melimpahkan karunia-Nya, 
bersabar, karena ujianpun mengandung sebuah kebaikan yang tersembunyi bagi kita.

Rabu, 06 Februari 2013

manusia langit


lelah.., lelah melangkah.
cukup.., bisa kah dicukupkan saja?
apa yang lelah? tegak langkahmu, terkembang senyummu ku lihat. apa yang lelah kawan?

ia tersenyum lagi, tapi kulihat binar matanya meredup.
'harap' jawabnya. 'aku lelah berharap'.

ku tatap ia sekali lagi. puluhan kata serasa siap mengalir dari bibir yang selalu menyungging senyum itu.
tapi tidak, ia tetap diam, seolah puluhan kata itu kembali tertelan.

'tetaplah bertahan' bujukku. 'ingatlah si langit biru'

'aku rindu langit' jawabnya, 'tapi ia terlampau jauh, bolehkah aku tetap singgah disini?' tawarnya.

 'benar itu maumu?' ucapku coba yakinkan.

'tidak, tentu saja tidak' jawabnya kini dengan bangkit, berjalan menjauh dariku.
ia tatap langit biru hari itu, lama... dalam dan penuh makna, seolah jiwanya tengah terbang menggapainya.
'bagaimana mungkin aku mengacuhkannya' ujarnya.

'lalu?' tanyaku tak mengerti.

'aku tak bisa membiarkan asaku tetap disini,, disana...!' katanya sembari menunjuk langit,
'disana ia harusnya berada,tapi......aku lelah' 

 'percayalah, kau bisa kawan!' yakinku.

 'yah.., aku tahu. hanya saja, lelah aku berharap akan pelangi' ia tertunduk, masih dengan senyum yang sama. senyum pahit. 

'aku dengar pelangi bisa bawaku ke langit. aku dengar ia akan datang, segera. tapi aku terlanjur lelah. ia tak pernah hadir. aku lelah berharap' katanya lagi.

aku hendak membuka suara, tapi ia menyela. 'yang salah adalah aku, aku sudah menetapkannya, aku akan kesana, tapi ku rusak jalanku kesana, aku membawa mendung hitam ke langit harapan, bila manakah pelangi kan sudi datang?' 

'hai kawan, ketahuilah.., tak ada salah yang tak termaafkan. jika kau adalah manusia langit, maka tak ada pilihan bagimu kecuali kembali kesana. ini tugas, ini tanggung jawab, ini hakmu. 
meski bumi indah, menjanjikan padang rumput hijau dengan angin semilirnya untukmu berehat, meski semua tampak kan baik saja, tapi jangan lupakan satu hal, kau manusia langit, tak ada tempat yg lebih nyaman bagimu selain langit. jiwamu kan hancur perlahan tanpa kau sadari saat kau memutuskan berhenti sampai disini'. 

'kau benar' ucapnya singkat, 'aku tak mau jadi konyol. tapi apa yang harus ku lakukan? kembali menunggu pelangi?' tanyanya.

aku tersenyum, ku genggam tangannya. 'bukankah kau pernah katakan tak ada masalah yang tak dapat kita selesaikan? bukankah katamu suatu beban diberikan sesuai dengan porsi kemampuan tiap orang? tak pernah melebihinya.' 

'yeah.., i did that. then what?' tanyanya tak mengerti. 

'lihat sayapmu, cukup berubah warnanya. tak begitu cemerlang, mengapa tak kau ajak ia berkeliling, terbang menembus cakrawala?' tawarku 

'maksudmu, aku harus ke langit dengan ini?' katanya menunjukkan sayap usangnya. 'kau pasti bercanda' 

'yah.., mungkin ini terdengar sedikit gila. kau akan sangat kelelahan' aku coba jelaskan. 

'lebih dari itu, aku bisa pingsan. mati kelelahan!' potongnya. 

aku tertawa terbahak bahak melihat ekspresinya. 'yah, cobalah pingsan sekali-kali, paling tidak disana banyak awan putih yang siap menopang' kataku. 

'aku serius kawan..' ucapnya, wajahnya tak suka. 

