Kamis, 28 September 2017
Hakikat bahagia
Bahagia adalah ditutupinya aib kita, diampuni dosa-dosa, dan dijadikan lebih baik pribadi ini dari semua kemuliaan yang disematkan manusia.
Bahagia adalah masa lalumu tak membelenggu, masa depanmu tak menghantui, masa kinimu terisi puncak karya yang kau bisa.
Bahagia adalah Allah menjadi mata yang kau pakai melihat, telinga yang kau gunakan untuk mendengar, tangan untukmu bertindak, dan kaki untukmu melangkah.
Bahagia adalah saat prasangka tak mengalahkan akhlakmu, saat kebencian tak melunturkan adilmu, saat dendam tenggelam dalam maafmu.
Bahagia adalah karunia lapang hati menerima yang tak terubah, keberanian bertindak atas ia yang bisa diubah, dan kebijaksanaan tuk membedakan keduanya.
Bahagia adalah tak usah banyak bercerita tentang diri kita; sebab yang mencinta tak memerlukannya dan yang benci takkan percaya. Cukup penilaian-Nya saja.
Bahagia adalah kebersamaan dan cinta pada orang mulia; ia mengantarkan kita ke kedudukan yang tak bisa dicapai amal pribadi. Sebab Nabi bersabda, "kau kan bersama dengan yang kau cinta"
Bahagia adalah menjadi kepompong, bersunyi dalam tafakkur yang menerangi hati, berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam, berkarya dalam diam.
Bahagia adalah akhirnya menjadi kupu-kupu sempurna; terbang menari, melantunkan kebaikan diantara bunga, menyesap manis cinta, menebar keindahan pada dunia
-salim a. Fillah-
Sabtu, 23 September 2017
Sabar
Memiliki sabar berarti bisa menahan diri dari melakukan sesuatu yang tidak disukai atau di ridhoi-Nya. Pada saat-saat sulit, sabar berarti tidak mengeluh, tidak memikirkan pemikiran negatif tentang-Nya, dan tidak berhenti menyembah Dia dan malah berlindung pada hal-hal lain.
Pada saat mudah, sabar berarti menahan diri dari menggunakan rahmat-Nya untuk tidak menaati-Nya. hal ini juga berarti untuk terus menyembah-Nya dengan tekun seperti saat kita di masa-masa sulit, bukan malah terlena dalam waktu dan kemudian membuat kita berpuas diri dan malas kembali taat pada-Nya.
Memiliki sabar berarti teguh. Terlepas dari apa yang diberikan hidup pada kita, jika kita memiliki sabar, kita akan terus mematuhi dan menyembah-Nya, menahan diri dari melakukan hal-hal yang mengecewakan-Nya.
(From tumblr)
*sabar....masih harus terus belajar (T-T )
Kamis, 17 Agustus 2017
Cinta adalah jalan ketaatan
Semua akan indah bila dihiasi dengan cinta, tapi cinta itu sendiri harus terangkai dalam bingkai yang benar, dengan cara yang benar, dan dengan tujuan yang hakiki
Bila hanya mencinta maka hewan juga punya, manusia mana juga bisa, tak perlu iman untuk mencintai tak perlu ilmu untuk memiliki rasa cinta, sebab cinta hanya alat
Tapi memahami arah cinta, cara mencinta, itu semua perlu ilmu, perlu pemahaman yang benar tentang tujuan hidup. Bila sudah begitu, barulah cinta jadi punya arti
Hidup hanya sementara, dan kita tahu semua akan berakhir, apakah dunia yang lebih dulu berakhir atau kita yang duluan pergi, setelah itu ada kehidupan lagi
Yang berpikir takkan mampu menafikkan keberadaan Allah dan kebenaran Islam. Maka tujuan hidup bagi yang beriman sudah pasti, mereka senantiasa mencari ridha Allah
Maka cinta hanyalah satu alat yang Allah berikan pada manusia agar manusia bisa mendapatkan ridha-Nya, cinta baru akan hakiki dan berarti bila ditujukan kesana
Lalu ada yang menagatasnamakan cinta untuk maksiat, jadikan cinta diatas ketaatan, jadikan cinta sebagai alasan untuk melanggar perintah Allah, ini keliru
Sebagaimana mobil bisa mengantarkan kita menuju tujuan, cinta adalah alat yang mengantarkan kita menuju ridha Allah, bagaimana bisa alat lebih utama dari tujuan?
