Tampilkan postingan dengan label The prophet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The prophet. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Oktober 2013

Mengenal Sang Nabi



Perawakan sang Nabi tidak tinggi, tidak pendek. Rambutnya tidak keriting, tidak pula lurus. wajah beliau tidak bulat, bukan pula persegi. Kulit sang Nabi cerah, putih kemerah-merahan. Rambutnya disisir ketik sebahu, digerai ketika sepapak daun telinga. Dahinya lebar. Alis sang Nabi melengkung dan panjang, tebal, nyaris bertaut di tengah. Diantara keduanya terdapat urat yang memerah saat beliau marah.


Bola mata sang Nabi indah dan hitam, bulu matanya lentik menawan. Hidungnya mancung, bagian atasnya memancarkan cahaya. Kedua pipinya datar. Janggut sang Nabi menggaris dari depan telinga, menebal menuju dagu. Mulutnya lebar, gigi-giginya besar, dari selanya memancar cahaya. Dari bawah janggut sang Nabi beralur ke bawah bulu-bulu halus, lewat leher, melebat di dada, melaju bagai tongkat hingga ke pusarnya.

Leher sang nabi jenjang dan indah. Perut beliau sama rata dengan dada yang bidang. Jarak antara kedua bahu lebar. Persendiannya kokoh. Lengan sang Nabi jenjang, telapaknya lebar dan tebal, jemarinya panjang. telapak kaki beliau melengkung, halus hingga air pun tak menempel.



Sang nabi berjalan dengan langkah kaki nan lebar, begitu langsam seolah menuruni bukit, tubuh beliau ikut bergoyang anggun tiap langkah. kalau menoleh, sang Nabi berbalik dengan seluruh badan, lebih sering menduduk dibanding mendongak, melihat dengan penuh perhatian. Dulu nabi suka menyisir rambut ke belakang, seperti Ahli kitab. Saat nyata keingkaran, beliau selisihi mereka dengan menyisir belahnya.

Sang Nabi suka memperbanyak minyak rambut. Kata nas, uban beliau yang 20 helai jadi tak tampak. Beliau gemar merapikan janggutnya. Sang Nabi punya celak khusus yang beliau gunakan menjelang tidurnya. tiga kali untuk kanan dan kiri, sejuk dan menumbuhkan bulu. Pakaian kesukaan sang Nabi adalah gamis berwarna putih, hibarah buatan Yaman berwarna merah, dan baju sampir 2 helai warna hijau dan hitam.

Sang Nabi berminyak wangi di seluruh tubuhnya. Istri beliau mengoleskan di sekujur badan, lalu beliau sendiri wangikan bagian aurat. Jemari manis Rasulullah dilingkari cincin perak, matanya dari batu Habasyah bertuliskan; "Muhammad Rasul Allah". dilepas jika ke peturasan (bahasa halus dari toilet,WC,kaskus---red). Sang Nabi menyimpan selalu selimut Khadijah; selimut yang menenangkan saat beliau terguncang wahyu pertama dan didalamnya beliau diseru.



Sang Nabi suka olahraga lari. Kadang bersama istri. kadang dengan anak-anak kecil yang beliau lombakan siapa duluan menangkap beliau. Nabi suka minum susu di wadah yang sama dengan istrinya, ditepatkan di bekas bibirnya. Anggur, zaitun, dan buah lain, segigit berdua. Tidur sang Nabi tak pernah tengkurap. jika mirip berbantal telapak dan kaki disilang, jika telentang kaki kanan diletak di atas kiri.

Kadang dalam renungan khusyuk, sang nabi duduk dengan lutut diangkat menempel perut. Suka bersandar bantal, tapi TIDAK disaat makan. Nabi suka mandi bersama dan bercanda main air dengan istri-istrinya, bahkan Saudah yang tua. Usia tak menghalangi kemesraan itu. Penutup kepala kesayangan Nabi adalah serban hitam. dikenakan dengan ujung menjatuh di pundak. sandalnya bertali dua dari kulit hewan.