'apa aku tampak tak serius?' tanyaku 'pingsanlah, tak masalah. kau bisa beristirahat di awan, it would be better rather then staying here, doing nothing. paling tidak kau tengah selangkah lebih dekat dengan langit'. 

ia tampak berpikir, ditatapnya aku lekat-lekat, lalu ditatapnya langit penuh kerinduan.


'kau tahu, sepertinya idemu itu tak sepenuhnya gila' jawabnya akhirnya. 

'memang' jawabku dengan senyum terkembang. 

'aku akan sangat merindukanmu, kawan. aku harap kau kan selalu ada di saat aku ragu tuk melangkah' katanya, kali ini ku lihat binar itu kembali muncul di kedua bola matanya. 

'aku akan ada saat kau membutuhkan, selama kau jaga selalu baik sangkamu pada-Nya' kataku. 

 'terima kasih' ucapnya dengan senyum berseri, wajahnya jenakanya itu tampak manis sekali. 
 perlahan ku lihat sayapnya mulai mengembang kemudian terkepak. beberapa kali ia terhuyung, 
sayap itu butuh penyesuaian tampaknya, pikirku. 

 kulambaikan tangan padanya yang tampak semakin menjauh. 

 'ini akan jadi perjalanan yang berat kawan!!' ucapnya dari jauh. 

 'yah.., dan kaupun akan kelelahan tapi........' jawabku. 

 'tapi aku takkan menyerah, ini yang harus kulakukan' potongnya dengan senyum terkembang. 

 'bintangpun tak kan dapat bersinar tanpa adanya kegelapan, iya kan?' kataku, ia mengangguk 

 kuatkan dirimu, terus berjuang, kawanku manusia langit....,,

Rabu, 23 Januari 2013

NurusSyifa dan LKI

Mushalla NurusSyifa dan LKI (lembaga kerohanian Islam) bagi saya adalah hal yang tak dapat dipisahkan. ibaratnya jika nurussyifa adalah tubuh, maka LKI adalah ruhnya.

Mushalla NurusSyifa adalah mushalla yang ada di fakultas saya. bangunannya menjadi satu dengan Grima atau griya Mahasiswa, tempat semua sekertariat Organisasi,lembaga dan himpunan berada. termasuk LKI. bangunan ini berlantai 2. lantai 1 difungsikan untuk grima, sedang lantai 2 untuk mushalla.


Nah, karena bangunannya menyatu inilah akhirnya para pengurus LKI lebih sering 'nongkrong' di Mushalla, dilantai dua. "lebih adem soalnya" komentar beberapa ikhwah. 'adem' dalam arti kiasan dan dalam arti yang sesungguhnya,hehe.

karena memang yang bikin 'adem' gak hanya suasananya, tapi juga orang-orang yang sering 'nongkrong' disana #narsisme. tapi emang gitu lho, kata banyak responden. entah itu termasuk saya atau enggak, hihi.





Tapi sebenernya, ada poin plus dan minusnya kondisi ini. poin plusnya adalah, mempererat ukhuwah para pengurus LKI karena sering berkumpul di Mushalla, mempererat kecintaan pada masjid dan turut andil dalam menghidupkan mushalla.




Sedang poin minusnya, akhirnya tampak seperti ada kesenjangan antara aktivis LKI dengan aktivis lembaga lain (secara tempat 'nongkrong'nya aja udah beda.), 
pengurus LKI jadi lebih gak update tentang info atau isu terkini yang mungkin udah heboh diperbincangkan para pengurus lembaga lain, dan pastinya sekertariat LKI jadi sedikit 'terbengkalai', karena syuro atau rapat lebih sering dilakukan di 'grima lantai 2'. 

Begitulah cerita LKI dan NurusSyifa. bagi saya sendiri, LKI dan NurusSyifa adalah sebuah kenangan tentang cinta (mellow lagi dah...). 
LKI adalah lembaga tempat saya dibina dan Nurussyifa adalah ruang pembinaannya. nurusSyifa, tempat dimana selalu bisa saya temukan saudari-saudari tercinta, mulai dari dipanggil 'dek..' hingga semua memanggil 'mbak.', mulai dari menjadi adik kelas manja yang dibina kakaknya, hingga jadi kakak yang membina adik-adiknya. yah, nurusSyifa memang sebuah kenangan tentang ukhuwah, dan dakwah.




