Tampilkan postingan dengan label tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tausiyah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 September 2017

Hakikat bahagia

Bahagia adalah dalam pandangan diri merasa terendah, dalam penilaian orang lain dianggap tengah-tengah, dalam pandangan Allah menjadi paling mulia.

Bahagia adalah ditutupinya aib kita, diampuni dosa-dosa, dan dijadikan lebih baik pribadi ini dari semua kemuliaan yang disematkan manusia.

Bahagia adalah masa lalumu tak membelenggu, masa depanmu tak menghantui, masa kinimu terisi puncak karya yang kau bisa.

Bahagia adalah Allah menjadi mata yang kau pakai melihat, telinga yang kau gunakan untuk mendengar, tangan untukmu bertindak, dan kaki untukmu melangkah.

Bahagia adalah saat prasangka tak mengalahkan akhlakmu, saat kebencian tak melunturkan adilmu, saat dendam tenggelam dalam maafmu.

Bahagia adalah karunia lapang hati menerima yang tak terubah, keberanian bertindak atas ia yang bisa diubah, dan kebijaksanaan tuk membedakan keduanya.

Bahagia adalah tak usah banyak bercerita tentang diri kita; sebab yang mencinta tak memerlukannya dan yang benci takkan percaya. Cukup penilaian-Nya saja.

Bahagia adalah kebersamaan dan cinta pada orang mulia; ia mengantarkan kita ke kedudukan yang tak bisa dicapai amal pribadi. Sebab Nabi bersabda, "kau kan bersama dengan yang kau cinta"

Bahagia adalah menjadi kepompong, bersunyi dalam tafakkur yang menerangi hati, berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam, berkarya dalam diam.

Bahagia adalah akhirnya menjadi kupu-kupu sempurna; terbang menari,  melantunkan kebaikan diantara bunga, menyesap manis cinta, menebar keindahan pada dunia

-salim a. Fillah-

Sabtu, 23 September 2017

Sabar

Sabar  arti harfiahnya adalah "menahan".
Memiliki sabar berarti bisa menahan diri dari melakukan sesuatu yang tidak disukai atau di ridhoi-Nya. Pada saat-saat sulit, sabar berarti tidak mengeluh, tidak memikirkan pemikiran negatif tentang-Nya, dan tidak berhenti menyembah Dia dan malah berlindung pada hal-hal lain.

Pada saat mudah, sabar berarti menahan diri dari menggunakan rahmat-Nya untuk tidak menaati-Nya. hal ini juga berarti untuk terus menyembah-Nya dengan tekun seperti saat kita di masa-masa sulit, bukan malah terlena dalam waktu dan kemudian membuat kita berpuas diri dan malas kembali taat pada-Nya.

Memiliki sabar berarti teguh. Terlepas dari apa yang diberikan hidup pada kita, jika kita memiliki sabar, kita akan terus mematuhi dan menyembah-Nya, menahan diri dari melakukan hal-hal yang mengecewakan-Nya.

(From tumblr)


*sabar....masih harus terus belajar (T-T  )

"I think the reason we get impatient, stop, and give up is because we want to get paid. But it isn’t Pay Day yet".
— Yasmin Mogahed

Kamis, 17 Agustus 2017

Cinta adalah jalan ketaatan





Cinta itu bukan tujuan, tapi salah satu alat untuk mencapai tujuan. Sebab bila cinta sudah dijadikan sebagai tujuan ia pasti akan tersesat sebab salah tujuan


Semua akan indah bila dihiasi dengan cinta, tapi cinta itu sendiri harus terangkai dalam bingkai yang benar, dengan cara yang benar, dan dengan tujuan yang hakiki

Bila hanya mencinta maka hewan juga punya, manusia mana juga bisa, tak perlu iman untuk mencintai tak perlu ilmu untuk memiliki rasa cinta, sebab cinta hanya alat

Tapi memahami arah cinta, cara mencinta, itu semua perlu ilmu, perlu pemahaman yang benar tentang tujuan hidup. Bila sudah begitu, barulah cinta jadi punya arti

Hidup hanya sementara, dan kita tahu semua akan berakhir, apakah dunia yang lebih dulu berakhir atau kita yang duluan pergi, setelah itu ada kehidupan lagi

Yang berpikir takkan mampu menafikkan keberadaan Allah dan kebenaran Islam. Maka tujuan hidup bagi yang beriman sudah pasti, mereka senantiasa mencari ridha Allah

Maka cinta hanyalah satu alat yang Allah berikan pada manusia agar manusia bisa mendapatkan ridha-Nya, cinta baru akan hakiki dan berarti bila ditujukan kesana

Lalu ada yang menagatasnamakan cinta untuk maksiat, jadikan cinta diatas ketaatan, jadikan cinta sebagai alasan untuk melanggar perintah Allah, ini keliru

Sebagaimana mobil bisa mengantarkan kita menuju tujuan, cinta adalah alat yang mengantarkan kita menuju ridha Allah, bagaimana bisa alat lebih utama dari tujuan?

Jangan bilang cinta bila itu melanggar perintah Allah, sebab dengan mudah Allah cabut cinta itu lalu berganti penyesalan, tak ada cinta bila tanpa ketaatan pada Allah

Latihlah cinta agar mau tunduk pada ketaatan, maka Allah Sang sumber cinta akan melimpahkan padamu cinta-Nya, hingga engkau akan mengetahui hakikat cinta ☺☺

- Felix Siauw -

Senin, 10 Juli 2017

Rahasia Dua Lelaki

Dari balik tabir, kudengar wanita itu berbicara
Mengisahkan pengalamannya yg akan menjadi guru:

Aku bertemu dua lelaki, dia mulai bercerita
Dengan suara lembut, riang, sekaligus sendu
Aku menerka demikian pula wajahnya

Kurasa dua-duanya mampu membuatku tak bisa menolak
Jika mereka punya kehendak
Oh ya, kudengar sambil dalam hati mengucap  'Rabbi'...