Jangan bilang cinta bila itu melanggar perintah Allah, sebab dengan mudah Allah cabut cinta itu lalu berganti penyesalan, tak ada cinta bila tanpa ketaatan pada Allah
Latihlah cinta agar mau tunduk pada ketaatan, maka Allah Sang sumber cinta akan melimpahkan padamu cinta-Nya, hingga engkau akan mengetahui hakikat cinta ☺☺
Senin, 10 Juli 2017
Rahasia Dua Lelaki
Mengisahkan pengalamannya yg akan menjadi guru:
Aku bertemu dua lelaki, dia mulai bercerita
Dengan suara lembut, riang, sekaligus sendu
Aku menerka demikian pula wajahnya
Kurasa dua-duanya mampu membuatku tak bisa menolak
Jika mereka punya kehendak
Oh ya, kudengar sambil dalam hati mengucap 'Rabbi'...
Lelaki pertama berparas titisan Yussuf
Hartanya warisan Sulaiman
Gagahnya serupa Musa
Wanita itu berhenti, sejenak menghela napasnya
Aku menggigit bibir dan mendalamkan tundukku
Dan tahukah kau, suaranya cekat kini
Setelah bicara padanya, aku pulang terpesona
Merasa berjumpa dengan lelaki paling rupawan
Bercakap dengan insan paling bijaksana
Aku tak ingin tahu lebih banyak
jadi kutanyakan padanya tentang lelaki kedua
Dan sepertinya dia tersenyum
Seusai berbincang dengan lelaki kedua, katanya
Aku pulang dengan bahagia, merasa penuh pesona
Merasa menjadi wanita paling jelita
Merasa diriku perempuan paling cendikia
Jadi diantara mereka, tanyaku sambil mengepalkan jemari
Siapa yang lebih tampan, siapa yang lebih mengagumkan?
Kurasa dia tersenyum lagi, menertawakanku barangkali
Laki-laki pertama lebih mencintai dirinya sendiri
Dia bersuka cita saat menebarkan pesona
Dia bahagia ketika banyak hati memujanya
Laki-laki kedua mempesona, bukan karena dirinya
Daya pikatnya ada pada perhatiannya, yang membuatku
Merasa ada, merasa bermakna, merasa berharga
Jadi, aku menyimpulkan perlahan
Kau memilih yang kedua...
Dia tersenyum lagi, aku telah mendapatkan yang ketiga
Laki-laki suci, yang memuliakanku dengan menikahiku
Dia menjaga kesuciannya dengan pernikahan
Dia menjaga pernikahannya dengan kesucian
Dia berupaya untuk mempunyai pesona lelaki pertama tanpa mengumbarnya
Dia belajar memiliki pesona lelaki kedua untuk mengagungkan istrinya
Meski jauh dari sempurna, dia mengingatkanku pada sabda sang Nabi,
Sebaik-baik lelaki adalah yang paling memuliakan perempuan
Aku tersenyum kini, tunggu, apakah engkau ini istriku...
-Salim A. Fillah-
Jumat, 21 April 2017
Karena ujian itu berbeda
Belum lagi saat kehamilan semakin besar dan berat, ia pun harus pergi meninggalkan rumah tempat berteduhnya, sendirian.
Dan puncaknya, saat detik-detik kelahiran putranya tiba ia tersiksa diantara sakit dan dahaga. Tubuhnya kesakitan dan ia kelaparan. namun disekelilingnya tiada apapun kecuali gurun yang luas. Bersandarlah ia akhirnya di bawah pohon kurma yang kokoh. Disanalah akhirnya ia sendiri, berjuang diantara hidup dan mati melahirkan sang al masih.
