Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Oktober 2013

Sesuatu Yang bernama…… (part 2)

Dengan berlari-lari kecil ia melewati gerbang sekolah. Ditatapnya pos satpam di samping gerbang, nampak didalamnya penghuninya sedang duduk bersantai sembari melihat televisi di mejanya.


Hmmm,, gak telat alhamdulillah...,batinnya

Langkah kakinya melambat, ditatapnya tiap bagian sekolah yang dilewatinya dengan penuh makna. matanya mengamati sekumpulan siswa yang sedang bergurau menanti bel berbunyi, sekumpulan yang lain nampak serius berdiskusi dengan buku-buku diktat tersebar ditengah-tengah mereka. ia terus berjalan hingga pandangannya bertemu dengan obyek itu, obyek yang membuat hatinya malu bercampur damai. 

Sekumpulan gadis berjilbab rapi tengah bercengkerama di halaman masjid sekolah. entah, ia selalu merasa mereka berbeda. meskipun sebelumnya telah ia jumpai pula sekumpulan siswa yang juga bercanda ria, namun gadis-gadis itu selalu membawa aura berbeda bagi dirinya. nampaknya salah seorang dari mereka menyadari kehadirannya. gadis itu memanggil namanya melambaikan tangan sambil tersenyum tulus padanya. ia membalas senyuman dan lambaian tangan itu. 
Yuni, nama gadis itu. gadis yang setengah tahun lalu masih berada dikelas yang sama dengannya, tak hanya itu, yuni juga teman sebangkunya selama hampir setahun. Yuni yang begitu bersahaja, yang tak pernah bosan mengingatkannya untuk sholat Dhuha dan datang ke pengajian sekolah.

"Ayo sholat yuk..."ajaknya

"Aduh...,, laper nih yun. ke kantin dulu yuk, baru abis gitu ke mushalla, gimana?" tawarnya

Yuni mengernyitkan dahi kemudian menggeleng "gak mau, nanti keburu habis waktu istirahatnya"

"Nah..,, justru itu yun. kalo laper khan jadi gak khusyuk sholatnya, jadi mending makan dulu. cepet kok aku makannya" kilahnya lagi

Gadis berjilbab itu kemudian terdiam mengamati wajah sahabat di depannya itu

"Nanti kalo mau masuk surga, kamu ditawarin mau langsung ke surga atau mampir dulu ke neraka, kamu milih yang mana?" ujar yuni akhirnya

tanpa memperpanjang perdebatan ia pun akhirnya mengalah, "oke...oke....ayo sholat dulu aja"

Dan Yuni yang manis pun tersenyum bahagia. 

Ia teringat betapa seringnya yuni mengingatkan dirinya namun ia tetap bergeming, dan selalu mencari-cari alasan untuk menghindar. pernah suatu ketika yuni mengajaknya untuk bergabung dalam kelompok pengajian kecil dari rohis sekolah, ia selalu menolak, selalu disuguhkannya bermacam-macam alasan. alasan kerja kelompok, kumpul teater, hingga ingin pulang cepat. tanpa Yuni tau, alasan sebenarnya kenapa ia menolak adalah karena ia malu, karena ia merasa tidak pantas berada satu lingkungan dengan yuni dan teman-temannya. Allah pasti lebih sayang dengan mereka dibandingkan Hamba sepertiku, batinnya. 

Tanpa terasa ia telah sampai di depan kelasnya. nampak beberapa anak tengah sibuk mengerjakan tugas. diletakkannya tas dan peralatannya di meja. matanya kemudian mulai mencari sesosok gadis, teman dekatnya. 

'Hey..,,' sapa sebuah suara menyadarkannya.

"Eh, disini rupanya. thanks ya bukunya bagus banget..hehe" sosok yang tengah dicarinya ternyata lebih dulu menghampirinya.

"you're welcome. by the way, series keduanya belum terbit. aku juga penasaran pengen segera baca. ntar kalo udah terbit pasti ku kasih tau deh" ucap gadis cantik itu sambil siap beranjak.

"eh,,, mau kemana? mau cerita bentar boleh gak?" cegahnya.

  Temannya itu kembali duduk. ia memang sudah berniat mendiskusikan masalah ini dengan seseorang. sesuatu yang mengganjal pikirannya beberapa hari ini. 

"Aku.... pingin berjilbab" katanya kemudian.

