Bahagia adalah dalam pandangan diri merasa terendah, dalam penilaian orang lain dianggap tengah-tengah, dalam pandangan Allah menjadi paling mulia.
Bahagia adalah ditutupinya aib kita, diampuni dosa-dosa, dan dijadikan lebih baik pribadi ini dari semua kemuliaan yang disematkan manusia.
Bahagia adalah masa lalumu tak membelenggu, masa depanmu tak menghantui, masa kinimu terisi puncak karya yang kau bisa.
Bahagia adalah Allah menjadi mata yang kau pakai melihat, telinga yang kau gunakan untuk mendengar, tangan untukmu bertindak, dan kaki untukmu melangkah.
Bahagia adalah saat prasangka tak mengalahkan akhlakmu, saat kebencian tak melunturkan adilmu, saat dendam tenggelam dalam maafmu.
Bahagia adalah karunia lapang hati menerima yang tak terubah, keberanian bertindak atas ia yang bisa diubah, dan kebijaksanaan tuk membedakan keduanya.
Bahagia adalah tak usah banyak bercerita tentang diri kita; sebab yang mencinta tak memerlukannya dan yang benci takkan percaya. Cukup penilaian-Nya saja.
Bahagia adalah kebersamaan dan cinta pada orang mulia; ia mengantarkan kita ke kedudukan yang tak bisa dicapai amal pribadi. Sebab Nabi bersabda, "kau kan bersama dengan yang kau cinta"
Bahagia adalah menjadi kepompong, bersunyi dalam tafakkur yang menerangi hati, berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam, berkarya dalam diam.
Bahagia adalah akhirnya menjadi kupu-kupu sempurna; terbang menari, melantunkan kebaikan diantara bunga, menyesap manis cinta, menebar keindahan pada dunia
-salim a. Fillah-
Kamis, 28 September 2017
Sabtu, 23 September 2017
Saat aku menuliskannya
Saat aku menulis kalimat-kalimat yang terlihat sok bijak. Kadang, aku bukan sedang menceramahi dirimu, justru aku sebenarnya sedang menguatkan diriku sendiri.
Saat aku menulis kalimat-kalimat galau. Bukan selalu aku sedang terpuruk, aku hanya sedang menikmati proses yang pernah kulalui. Hanya menghibur diri.
Saat aku menulis kalimat-kalimat yang terkesan garing, memaksakan terlihat lucu. Aku bukan sedang mencoba membuatmu tertawa, aku hanya sedang berusaha menertawakan diriku sendiri.
Tulisan-tulisan itu kadang kusampaikan untuk menampar diriku sendiri. Untuk menghibur diriku sendiri. Meski aku kadang terlihat seperti mengatakan pada orang lain. Aku hanya sedang mencoba, mendengarkan diriku seolah-olah mendengarkan orang lain.
–boycandra
Sabar
Sabar arti harfiahnya adalah "menahan".
Memiliki sabar berarti bisa menahan diri dari melakukan sesuatu yang tidak disukai atau di ridhoi-Nya. Pada saat-saat sulit, sabar berarti tidak mengeluh, tidak memikirkan pemikiran negatif tentang-Nya, dan tidak berhenti menyembah Dia dan malah berlindung pada hal-hal lain.
Pada saat mudah, sabar berarti menahan diri dari menggunakan rahmat-Nya untuk tidak menaati-Nya. hal ini juga berarti untuk terus menyembah-Nya dengan tekun seperti saat kita di masa-masa sulit, bukan malah terlena dalam waktu dan kemudian membuat kita berpuas diri dan malas kembali taat pada-Nya.
Memiliki sabar berarti teguh. Terlepas dari apa yang diberikan hidup pada kita, jika kita memiliki sabar, kita akan terus mematuhi dan menyembah-Nya, menahan diri dari melakukan hal-hal yang mengecewakan-Nya.
(From tumblr)
*sabar....masih harus terus belajar (T-T )
Memiliki sabar berarti bisa menahan diri dari melakukan sesuatu yang tidak disukai atau di ridhoi-Nya. Pada saat-saat sulit, sabar berarti tidak mengeluh, tidak memikirkan pemikiran negatif tentang-Nya, dan tidak berhenti menyembah Dia dan malah berlindung pada hal-hal lain.
Pada saat mudah, sabar berarti menahan diri dari menggunakan rahmat-Nya untuk tidak menaati-Nya. hal ini juga berarti untuk terus menyembah-Nya dengan tekun seperti saat kita di masa-masa sulit, bukan malah terlena dalam waktu dan kemudian membuat kita berpuas diri dan malas kembali taat pada-Nya.