Lelaki pertama berparas titisan Yussuf
Hartanya warisan Sulaiman
Gagahnya serupa Musa
Wanita itu berhenti, sejenak menghela napasnya
Aku menggigit bibir dan mendalamkan tundukku

Dan tahukah kau, suaranya cekat kini
Setelah bicara padanya, aku pulang terpesona
Merasa berjumpa dengan lelaki paling rupawan
Bercakap dengan insan paling bijaksana

Aku tak ingin tahu lebih banyak
jadi kutanyakan padanya tentang lelaki kedua
Dan sepertinya dia tersenyum
Seusai berbincang dengan lelaki kedua, katanya
Aku pulang dengan bahagia, merasa penuh pesona
Merasa menjadi wanita paling jelita
Merasa diriku perempuan paling cendikia

Jadi diantara mereka, tanyaku sambil mengepalkan jemari
Siapa yang lebih tampan, siapa yang lebih mengagumkan?

Kurasa dia tersenyum lagi, menertawakanku barangkali
Laki-laki pertama lebih mencintai dirinya sendiri
Dia bersuka cita saat menebarkan pesona
Dia bahagia ketika banyak hati memujanya

Laki-laki kedua mempesona, bukan karena dirinya
Daya pikatnya ada pada perhatiannya, yang membuatku
Merasa ada, merasa bermakna, merasa berharga
Jadi, aku menyimpulkan perlahan
Kau memilih yang kedua...

Dia tersenyum lagi, aku telah mendapatkan yang ketiga
Laki-laki suci, yang memuliakanku dengan menikahiku
Dia menjaga kesuciannya dengan pernikahan
Dia menjaga pernikahannya dengan kesucian
Dia berupaya untuk mempunyai pesona lelaki pertama tanpa mengumbarnya
Dia belajar memiliki pesona lelaki kedua untuk mengagungkan istrinya
Meski jauh dari sempurna, dia mengingatkanku pada sabda sang Nabi,
Sebaik-baik lelaki adalah yang paling memuliakan perempuan
Aku tersenyum kini, tunggu, apakah engkau ini istriku...


-Salim A. Fillah-

Jumat, 21 April 2017

Karena ujian itu berbeda

Katanya, kita akan diuji dengan hal yang paling kita cintai, kita akan diuji dengan hal yang menjadi kekuatan atau keunggulan kita.

Seperti maryam binti 'imran yang diuji melalui ujian kesucian. Bagaimana tidak, kesucian yang selama ini dijunjungnya kemudian mulai diragukan khalayak ramai tatkala ia datang membawa seorang putra; tanpa ayah. Mungkin begitu menyakitkan bagi Maryam, setidaknya bagi saya jika saya yang merasakan. 
Wanita yang selalu menjaga kesucian dirinya ini lalu di cap sebagai pezina, karena hadirnya karunia yang diberikan Rabbnya.

Belum lagi saat kehamilan semakin besar dan berat, ia pun harus pergi meninggalkan rumah tempat berteduhnya, sendirian.
Dan puncaknya, saat detik-detik kelahiran putranya tiba ia tersiksa diantara sakit dan dahaga. Tubuhnya kesakitan dan ia kelaparan. namun disekelilingnya tiada apapun kecuali gurun yang luas. Bersandarlah ia akhirnya di bawah pohon kurma yang kokoh. Disanalah akhirnya ia sendiri, berjuang diantara hidup dan mati melahirkan sang al masih.

Saat proses melahirkan yang melelahkan itu akhirnya usai, tubuhnya semakin lemas dan makin terasa betapa laparnya ia. Lalu Allah menyuruhnya untuk menggoyahkan pohon kurma itu agar jatuh beberapa buahnya.
Bayangkanlah kawan, maryam bukan seorang laki-laki bertubuh kekar yang kuat tenaganya. Ia hanya seorang wanita dan baru saja melahirkan pula. Sementara pohon itu kokoh dan besar. Seorang laki-laki saja akan cukup kesulitan menggoyahkannya.

Lihatlah bagaimana Allah mengujinya. Dengarlah bagaimana kisah perjuangannya. Tak heran jika ia disebut Rasulullah termasuk ledalam 1 dari 4 wanita dunia paling utama.

beralih pada kisah si gagah Yussuf As . Yang diuji Allah dengan ketampanannya. Dengan wajah yang luar biasa rupawan bisa saja dengan mudah ia mendapatkan banyak wanita, tapi dengan keimanan yang menyala ia ternyata lebih memilih penjara yang sunyi dibanding berdua dengan wanita cantik di kamar seorang diri.

Pun dengan kejamnya fitnah dan perlakuan saudara-saudaranya yang iri kepadanya, saat tanduk kuasa telah ada digenggamnya, saat Allah memberinya kesempatan membalas semua perilaku keji mereka, Yussuf memilih mengubur kenangan menyakitkan itu dalam-dalam, melewatkannya begitu saja cerita itu saat sang Ayah yang baru berjumpa menanyakan tentang perihal dirinya. Dengan hati penuh syukur, kemudian yang ia sampaikan pada ayahnya hanyalah "Tuhanku telah berlaku baik padaku", menceritakan betapa bermurah hati Allah mengijinkannya menjadi pejabat di negeri makmur mesir. Dan sungguh hal inilah yang menjadikan Yussuf lelaki gagah nan tampan yang sesungguhnya.  Hatinya sungguhlah rupawan.