Statement yang menghantui pikirannya selama beberapa hari seorang diri, akhirnya terucap juga. dilihatnya mata gadis jelita di depannya berbinar, wajahnya menunjukkan keterkejutan beserta kebahagiaan.

"Subhanallah.....beneran? kamu udah yakin?" tanya sahabatnya

"Not sure, actually...aku merasa gak pantes untuk berjilbab. aku gak bisa baca al-Qur'an dengan lancar, sholatku belum genap 5 waktu sampai beberapa saat yang lalu, dan......dan..... gak tau sebenarnya aku pingin berjilbab. tapi aku mau memperbaiki diri dulu, biar jadi cewek yang pantes pakai jilbab"  jelasnya panjang lebar.

Sahabatnya tersenyum. digenggamnya tangannya.

"tapi kamu tahu kan, kalau perintah berjilbab itu wajib?" tanya temannya "berjilbab gak nunggu kamu udah jadi baik. tapi jika kamu seorang muslimah,maka kamu harus berjilbab. ini perintahNya, sama seperti perintah sholat. kalau kamu muslim, maka kamu harus sholat" terang temannya

ia terdiam. yah, aku tahu, itulah kenapa aku gusar, karena aku tahu ini perintah wajib dan aku harus segera menjawab perintah ini, tak bisa di tunda-tunda lagi. 

"aku cuma takut gak bisa mempertahankannya, bukan hanya jilbab tapi semuanya. berakhlak selayaknya muslimah yang sesungguhnya, menjaga ibadah dan ketaatan padaNya, aku rasa prinsip ini masih terlalu berbeda dengan gaya hidupku selama ini. aku takut gak bisa, takut menyerah" jawabnya lagi

"kamu tahu, surga itu dibuka untuk semua yang mau berlomba mendapatkannya, tak peduli bagaimana latar belakang mereka. entah dia berasal dari lingkungan yang agamis, atau liberal, masing-masing telah diberi kesempatan. hanya maukah kita menjemput dan memperjuangkannya" sahabatnya kembali menguatkannya. ia terdiam mendengar penjelasan sahabatnya. 

gadis cantik berjilbab itupun kembali melanjutkan, "berjilbab bukan akhir, tapi awal berproses menuju akhir yang lebih baik. dengan berjilbab bukan berarti kamu sudah baik, tapi berjilbab berarti kita mulai memperbaiki diri, mensholehahkan diri. karena proses perbaikan diri ini tidak singkat. ia adalah proses yang terus berlanjut selama kita hidup". 

ia menunduk "kamu benar" ucapnya lirih

"percaya deh, aku juga sedang berproses kok. karena kitapun tidak pernah tahu kapan hidup kita akan berakhir. bisa jadi kamu menunda berjilbab hingga lulus SMA nanti, namun ternyata takdir Allah mengatakan kamu akan meninggal besok pagi" tambah sahabatnya.

"heeey....!!! don't scare me like that" potongnya

"hahaha,, enggak gitu maksudnya. tapi benar kan? bisakah kamu jamin kalau kamu masih diberikan kesempatan kedua lain kali?"

"yeah...,, you're right" ucapnya kemudian



"semoga keputusan berjilbab ini menjadi ikrar bahwa kita siap mulai berbenah diri untukNya hingga akhirnya jilbab ini akan menjadi penjaga saat diri ingin menyerah dan lari dariNya" ucap sahabatnya sembari bersiap beranjak

 "karena bukan menutup rambut saja point pentingnya, tapi menutup diri dari segala kemungkaran dan menjaga hati dan keimanan para penggunanya. karena yang kita harap semata-mata ridhoNya.. semangat yah,, aku dukung selalu pokoknya"

ia tersenyum memandang sahabatnya itu. Sosok gadis cantik yang nampak semakin cantik dengan jilbab lebar menjuntai di tubuhnya. karena kecantikan bukan semata dari wajah rupawan, tapi hati jelita yang taat pada TuhanNya yang akan memancarkan cahaya di wajah mereka. kembali ia hayati nasehat sahabatnya itu. tekatnya semakin kuat. ia harus segera berubah. ia ingin menjadi hambaNya yang seutuhnya taat padaNya. 