Makanan kesukaan Nabi----Jarang beliau nikmati----adalah paha kanan kambing. Camilannya hais; campuran kurma rendam dengan keju dan yogurt. nabi yang penuh cinta memberi nama semua benda miliknya; dari perkakas rumah tangga, bejana, gelas, kuda, unta, keledai, pedang, dan tombak. nabi makan roti dari tepung utuh yang tak diayak (dulu dianggap rendah; sekarang sehat berserat), lauknya minyak zaitun, cuka, labu. Nabi TAK PERNAH mencela makanan. Jika menyukainya beliau memakannya penuh syukur; jika tidak suka beliau cukup diam tanpa komentar.



Nabi mengerjakan sendiri apa yang beliau bisa di urusan rumah tangga: menambal baju sobek, menjahit sandal rusak, memerah susu, dan seterusnya. Nabi sangan suka bersiwak bersih gigi; akan sholat, akan membaca Al-Qur'an, akan menemui tamu dan sahabat, dan terutama akan menemui istri. nbi tak pernah jijik pada istri yang haid (sebagaimana kebiasaan Arab dan yahudi), beliau tetap bermesra, hanya menghindari jimak. saat Aisyah haid, Nabi tiduran di pangkuannya sambil baca Al-Qur'an; atau meletakkan kepala diantara paha Aisyah. Bahkan tuk shalat malam pun, Nabi minta ijin pada istri yang sedang bersama di ranjang. "Apa kau ijinkan malam ini aku menghadap Rabb-ku?".



Karena sempitnya kamar Nabi, saat shalat malam beliau berdiri hadap Aisyah. Jika hendak bersujud, disentuhnya kaki sang istri agar ditekuk. Sang Nabi seorang pemalu, lebih tersipu dibandingkan gadis pingitan. tak pernah terbahak, hanya senyum yang semanis madu. Sang nabi tak suka diistimewakan. Jika berbagi peran di perjalanan beliau selalu mencari peluang berkontribusi; hatta menyiapkan api. Jika dihadapkan pada pilihan, sang Nabi selalu mengambil yang ringan dan mudah, selama ianya tak jatuh pada hal yang dilarang Allah.



"Tak pernah kulihat", kata Anas, "Nabi marah atau membalas laku buruk atas pribadi beliau. Beliau hanya marah jika Allah dihinakan."
Ujar Aisyah "Pernah tiga purnama tak ada api menyala di rumah kami" apa penyambung hidup Nabi? tanya urwah. "Kurma dan air". Kelembutan sang nabi tak terhalangi dan tak menghalangi ibadahnya. Umamah binti Abil Ash, sang cucu, sering digendong dalam shalat. Al-Husain naik punggung sang Nabi saat sujud. Beliau tak bangkit hingga Al-Husain puas. Usai salam, beliau meminta maaf pada jamaah. Saat para cucu jadikan nabi kuda-kudaan merangkak kian-kemari, ada yang berkata "sebaik-baik tunggangan." Beliau menyahut "Sebaik-baik penunggang!"



dikutip dari Menyimak Kicau Merajut Makna: Salim A. Fillah

Engkau mengenalnya insan yang utama (siapakah kiranya?)
Lelaki pilihan menjadi utusan
Dia menunjukkan jalan kebenaran (Muhammad kukira)

Baik hatinya (baik hatinya)
Santun perangainya (sungguh santun perangainya)
jujur katanya (tak pernah dusta)
Kita menyayangnya (bershalawatlah baginya)
Dia teladan bagi kita semua (dialah teladan kita)
sebagai karunia yang diberikan Allah bagi semua
Muhammad namanya, ikuti jalannya
(Insan Utama: Haddad & Duta Sheila on 7)

*lagu favorite :)


Senin, 29 April 2013

Hakikat bahagia

Bahagia adalah kau jaga sang Nabi duhai Thalhah, tubuhmu terkoyak 70 luka yang mengucur darah. lalu kaupun berdoa “Ambil darahku hari ini wahai Rabbi, sampai kau ridho padaku”.

