Tampilkan postingan dengan label Dakwah Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah Cinta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Maret 2017

masa

Hari ini saya dapat kiriman foto adek-adek akhwat di kampus. semua tampak cantik dengan senyum manisnya ,hanya sayangnya....wajah-wajah itu..sudah tidak ada yang saya kenali. hahahaha...
 
Baiklah sebenarnya ada satu orang yang saya kenali, dan dia sudah tergolong sang 'senior' di kumpulan itu. adik yang sebenarnya hanya saya tahu sekilas. kenal sebentar di bulan-bulan akhir menjelang kelulusan saya. saat itu si adik masih mahasiswa baru yang polos dan lugu. tapi sekarang dia sudah menjadi public figure kampus. pembicara disini dan disitu, tampil disini dan disana.
 
Hehh....waktu sungguh sangat cepat berlalu. setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Yap, itulah kenapa kaderisasi adalah suatu keniscayaan. kaderisasi itu perangkat utama dari amal jariyah.  meski si pelaku silih berganti, tapi niat dan amalnya tetap berlanjut.
 
Lihatlah meski saya tidak lagi mengenal mereka, tapi saya kenal betul jaket hitam yang mereka kenakan itu. jaket hitam dengan desain sederhana yang dari tahun ke tahun tak pernah ada perubahan. tidak ada perintah untuk tak mengubah sebenarnya. hanya saja, dengan tetapnya desainnya jadi seolah menyatukan kita. menyatukan saya dengan mereka. karena jaket yang mereka kenakan juga sama persis dengan jaket yang saya punya. Ish kariman Aumut Syahidan.  hidup mulia atau mati syahid. serem ya? hehe...awalnya saya juga berpikir demikian. kok gitu amat nih motto ya? serasa ngajakin mati gitu...hiiyyyy!!!
 
tapi enggak demikian maksudnya. jadi, hidup ini kan pilihan. saya mau hidup seperti apa dan mau jadi apa itu terserah kita. nah jika hidup ini pilihan, mengapa kita tidak memilih hidup menjadi orang mulia? bukan mulia karena harta atau kedudukan, tapi mulia karena amal perbuatan kita, karena akhlak atau perilaku kita, dan karena ibadah. tak peduli kita miskin atau kaya, saat tua maupun muda, kita selalu punya kesempatan untuk menjadi manusia mulia, mulia  dimata Tuhan, bukan sekedar anggapan manusia.
 
dan tak hanya hidup, matipun menyediakan beberapa pilihan. mati dalam kondisi terlaknat, atau khusnul khotimah?. setiap yang bernyawa akan mengalaminya, kematian. jika tiba saatnya, kita tidak akan sanggup menundanya walau sedetik. nah, jika dalam hidup saja kita memilih yang terbaik, mengapa saat mati kita tidak memilih mati dalam kondisi terbaik? dan sebaik-baik kondisi saat kita mati adalah mati syahid, yang dijamin surga, yang dijamin diampuni dosa-dosanya. siapa yang tidak menginginkannya kawan?
 
maka sungguh indah bukan, makna tulisan yang tertulis dijaket hitam itu, Ish kariman, aumut syahidan. hidup mulia atau mati syahid.
 
dan tentu yang juga tak kalah meaningful adalah tulisan yang tertera di bagian punggung si jaket hitam, keluarga besar muslim fakultas......Universitas.....
dibanding menuliskan nama lembaga kami, tulisan keluarga besar muslim itu sungguh menyentuh sekali. menandakan lembaga ini bukan milik anggotanya saja, tapi semua civitas akademia. jaket itu bukan jaket lembaga, tapi jaket seluruh civitas muslim fakultas. karena kita semua saudara, tak ada yang lebih baik atau lebih sholeh, semua bersaudara, semua satu keluarga. ahh.... jadi makin bangga memakainya.
 
btw, ini kenapa jadi bahas jaket ya? hehehe. namanya juga curhat. jadi apa yang terlintas ditulis saja. 
 
mengarungi samudera kehidupan,
kita ibarat para pengembara,
hidup ini adalah perjuangan,
tiada masa tuk berpangku tangan
 
*S.E.M.A.N.G.A.T.!!!! 
 