Akan segera kusampaikan pada mereka,batinnya. ingatanya kembali pada deretan kalimat dari buku yang dipinjamkan sahabatnya :

Dengan berjilbab, seorang wanita mendapat dua pahala, pahala pertama karena ia telah taat menjalankan perintah Rabb-nya, pahala kedua karena ia mencegah orang lain berdosa, akibat melihat yang bukan haknya.

  

(To be Continued *insyaaAllah)






Rabu, 06 Februari 2013

manusia langit


lelah.., lelah melangkah.
cukup.., bisa kah dicukupkan saja?
apa yang lelah? tegak langkahmu, terkembang senyummu ku lihat. apa yang lelah kawan?

ia tersenyum lagi, tapi kulihat binar matanya meredup.
'harap' jawabnya. 'aku lelah berharap'.

ku tatap ia sekali lagi. puluhan kata serasa siap mengalir dari bibir yang selalu menyungging senyum itu.
tapi tidak, ia tetap diam, seolah puluhan kata itu kembali tertelan.

'tetaplah bertahan' bujukku. 'ingatlah si langit biru'

'aku rindu langit' jawabnya, 'tapi ia terlampau jauh, bolehkah aku tetap singgah disini?' tawarnya.

 'benar itu maumu?' ucapku coba yakinkan.

'tidak, tentu saja tidak' jawabnya kini dengan bangkit, berjalan menjauh dariku.
ia tatap langit biru hari itu, lama... dalam dan penuh makna, seolah jiwanya tengah terbang menggapainya.
'bagaimana mungkin aku mengacuhkannya' ujarnya.

'lalu?' tanyaku tak mengerti.

'aku tak bisa membiarkan asaku tetap disini,, disana...!' katanya sembari menunjuk langit,
'disana ia harusnya berada,tapi......aku lelah' 

 'percayalah, kau bisa kawan!' yakinku.

 'yah.., aku tahu. hanya saja, lelah aku berharap akan pelangi' ia tertunduk, masih dengan senyum yang sama. senyum pahit. 

'aku dengar pelangi bisa bawaku ke langit. aku dengar ia akan datang, segera. tapi aku terlanjur lelah. ia tak pernah hadir. aku lelah berharap' katanya lagi.

aku hendak membuka suara, tapi ia menyela. 'yang salah adalah aku, aku sudah menetapkannya, aku akan kesana, tapi ku rusak jalanku kesana, aku membawa mendung hitam ke langit harapan, bila manakah pelangi kan sudi datang?' 

'hai kawan, ketahuilah.., tak ada salah yang tak termaafkan. jika kau adalah manusia langit, maka tak ada pilihan bagimu kecuali kembali kesana. ini tugas, ini tanggung jawab, ini hakmu. 
meski bumi indah, menjanjikan padang rumput hijau dengan angin semilirnya untukmu berehat, meski semua tampak kan baik saja, tapi jangan lupakan satu hal, kau manusia langit, tak ada tempat yg lebih nyaman bagimu selain langit. jiwamu kan hancur perlahan tanpa kau sadari saat kau memutuskan berhenti sampai disini'. 

'kau benar' ucapnya singkat, 'aku tak mau jadi konyol. tapi apa yang harus ku lakukan? kembali menunggu pelangi?' tanyanya.

aku tersenyum, ku genggam tangannya. 'bukankah kau pernah katakan tak ada masalah yang tak dapat kita selesaikan? bukankah katamu suatu beban diberikan sesuai dengan porsi kemampuan tiap orang? tak pernah melebihinya.' 

'yeah.., i did that. then what?' tanyanya tak mengerti. 

'lihat sayapmu, cukup berubah warnanya. tak begitu cemerlang, mengapa tak kau ajak ia berkeliling, terbang menembus cakrawala?' tawarku 

'maksudmu, aku harus ke langit dengan ini?' katanya menunjukkan sayap usangnya. 'kau pasti bercanda' 

'yah.., mungkin ini terdengar sedikit gila. kau akan sangat kelelahan' aku coba jelaskan. 

'lebih dari itu, aku bisa pingsan. mati kelelahan!' potongnya. 

aku tertawa terbahak bahak melihat ekspresinya. 'yah, cobalah pingsan sekali-kali, paling tidak disana banyak awan putih yang siap menopang' kataku. 

'aku serius kawan..' ucapnya, wajahnya tak suka. 