Lantas kita? Patutkah mengeluhkan sulitnya kondisi kita saat Maryam atau Yussuf yang mulia pun juga tetap harus mengalami ujian sebelum akhirnya mendapat kemuliaan di sisi Allah? Ujian kita pasti tak seberapa dibanding mereka, karena keimanan kita pun tak ada nilainya. 
Lantas? Masih secepat itukah kita akan menyerah dan terus mengulang mengeluhkannya?

Kamis, 23 Februari 2017

Pentingnya Kemandirian Ekonomi Seorang Muslim

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA.
Said bin Musayyib –rahimahullah- berpendapat bahwa cinta harta itu baik. Bukan semata ‘cinta harta’ yang menjadi ukuran kebaikan. Tapi, kebaikan cinta harta ada pada implikasinya._ Bagi Sayyidu al Tabi`iin yang bergelar ‘alim ahli al madinati itu, cinta harta menjadi baik karena dalam harta ada ibadah, amanah, kehormatan, dan kemandirian.
Kemandirian harta (baca: ekonomi) menjadi perhatian khusus Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallama. Nabi mendorong individu agar mandiri, yang dimulai dari pemanfaatan sumberdaya pribadi, meskipun kecil dan sederhana.
Dikisahkan, seorang sahabat Anshar meminta bantuan Rasulullah, tapi tidak diberi. Oleh Nabi, si sahabat diajak berfikir: sumberdaya apa yang dimiliki?Ia pun menyebutkan beberapa perabot rumah tangga yang sederhana.
Rasulullah menyuruh mengambil perabot-perabot itu dan membantu menjual secara lelang. Setelah terjual dengan harga 2 dirham, Rasulullah mengarahkan agar uang itu digunakan untuk konsumsi keluarga (1 dirham) dan membeli kapak (1 dirham).
Setelah kapak terbeli, Rasulullah berpesan: “Dengan kapak ini carilah kayu, dan jangan menemuiku kecuali setelah 15 hari”. Setelah 15 hari bekerja mencari kayu, si sahabat melaporkan bahwa ia memperoleh 10 dirham.
Nabi pun menanggapi: “Bekerja mencari kayu lebih baik dari pada meminta-minta yang menyebabkan noda hitam di wajah kelak pada hari kiamat”. (HR. Abu Daud).
Dan diriwayat Imam Bukhari disebutkan respon Nabi: “Meskipun hanya bekerja mencari kayu, yang demikian lebih baik daripada bergantung pada orang lain.”
Abdurrahman bin Auf  lebih memilih modal sendiri meskipun kecil, hanya 4 dirham (sekitar Rp. 280.000), meskipun mendapat tawaran hibah dari Saad bin Rabi`.
Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallama- juga mendorong umat agar mandiri. Beliau mendorong Usman bin Affan mengambil alih sumberdaya alam (air) yang dikuasai Yahudi.
Dan Rasulullah juga memilih lokasi strategis sebagai pasar mandiri yang dimiliki umat Islam.
Mandiri ekonomi penting bagi individu, organisasi, bahkan umat.
Menurut Qardhawi dalam Malamih al Mujtama` al Muslim, umat yang mandiri ekonomi akan memiliki izzah. Tidak mudah didekte oleh bangsa lain, bebas menentukan arah dan masa depannya. Berbeda bila umat bergantung pada negara lain, sangat rentan hidup dalam bayang-bayang bahkan tidak bebas menentukan arah hidupnya.
Demikian pula dengan organisasi, ormas atau orpol. Ormas/orpol yang mandiri ekonomi akan memiliki izzah. Tidak mudah didekte pihak lain dan akan lebih efektif membina umat serta dalam menunaikan fungsi hisbah, yang menjadi esensi keberadaan ormas/orpol.
Individu yang mandiri ekonomi juga akan memiliki izzah, sebagaimana pesan Nabi Muhammad –shallallahu `alaihi wa sallama- kepada Sa`ad bin Abi Waqqash –radliyallahu `anhu,
“Seandainya engkau tinggalkan keturunanmu berkecukupan (mandiri ekonomi), maka lebih baik daripada kekurangan dan bergantung pada orang lain.” (HR. Bukhari)
Wallahu a`lam bisshawab
Malang, 7 Rabiul Awal 1438H.
Silahkan disebarkan channel Telegram ini, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah kita. Aamiin,

Sabtu, 07 Januari 2017

Istimewanya Pemuda

Para pemuda selalu mempesona.
Lihatlah mereka, tidurpun membawa perubahan, apalagi terjaga. 
Para pemuda kahfi memilih kabur dari kampung halaman untuk menyelamatkan keimanan, akhirnya ditidurkan selama beratus tahun kemudian. Dan hal ini jadi pelajaran kelak, betapa hari kebangkitan bukan bualan semata).

Muda identik dengan "hijau". Masih hijau artinya masih bertumbuh, berkembang. Sementara yang matang berarti akan segera membusuk.

Muda identik dengan 'tidak berpengalaman'. TAPI,  jika 'berpengalaman' berarti mengatasi masalah baru dengan cara lama, itu berbahaya!.

Muda identik dengan kebersamaan dalam keprihatinan, solidaritas. 
Kadang kita sulit bersatu saat telah banyak ber'punya', luas berdaya. Hingga tiap hubungan yang dijalin menuntut adanya keuntungan dari masing-masing

Muda identik dengan kejelasan sikap. 
Hitam dan putih, ya atau tidak. Tidak ada jalan ketiga. Ini hal yang tepat untuk utusan aqidah.

Muda identik dengan gejolak. Titik temu dari semua gejolak ini akan jadi sebuah terobosan. Di situlah masa depan, melampau apa yang dicapai oleh pendalaman bidang.

Muda identik dengan pesona dan ketangguhan fisik. Dua hal inilah yang akan membantu sebuah ide perubahan tampil menarik, segar dan cantik.