Sabtu, 07 Januari 2017

Istimewanya Pemuda

Para pemuda selalu mempesona.
Lihatlah mereka, tidurpun membawa perubahan, apalagi terjaga. 
Para pemuda kahfi memilih kabur dari kampung halaman untuk menyelamatkan keimanan, akhirnya ditidurkan selama beratus tahun kemudian. Dan hal ini jadi pelajaran kelak, betapa hari kebangkitan bukan bualan semata).

Muda identik dengan "hijau". Masih hijau artinya masih bertumbuh, berkembang. Sementara yang matang berarti akan segera membusuk.

Muda identik dengan 'tidak berpengalaman'. TAPI,  jika 'berpengalaman' berarti mengatasi masalah baru dengan cara lama, itu berbahaya!.

Muda identik dengan kebersamaan dalam keprihatinan, solidaritas. 
Kadang kita sulit bersatu saat telah banyak ber'punya', luas berdaya. Hingga tiap hubungan yang dijalin menuntut adanya keuntungan dari masing-masing

Muda identik dengan kejelasan sikap. 
Hitam dan putih, ya atau tidak. Tidak ada jalan ketiga. Ini hal yang tepat untuk utusan aqidah.

Muda identik dengan gejolak. Titik temu dari semua gejolak ini akan jadi sebuah terobosan. Di situlah masa depan, melampau apa yang dicapai oleh pendalaman bidang.

Muda identik dengan pesona dan ketangguhan fisik. Dua hal inilah yang akan membantu sebuah ide perubahan tampil menarik, segar dan cantik.

Muda identik dengan ketergesaan, inginnya sekilas langsung terwujud. Maka ia disabarkan, 'tidurkan gelora' sembari dengan mempersiapkan perangkat.

Muda identik dengan ketergodaan dan gelimang nikmat. Maka, mereka yang memilih jalan sunyi untuk berjuang, sudah pasti istimewa.

Muda juga identik dengan sedikitnya beban sejarah. Maka mereka lebih merdeka dalam bersikap, sebab tak terbelenggu oleh rekam jejak masa lalu.

Muda identik dengan mempertanyakan. Nah, kecerdasan memang disitulah letaknya, bukan dalam jawaban. Sungguh, satu pertanyaan bermutu dapat membuka jawaban beribu-ribu


*from: menyimak kicau merajut makna by Salim A. Fillah (dengan sedikit editan dari saya)


Streaming youtube sembari mendengarkan ceramah asik dari ustadz Salim. Very recommended to watch!  Apalagi kalau kamu pemuda 😊

Kamis, 27 Juni 2013

Sesibuk Apakah Kita?

by Dwi Budiyanto
Acapkali kita tinggalkan medan dakwah dengan alasan sibuk. Ringan betul untuk mengucapkan kata “sibuk”. Seakan-akan jalan dakwah hanya ditempuhi oleh para penganggur yang kurang kerjaan. Sementara mereka yang merasa sibuk dapat berdalih untuk meninggalkannya.
Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris dalam “Fi Zhilal al-Sirah an-Nabawiyah Ghazwatul Badr al Kubra wa Ghazwatul Uhud” menuturkan bahwa Rasulullah telah memimpin 27 ghazwah (peperangan) dan memberangkatkan sekitar 38 sariyah serta ekspedisi. Nabi mengatur dan mengendalikan hal tersebut dalam kurun waktu yang sangat singkat dalam, yaitu sepuluh tahun. Pendapat ini sesuai dengan Ibnu Hisyam di dalam Sirah-nya. Itu artinya, dalam setahun Rasulullah terlibat dalam dua sampai tiga kali pertempuran.

Mari kita bayangkan betapa sibuknya Rasulullah mengatur semua itu. Berapa lama waktu yang digunakan untuk konsolidasi, mobilisasi, latihan, perjalanan, dan semua agenda yang menyertai pertempuran?

Mari kita bayangkan betapa capek dan lelahnya Sang Rasul beserta para sahabat menempuhi hari-hari penuh perjuangan. Sekali lagi, mari kita bayangkan bagaimana kesibukan itu ditunaikan tanpa keluhan. Dalam situasi demikian, Rasulullah masih berkesempatan mengajar para sahabat, menerima tamu, menyimak keluhan dan konsultasi, membersamai istri-istri beliau, bahkan juga bermain akrab dengan anak-anak. Tak ada satupun kewajiban yang ditanggalkan. Tak ada satupun hak orang lain dilalaikan.