Bahagia adalah dipanggang terik, pasir membara, tindihan batu, dan cambukan kejam, hingga darahmu berleleh hai Bilal. tetapi lisanmu teguh berucap, “Ahad!”. 
Bahagia adalah engkau ya Nabi, yang ditawari tinggal dalam syahdu sentosa di langit sana, tapi memilih turun ke bumi, menebar kebajikan, menghalau kesyirikan.
Bahagia adalah ketika malaikat menawari untuk membinasakan orang yang menyakitimu. Dan kau pun menjawab duhai kekasih Allah: “Ampunilah, sebab mereka itu tak tahu, semoga kelak keturunan dari sulbi mereka akan mengesakan-Mu”.
Bahagia adalah berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam. lalu kau sedekahkan hati yang terisi cinta Ilahi pada segenap penghuni bumi.
Bahagia adalah saat membersamai orang Shalih. wajahnya mengingatkanmu akan surga, kta-katanya mendzikirmu akan Allah, amalnya mengilhamimu berkarya
Bahagia adalah menjadi kepompong, bersunyi dalam tafakkur yang menerangi hati, berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam, berkarya dalam diam.
Bahagia adalah akhirnya menjadi kupu-kupu sempurna, terbang menari, melantunkan kebaikan di antara bunga, menyesap manis cinta, menebar keindahan pada dunia
:) 
-Salim A. Fillah-

Senin, 14 Januari 2013

pesan cinta untuk kita

Bagaimana perasaanmu kawan, saat menerima sebuah pesan yang ditujukan untukmu? 
Bahagia, sedih, marah, takut,cemas? Yah,, mungkin saja. 

Orang pasti akan marah tatkala menerima surat kaleng berisi cercan dan hinaan untuknya, 
Orang mungkin cemas saat menerima surat tagihan hutang,
Seorang mahasiswa mungkin akan sedih, saat menerima surat keputusan DO dari kampusnya. 
Dan seseorang yang sedang jatuh cinta pastilah akan berbunga-bunga hatinya, saat menerima surat cinta dari sang pujaan hati. 

Lalu bagaimana denganmu,kawan? Pernahkah kau merasakannya, menerima pesan dari seseorang? 

Aku yakin, tak ada yang tak pernah merasakan. Ya, 100% aku yakin kita pernah menerimanya.
Aku yakin sekali, bukan karena kemajuan zaman saat ini, yang menjadikan pesan tidak lagi identik dengan torehan tinta diatas kertas, 
bukan karena meluasnya jaringan internet, yang menjadikan pesan dapat terkirimkan dalam waktu sekian detik tanpa selalu memerlukan jasa petugas pos. 

Karena aku yakin, pesan itupun juga tersampaikan kepadamu, pesan yang sama yang juga ku terima, dan seluruh umat manusia terima. “pesan cinta dari-Nya” 

Sebuah pesan disampaikan dengan harapan agar penerima segera menerima, serta menanggapi isi pesan tersebut. 
Itu pesan, yang sifatnya informatif, dikirim bukan sekedar untuk selingan atau koleksi bacaan. 

Tapi kawan, nampaknya hal itulah kesalahan kita. Ah tidak, mungkin kesalahanku saja yang tak benar-benar serius menanggapi pesan cinta-Nya. Padahal pesan itu begitu indah, susunan katanya begitu sempurna serta sarat makna. Hingga iapun bersumpah

“Katakanlah : ‘sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (Q.S Al Israa’ : 88)



Apalah jadinya jika membeli barang elektronik tanpa dibekali petunjuk pemakaian? 

Bisa jadi akan disalah gunakan, bisa jadi alat akan cepat rusak, atau bahkan alat itu takkan bisa difungsikan, sia-sia, tak berguna. 

Apa jadinya hidup manusia tanpa Al-qur’an? Salah tujuan, merusak kehidupan, tak ada tujuan. Sia-sia, sama dengan nasib si barang elektronik. 