Muda identik dengan ketergesaan, inginnya sekilas langsung terwujud. Maka ia disabarkan, 'tidurkan gelora' sembari dengan mempersiapkan perangkat.

Muda identik dengan ketergodaan dan gelimang nikmat. Maka, mereka yang memilih jalan sunyi untuk berjuang, sudah pasti istimewa.

Muda juga identik dengan sedikitnya beban sejarah. Maka mereka lebih merdeka dalam bersikap, sebab tak terbelenggu oleh rekam jejak masa lalu.

Muda identik dengan mempertanyakan. Nah, kecerdasan memang disitulah letaknya, bukan dalam jawaban. Sungguh, satu pertanyaan bermutu dapat membuka jawaban beribu-ribu


*from: menyimak kicau merajut makna by Salim A. Fillah (dengan sedikit editan dari saya)


Streaming youtube sembari mendengarkan ceramah asik dari ustadz Salim. Very recommended to watch!  Apalagi kalau kamu pemuda 😊

Kamis, 05 Januari 2017

Bersyukurlah

Bersyukurlah karena engkau tidak memiliki semua yang diinginkan,
Jika kau sudah memiliki semuanya, apalagi yang hendak dicari?

Bersyukurlah saat engkau tidak mengetahui sesuatu,
Karena hal itu memberimu kesempatan untuk belajar.

Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang kau hadapi,
Karena disana ada kesempatan mengembangkan diri.

Bersyukurlah atas keterbatasan yang kau miliki,
Karena hal itu memberimu kesempatan memperbaiki diri.

Bersyukurlah atas setiap tantangan baru,
Karena hal itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.

Bersyukurlah atas kesalahan yang kini telah kau sadari,
Karena hal itu memberimu pelajaran yang sangat berharga.

Bersyukurlah ketika engkau lelah dan bosan,
Karena berarti engkau trlah berbuat sesuatu yang berarti.

Mudah mensyukuri hal-hal baik, namun
Kehidupan yang bermakna dinikmati oleh mereka yang juga bersyukur atas kesulitan.

Rasa syukur bisa mengubah hal negatif menjadi positif.
Berusahalah mensyukuri kesulitan yang kau hadapi
Sehingga kesulitan itu menjadi berkah bagimu


-anonymous-

Senin, 21 Desember 2015

dimanakah aku?

Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas keimanan 

keimanan hanya tinggal pemikiran, yang tak berbekas dalam perbuatan

banyak orang baik tapi tak berakal, ada orang berakal tapi tak beriman...

ada lidah fasih tapi berhati lalai,

ada yang khusyuk tapi sibuk dalam kesendirian...

ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis, 

ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat,

dan ada yang menangis karena kufur nikmat

ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat,  

ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi...

ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut...

ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan
dan ada pelacur yang tampil jadi figur...

ada org yang punya ilmu tapi tak faham
ada yang faham tapi tak menjalankan...

ada yang pintar tapi membodohi
ada yang bodoh tak tahu diri...

ada orang beragama tapi tak berakhlak
ada yang berakhlak tapi tak bertuhan
lalu diantara semua itu dimanakah aku berada...???"

(Ali bin Abi Thalib R.A)

Sabtu, 12 September 2015

Buat apa?


buat apa kehidupan panjang yang baik, jika di penghujung sebelum maut menjemput harus berakhir dengan keburukan? seperti mengumpulkan air segalon raksasa lantas bocor. Kebaikan-kebaikan itu musnah oleh penghujung yang jelek.

Masih lebih baik kehidupan panjang yang buruk tapi di penghujung kehidupan sebelum maut menjemput diakhiri dengan kebaikan. bagaikan musim kemarau yang panjang terkena hujan satu jam. keburukan-keburukan itu berguguran oleh penghujung yang baik'. 

-Tere Liye, dalam novel rembulan tenggelam di wajahmu-

*Penghujung itu nyatanya juga penentu akan baik-buruk hidupmu. Namun setiap kita tidak ada yang tahu dimana Tuhan meletakkan 'ujung hidup' itu. Maka semoga amalan baik menyertai kita selalu, setiap saat setiap waktu, 
Karena sungguh tiap kita takkan pernah tahu kapan maut kan menjemputmu.


Kamis, 09 Juli 2015

bagaimana meningkatkan keimanan?

Bismillah…

Semoga Allah senantiasa mengaruniakan kepada kita kesabaran dalam menjalankan keimanan, sabar dalam meninggalkan maksiat, dan sabar dalam menerima taqdir Allah baik suka ataupun kita tidak menyukainya

Sabar akan menjadikan kita kuat, dan dengan sabar pula puasa dan qiyamul lail yang kita lakukan bisa diamalkan dengan sebaik-baiknya. kalau keimanan kita kuat kita akan sampai dengan derajad Cinta (mau ya Allah T-T)

dengan keimanan yang kuat, kita akan SANGAT PERHATIAN dengan nikmat-nikmat Allah, kita akan lebih  “SENSITIF” dengan segala karunianya. penambahan keimanan ini harus kita lakukan sepanjang hidup, terutama dibulan ramadhan yang akan datang. In syaa Allah

Bagaimana Interaksi kita dengan Iman? sudahkah memonitoring dan senantiasa memeriksannya…

dari Abu darda’,” diantara kepahaman seseorang itu kalau ia senantiasa memeriksa keimanannya.”

terus bagaimana cara memeriksanya? apakah ada timbangan? :-) kalau keimanan seseorang lagi tinggi. ada fenomena yang biasanya terjadi?

kita akan menjadi lebih sabar, lebih banyak bersyukur, bisa merasakan khalawatul munajah dengan Allah, dan didalam sholat dan dzikirnya bisa merasakan kenikmatnya, ada kecintaan untuk berdoa… yang jelas semua amalnya dibangun atas dasar iman (indahnyaaaa ,masyaAllah T-T)

coba lihat, ketika keimanan sedang berkurang, apa yang terjadi?  biasanya

1. malunya akan berkurang, dia tidak perhatian lagi dengan aurot.