Malu rasanya diri ini ketika meninggalkan amal kebaikan dengan alasan sibuk. Seakan-akan kita jauh lebih sibuk daripada Rasulullah. Seakan-akan beban yang harus ditanggungkan melebihi beban Rasulullah.

Kita lupa Rasulullah saw pernah menasihatkan bahwa sebaik-baik orang ialah yang sibuk dalam berkebajikan dalam rentang waktu umur diberikan. Inilah yang terpelajari ketika seorang laki-laki datang menemui Sang Nabi dan bertanya,
“Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?” 

Rasulullah menjawab, “Ialah yang panjang umurnya, baik pula amalnya.”

Lelaki itu kembali bertanya, “Lalu siapakah lelaki yang paling buruk?”

Dan Rasulullah pun kembali menjawab, “Ialah yang berpanjang umurnya dan buruk amalnya.”
(H.r. Imam Ahmad). Inilah yang terpahami bahwa berlelah-lelah bersebab sibuk dalam kebaikan jauh lebih utama daripada segar bugar dalam kelalaian.
Menelisik ke dalam diri, adakah kesibukan telah dijadikan alasan untuk bermalas-malas dan semakin menjauh dari aktivitas kebaikan? Pasalnya, bukan karena banyaknya kesibukan kita menjadi lemah dan rapuh. Kadangkala, bersebab jiwa kita yang melemah dan merapuhlah maka seseorang teramat lihai menyusun 1000 macam alasan yang terasa menyibukkan.

Bagaimana saya akan aktif dalam dakwah sementara tugas-tugas kuliah tumpuk-menumpuk? Bagaimana saya akan aktif di forum-forum pembinaan sementara waktu saya telah tersita di tempat kerja? Rasanya amat berat bagi saya untuk mengampu binaan, kesibukan menjalin relasi bisnis menjadikan saya khawatir tidak amanah. Orientasi yang memudar, motivasi yang melemah, semangat yang mengendur, biasanya, bermula dari jiwa kita yang tak terjaga dengan baik.

Teringat nasihat Dr. Sayyid Muhammad Nuh, “Seorang dai harus memenuhi semua relung jiwanya dengan dakwah. Ia tidak berdiri, duduk, bergerak, atau berhenti, berbicara atau diam kecuali dalam kerangka dakwah.”

Sungguh bersibuk-sibuk dalam kebaikan akan meluruhkan seluruh lelah di badan. Bersuntuk-suntuk dalam perlombaan duniawi tanpa kejelasan orientasi ukhrawi hanya menjadikan sesak di hati. Tak ada yang perlu disesalkan dari kesibukan kita dalam dakwah. Bukankah itu tabiat jalan yang mesti kita tunaikan. Begitulah yang dilakoni para nabi. Nuh ‘alaihissalam misalnya, tak lelah berdakwah sepanjang malam dan siang (Q.s. Nuh [71]: 5), meski perujung pada penolakan demi penolakan. Orang-orang salih selalu sibuk dalam kebaikan. Bagaimana halnya dengan kita? Semoga tetap berkebajikan dan tidak merasa seakan lebih sibuk daripada Rasulullah.

http://www.pkspiyungan.org/2013/06/sesibuk-apakah-kita.html

Rabu, 19 Juni 2013

Sambut Maba 2013


Rohis Menyambut Mahasiswa Baru Universitas Brawijaya 2013. Selamat datang di kampus tercinta mari bersama mendulang cita :D
#RohisItuKeren

Ini jajaran ketua umum-ketua umum Rohis kampus dan Fakultas periode 2013 :)



Kamis, 09 Mei 2013

Menulis


إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
"Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu; maka ia berbalas tambahan pengertian; makin bening, makin luas, kian dalam, dan kian tajam. Agungnya lagi; sang penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu dan ruang. Ia tak dipupus masa dan usia, ia tak terhalang ruang dan jarak. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis kan adi mengabadi. Tetapi bagi kita, makna keabadian karya bukan hanya soal masyhurnya nama; ia tentang pewarisan nilai. Apakah kemaslahatan yang kita lungsurkan, atau justru kerusakan.

 Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluk pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, dan ayat pertama berbunyi “Baca!” Tersebut dalam hadis riwayat Imam Ahmad dan ditegaskan Ibnu Taimiyah dalam Fatawa, “Makhluk pertama yang dicipta-Nya ialah pena, lalu Dia berfirman, “Tulislah!” Tanya Pena, “Apa yang kutulis, wahai Rabbi?” Maka Allah titahkan, “Tulislah segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhluk-Ku sejak awal zaman hingga akhir waktu.”

 Penulis sejati menghayati pesan Nabi; bicaralah pada kaum sesuai kadar pemahamannya, bicaralah dengan bahasa yang dimengerti oleh mereka. Penulis sejati memahami; dalam keterbatasan ilmu yang dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang bersahaja. Itu pun tidak dalam rangka mengajari; tapi berbagi. Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi, dan tambahan data.

Penulis sejati juga tahu; yang paling berhak mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya memahamkan hakikatnya berhulu di sini. Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca disebabkan dia pun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata. Begitulah daya memahamkan; dimulai dengan sikap jiwa yang adil, haus ilmu, dan rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan dengan tekad bulat untuk menjadi orang pertama yang mengamalkan tulisan, dan berbagi pada pembaca dengan hangat, akrab, serta penuh cinta.

Penulis sejati mengukirkan semboyan, “Hanya sedikit ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kautahu.” 

(Salim A. Fillah)



Sabtu, 13 April 2013

Mutiara-Mutiara Bening

Sejarah bercerita kepada kita, di mana ada penentang Allah maka di situ pula akan lahir para pembela, bahkan dari situlah muncul mutiara-mutiara bening. Siapa yang menyangka bahwa putra dari seorang pembuat berhala akan menjadi seorang Rasul bahkan menjadi bapak para Nabi, dialah Ibrahim. Lahir dan besar di kalangan penyembah berhala, namun dia menjadi mutiara di tengah rusaknya moral penduduk negerinya.


Begitupun kisah Fir’aun dan Nabi Musa, Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan melakukan segala cara untuk membunuh calon penentangnya bahkan ketika Musa masih dalam kandungan. Namun toh akhirnya Fir’aun yang membesarkan Musa di istananya, dan ternyata orang yang dia besarkan dan dijadikan anak angkat itu adalah orang yang menjadi penentang utamanya. yah penentang yang dulu ingin dibunuhnya. 

Siapapun, di manapun, apapun dan bagaimanapun keadaannya, jika Allah menghendaki maka tidak ada yang bisa mencegahnya. 

Rasulullah mencontohkan itu kepada kita, bahwa siapapun dia, kita harus menyisakan harapan bahwa orang itu akan mendapat hidayah dari Allah, maka di awal-awal dakwahnya Rasulullah Saw berdoa agar Islam diperkuat oleh salah satu dari dua Umar. Dua Umar yang dimaksud adalah Amr bin Hisyam dan Umar bin Khaththab. Kedua orang ini adalah penentang dakwah, Ternyata hidayah Allah datang pada Umar bin Khaththab. 


Lalu pernahkah kita mendoakan orang-orang kuat dan mempunyai pengaruh agar mereka mendapat hidayah? Sepertinya kita harus belajar mencontohi Nabi dalam masalah ini. 


Taken From : http://www.dakwatuna.com/2013/04/09/30846/cermin-bening-dari-alexandra/#ixzz2QLnRKsd9



Rabu, 23 Januari 2013

NurusSyifa dan LKI

Mushalla NurusSyifa dan LKI (lembaga kerohanian Islam) bagi saya adalah hal yang tak dapat dipisahkan. ibaratnya jika nurussyifa adalah tubuh, maka LKI adalah ruhnya.

Mushalla NurusSyifa adalah mushalla yang ada di fakultas saya. bangunannya menjadi satu dengan Grima atau griya Mahasiswa, tempat semua sekertariat Organisasi,lembaga dan himpunan berada. termasuk LKI. bangunan ini berlantai 2. lantai 1 difungsikan untuk grima, sedang lantai 2 untuk mushalla.


Nah, karena bangunannya menyatu inilah akhirnya para pengurus LKI lebih sering 'nongkrong' di Mushalla, dilantai dua. "lebih adem soalnya" komentar beberapa ikhwah. 'adem' dalam arti kiasan dan dalam arti yang sesungguhnya,hehe.

karena memang yang bikin 'adem' gak hanya suasananya, tapi juga orang-orang yang sering 'nongkrong' disana #narsisme. tapi emang gitu lho, kata banyak responden. entah itu termasuk saya atau enggak, hihi.