'apa aku tampak tak serius?' tanyaku 'pingsanlah, tak masalah. kau bisa beristirahat di awan, it would be better rather then staying here, doing nothing. paling tidak kau tengah selangkah lebih dekat dengan langit'. 

ia tampak berpikir, ditatapnya aku lekat-lekat, lalu ditatapnya langit penuh kerinduan.


'kau tahu, sepertinya idemu itu tak sepenuhnya gila' jawabnya akhirnya. 

'memang' jawabku dengan senyum terkembang. 

'aku akan sangat merindukanmu, kawan. aku harap kau kan selalu ada di saat aku ragu tuk melangkah' katanya, kali ini ku lihat binar itu kembali muncul di kedua bola matanya. 

'aku akan ada saat kau membutuhkan, selama kau jaga selalu baik sangkamu pada-Nya' kataku. 

 'terima kasih' ucapnya dengan senyum berseri, wajahnya jenakanya itu tampak manis sekali. 
 perlahan ku lihat sayapnya mulai mengembang kemudian terkepak. beberapa kali ia terhuyung, 
sayap itu butuh penyesuaian tampaknya, pikirku. 

 kulambaikan tangan padanya yang tampak semakin menjauh. 

 'ini akan jadi perjalanan yang berat kawan!!' ucapnya dari jauh. 

 'yah.., dan kaupun akan kelelahan tapi........' jawabku. 

 'tapi aku takkan menyerah, ini yang harus kulakukan' potongnya dengan senyum terkembang. 

 'bintangpun tak kan dapat bersinar tanpa adanya kegelapan, iya kan?' kataku, ia mengangguk 

 kuatkan dirimu, terus berjuang, kawanku manusia langit....,,

Kamis, 14 Juni 2012

Sesuatu Yang bernama……

Bismillahirrahmanirrahim…


Angkutan umum itu melaju dengan kecepatan sedang, 
Gadis 17 tahun itu duduk memojok di bangku belakang, matanya menatap kearah pemandangan diluar jendela mobil, kosong. Seolah pikirannya masih terbawa dalam halaman buku yang telah selesai ia baca, baru saja.

ok baik, kini aku sudah tahu. Lalu apa lagi yang aku tunggu??, tanyanya pada dirinya sendiri.

Ia baru saja menemukan hal baru, bukan. Mungkin lebih tepatnya pandangan dan sebuah prinsip baru dalam hidupnya. Ia begitu yakin dan mantap untuk menerimanya, begitu ingin untuk segera mengubah hidupnya, yang menurutnya masih sangat abstrak selama ini.

Dalam pengembaraan jiwanya yang selalu gusar, akhirnya ia dapatkan sebuah sandaran.
Sandaraan yang menjadi rujukan, sandaran yang menjadi sumber kekuatan, sandaran yang mampu membukakan mata hatinya yang selama ini buta akan kasih sayang-Nya, ke-EsaanNya. 


Kini segala kebenaran bukanlah bersumber dari dirinya, atau pandangan orang lain yang ia suka, tapi kebenaran sejati, hakiki sesuai peraturan-Nya yang begitu indah dan sarat hikmah. 


Ya, begitu dekat sebenarnya sesuatu yang ia cari itu, namun ia selama ini enggan untuk menghampiri dan mendekat, untuk mengenalnya lebih dalam meskipun dirinya mengaku menjadi penganutnya. 


Ya, Islam dan segala syari’atnya yang Indah, itulah hal baru yang selama ini begitu dekat dengannya namun ternyata belum pernah ia pahami sebelumnya. Hanya telah terdaftar menjadi muslim saja, sudah cukup pikirnya. 


Tapi…mungkinkah aku bisa berubah? Bisakah aku menjadi seperti yang tertera dalam buku-buku yang kubaca? Ah…., mustahil rasanya. 


Lihatlah aku, begitu berantakan, begitu kacau, apa yang kuharap? Menjelma menjadi seorang ‘Aisyah binti Abu Bakar? Seorang gadis jelita dengan kecerdasan gemilang dan keshalihan yang memukau? Terdengar sangat mustahil sepertinya. 


Berhentilah bermimpi,nak. Lihatlah dirimu! 
Jangankan ‘Aisyah, gadis-gadis berkerudung rapi di sekolahmu saja tak bisa kamu bandingkan denganmu Lihat mereka, begitu anggun,begitu manis, begitu terjaga. Setiap tutur katanya selalu sopan,ibadahnya begitu tekun dan taat.
Hmmm, bisa kuduga bagaimana mereka dibesarkan.