“dan malu itu bagian dari iman, ketika malu memudar maka imannya turun” *Allah T_T

Rosululloh bersabda…” iman itu ada 70 sekian, yang paling tinggi laillaha illa Allah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan”. dan malu termasuk didalamnya

2. ketika membaca Al Quran, kita sering menemukan “Allahu yukhibbu….(Allah menyukai…), dan juga Allahu la yukhibbu…. (Allah tidak menyukai)..”

mana yang dicintai Allah, yang sudah kita lakukan? dan mana yang tidak dicintai Allah mana yang sudah kita tinggalkan?

ketika belum termotivasi pada apa yang dicintai Allah bisa jadi keimanan kita belum kuat. terus meneruslah kita evaluasi keimanan kita.

Allahu yukhib,… ada 48 tempat didalam alquran(ayuk dicari apa saja)

3. kalau keimanan kita lemah, kita ga peduli lagi lagi Allah suka ataupun tidak suka dengan apa yang kita lakukan

yuk perhatikan keimanan kita setiap saat, tetepi ada2 waktu khusus yang benar benar kita usahakan

1. sebelum masuk musim-musim taat, misalnya bulan-bilan khusu’, menejelang ramadhan seperti ini….

2.  setelah kita sibuk dari dunia (misalnya sehabis renovasi rumah, sehabis kita sibuk mengurus anak-anak yang lagi ujian, walimah dan lain-lainya)

dunia memang berada disekitar kita, kita jaga hati agar dunia tidak masuk… dan cukup digenggaman tangan, dan memang suatu yang wajar kalau kita berinteraksi dengan dunia tapi ada ‘sa’ah-sa’ahnya… (waktu-waktunya), jadilah rahib dimalam hari dan singa disiang hari. mintalah Ihtisab (meminta agar apa yang kita lakukan itu dinilai ibadah sama Allah), mintalah selalu dan selalu… minta agar Allah senantiasa  memperbaharui, memperbaiki, dan adanya penambahan dan penumpuhan keimanan,” Allahumma Jaddid Imanan fi qulubina.., ya Allah perbaharuilah keimanan didalam hati kita”

ayo bertanya pada iman kita masing-masing sekarang, apa kabar keimanan kita?sudahkah selama ini kita minta sama Allah untuk menguatkan keimanan kita T-T

Umar bin khotob, Muadz bin jabal, Abdulloh bin mas’ud adalah sahabat-sahabat mulia yang sering memanggil sahabat yang lain untuk saling menambahkan keimanan

Ibnu mas’ud menyampaikan,” Allahumma zidna Imanan  wa yaqinan…”, didalam setiap majlis (apapun itu)  yang kita duduk didalamnya, yang tidak disebut nama Allah maka kelak kita diakherat akan menyesal sekali, dan ketika ada majlis-majlis kebaikan dan kita malas untuk mendatanginya,merasa tidak nyaman bisa jadi ada masalah dengan keimanan di hati kita :(

terakhir semoga setiap kita keluar dari sebuah majlis, ada penambahan kualitas amal dan iman. Aamiin :)



*dirangkum dari meteri kajian rutin ustadzah jumanah,diterjemahkan oleh ustadzah maya. semoga Allah senantiasa merahmati beliau berdua :D

Repost dari blog saudari yang dirahmati Allah: sketsalbanna.wordpress.com

Senin, 29 Juni 2015

Ini Alasan Khalid, apa alasanmu?


Terkisah bahwa, sahabat Rasulullah yang berjuluk “saifullah al-maslul” (pedang Allah yang selalu terhunus), Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu dulu, setiap kali mengambil Mushaf Al-Qur’an untuk membacanya, beliau selalu menangis seraya berkata: Kami telah tersibukkan darimu (wahai Al-Qur’an) oleh jihad!

Nah, jika sang panglima jihad islami sepanjang sejarah senantiasa menangis dengan penuh rasa bersalah karena menurutnya beliau kurang banyak membaca Kitabullah, dengan alasan syar’i yang demikian indah, mulia dan agung, yakni kesibukan beliau dalam berjihad fi sabilillah, yang tak lain adalah dalam rangka memperjuangkan dan membela ajaran serta nilai-nilai Al-Qur’an itu sendiri. Ya jika kesibukan jihadlah alasan Sayyidina Khalid sehingga agak jarang tilawah, lalu apakah gerangan alasan logis kita ketika selama ini masih juga sering bersikap kurang akrab dengan Kalamullah? Bahkan mungkin ada yang sampai seolah-olah tengah "berseteru" dengannya, karena begitu langkanya ia "menyapa"-nya?

Dan apakah kita juga menangis karenanya, seperti sahabat Khalid radhiyallahu ‘anhu dulu menangis?

Mari bertobat dan beristighfar..! Mari menangis dengan penuh rasa bersalah dan berdosa kepada Allah, karena selama ini telah lebih sering jauh dengan Kitab-Nya, Al-Qur’an Al-Karim! Dan jika ternyata sulit untuk bisa menangis karena itu, maka sudah sepantasnyalah kita menangisi kerasnya hati yang telah demikian membatu karena tidak atau jarang tersirami oleh hujan barakah Al-Qur’an!

Mari selalu “menyapa” Al-Qur’an, mengakrabinya seakrab-akrabnya, dan mengharmoniskan hubungan kita dengannya, seharmonis-harmonisnya! Sehingga, dengan demikian, barakah Allah-pun insyaallah akan senantiasa “menyapa” kita, mengakrabi kehidupan kita, dan mengharmoniskan setiap langkah hidup kita dengan hidayah, inayah dan taufiq Allah ‘Azza wa Jalla!