Satu lagi kawan, pesan itu.. tidak diamanahkan pada sembarang orang. Pesan sempurna itu disampaikan melalui sebaik-baik insan, Muhammad Salallahu ‘alaihi wa salam

Duhai, dialah manusia yang sejatinya harus kita cintai melebihi manusia lain di muka bumi. 
Sungguh, betapa beruntungnya mereka yang dapat membersamainya, memandang wajah mulianya, dan menikmati kasih sayangnya. Takkan ada yang tidak jatuh hati padanya jika mengenalnya. Manusia yang paling mendekati sempurna, yah. Paling mendekati sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik penciptanya. 
Beruntunglah mereka yang akan membersamainya di surga. Mungkinkah aku termasuk di dalamnya? Dengan kualitasku saat ini? Aahh... surga masih jauh. 

Hari ini aku disadarkan kembali tentang pesan cinta-Nya. Pesan yang tak hanya harus dibaca, meski membacanya saja telah mengalirkan pahala. pesan yang harus dipahami, dihafal, dan diterapkan. Selayaknya sebuah buku petunjuk penggunaan. Kau baca, kau pahami konsepnya, kemudian kau terapkan. Barulah alat dapat dioperasikan. 
Lantas. Sampai tahap manakah kita menanggapi surat cinta-Nya? 

Aku,kawan. Telah mewajibkan diriku untuk perlahan-lahan menghafalnya. seperti kita tau, begitu banyak keutamaan bagi mereka yang menghafalnya. 

“Bacalah al-Qur`an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membacanya, mempelajari dan mengamalkannya).” HR. Muslim. 

Namun, sering bisikan setan berhasil melunturkan usahaku untuk mengahafalnya. Apa yang sebenarnya menjadikan alasan bagiku? 
Sulit? Tidak...! 

"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran" (QS. al-Qamar:17)


Disaat aku masih bergelut dengan alasanku, seorang anak gadis di suatu tempat sana juga mengalami keraguan yang sama. 
“akan ku hafalkan 15 juz saja” katanya. 

Hal yang sudah sangat luar biasa bagiku. Disampaikannya niatan itu kepada sang ayah. Kemudian ia mengambil wudhu, dan berbaring, bersiap untuk tidur. Ia sempatkan membaca surat al-Mulk sebelum tidur. Di dalam tidurnya ia bermimpi, bertemu dengan dua orang lelaki dengan wajah bermandikan cahaya. Sang gadis tertegun. Tak sanggup berkata. 

“Assalamu’alaykum..” sapa salah satunya. 

“wa’alaykumussalam” jawab sang gadis. 

“Saya Abu Bakar” kata sang lelaki lagi. 

Subhanallah..., siapa yang akan mengira bertemu dengan sahabat nabi yang mulia, yang selalu dipuji-puji Rasulullah semasa hidupnya. Diajaknya sang gadis memasuki sebuah bangunan yang mirip hajar aswad, dengan permata dan berlian sebagai penghiasnya. 

Lelaki berwajah cahaya yang lain, teman sang Abu bakar itu mengajaknya berbincang 

“mengapa kamu hanya ingin mengahafal 15 juz saja? Kenapa tidak 30juz? Bukankah Allah sudah memudahkan bagimu menghafal?” tanyanya. 

“saya tidak yakin bisa mengahafal 30juz, karena susah” jawabnya penuh kesederhanaan. 

“kenapa kamu bilang susah, padahal itu mudah?” tanya lelaki berwajah cahaya itu lagi.

 Akhirnya sang gadis hanya bisa terdiam. Sang lelaki pun kemudian mengajak gadis kecil itu keluar rumah, menuju sebuah sungai di dekatnya. Sang gadis kecil mengamati ada sebuah pohon disamping sungai. Mirip dengan pohon mangga. Tapi tak berkulit. Hanya daging buah, seolah siap untuk dimakan dengan semudah-mudahnya. 