Memiliki sabar berarti teguh. Terlepas dari apa yang diberikan hidup pada kita, jika kita memiliki sabar, kita akan terus mematuhi dan menyembah-Nya, menahan diri dari melakukan hal-hal yang mengecewakan-Nya.
(From tumblr)
*sabar....masih harus terus belajar (T-T )
"I think the reason we get impatient, stop, and give up is because we want to get paid. But it isn’t Pay Day yet".
Kamis, 17 Agustus 2017
Cinta adalah jalan ketaatan
Semua akan indah bila dihiasi dengan cinta, tapi cinta itu sendiri harus terangkai dalam bingkai yang benar, dengan cara yang benar, dan dengan tujuan yang hakiki
Bila hanya mencinta maka hewan juga punya, manusia mana juga bisa, tak perlu iman untuk mencintai tak perlu ilmu untuk memiliki rasa cinta, sebab cinta hanya alat
Tapi memahami arah cinta, cara mencinta, itu semua perlu ilmu, perlu pemahaman yang benar tentang tujuan hidup. Bila sudah begitu, barulah cinta jadi punya arti
Hidup hanya sementara, dan kita tahu semua akan berakhir, apakah dunia yang lebih dulu berakhir atau kita yang duluan pergi, setelah itu ada kehidupan lagi
Yang berpikir takkan mampu menafikkan keberadaan Allah dan kebenaran Islam. Maka tujuan hidup bagi yang beriman sudah pasti, mereka senantiasa mencari ridha Allah
Maka cinta hanyalah satu alat yang Allah berikan pada manusia agar manusia bisa mendapatkan ridha-Nya, cinta baru akan hakiki dan berarti bila ditujukan kesana
Lalu ada yang menagatasnamakan cinta untuk maksiat, jadikan cinta diatas ketaatan, jadikan cinta sebagai alasan untuk melanggar perintah Allah, ini keliru
Sebagaimana mobil bisa mengantarkan kita menuju tujuan, cinta adalah alat yang mengantarkan kita menuju ridha Allah, bagaimana bisa alat lebih utama dari tujuan?
Jangan bilang cinta bila itu melanggar perintah Allah, sebab dengan mudah Allah cabut cinta itu lalu berganti penyesalan, tak ada cinta bila tanpa ketaatan pada Allah
Latihlah cinta agar mau tunduk pada ketaatan, maka Allah Sang sumber cinta akan melimpahkan padamu cinta-Nya, hingga engkau akan mengetahui hakikat cinta ☺☺
- Felix Siauw -
Minggu, 06 Agustus 2017
BFF
Tidak semua yg tersenyum pada kita itu teman, dan tidak semua yang menyakiti kita itu musuh.
Tidak semua yang bermanis-manis ria kepada kita itu sahabat, dan tidak semua yang berkata tegas, terasa jleb, sakit itu lawan.
Poin dari nasehat lama ini bukan menyuruh kita agar suuzon dengan orang-orang; melainkan agar kita paham, bahwa sesuatu yang kita sukai belum tentu baik bagi kita, pun sebaliknya, sesuatu yang kita benci, boleh jadi sangat baik bagi kita.
-Tere Liye-
Sahabat sejati memang bukan mereka yang hanya mau membela saat kita benar, tapi juga meluruskan saat kita salah.
Alhamdulillah,, puji syukur pada Allah yang telah menganugerahkan saya begitu banyak sahabat yang mau bersabar berteman dengan saya selama ini 😅
Alhamdulillah, mereka juga tidak pelit memberikan saran dan teguran saat saya mulai melenceng.
Dari yang pakai bahasa halus macam "afwan ya ukht, jangan tersinggung tapi menurut ana anti itu begini dan begitu...."
Sampai yang bahasa tanpa perlu difilter macam "duh...ancen yoh butuh kesabaran berteman denganmu iki. Ish!" 😂😂😂
Tapi percayalah apa-apa yang mereka utarakan itu memang benar adanya untuk kebaikan saya. Mau apapun bentuk bahasanya tapi maksudnya kan sama : because i care about you so i want you to be better *ciyee
Jika padamu ada kawan baik yg membantu ketaatan,
Genggamlah erat dia di tangan. Sebab memperoleh sahabat sebenarnya amatlah sukar, adapun berpisah sangatlah mudah"
-Asy Syafi'i
Saranghae chinguya~ 🙆🙆🙆
Senin, 10 Juli 2017
Rahasia Dua Lelaki
Dari balik tabir, kudengar wanita itu berbicara
Mengisahkan pengalamannya yg akan menjadi guru:
Aku bertemu dua lelaki, dia mulai bercerita
Dengan suara lembut, riang, sekaligus sendu
Aku menerka demikian pula wajahnya
Kurasa dua-duanya mampu membuatku tak bisa menolak
Jika mereka punya kehendak
Oh ya, kudengar sambil dalam hati mengucap 'Rabbi'...