Aamiin!

Salam spesial Ramadhan dari hamba pendosa, pengharap doa hamba-hamba bertaqwa 
(H. Ahmad Mudzoffar Jufri).

Jumat, 26 Juni 2015

Taujih Ramadhan


Setiap perintah Allah selalu memiliki tujuan/hikmah. Begitu juga dengan perintah berpuasa. hikmah atau tujuan ibadah puasa adalah menjadikan diri kita insan yang bertaqwa pada Allah swt. Lantas seperti apakah ciri orang yang bertaqwa itu? 
Orang yang bertaqwa adalah meraka yang :
1. Memiliki jiwa dermawan. Karena komitmen dari seoang yg bertaqwa mengenai harta/materi adalah 'bukan merupakan sebuah tujuan'. Mereka tak pernah menjadikan materi sebagai obsesi. Sehingga, saat ia dalam kondisi lapang maupun sempit, ia akan senantiasa 'ringan berinfaq'.

2. Mampu menstabilkan emosi, sehingga berpikirnya jernih. Obyektifitas penilaian maupun keputusan dari manusia yang mudah dikuasai emosi jiwanya selalu patut dipertanyakan. Karena tingkat ketergantungan dan relatifitas dari penilaiannya selalu mengacu pada kondisi jiwanya. Maka, orang yang bertaqwa adalah yang jiwanya mudah memaafkan. Sehingga ia tak pernah terbebani dengki atau iri hati.
 Puasa yang merupakan perisai diri, adalah ibadah yang mendidik kita untuk mengekang nafsu, sehingga hati, jiwa dan pikiran mampu berdiri tegak tanpa tergantung atau dipermainkan olehnya. Seseorang yang telah melalui puasa harusnya mampu meningkatkan kualitas dirinya untuk menyempurnakan ketaqwaannya. Lantas bagaimana dengan kita? Telah berapa ramadhan kita lalui? Dan nampakkah hasilnya?
Apabila puasa yang dilakukan tak menghasilkan ciri-ciri orang bertaqwa, maka mungkin puasa yang kita lakukan masih bersifat struktural, belum fungsional. Karena belum merealisasikan hasil setelah ramadhan usai.

Adapun saat kita mampu menjalankan puasa dengan sebaik-baiknya, maka manfaat yang diterima seorang hamba antara lain:
1. Senantiasa diberkahi hidupnya oleh Allah. Diberikan kebaikan dan petunjuk
2. Mampu membedakan kebaikan dan keburukan. Karena hatinya senantiasa disinari oleh cahaya petunjuk Allah

Wallahu 'alam bisshowab

@masjid An-Nur sidoarjo

Rabu, 29 April 2015

bekerja untuk mencari rizki?

Rizqi kita sudah dijamin dan ditetapkan oleh Allah 'Azza wa Jalla. Maka bekerja kita adalah ibadah, ikhtiyarkan ia tuk menadah pahala dari Allah semata, tak perlu diniati mencari rizqi.

Sebab rizqi ialah ketetapan, menjemputnya jadi jalan ujian. Halal atau haram; pertanyaan ganda menanti jawaban; dari mana dan ke mana dibelanjakan.

Tapi justru karena rizqi dijaminkan, hendaknya pekerjaan kita 'itqan dan ihsan; diperjuangkan sesuai tuntutan tugas, ditekuni hingga ahli, ditunaikan melampaui harapan.

Sesudah itu, jangan risaukan penghasilan.

Sebab kalau pekerjaan kita layak dibayar 1 milyar, tapi yang kita bawa pulang cuma 10 Juta; berarti kita sedang menabung 990 juta kebaikan di sisiNya.

Tapi kalau pekerjaan kita hanya layak dibayar 500 Ribu, tapi beraninya kita menggondhol pulang 10 Juta; ini berarti kita menabung bahaya senilai 9,5 Juta.

Maka mari tambahkan 1 kata untuk pekerjaan sesudah 'itqan dan ihsan; ialah ikhlash.

Pekerjaan yang ikhlas liLlaahi ta'aalaa bernilai tak terhingga. Jadi sesedikit atau sebanyak apapun jumlah pendapatan yang dibawa pulang; maka tak terhingga dikurangi ia berapapun jua, alhamduliLlah, di sisi Allah semoga tetaplah ada pahala tak terhingga.

Maka, kita mensyukurinya, sepenuh tahmid; agar nikmat dunia akhirat bertambah berlipat-lipat.

Repost from @salimafillah 
Bismillah! ^^ penyemangat life work


Senin, 09 Maret 2015

Tentang Penilaian Orang Lain

Bagaimanakah orang lain menilai dirimu? 
Apakah kau cemas jika orang lain mengetahui siapa kau sebenarnya?
Maka ketahuilah, nak. Saat kita tertawa, hanya kita yang tahu persis apakah itu tawa bahagia atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam seluruh kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat menangis pun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan.Orang lain hanya melihat luar. Maka tidaklah relevan penilaian orang lain. 

Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Itu kehidupan kita. Tidak perlu siapapun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan. Karena ssebenarnya yang tahu persis apakah kita bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya diri kita sendiri. Kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia. Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri.

Kita tidak perlu membuktikan apapun kepada siapapun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu.

Besok atau lusa, mungkin akan ada orang lain yang tahu kejelekan kita. Tapi buat apa dicemaskan? Saudaramu sesama muslim, jika dia tahu, maka dia akan menutup aibmu. Karena Allah menjanjikan barang siapa yang menutup aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Itu janji yang hebat sekali. Kalaupun ada saudara kita yang masih membahas kejelekan kita, mengungkitnya, kita tidak perlu berkecil hati. Abaikan saja. Dia melakukan itu karena ilmunya dangkal. Doakan saja semoga besok lusa dia paham.