Sebentar lagi tidak akan ada lagi nurusSyifa, karena adanya proyek pembangunan di fakultas saya. nurusSyifa akan diratakan, diganti dengan bangunan lain yang lebih megah. sedikit sedih rasanya.


Melihat nurussyifa rasanya sedikit bernostalgia dengan proses perjalanan saya, dan ikhwah lain tentunya. nurussyifa pasti juga memiliki kesan tersendiri bagi mereka. 

tapi, ada dan tidak adanya nurussyifa, LKI harus tetap melangkah, dakwah harus tetap jalan. karena lahan dakwah bukan di nurussyifa saja. iya kan? LKI dan nurussyifa, sebuah kenangan tentang dakwah dan ukhuwah.





"Kepada LKI tercinta, terima kasih yg tak terhingga untuk segalanya. 
Terima kasih untuk setiap tempaan yang membuat ku terus melangkah, 
terimakasih untuk ilmu dan pengalaman yang ku dapatkan. 
Terimakasih untuk cinta dan persaudaraan terindah yang pernah kurasakan. 
Meski keimanan masihlah compang camping, namun,, tanpa izin Allah untuk bergabung dengan LKI, entah seperti apa jadinya, Diah ayu kusumaningtyas saat ini. 

Terus berjuang LKI, merancang peradaban madani, 
 menyeru pada yang ma’ruf, mencegah pada yang mungkar untuk FKUB Islami dan berprestasi" 
(diah, 2011 @smile LKI) 
Hidup menyajikan banyak pilihan, setiap kita memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan. Tapi,,, setiap pilihan akan dimintai pertanggung jawaban kelak. Lantas jalan apa yg kemudian harus kita pilih? 

 Dakwah ini berkata: Ahlan wa sahlan dalam jalan cinta para pejuang ! 
 memetik cinta dari langit dan menebarkannya ke bumi.



“Berjalanmu dalam melakukan semua kegiatan, berangkat dan pulangnya, Untuk Allah. 
 Dudukmu dalam mengikuti rapat dan koordinasi, Untuk Allah. 
 Suaramu saat engkau menyempaikan pendapat dan pandangan, untuk Allah. 
 Mengawali dan mengakhiri rapat dalam semua pertemuanmu, untuk Allah. 
 Program kerja yang engkau tunaikan, Untuk Allah. 
 Berlelah-lelahmu, untuk Allah. 
 Berpagi-pagimu, untuk Allah. 
 Bermalam-malammu, untuk Allah. 

 Engkau hanya perlu menyadari bahwa kemuliaan itu hanya milik Allah. 
 Bukan jabatan, posisi, kedudukan, harta, dan materi dunia. 
 Engkau hanya perlu memupuk dan menguatkan kecintaan kepada Allah, karena... Pada sisi Allah terdapat segala kekuatan dan kesempurnaan 

 Tidak ada orang terhina selama dia mendekat kepada Allah 
Tidak ada orang mulia dalam menjauhi Allah 
 Maka, resapilah setiap hari setiap saat betapa nikmat berada di jalan dakwah ini karena, 
 Proposalmu adalah kepada Allah, bukan kepada manusia. 
 Proposalmu adalah kerja di JalanNya, bukan posisi di dunia. 

 Maka mari kita nikmati jalan dakwah ini “sebagai apapun” aku “tidak sebagai apapun” 
 posisi dalam dakwah ini datang dan pergi. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, 
 bisa pula tidak pernah kembali. Bisa “iya” bisa “tidak” 
 Iya, menjadi pengurus, pemimpin, pejabat dan semacam itu. 
 Atau tidak menjadi pengurus, pemimpin, pejabat, tidak menjadi apapun yang bisa disebut. 