Saat proses melahirkan yang melelahkan itu akhirnya usai, tubuhnya semakin lemas dan makin terasa betapa laparnya ia. Lalu Allah menyuruhnya untuk menggoyahkan pohon kurma itu agar jatuh beberapa buahnya.
Bayangkanlah kawan, maryam bukan seorang laki-laki bertubuh kekar yang kuat tenaganya. Ia hanya seorang wanita dan baru saja melahirkan pula. Sementara pohon itu kokoh dan besar. Seorang laki-laki saja akan cukup kesulitan menggoyahkannya.
Lihatlah bagaimana Allah mengujinya. Dengarlah bagaimana kisah perjuangannya. Tak heran jika ia disebut Rasulullah termasuk ledalam 1 dari 4 wanita dunia paling utama.
Kamis, 23 Februari 2017
Pentingnya Kemandirian Ekonomi Seorang Muslim
Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallama- juga mendorong umat agar mandiri. Beliau mendorong Usman bin Affan mengambil alih sumberdaya alam (air) yang dikuasai Yahudi.
Mandiri ekonomi penting bagi individu, organisasi, bahkan umat.
Malang, 7 Rabiul Awal 1438H.
http://telegram.me/ahmadjalaluddin
http://www.tazkiyatuna.com
Sabtu, 07 Januari 2017
Istimewanya Pemuda
Lihatlah mereka, tidurpun membawa perubahan, apalagi terjaga.
Muda identik dengan "hijau". Masih hijau artinya masih bertumbuh, berkembang. Sementara yang matang berarti akan segera membusuk.
Muda identik dengan 'tidak berpengalaman'. TAPI, jika 'berpengalaman' berarti mengatasi masalah baru dengan cara lama, itu berbahaya!.
Muda identik dengan kebersamaan dalam keprihatinan, solidaritas.
Kadang kita sulit bersatu saat telah banyak ber'punya', luas berdaya. Hingga tiap hubungan yang dijalin menuntut adanya keuntungan dari masing-masing
Muda identik dengan kejelasan sikap.
Hitam dan putih, ya atau tidak. Tidak ada jalan ketiga. Ini hal yang tepat untuk utusan aqidah.
Muda identik dengan gejolak. Titik temu dari semua gejolak ini akan jadi sebuah terobosan. Di situlah masa depan, melampau apa yang dicapai oleh pendalaman bidang.
Muda identik dengan pesona dan ketangguhan fisik. Dua hal inilah yang akan membantu sebuah ide perubahan tampil menarik, segar dan cantik.
Muda identik dengan ketergesaan, inginnya sekilas langsung terwujud. Maka ia disabarkan, 'tidurkan gelora' sembari dengan mempersiapkan perangkat.
Muda identik dengan ketergodaan dan gelimang nikmat. Maka, mereka yang memilih jalan sunyi untuk berjuang, sudah pasti istimewa.
Muda juga identik dengan sedikitnya beban sejarah. Maka mereka lebih merdeka dalam bersikap, sebab tak terbelenggu oleh rekam jejak masa lalu.
Muda identik dengan mempertanyakan. Nah, kecerdasan memang disitulah letaknya, bukan dalam jawaban. Sungguh, satu pertanyaan bermutu dapat membuka jawaban beribu-ribu
*from: menyimak kicau merajut makna by Salim A. Fillah (dengan sedikit editan dari saya)
Streaming youtube sembari mendengarkan ceramah asik dari ustadz Salim. Very recommended to watch! Apalagi kalau kamu pemuda 😊
Kamis, 05 Januari 2017
Bersyukurlah
Jika kau sudah memiliki semuanya, apalagi yang hendak dicari?
Bersyukurlah saat engkau tidak mengetahui sesuatu,
Karena hal itu memberimu kesempatan untuk belajar.
Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang kau hadapi,
Karena disana ada kesempatan mengembangkan diri.