Disadur dari Novel 'Rindu' karya Tere Liye


Sabtu, 07 Februari 2015

Jadilah seperti Sandal Jepit


Jadilah seperti sandal jepit. Merakyat, mudah didapat,dan tidak eksklusif. Begitupun kita, selayaknya bisa membaur,mudah dicari, dan bermanfaat dimanapun kita berada.
Jadilah seperti sandal jepit. Meskipun murah, tapi jadi alas kaki favorit untuk kemasjid. Begitupun kita, selayaknya jadi sahabat yang bisa mengantar ke tempat-tempat yang baik.
Jadilah seperti sandal jepit. Semahal apapun sepatu, saat hujan orang akan lebih memilih sandal untuk dipakai. begitupun kita, selayaknya mampu jadi solusi saat umat sedang sakit
Jadilah seperti sendal jepit. meskipun sudah putus tapi masih bisa dimanfaatkan. begitupun kita, meskipun kelak akan meninggal, Selayaknya kita mewarisi hal yang bermakna bagi generasi penerus kita.

Iman adalah...

Mata hanya akan bisa melihat benda saat ada cahaya yang mengenai  benda, diteruskan dan kemudian membentuk bayangan benda tersebut ke dalam mata kita.
Jadi, logikanya tanpa cahaya kita tidak akan sanggup melihat apa-apa.

Namun prinsip iman berbeda, karena banyak hal yang kita telah yakini meski tak semua bisa disaksikan, tak semua sudah dibuktikan, dan tak semua telah ditunjukkanNya. Maka benarlah bahwa Iman adalah mata yang melihat mendahului datangnya cahaya :)

Minggu, 25 Januari 2015

'Mush'ab yang baik', the real handsome guy

Duta Pertama Islam: Mush’ab bin Umair

Di antara sahabat Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam yang memiliki semangat dan kepiawaian dalam menjalankan tugas da’wah ialah Mush’ab bin Umair. Ia terhitung salah seorang as-Sabiqun al-Awwaluun (pionir pemeluk Islam). Sahabat yang satu ini sudah memperlihatkan kehanifan dan kecintaannya kepada iman sejak awal kali ia mendengar soal Muhammad bin Abdullah shollallahu ’alaih wa sallam yang mengaku sebagai Nabi terakhir utusan Allah.  Coba perhatikan bagaimana Khalid Muhammad Khalid menggambarkan soal keislamannya di dalam buku Karakteristik Perihidup Enampuluh Shahabat Rasulullah:

Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam yang tepat menemui sasaran pada kalbunya.

Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak obah bagai lautan yang teduh dan dalam. Pemuda yang telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas – berlipat ganda dari ukuran usianya – dan mempunyai kepekatan hati yang mampu merubah jalan sejarah.

Memang, Mush’ab bin Umair bukan sembarang lelaki. Ketika di masa jahiliyyah, ia dikenal sebagai pemuda dambaan kaum wanita. Ia adalah seorang pemuda ganteng yang dikenal sangat perlente. Bila ia menghadiri sebuah perkumpulan ia segera menjadi magnet pemikat semua orang terutama kaum wanita. Gemerlap pakaiannya  dan keluwesannya bergaul sungguh mempesona. Wajahnya rupawan, kaya raya, otak yang cerdas, akhlak yang baik. Namun sesudah memeluk Islam, ia berubah samasekali. Beginilah gambaran penulis buku yang sama:

Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Demi memandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang bertambal–tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka – pakaiannya sebelum masuk Islam – tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi.

Adapun Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia seraya bersabda :

Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Mush'ab adalah putra kesayangan ibunya, begitu pun ia, sangat besar baktinya pada sang ibu. Namun, keputusan Mush'ab untuk memeluk islam telah membuat sebuah perselisihan sengit diantara mereka.
"Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi" teriak sang ibu.

Maka Mush'ab pun menghampiri ibunya sambil berkata : "Wahai bunda! Telah ananda sampaikan nasihat kepada bunda, dan ananda menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya".

Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut : "Demi bintang! sekali-kali aku takkan masuk ke dalam Agamamu itu. Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi". Bahkan ibunya mengancam, "Aku akan mogok makan sampai mati jika kamu tak mau kembali ke agama nenek moyang."

Bergetarkah Mush'ab?
Ternyata tidak. Karena menyangkut aqidah, iapun bersumpah, "Wahai ibu, walau ibu bernyawa seribu. Dan satu persatu nyawa ibu tercabut di hadapanku, aku tetap takkan murtad dari Islam."

Demikian Mush'ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar.

Demikianlah, Mush’ab menjadi seorang yang meninggalkan kebanggan palsu dunia dan menggantikannya dengan kemuliaan hakiki akhirat. Tidak mengherankan bila akhirnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menunjuknya untuk menjadi duta pertama Islam berda’wah di Madinah. Beginilah gambarannya:

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang – orang Anshar yang telah beriman dan baiat kepada Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam di bukti Aqabah. Disamping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijrah Rasul sebagai peristiwa besar.

Sebenarnya di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab yang baik”.  Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tempatan atau kota hijrah, pusat dari dai dan dakwah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.

Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.

Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah baiat di bukit Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta sahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiga-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Allah Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu diantaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan. Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal. Tetapi Tuhannya Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam – yang diserukan beribadah kepada-Nya – oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorangpun yang dapat melihat-Nya.

Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah.

Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan Sa’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”

Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam, laksana terang dan damainya cahaya fajar, terpancarlah ketulusan hati ”Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”

Sebenarnya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta pertimbangan kepada hati nurani sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengarkan dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyrakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.

“Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat Al-Quran dan mengajarkan dakwah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah shollallahu ’alaih wa sallam, maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaidpun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya, ”Alangkah indah dan benarnya ucapan itu! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk Agama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab, ”Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”

Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.