Mereka inilah para perhiasan dunia yang indahnya membuat iri bidadari surga. 


Yah, merekalah orang-orang yang pantas untuk bermimpi menjadi ‘Aisyah, membersamai beliau di surga. 


Than what about me? 
Aku ingin, tapi aku tak pantas. 
Sampai beberapa pekan yang lalu sholat fardlupun belum genap lima waktu, membaca al-qur’anpun belum fasih, belum lancar tepatnya, persis seperti anak kecil yang baru saja belajar membaca al-Qur’an. 


 Pengetahuan agama..?, Hanya buku paket pelajaran agama islam SMA peganganku. 


Tapi aku tidak mau seperti ini terus. 
Aku juga mau menjadi perhiasan dunia yang terindah, aku juga ingin menjadi seorang wanita yang terjaga, aku juga ingin menjadi muslimah yang kaffah, 
aku juga ingin…. Dicintai Allah. 
tidak bisakah? Tidak mungkinkah? 


 Mobil melaju semakin mendekati sekolah, tempat yang ditujunya. Suara himbauan kenet membuyarkan lamunannya, segera ia turun dan berlari kearah gerbang sekolah 


 “ya Rabb, akankah keajaiban datang di hidupku? Bisakah aku terlepas dari jerat keadaan yang mengukungku? Bisakah ya Rabb…, mohon tunjukkan jalanmu. ” 


 -To be Continued-

Senin, 20 Desember 2010

andai kalian tahu

Aku duduk terdiam. Ku tundukkan wajahku menatap lantai keramik yang sedikit berdebu. Seolah lantai itu adalah pemandangan yang amat menarik yang pernah kulihat. Ku tajamkan telinga. Namun rupanya tidak ada yang mau bersuara. Sepertinya teman-temanku sedang menunggu aku yang memulainya. Ku tundukkan wajahku semakin dalam. Bukan karena takut menghadapi mereka, tapi lebih karena ingin mengendalikan diriku, mengendalikan emosi yang sering meledak-ledak.