Lelaki pertama berparas titisan Yussuf
Hartanya warisan Sulaiman
Gagahnya serupa Musa
Wanita itu berhenti, sejenak menghela napasnya
Aku menggigit bibir dan mendalamkan tundukku
Dan tahukah kau, suaranya cekat kini
Setelah bicara padanya, aku pulang terpesona
Merasa berjumpa dengan lelaki paling rupawan
Bercakap dengan insan paling bijaksana
Aku tak ingin tahu lebih banyak
jadi kutanyakan padanya tentang lelaki kedua
Dan sepertinya dia tersenyum
Seusai berbincang dengan lelaki kedua, katanya
Aku pulang dengan bahagia, merasa penuh pesona
Merasa menjadi wanita paling jelita
Merasa diriku perempuan paling cendikia
Jadi diantara mereka, tanyaku sambil mengepalkan jemari
Siapa yang lebih tampan, siapa yang lebih mengagumkan?
Kurasa dia tersenyum lagi, menertawakanku barangkali
Laki-laki pertama lebih mencintai dirinya sendiri
Dia bersuka cita saat menebarkan pesona
Dia bahagia ketika banyak hati memujanya
Laki-laki kedua mempesona, bukan karena dirinya
Daya pikatnya ada pada perhatiannya, yang membuatku
Merasa ada, merasa bermakna, merasa berharga
Jadi, aku menyimpulkan perlahan
Kau memilih yang kedua...
Dia tersenyum lagi, aku telah mendapatkan yang ketiga
Laki-laki suci, yang memuliakanku dengan menikahiku
Dia menjaga kesuciannya dengan pernikahan
Dia menjaga pernikahannya dengan kesucian
Dia berupaya untuk mempunyai pesona lelaki pertama tanpa mengumbarnya
Dia belajar memiliki pesona lelaki kedua untuk mengagungkan istrinya
Meski jauh dari sempurna, dia mengingatkanku pada sabda sang Nabi,
Sebaik-baik lelaki adalah yang paling memuliakan perempuan
Aku tersenyum kini, tunggu, apakah engkau ini istriku...
-Salim A. Fillah-
Mengisahkan pengalamannya yg akan menjadi guru:
Aku bertemu dua lelaki, dia mulai bercerita
Dengan suara lembut, riang, sekaligus sendu
Aku menerka demikian pula wajahnya
Kurasa dua-duanya mampu membuatku tak bisa menolak
Jika mereka punya kehendak
Oh ya, kudengar sambil dalam hati mengucap 'Rabbi'...
Lelaki pertama berparas titisan Yussuf
Hartanya warisan Sulaiman
Gagahnya serupa Musa
Wanita itu berhenti, sejenak menghela napasnya
Aku menggigit bibir dan mendalamkan tundukku
Dan tahukah kau, suaranya cekat kini
Setelah bicara padanya, aku pulang terpesona
Merasa berjumpa dengan lelaki paling rupawan
Bercakap dengan insan paling bijaksana
Aku tak ingin tahu lebih banyak
jadi kutanyakan padanya tentang lelaki kedua
Dan sepertinya dia tersenyum
Seusai berbincang dengan lelaki kedua, katanya
Aku pulang dengan bahagia, merasa penuh pesona
Merasa menjadi wanita paling jelita
Merasa diriku perempuan paling cendikia
Jadi diantara mereka, tanyaku sambil mengepalkan jemari
Siapa yang lebih tampan, siapa yang lebih mengagumkan?
Kurasa dia tersenyum lagi, menertawakanku barangkali
Laki-laki pertama lebih mencintai dirinya sendiri
Dia bersuka cita saat menebarkan pesona
Dia bahagia ketika banyak hati memujanya
Laki-laki kedua mempesona, bukan karena dirinya
Daya pikatnya ada pada perhatiannya, yang membuatku
Merasa ada, merasa bermakna, merasa berharga
Jadi, aku menyimpulkan perlahan
Kau memilih yang kedua...
Dia tersenyum lagi, aku telah mendapatkan yang ketiga
Laki-laki suci, yang memuliakanku dengan menikahiku
Dia menjaga kesuciannya dengan pernikahan
Dia menjaga pernikahannya dengan kesucian
Dia berupaya untuk mempunyai pesona lelaki pertama tanpa mengumbarnya
Dia belajar memiliki pesona lelaki kedua untuk mengagungkan istrinya
Meski jauh dari sempurna, dia mengingatkanku pada sabda sang Nabi,
Sebaik-baik lelaki adalah yang paling memuliakan perempuan
Aku tersenyum kini, tunggu, apakah engkau ini istriku...