Tapi sebenernya, ada poin plus dan minusnya kondisi ini. poin plusnya adalah, mempererat ukhuwah para pengurus LKI karena sering berkumpul di Mushalla, mempererat kecintaan pada masjid dan turut andil dalam menghidupkan mushalla.




Sedang poin minusnya, akhirnya tampak seperti ada kesenjangan antara aktivis LKI dengan aktivis lembaga lain (secara tempat 'nongkrong'nya aja udah beda.), 
pengurus LKI jadi lebih gak update tentang info atau isu terkini yang mungkin udah heboh diperbincangkan para pengurus lembaga lain, dan pastinya sekertariat LKI jadi sedikit 'terbengkalai', karena syuro atau rapat lebih sering dilakukan di 'grima lantai 2'. 

Begitulah cerita LKI dan NurusSyifa. bagi saya sendiri, LKI dan NurusSyifa adalah sebuah kenangan tentang cinta (mellow lagi dah...). 
LKI adalah lembaga tempat saya dibina dan Nurussyifa adalah ruang pembinaannya. nurusSyifa, tempat dimana selalu bisa saya temukan saudari-saudari tercinta, mulai dari dipanggil 'dek..' hingga semua memanggil 'mbak.', mulai dari menjadi adik kelas manja yang dibina kakaknya, hingga jadi kakak yang membina adik-adiknya. yah, nurusSyifa memang sebuah kenangan tentang ukhuwah, dan dakwah.




Sebentar lagi tidak akan ada lagi nurusSyifa, karena adanya proyek pembangunan di fakultas saya. nurusSyifa akan diratakan, diganti dengan bangunan lain yang lebih megah. sedikit sedih rasanya.


Melihat nurussyifa rasanya sedikit bernostalgia dengan proses perjalanan saya, dan ikhwah lain tentunya. nurussyifa pasti juga memiliki kesan tersendiri bagi mereka. 

tapi, ada dan tidak adanya nurussyifa, LKI harus tetap melangkah, dakwah harus tetap jalan. karena lahan dakwah bukan di nurussyifa saja. iya kan? LKI dan nurussyifa, sebuah kenangan tentang dakwah dan ukhuwah.





"Kepada LKI tercinta, terima kasih yg tak terhingga untuk segalanya. 
Terima kasih untuk setiap tempaan yang membuat ku terus melangkah, 
terimakasih untuk ilmu dan pengalaman yang ku dapatkan. 
Terimakasih untuk cinta dan persaudaraan terindah yang pernah kurasakan. 
Meski keimanan masihlah compang camping, namun,, tanpa izin Allah untuk bergabung dengan LKI, entah seperti apa jadinya, Diah ayu kusumaningtyas saat ini. 

Terus berjuang LKI, merancang peradaban madani, 
 menyeru pada yang ma’ruf, mencegah pada yang mungkar untuk FKUB Islami dan berprestasi" 
(diah, 2011 @smile LKI) 
Hidup menyajikan banyak pilihan, setiap kita memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan. Tapi,,, setiap pilihan akan dimintai pertanggung jawaban kelak. Lantas jalan apa yg kemudian harus kita pilih? 

 Dakwah ini berkata: Ahlan wa sahlan dalam jalan cinta para pejuang ! 
 memetik cinta dari langit dan menebarkannya ke bumi.



“Berjalanmu dalam melakukan semua kegiatan, berangkat dan pulangnya, Untuk Allah. 
 Dudukmu dalam mengikuti rapat dan koordinasi, Untuk Allah. 
 Suaramu saat engkau menyempaikan pendapat dan pandangan, untuk Allah. 
 Mengawali dan mengakhiri rapat dalam semua pertemuanmu, untuk Allah. 
 Program kerja yang engkau tunaikan, Untuk Allah. 
 Berlelah-lelahmu, untuk Allah. 
 Berpagi-pagimu, untuk Allah. 
 Bermalam-malammu, untuk Allah. 