 “Selamat Menempuh Jalan Dakwah yg Begitu Nikmat Setiap Waktu Setia saat” 

 -Cahyadi Takariawan-

Senin, 21 Januari 2013

Tegar dalam kelembutan, lembut dalam ketegaran

Kau mencintaiku
Seperti bumi Mencintai titah Tuhannya.
Tak pernah lelah Menanggung beban derita,
Tak pernah lelah Menghisap luka

Kau mencintaiku
Seperti matahari Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah Membagi cerah cahaya
Tak pernah lelah Menghangatkan jiwa

Kau mencintaiku
Seperti air Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah Membersihkan lara
Tak pernah lelah Menyejukkan dahaga

Kau mencintaiku
Seperti bunga Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah Menebar mekar aroma bahagia
Tak pernah lelah Meneduhkan gelisah nyala

      puisi ini mengingatkan saya akan cinta seorang ibu pada anaknya. seperti kata pepatah "cinta anak sepanjang galah, namun cinta bunda sepanjang masa"
just like my beloved mom as well

       suatu ketika keponakan saya sakit. kebetulan kakak saya dan anaknya ini sedang menginap beberapa hari di rumah karena ada acara (saya lupa acara apa tepatnya). mungkin karena sibuk dengan acara inilah, si kecil bintang (nama keponakan saya.red) jadi tersisihkan dan jatuh sakit akhirnya. saat itu bintang sakit panas sampai tubuhnya kejang. kami semua panik, terutama kakak saya dan suaminya. segera kami bawa bintang yang badannya sudah sangat lemah ke puskesmas terdekat. 
       Di puskesmas pun kondisi tidak terlalu membaik. tubuh si kecil masih kejang meski sudah di beri anti kejang. kami panik, saat itu saya masih duduk di bangku SMP dan saya tidak pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya. saya sangat panik kala itu. karenanya, perawat disana meminta saya menunggu diluar daripada semakin memperkeruh suasana (hehe, not helping at all) akhirnya saya hanya duduk di luar sambil berdoa. 
         Lalu tiba-tiba bapak saya menghampiri saya. beliau kelihatan tenang sekali. berbeda jauh dengan kondisi kakak saya dan kakak ipar. beberapa saat kemudian saya lihat keponakan saya sudah sadar dan tampak tenang dalam gendongan ibu saya. sementara kakak....mungkin perasaannya masih kalut. dalam hati saya bertanya "bapak ini kok bisa tenang banget gini liat cucunya sekarat!" batin saya agak kesal, penuh ketidakmengertian.
         ketika suasana sedikit membaik, bapak mengajak saya untuk mencari sarapan di sekitar puskesmas (maklum, karena kejadiannya mendadak pagi-pagi, akhirnya kami semua lupa sarapan, dan sayapun jadi tidak peka dengan bunyi perut yang keroncongan sejak tadi). setelah sampai di warung makan, sembari menunggu soto ayam datang. bapak mulai bercerita, "dulu waktu kamu kecil, bapak sudah sering banget mengalami kejadian kayak gini. panas sampai kejang-kejang. mulai usia 2 bulan sampai menginjak 5 tahun" ucap beliau. 
      Sebenarnya saya sudah sering mendengar cerita ini. tante, om, teman-teman bapak dan ibu, juga saudara-saudara yang menjadi saksi terjadinya peristiwa sakitnya saya (lebay mode: ON) sering menceritakannya. "kamu dulu pernah dipasang selang di hidung buat jalan masuknya makanan, pernah diberi bantuan pernapasan dengan tabung oksigen juga" cerita tante saya. "padahal waktu itu kamu usia 2 bulan" kala itu saya hanya menjawab dengan ber'oo...' panjang. tanpa bisa membayangkan, bagaimana perasaan kedua orang tua saya saat itu. padahal menurut cerita, ibu saya sangat kalut hingga ketika kondisi saya mulai kritis beliau selalu bertakbir dengan suara yang mirip lolongan. ayah sayapun tidak kalah paniknya. sangking paniknya hingga sholatpun tidak tahu arah kiblatnya.subhanallah...,  

Kau mencintaiku 
Seperti bumi Mencintai titah Tuhannya. 
Tak pernah lelah Menanggung beban derita 
Tak pernah lelah Menghisap luka 

saya gak membayangkan bagaimana jika saya berada di posisi mereka. 

ok, from now on, i'd like to tell you about my mom. #lagi pingin cerita tentang ibu,nih.gak papa yah?^^ 

       ibu saya, orangnya lovely banget. lucu, polos, friendly, but she is strong. 
beliau mengajarkan saya betapa sesungguhnya wanita memiliki kekuatan luar biasa dalam dirinya. wanita, meski lembut nampak luarnya namun ia bisa menjadi ksatria yang gagah untuk keluarganya, khususnya anak-anak sumber kebahagiaan bagi dirinya. 