Secepatnya berita itu pun tersiar. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. dan setelah mendengarkan uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula.

Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya bertanya sesama mereka, “Jika Usaid bin Hudlair, Saad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya!”

Dalam perang Uhud Mush’ab dipercaya Rasulullah sebagai pembawa bendera pasukan. Peperangan berlangsung sengit. Mulanya pasukan Muslim bisa menguasai keadaan namun ketika pasukan pemanah yang ditugasi untuk bertahan diatas bukit melanggar perintah dikarenakan tergiur oleh banyaknya ghonimah ( pampasan perang ) yang tertinggal di hadapan mereka, keadaan menjadi berubah terbalik. Tanpa diduga pasukan kafir yang dipimpin Khalid bin Walid yang waktu itu belum memeluk Islam menyerang-balik dari balik bukit sehingga pasukan Muslim kocar-kacir. Mush’ab sungguh terkejut. Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan Rasulullah. Bila Rasulullah sampai terbunuh di perang tersebut bagaimana nasib kelanjutan ajaran Islam yang baru saja tumbuh itu ??

Lalu iapun segera meneriakkan “ Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul ” sambil mengacungkan bendera tinggi-tinggi dan bertakbir sembari menyerang musuh dengan gagah berani. Namun kemudian pihak musuh berhasil menebas tangannya hingga putus. Mush’ab segera memindahkan bendera ke tangan kirinya namun kali inipun ia tidak berhasil menghindar serangan lawan sehingga tangan kirinya juga ditebas pedang musuh. Mush’ab segera membungkuk kearah bendera lalu dengan kedua pangkal lengannya meraihnya ke dada sambil terus bertakbir. Namun kali ini lawan menyerangnya dengan menusukkan tombak ke dada Mush’ab. Mush’abpun gugur sebagai seorang syuhada yang gagah berani. Ironisnya, wajah Mush’ab yang memang mirip Rasulullah itu justru menjadi penyebab berita bahwa Rasulullah telah terbunuh! Hingga membuat pasukan Muslim semakin kacau dan panik.

Diakhir perang, Rasulullah beserta para sahabat meninjau medan perang dan mendapati jasad Mush’ab. Tak sehelaipun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah yang andai ditaruh di atas kepalanya terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya bila ditutup kakinya maka terbukalah kepalanya. Maka Rasulullah bersabda : ” Tutupkanlah ke bagian kepalanya , kakinya tutuplah dengan rumput idzkir!”.

Itulah akhir perjuangan Mush’ab bin Umair dalam menegakkan agama yang dengan tidak gentar menghadapi musuh-musuh Allah, yaitu orang-orang yang enggan mengakui bahwa “Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah”( Laa ilaaha illaLLAH wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah).

“ Katakanlah: “Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.(QS. Ali Imran(3):32).

Saudaraku, sungguh kehidupan Mush’ab bin Umair sangat sesuai dengan kehidupan teladannya Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam digambarkan di dalam Al-Qur’an sebagai seseorang yang berambisi ”menginginkan keimanan dan keselamatan” atas manusia. Sehingga kesibukan utamanya adalah senantiasa mengajak manusia untuk mendekat, beriman dan taat kepada Allah.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ

 حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.” (QS At-Taubah ayat 128)

Selasa, 02 September 2014

Tingkatan Berbuat Baik

Berbuat baik ternyata ada tingkatannya.
Tingkatan tertinggi berbuat baik pada Allah dan RasulNya. Mengapa tertinggi? Karena untuk selalu ikhlas melaksanakannya memang tak mudah. Seperti ikhlasnya para muslimah perancis untuk tetap mempertahankan jilbab ditengah larangan pemerintahnya, seperti para penduduk Gaza yang lebih memilih memakan kucing untuk mengganjal lapar dibanding kenyang dengan hidangan berlimpah tapi berkhianat pada Rabb-nya, seperti imam ahmad bin hambal yg rela disiksa dan dijebloskan ke penjara berkali kali demi mempertahankan kebenaran: al qur'an bukan makhluk tapi wahyu. Ya, memang tak mudah untuk berbuat baik pada Allah dan RasulNya.

Tingkatan berbuat baik selanjutnya adalah berbuat baik pada orang yang menyayangi kita. Contoh paling dekatnya adalah orang tua. Bahkan untuk mengeluh dan berucap 'aah!' Saja pada mereka Allah melarang kita. Percayalah, manusia paling ikhlas dalam menolong dan membantu kita di dunia ini, ialah orang tua kita! Yang paling peduli dan siap mengulurkan tangannya tanpa pamrih, tanpa mengharap lebih. Maka apalah guna memiliki anak seorang hartawan, jika membesuk ibunya saja ia enggan. Apa gunanya anak berpangkat tinggi, jika ia lupa dengan ayahnya yang bekerja dari pagi hingga pagi lagi?
Sebuah teladan indah dicontohkan oleh seorang Doktor dari universitas tempat saya belajar, "tanpa ibu saya ini", katanya sambil mendekap sayang wanita berpakaian sederhana disampingnya, "mungkin sekarang saya hanyalah seorang kuli" ucapnya.
Sungguh ibu dan anak yang beruntung.

Tingkatan terendah dari berbuat baik adalah berbuat baik pada alam dan seisinya. Ya, karena islam adalah rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi sekalian alam. Maka berbuat baik tak hanya sebatas pada sesama manusia, namun kepada seluruh makhluk-Nya. Ingatkah kita, bahkan seorang pelacur pun memperoleh surga karena kebaikannya memberi minum seekor anjing?
Karena manusia diciptakan sebagai pemimpin di bumi, maka berbuat baik pada alam juga merupakan tugas yang diembankan pada tiap-tiap diri.