 Engkau hanya perlu menyadari bahwa kemuliaan itu hanya milik Allah. 
 Bukan jabatan, posisi, kedudukan, harta, dan materi dunia. 
 Engkau hanya perlu memupuk dan menguatkan kecintaan kepada Allah, karena... Pada sisi Allah terdapat segala kekuatan dan kesempurnaan 

 Tidak ada orang terhina selama dia mendekat kepada Allah 
Tidak ada orang mulia dalam menjauhi Allah 
 Maka, resapilah setiap hari setiap saat betapa nikmat berada di jalan dakwah ini karena, 
 Proposalmu adalah kepada Allah, bukan kepada manusia. 
 Proposalmu adalah kerja di JalanNya, bukan posisi di dunia. 

 Maka mari kita nikmati jalan dakwah ini “sebagai apapun” aku “tidak sebagai apapun” 
 posisi dalam dakwah ini datang dan pergi. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, 
 bisa pula tidak pernah kembali. Bisa “iya” bisa “tidak” 
 Iya, menjadi pengurus, pemimpin, pejabat dan semacam itu. 
 Atau tidak menjadi pengurus, pemimpin, pejabat, tidak menjadi apapun yang bisa disebut. 

 “Selamat Menempuh Jalan Dakwah yg Begitu Nikmat Setiap Waktu Setia saat” 

 -Cahyadi Takariawan-

Minggu, 16 Desember 2012

episode tengah malam

          "17/12/2012" 
        begitu angka yang tertera di layar laptop saya. saya telusuri tepat dibawahnya tertera pula keterangan waktunya  "0:42".

          yah..., pertengahan malam telah lewat. apa yang dilakukan kebanyakan orang pada saat ini?. 
tak perlu ditanya pasti hampir semua sepakat bahwa jawabannya adalah "tidur" atau mungkin diperindah dengan istilah "beristirahat". namun nampaknya tidak demikian dengan beberapa orang saudara saya diluar sana. 
       Ditengah malam seperti ini mereka masih bergulat dengan pekerjaan mereka. bisa dibayangkan betapa letih raga yang sejak pagi harus berdiri, bersiaga, berlalu lalang, menenangkan massa. Besarnya tekanan yang diterima pastilah semakin memperparah keletihannya, karena bukan saja raga yang letih, tapi pikiran dan jiwa pun juga, letih. 
        saya sangat berbangga dengan mereka, yang mau mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan mungkin juga hartanya untuk kepentingan umat. untuk sebuah pekerjaan yang berat. 
        kembali juga saya merasa malu, begitu kecil pengorbanan yang saya lakukan dibanding mereka, juga saudara-saudara saya yang lainnya. 
   
        barakallahu fiykum saudaraku. 
     
      jikalau perjuangan kita saat ini adalah untuk kebaikan, jika perjuangan kita ini adalah untuk berjuang dijalan-Nya, bukan untuk dunia semata, maka tidak akan ada balasan lain dari-Nya kecuali kebaikan pula, 

       "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan(pula)". (QS. Ar-Rahman: 60) 

      dalam diri pasti ada emosi, atau luapan perasaan yang tertahan, karena dalam gejolak usia kita, akan sangat mudah bertindak tanpa mengindahkan situasi, norma maupun peraturan. 
      tapi sekali lagi, saat ini kita belajar, agar marah tak menggerus akhlaq, Dan adil tak terhalang benci. 



     
      karena kita belajar, untuk meraih cita ini dengan langkah yang terirama ridho Ilahi.
      karena kita telah tancapkan visi yang jauh lebih tinggi. 
      tidak sekedar kejayaan dunia yang melenakan, tapi surga-Nya yang menjanjikan. 

  "Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan" (QS. Hud:115). 

     Mari sempurnakan ikhtiar kita, 
     karena kita berjuang tidak sekedar dengan kelihaian, tidak pula dengan hitungan pasukan, 
    tapi sumber utama dari segala kekuatan, adalah IMAN. 
    yang akan menghantarkan sang pejuang pada kemenangan yang dijanjikan 

 "Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad:7)

Selasa, 01 November 2011

Agar Bisa menikmati Indahnya...

kehidupan memang memberikan kita banyak pilihan. dan masing-masing dari kita bebas menentukan pilihan yang mana yang akan kita ambil. tetapi, setiap keputusan dan pilihan kita, memiliki konsekuensi yang harus dipertanggung jawabkan. tidak hanya pada orang lain, ataupun pada diri sendiri. tetapi, pada yang memberi kita kehidupan ini.