Dan itulah yang diharapkan teman-temanku. Mereka ingin emosiku terpancing, sehingga dengan mudah mereka akan mematahkan argumenku, keyakinanku, pandangan baruku tentang hidup yang nampaknya belum bisa mereka terima.
Tidak...., aku tidak boleh kalah. Aku percaya bahwa aku berada dalam jalan yang benar. Aku percaya dengan apa yang aku yakini. Keyakinan yang mungkin terdengar kaku, kolot, dan asing bagi perkembangan zaman, namun niscaya jalan itulah yang harus aku tempuh untuk meraih kebahagiaan hidup. Kebahagiaan abadi, yang tidak semua orang akan dapat merasakannya. Bukan kebahagiaan semu yang selama ini membuat buta manusia, kebahagiaan yang indahnya bagai pelangi, yang mempesona sesaat, namun segera lenyap tak berbekas.
Kupejamkan mata sebelum akhirnya kutatap wajah-wajah yang duduk mengitariku itu. Kucoba tersenyum.
“lalu apanya yang salah?” tanyaku pada mereka.
“jujur shin, aku masih gak bisa menerima pemikiranmu itu. Pola pikirmu itu terlalu ribet. Terlalu banyak aturan. Kesannya seperti menyulitkan apa yang kita lakukan. Dampaknya kita jadi lebih terikat. Gak bebas!” terang temanku.
Aku tersenyum. “ribet? Bagian mana yang ribet?memangnya sekarang aku terlihat kerepotan? Seperti yang kalian lihat kan? Aku masih shina yang dulu. yang serba praktis dan instant. Aku masih............”
“gak! Kamu beda. Sekarang kamu berubah. Kamu beda dengan shina kami waktu SMA dulu. terutama pola pikirmu itu. Entah apa yang membuatmu jadi begini. Entah lingkungan seperti apa yang kamu temui di kampusmu sana sehingga kamu jadi begini” potong temanku. “maaf bukannya aku bersuudzan padamu, tapi lebih baik kamu berhati-hati dalam memilih kawan”
“apa aku sedemikian berubahkah?” tanyaku.
“ya, sikapmu itu. Penampilanmu juga. Pakaianmu sekarang seperti bu batman, guru b.inggris kita dulu, aku ingat jilbab beliau juga sepanjang jilbabmu sekarang”
“kau tidak seceria dulu, kesannya seperti membatasi diri dengan kami”.
“lalu apakah perubahanku ini membuatku tampak lebih buruk? Apa banyak hal-hal menyimpang yang aku lakukan?”
Mereka hanya terdiam. Aku tatap wajah mereka. Masih tidak puas. Sepertinya masih banyak stok pertanyaan yang siap mereka lontarkan. Ku tundukkan kepalaku kembali.
“baiklah. Kami paham. Kalau begitu tolong jawab pertanyaan-pertanyaan kami ini. Karena kami rasa kau lebih paham daripada kami”.
“insya Allah........” jawabku lirih.
Aku yakin pertanyaan ini bukan pertanyaan biasa. karena pasti bukan jawaban dariku yang mereka harapkan. Tapi emosiku yang terpancing. Sehingga mereka dapat menangkap kelemahanku dan dapat mematahkan argumenku.
“seorang kenalan pernah berkata kepadaku bahwa manusia itu kotor. Sedangkan ketika sholat kita menghadap pada Allah yang maha suci. Jadi cukuplah ruh kita saja yang sholat, tanpa raga kita. Karena bagian yang suci dari diri kita adalah ruh kita. Nah, bagaimana menurutmu?”.
“kenapa bilangan rakaat sholat dibuat seperti yang sekarang ini, shubuh 2rakaat, dzhuhur,ashar, dan isya’ 4rakaat dan magrib 3rakaat? Kenapa tidak disamakan saja?”.
Aku kembali tertunduk. Ada gemuruh yang mulai meninggi di dada. Tapi pada yang sama ada perasaan pilu yang menyayat hati.
Ya Rabb.....,kuatkan hamba, batinku
Sebenarnya mudah saja kujawab kedua pertanyaan itu. Tapi aku tidak yakin mereka akan menerima dengan begitu saja.
Bukankah salah satu syarat diterimanya ibadah adalah sesuai dengan sunnah rasulullah?
Shalatlah seperti kalian melihatku shalat
Kalau Rasulullah mencontohkan seperti itu lantas kenapa kita harus membuat aturan sendiri?. Bukankah kita umat muhammad yang berarti beliaulah kiblat kiat dalam menerapkan kegiatan terutama ibadah?
Apakah kita ingin seperti bani israil yang selalu berbantah-bantahan dan selalu mencari-cari sesuatu untuk dipertanyakan agar dapat menemukan celah dalam agama?
Kutatap wajah mereka. Bibirku terasa kelu untuk bicara.
Teman....., aku tahu. Sebenarnya kalian telah mengetahui jawaban dari pertanyaan kalian itu. Aku yakin. Lantas kenapa sengaja kalian ciptakan pertanyaan semacam itu untukku? Untuk mengujiku? Memancing emosiku?.
 Apakah yang salah dengan diriku yang sekarang? Aku tetap shina yang sama. Shina yang menyayangi kalian. Kalau aku jadi lebih pendiam (menurut kalian) bukan karena apa. Tapi karena aku lebih menjaga  adab-adab seorang muslimah.
apakah jilbab lebar ini membuat kalian terbatasi denganku? Apakah segala peraturan-peraturan yang ku yakini ini menurut kalian terlalu menyusahkan dan rumit? Bagaimana kalian tahu, kalau kalianpun tidak pernah mencobanya. Lantas darimana predikat menyusahkan dan rumit itu kalian dapatkan?
Peraturan-peraturan ini, andaikan kalian dapat memahaminya, sebenarnya adalah pelindung kita. Pelindung dari kemungkaran di sekitar kita. Islam menciptakan peraturan-peraturan indah yang menyeluruh ini untuk pedoman hidup kita. Agar dapat menentukan arah di dunia yang fana.
Tapi kenapa begitu kompleksnya?
Bukankah dengan begitu akan semakin banyak pelindung yang kita punya sehingga semakin sulit untuk kita tergelincir?
Tidak akan semudah itu untuk menjelaskan. Karena bukanlah aku yang dapat mengendalikan hati itu. Hanyalah Allah yang mempunyai kuncinya. Semoga suatu saat Allah akan membukakannya.

(inspired from my friend’s story, semoga Allah menguatkan hatimu ukhti, ^^)