Kau mencintaiku 
Seperti air Mencintai titah Tuhannya 
Tak pernah lelah Membersihkan lara 
Tak pernah lelah Menyejukkan dahaga 

    ibu saya mengajarkan bagaimanapun sulit kondisi yang menimpa kita, senyum harus terkembang, perjuangan harus dilanjutkan. karena diam tak akan merubah keadaan. 

       Sungguh kawan, 
       perjuangan hidup beliau tidaklah mudah. tapi beliau selalu tampak ceria. nampak gembira meski bahagia tak selalu menyapa. beliau sosok yang sangat menenangkan. apapun kesulitan di depan mata, jika beliau berkata 'enggak nak, hal itu nggak sesulit yang kamu sangka' saya akan percaya dan merasa tenang. meski kadang saya tahu, tak selalu ucapannya itu benar. 
           seperti suatu ketika, saat saya mendengar cerita betapa sakit rasanya melahirkan, bahkan dosen pun menjelaskan begitu lugas bahwa proses itu sangat menyakitkan, bahkan ditambah dengan bukti-bukti ilmiah dan pengakuan para korban #lho? para ibu yang sudah pernah melahirkan maksudnya (termasuk ibu kost saya, yang baru saja melahirkan) 
          saya lalu menceritakan hal itu pada ibu saya, dengan wajah meringis, ngeri membayangkan sakitnya saya bertanya 
"emang suaaakiiit banget ya bu?" tanya saya. 
          saya mengira jawaban ibu saya akan seperti kebanyakan jawaban ibu-ibu yang lain, yaitu "iya sakit banget, makanya jangan durhaka jadi anak". #atau jangan-jangan ini pikiran saya saja, kalau ibu yang ditanya anaknya akan menjawab seperti itu,hehe
ibu saya kemudian terdiam sesaat. nampak berpikir, mungkin kali ini tidak mudah bagi ibu untuk mengatakan "tidak terlalu" seperti biasanya, karena mengingat betapa sakitnya memang proses itu. tapi beberapa saat kemudian beliau menjawab 
"enggak kok nak, gak sakit..." jawabnya berusaha menenangkan, "gak terlalu sakit...." tambahnya. 
          saya tersenyum "bohooooong..." jawab saya segera.

          Jelas-jelas menurut teori sakit banget, batin saya. tapi sekali lagi, ibu berhasil menenangkan saya. meski saya tahu ucapan ibu tadi tidak sepenuhnya benar, meski saya tahu jelas ucapan ibu hanya untuk menghibur ketakutan saya, meskipun saya sudah mendengar dan mempelajarinya sendiri dari sumber yang lebih tepercaya. tapi secara ajaib saya langsung percaya, saya lebih meyakini ucapan ibu saya, bahwa melahirkan is not that bad like they said.  

Kau mencintaiku 
Seperti matahari Mencintai titah Tuhannya 
Tak pernah lelah Membagi cerah cahaya 
Tak pernah lelah Menghangatkan jiwa 

         Ibu, sosok yang mempesona dalam kesederhanaannya.
 tak jarang para sepupu saya menceritakan permasalahannya pada ibu, permasalahan yang bahkan tak bisa mereka ceritakan pada ibu mereka sendiri. mulai dari masalah pekerjaan, pribadi, hingga percintaan. pernah suatu ketika ibu bertanya "gak ada yang lagi PeDeKate gitu tah ke kamu?"
           pertanyaan yang spontan membuat saya ingin tertawa terbahak-bahak. bukan karena konten pertanyaannya, tapi karena gaya bicara beliau yang polos dan lucu sekali menurut saya. hmmm, mungkin ibu berpikir, ini sepupu-sepupunya aja sering curhat tentang masalah pacar, kok anaknya sendiri gak ada kabar berita,hehe. saya tersenyum, berusaha menutupi tawa tapi tampaknya ibu tahu, lalu beliaupun ikut tertawa  
"hehehe, lebay ya?"katanya sambil malu-malu. 