 Sang lelaki berwajah cahaya mengajak gadis kecil itu sholat. Ketika selesai sholat, lelaki itu berkata kembali 

“Saya Nabi Muhammad” katanya. 

Gadis itu tertegun, hanya bisa bersholawat. Keduanya melangkah keluar menuju taman. Lalu Rasulullah kembali berkata 

“kalau kamu yakin mengahafal al-qur’an....” sang gadis kecil tertunduk menangis, tak sanggup meneruskan ceritanya. 

Rasulullah memberikannya sebuah surat padanya, yang tidak diijinkan untuk ditunjukkan pada orang lain. 

Air mata menitik. Duhai, betapa inginnya aku bertemu dengan Beliau. Lelaki mulia itu, sang penyampai surat cinta. Dia yang selama ini hanya dapat ku dengar kisahnya, yang begitu mencintai umatnya. 

Gadis kecil itu begitu beruntung dapat bertemu dengannya. 

Pantaskah aku, bahkan untuk sekedar memimpikannya? 

Tapi harapku tak pernah putus. Harus ku jaga, karena seorang muslim tak mengenal kata ‘putus asa’
Bukan karena kehebatan seorang muslim, tapi karena ada Dia yang selalu menyertai mereka.

Tidak hanya sekedar memimpikannya, tapi juga membersamainya di surga-Nya kelak, aamiin.

Senin, 26 November 2012

Namamu, Sang Rasul

dulu aku bertanya, mengapa namamu yang berulangkali disebutNya
dan kisahmu yang bertebar merambah hampir tiap surah bahkan Allah menetapkan;
kau terkisah untuk menguatkan jiwa hati dan rasa seorang Nabi penutup masa

ya, kini aku tahu..
betapa tak mudah menjadimu hai Musa
mengemban risalah dalam keadaan yang serba tak sempurna
kau tak fasih bicara, sulit berkata-kata
dan sebab khilaf masa lalu, kau tersalah membunuh

maka saat wahyu turun, air matamu menitik,
tubuhmu berpeluh dalam kesadaran akan beratnya beban,
kau mengeluh 

“bicaraku gagap, lidahku kelu, aku takut mereka akan mendustakanku..
dan pada mereka aku berdosa sungguh, aku takut akan dibunuh”

ya, kini aku tahu,
sungguh tak mudah menjadimu sebab dalam keterbatasan itu,
Allah berikan untukmu lawan penuh kuasa
perbendaharaannya kaya, kerajaannya luas,
tentaranya perkasa punggawanya setia, lagi taat buta mengaku tuhan tertinggi,

dia merasa berkuasa atas hidup dan mati
dan kau.. kau terhutang budi masa kecil padanya
dan tahukah kau duh Musa, kelak kaum yang kau pimpin
yang kau bimbing bebas dari perbudakan tiran
yang menyaksikan sejuta kuasa Allah menaungi mereka akan berlomba membangkangi Allah dan mendurhakaimu?

malam ini kususuri kisahmu, dan aku takjub atas takdirNya,
masa lalumu tak sempurna kau terpilih memikul risalah suci,
dan kau didustakan sedang Muhammad dipilihNya
dari pribadi yang terjaga sempurna dia memikul risalah dengan gelar Al amin yang masyhur sudah
tapi diapun tetap didustakan

mungkin sebab itulah kisahmu selalu menjadi penguat hatinya di saat-saat berat,
Muhammad mengenangmu dan melirihkan gumam “semoga Allah menyayangi saudaraku Musa.. sungguh ia dicobai lebih menyakitkan dari ini”

malam ini duhai Musa, kususuri kisahmu aku tersenyum,
alhamdulillah, kau membuatku merasa beban-beban da’wah ini hanyalah seberkas kapas
tapi di sisi lain, menelisik ceritamu, mataku basah
“ahh.. surga, rasanya masih jauh, sangat jauh..”

sepenuh cinta,
Salim A. Fillah