Bersyukurlah atas keterbatasan yang kau miliki,
Karena hal itu memberimu kesempatan memperbaiki diri.
Bersyukurlah atas setiap tantangan baru,
Karena hal itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.
Bersyukurlah atas kesalahan yang kini telah kau sadari,
Karena hal itu memberimu pelajaran yang sangat berharga.
Bersyukurlah ketika engkau lelah dan bosan,
Karena berarti engkau trlah berbuat sesuatu yang berarti.
Mudah mensyukuri hal-hal baik, namun
Kehidupan yang bermakna dinikmati oleh mereka yang juga bersyukur atas kesulitan.
Rasa syukur bisa mengubah hal negatif menjadi positif.
Berusahalah mensyukuri kesulitan yang kau hadapi
Sehingga kesulitan itu menjadi berkah bagimu
-anonymous-
Rabu, 07 Desember 2016
Senin, 21 Desember 2015
dimanakah aku?
Sabtu, 12 September 2015
Buat apa?
Kamis, 09 Juli 2015
bagaimana meningkatkan keimanan?
Senin, 29 Juni 2015
Ini Alasan Khalid, apa alasanmu?
Jumat, 26 Juni 2015
Taujih Ramadhan
Rabu, 29 April 2015
bekerja untuk mencari rizki?
Senin, 09 Maret 2015
Tentang Penilaian Orang Lain
Sabtu, 07 Februari 2015
Jadilah seperti Sandal Jepit
Iman adalah...
Mata hanya akan bisa melihat benda saat ada cahaya yang mengenai benda, diteruskan dan kemudian membentuk bayangan benda tersebut ke dalam mata kita.
Jadi, logikanya tanpa cahaya kita tidak akan sanggup melihat apa-apa.
Namun prinsip iman berbeda, karena banyak hal yang kita telah yakini meski tak semua bisa disaksikan, tak semua sudah dibuktikan, dan tak semua telah ditunjukkanNya. Maka benarlah bahwa Iman adalah mata yang melihat mendahului datangnya cahaya :)
Minggu, 25 Januari 2015
'Mush'ab yang baik', the real handsome guy
Duta Pertama Islam: Mush’ab bin Umair
Di antara sahabat Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam yang memiliki semangat dan kepiawaian dalam menjalankan tugas da’wah ialah Mush’ab bin Umair. Ia terhitung salah seorang as-Sabiqun al-Awwaluun (pionir pemeluk Islam). Sahabat yang satu ini sudah memperlihatkan kehanifan dan kecintaannya kepada iman sejak awal kali ia mendengar soal Muhammad bin Abdullah shollallahu ’alaih wa sallam yang mengaku sebagai Nabi terakhir utusan Allah. Coba perhatikan bagaimana Khalid Muhammad Khalid menggambarkan soal keislamannya di dalam buku Karakteristik Perihidup Enampuluh Shahabat Rasulullah:
Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam yang tepat menemui sasaran pada kalbunya.
Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak obah bagai lautan yang teduh dan dalam. Pemuda yang telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas – berlipat ganda dari ukuran usianya – dan mempunyai kepekatan hati yang mampu merubah jalan sejarah.
Memang, Mush’ab bin Umair bukan sembarang lelaki. Ketika di masa jahiliyyah, ia dikenal sebagai pemuda dambaan kaum wanita. Ia adalah seorang pemuda ganteng yang dikenal sangat perlente. Bila ia menghadiri sebuah perkumpulan ia segera menjadi magnet pemikat semua orang terutama kaum wanita. Gemerlap pakaiannya dan keluwesannya bergaul sungguh mempesona. Wajahnya rupawan, kaya raya, otak yang cerdas, akhlak yang baik. Namun sesudah memeluk Islam, ia berubah samasekali. Beginilah gambaran penulis buku yang sama:
Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Demi memandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang bertambal–tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka – pakaiannya sebelum masuk Islam – tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi.