       Tawa saya sudah tidak dapat ditahan. lucu sekali rasanya mendengar ibu mengucap kata "lebay" dan "PDKT".  pasti tahu dari sinetron tivi nih, batin saya. akhirnya setelah tawa mereda, dengan berlagak sok cool di depan ibu saya jawab "gak ada buk"

"gak ada yang suka sama kamu tah emangnya?" tanya beliau lagi. 
"gak ada tuh" jawab saya pura-pura cuek, sambil diam-diam ngelirik kearah ibu, memperhatikan mimik mukanya. 

 "ooh..." kata ibu kemudian menyerah, nampaknya kecewa. 

"hehehe, tenang buk... tunggu tanggal mainnya" kata saya asal, moga-moga gak kualat. (maap ya buk, daripada bohong dan mem-PHP-in ibu sendiri). 

       Ibu saya orang yang lembut hatinya. hatinya sangat mudah tersentuh, sangat mudah menitihkan air mata. jika mendengar cerita atau curhatan orang lain, tak jarang air matanya mengalir. bahkan, ketika menonton acara di TV, yang menurut saya gak ada sedih-sedihnya sama sekali beliau juga meneteskan air mata. haduuuh, pernah beliau menangis waktu menyaksikan salah satu kontestan idola cilik, yang notabene baru diliatnya hari itu juga (ibu saya gak ngikutin acara itu sebelumnya) tereliminasi, dan menangis sambil meluk mamanya. saya bingung menyaksikan ibu saya menangis didepan TV 

"anak ini mirip Abin, kasian" katanya. 

      Abin adalah nama panggilan panggilan dari bintang, keponakan saya, cucu beliau. 
      walah.. ibu... ibu..., batin saya sambil tertawa guling-guling disampingnya. 
      Saya pernah menangis, protes kepadanya. saat itu saya ingin meluapkan kekecewaan saya pada beliau, kekecewaan yang sebenarnya merupakan kesalahan saya pribadi yang tidak memahami maksud ibu yang sesungguhnya. ketika hendak menumpahkan semua kalimat-kalimat itu, air mata sudah duluan membanjiri wajah, membuat saya tidak sanggup berkata-kata. ibu saya spontan juga menitihkan air mata. melihat saya menangis, tanpa lebih dulu mengetahui penyebabnya, tanpa saya mengatakan sebuah katapun sebelumnya, ibu saya sudah menangis, sedih melihat saya menangis. meski akhirnya kata-kata beliau kembali dapat menenangkan saya. 

Kau mencintaiku 
Seperti bunga Mencintai titah Tuhannya 
Tak pernah lelah Menebar mekar aroma bahagia 
Tak pernah lelah Meneduhkan gelisah nyala. 

       Ibu, 
ibu yang begitu lembut hati ini ternyata juga sosok yang sangat ceria. sosok yang kedatangannya selalu ditunggu oleh keluarga besar saya. 
"tante lucu mana nih, kok belum datang?" begitu biasanya keluarga besar kami memanggilnya. 

     Meski ujian hidupnya begitu berat, ibu tak pernah lupa untuk tersenyum, menebar kebahagiaan untuk orang-orang sekitarnya. karena senyum ibadah, karena senyum adalah bukti termudah bahwa kita bersyukur pada karuniaNya. 
       Ibuku, ibu yang ceria ini juga merupakan sosok yang sangat tegar, ia mampu berdiri tegak menghadapi semua ujianNya tanpa pernah menyerah. selalu kuat, betapapun beratnya, beliau selalu menjadi sosok pelindung yang paling dapat diandalkan bagi kami anak-anaknya. tak pernah ia biarkan kami merasakan getirnya ujian yang dia rasa 
        "cukup ibu yang merasakan, semoga Allah mengkaruniakan nikmatNya kepada anak-anak ibu" ucap beliau. 

        Thank mom, for being our guardian angel. 
Thank Allah, for send us the most beautiful angel ever. please give Your blessing to my parent, especially for my beloved mother. guide her to your rahmah, let us get together again in Your jannah. aamiin