saya rasa, semua orang pasti pernah merasa ragu atau bimbang dengan pilihannya. tetapi, yang mungkin bisa dilakukan adalah kembali berkaca pada hati, bercermin pada nurani, dan menyandarkannya pada ridho Ilahi.

manusia hanya bisa berikhtiar, karena mereka tertabir dari masa depan.
karena yang bisa memutuskan kebenaran hanyalah Allah SWT. semoga setiap langkah yang kita tempuh diridhoi olehNya.

sebuah notes yang mengingatkan saya, yang sering sekali khilaf. semoga dapat bermanfaat juga untuk kita semua, apapun pilihan hidup kita.

Bismillah.
Engkau hanya memerlukan kesadaran, bahwa yang engkau lakukan seluruhnya dalam dakwah ini adalah untuk Allah. Kerjamu untuk Allah. Keringatmu untuk Allah. Waktu yang engkau habiskan untuk Allah. Harta yang engkau alokasikan dalam dakwah adalah untuk Allah. Pikiran yang engkau curahkan untuk Allah. Tenaga yang engkau sumbangkan untuk Allah.

Berjalanmu dalam melakukan semua kegiatan, berangkat dan pulangnya, untuk Allah. Dudukmu dalam mengikuti rapat dan koordinasi, untuk Allah. Suaramu saat engkau menyampaikan pendapat dan pandangan, untuk Allah. Mengawali dan mengakhiri rapat dan semua pertemuanmu, untuk Allah. Program kerja yang engkau tunaikan, untuk Allah. Berlelah-lelahmu untuk Allah. Berpagi-pagimu untuk Allah. Bermalam-malammu untuk Allah.




Engkau hanya memerlukan kesetiaan, bahwa segala yang engkau pikirkan adalah untuk Allah. Segala yang engkau kerjakan adalah untuk Allah. Segala yang engkau rancang adalah untuk Allah. Segala yang engkau inginkan adalah ridha Allah.

Engkau tidak perlu memusingkan dirimu akan mendapatkan apa dalam jalan dakwah ini, karena itu urusan Allah. Engkau tidak perlu merisaukan posisimu seperti apa dalam organisasi dakwah karena telah diatur oleh Allah. Mungkin saja engkau mengetahui ada sebagian orang yang hasad kepadamu, kepada posisimu, kepada kedudukanmu, namun engkau telah menyerahkan semuanya kepada Allah. Engkau tidak perlu menyimpan rasa iri dengki atas posisi, kedudukan, jabatan, dan harta benda yang dimiliki saudaramu di jalan dakwah, karena engkau lebih menginginkan kedudukan mulia di sisi Allah.

Engkau tidak perlu resah memikirkan omongan dan sikap orang kepadamu, selama engkau selalu bersandar kepada Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk berharap-harap jabatan, posisi, kedudukan, kekuasaan tertentu dalam perjalanan dakwah, karena telah dikelola oleh Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk mencari-cari gemerlapnya pujian dalam mengemban amanah dakwah, karena segala puji hanyalah milik Allah.

Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu membawa kesadaran Rabbaniyah dalam segala langkah. Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu mengingat Allah dalam segala kegiatan. Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk memberikan kontribusi terbaik di jalan dakwah, dengan segala potensi dan kemampuan yang engkau miliki, karena Allah.

Engkau hanya perlu menyadari bahwa kemuliaan itu hanya milik Allah. Bukan pada jabatan, posisi, kedudukan, harta dan materi duniawi. Engkau hanya perlu memupuk dan menguatkan kecintaan kepada Allah, karena pada sisi Allah terdapat segala kekuatan dan kesempurnaan. Tidak ada orang terhina selama dia mendekat kepada Allah. Tidak ada orang mulia dalam menjauhi Allah.

Maka, resapilah setiap hari setiap saat, betapa nikmat berada di jalan dakwah ini. Karena proposalmu adalah kepada Allah, bukan kepada manusia. Proposalmu adalah kerja di jalanNya, bukan untuk posisi dunia.

Selamat menempuh jalan dakwah yang begitu nikmat, setiap waktu setiap saat.
(Ust. cahyadi Takariawan)
http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=1799