Adapun Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia seraya bersabda :
“Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Mush'ab adalah putra kesayangan ibunya, begitu pun ia, sangat besar baktinya pada sang ibu. Namun, keputusan Mush'ab untuk memeluk islam telah membuat sebuah perselisihan sengit diantara mereka.
"Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi" teriak sang ibu.
Maka Mush'ab pun menghampiri ibunya sambil berkata : "Wahai bunda! Telah ananda sampaikan nasihat kepada bunda, dan ananda menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya".
Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut : "Demi bintang! sekali-kali aku takkan masuk ke dalam Agamamu itu. Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi". Bahkan ibunya mengancam, "Aku akan mogok makan sampai mati jika kamu tak mau kembali ke agama nenek moyang."
Bergetarkah Mush'ab?
Ternyata tidak. Karena menyangkut aqidah, iapun bersumpah, "Wahai ibu, walau ibu bernyawa seribu. Dan satu persatu nyawa ibu tercabut di hadapanku, aku tetap takkan murtad dari Islam."
Demikian Mush'ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar.
Demikianlah, Mush’ab menjadi seorang yang meninggalkan kebanggan palsu dunia dan menggantikannya dengan kemuliaan hakiki akhirat. Tidak mengherankan bila akhirnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menunjuknya untuk menjadi duta pertama Islam berda’wah di Madinah. Beginilah gambarannya:
Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang – orang Anshar yang telah beriman dan baiat kepada Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam di bukti Aqabah. Disamping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijrah Rasul sebagai peristiwa besar.
Sebenarnya di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab yang baik”. Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tempatan atau kota hijrah, pusat dari dai dan dakwah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.
Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.
Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah baiat di bukit Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.
Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta sahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiga-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Allah Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu diantaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan. Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal. Tetapi Tuhannya Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam – yang diserukan beribadah kepada-Nya – oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorangpun yang dapat melihat-Nya.
Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah.
Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan Sa’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”
Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam, laksana terang dan damainya cahaya fajar, terpancarlah ketulusan hati ”Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”
Sebenarnya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta pertimbangan kepada hati nurani sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengarkan dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyrakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.
“Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat Al-Quran dan mengajarkan dakwah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah shollallahu ’alaih wa sallam, maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaidpun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya, ”Alangkah indah dan benarnya ucapan itu! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk Agama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab, ”Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”
Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.
Secepatnya berita itu pun tersiar. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. dan setelah mendengarkan uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula.
Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya bertanya sesama mereka, “Jika Usaid bin Hudlair, Saad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya!”
Dalam perang Uhud Mush’ab dipercaya Rasulullah sebagai pembawa bendera pasukan. Peperangan berlangsung sengit. Mulanya pasukan Muslim bisa menguasai keadaan namun ketika pasukan pemanah yang ditugasi untuk bertahan diatas bukit melanggar perintah dikarenakan tergiur oleh banyaknya ghonimah ( pampasan perang ) yang tertinggal di hadapan mereka, keadaan menjadi berubah terbalik. Tanpa diduga pasukan kafir yang dipimpin Khalid bin Walid yang waktu itu belum memeluk Islam menyerang-balik dari balik bukit sehingga pasukan Muslim kocar-kacir. Mush’ab sungguh terkejut. Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan Rasulullah. Bila Rasulullah sampai terbunuh di perang tersebut bagaimana nasib kelanjutan ajaran Islam yang baru saja tumbuh itu ??
Lalu iapun segera meneriakkan “ Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul ” sambil mengacungkan bendera tinggi-tinggi dan bertakbir sembari menyerang musuh dengan gagah berani. Namun kemudian pihak musuh berhasil menebas tangannya hingga putus. Mush’ab segera memindahkan bendera ke tangan kirinya namun kali inipun ia tidak berhasil menghindar serangan lawan sehingga tangan kirinya juga ditebas pedang musuh. Mush’ab segera membungkuk kearah bendera lalu dengan kedua pangkal lengannya meraihnya ke dada sambil terus bertakbir. Namun kali ini lawan menyerangnya dengan menusukkan tombak ke dada Mush’ab. Mush’abpun gugur sebagai seorang syuhada yang gagah berani. Ironisnya, wajah Mush’ab yang memang mirip Rasulullah itu justru menjadi penyebab berita bahwa Rasulullah telah terbunuh! Hingga membuat pasukan Muslim semakin kacau dan panik.
Diakhir perang, Rasulullah beserta para sahabat meninjau medan perang dan mendapati jasad Mush’ab. Tak sehelaipun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah yang andai ditaruh di atas kepalanya terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya bila ditutup kakinya maka terbukalah kepalanya. Maka Rasulullah bersabda : ” Tutupkanlah ke bagian kepalanya , kakinya tutuplah dengan rumput idzkir!”.
Itulah akhir perjuangan Mush’ab bin Umair dalam menegakkan agama yang dengan tidak gentar menghadapi musuh-musuh Allah, yaitu orang-orang yang enggan mengakui bahwa “Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah”( Laa ilaaha illaLLAH wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah).
“ Katakanlah: “Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.(QS. Ali Imran(3):32).
Saudaraku, sungguh kehidupan Mush’ab bin Umair sangat sesuai dengan kehidupan teladannya Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam digambarkan di dalam Al-Qur’an sebagai seseorang yang berambisi ”menginginkan keimanan dan keselamatan” atas manusia. Sehingga kesibukan utamanya adalah senantiasa mengajak manusia untuk mendekat, beriman dan taat kepada Allah.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ
حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.” (QS At-Taubah ayat 128)
Selasa, 02 September 2014
Tingkatan Berbuat Baik
Berbuat baik ternyata ada tingkatannya.
Tingkatan tertinggi berbuat baik pada Allah dan RasulNya. Mengapa tertinggi? Karena untuk selalu ikhlas melaksanakannya memang tak mudah. Seperti ikhlasnya para muslimah perancis untuk tetap mempertahankan jilbab ditengah larangan pemerintahnya, seperti para penduduk Gaza yang lebih memilih memakan kucing untuk mengganjal lapar dibanding kenyang dengan hidangan berlimpah tapi berkhianat pada Rabb-nya, seperti imam ahmad bin hambal yg rela disiksa dan dijebloskan ke penjara berkali kali demi mempertahankan kebenaran: al qur'an bukan makhluk tapi wahyu. Ya, memang tak mudah untuk berbuat baik pada Allah dan RasulNya.
Tingkatan berbuat baik selanjutnya adalah berbuat baik pada orang yang menyayangi kita. Contoh paling dekatnya adalah orang tua. Bahkan untuk mengeluh dan berucap 'aah!' Saja pada mereka Allah melarang kita. Percayalah, manusia paling ikhlas dalam menolong dan membantu kita di dunia ini, ialah orang tua kita! Yang paling peduli dan siap mengulurkan tangannya tanpa pamrih, tanpa mengharap lebih. Maka apalah guna memiliki anak seorang hartawan, jika membesuk ibunya saja ia enggan. Apa gunanya anak berpangkat tinggi, jika ia lupa dengan ayahnya yang bekerja dari pagi hingga pagi lagi?
Sebuah teladan indah dicontohkan oleh seorang Doktor dari universitas tempat saya belajar, "tanpa ibu saya ini", katanya sambil mendekap sayang wanita berpakaian sederhana disampingnya, "mungkin sekarang saya hanyalah seorang kuli" ucapnya.
Sungguh ibu dan anak yang beruntung.
Tingkatan terendah dari berbuat baik adalah berbuat baik pada alam dan seisinya. Ya, karena islam adalah rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi sekalian alam. Maka berbuat baik tak hanya sebatas pada sesama manusia, namun kepada seluruh makhluk-Nya. Ingatkah kita, bahkan seorang pelacur pun memperoleh surga karena kebaikannya memberi minum seekor anjing?
Karena manusia diciptakan sebagai pemimpin di bumi, maka berbuat baik pada alam juga merupakan tugas yang diembankan pada tiap-tiap diri.