-Salim A. Fillah-
Minggu, 02 Juli 2017
Hi bloggie!
Hi bloggie!^^
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin dibagikan belakangan ini tapi....niat berbagi pupus terkalahkan dengan rasa malas dan lelah, dan berakhir membuka youtube dan sosmed *astaghfirullah...ckckck
By the way, tidak terasa sudah 7 tahun berlalu semenjak blog ini pertama kali saya buat. Tepatnya tahun 2010 silam saat masih jadi mahasiswa baru.
Ketika itu saya disarankan mbak army yang baik hati (begitu kalau tidak salah usernamenya kala itu) untuk membuat blog karena saya bercerita saya suka menulis. Tapi belum jelas arah tulisannya kemana, terus masih gak karuan juga tulisannya.
Kata mbak Army 'udah dibiasain aja dulu nulis. Nulis apa saja, asal disempatkan tiap jangka waktu. Biar semakin terlatih dan terasah.
Akhirnya jadilah blog ini saya buat.
Awal niatnya cuma iseng sampai akhirnya...tetep iseng sih. Hahahaha 😂
Sebenarnya blog ini ingin saya buat semacam diary atau buku catatan buat saya pribadi, supaya di suatu hari nanti saat saya buka-buka ulang postingan saya ini, blog ini bisa jadi pengingat dan motivasi atas apa yang pernah saya dapat dan lalui.
tapi kadang terpikir juga, kalau seandainya kita bisa menulis sesuatu yang bermanfaat, berguna lalu bisa menginspirasi dan diamalkan orang lain kan keren jadinya. Seperti saya yang kemudian menemukan jalan hidup melalui buah karya seorang penulis.
Dan dengan demikian kan saya dapat pahala juga. *Aamiin...
tapi kayaknya masih jauh banget ya antara kenyataan saat ini dengan keinginan dan impian.
Yaa... tak mengapa. Yang penting terus berupaya
*ngomong opo toh di...di...
So, 7 tahun bukan waktu yang sebentar. Banyak kejadian yang mengubah dan membentuk diri saya, dari awalnya anak remaja yang baru lulus SMA jadi seorang manusia dewasa. Dan harus saya akui, gak ada yang sesuai prediksi saya sebelumnya. Hahahahahaha
Tapi mashaa Allah ya, Allah memang yang paling tahu yang terbaik bagi kita. Jadi ingat tulisan awal di blog ini. 'Hidup itu ibarat puzzle'
Ya memang benar sekali hidup ibarat puzzle yang belum terselesaikan. karena belum selesai, jadi belum tahu akhirnya, karena belum tahu maka kita harus terus mencoba dan berusaha. Esok lusa akan kita pahami juga.
Yang jelas, saya masih setia dengan prinsip saya dulu: berusaha menjalani hidup yang tidak membuat kita menyesal dikemudian hari.
Dan dalam hal ini saya punya beberapa cerita yang....ehem! Kembali mengingatkan saya bahwa puzzle hidup kita ini adalah Allah yang punya kuasa. Jadi banyak- banyaklah berdoa padaNya. Tentu saja doa dan dijemput dengan gerak upaya.
Contoh kisah nih:
Dulu saat menjelang lulus SMA saya pernah membuat peta konsep hidup saya pasca SMA *begaya
Saya tulis semua impian dan cita-cita. Punya bisnis sendiri, nulis buku, punya butik, bikin sekolah plus asramanya, dll. Pun demikian dalam berdoa sudah banyak sekali permintaan-permintaan yang saya mohonkan.
Mulai dari yang realistis sampai yang gak pake mikir *lol
Daan...peta konsep itu berakhir terlupakan bertahun-tahun. Dan baru-baru ini ditemukan oleh ibu saya dan di baca (malunyaaa...!!! *yasudah tapi mau gimana lagi). Akhirnya setelah bertemu lagi dengannya saya semakin malu
Yaelah ini anak abege bagus banget karangan indahnya yak?
Malu karena pada akhirnya saya belum menjamah sama sekali impian-impian saya itu saat saya lulus kuliah. Sempat berpikir "pada akhirnya hidup saya ya gini-gini aja".
Tapi saya mulai berpikir ulang saat saya menonton salah satu acara yang cukup menginspirasi saya.
"Hey! Kamu masih 20an tahun. Masih panjang perjalananmu *inshaa Allah. Belum juga 40 tahun!. Baru juga masuk tahap dewasa awal, baru juga masuk ke komunitas masyarakat. Gak dianggep anak-anak lagi maksudnya
JUSTRU saat ini adalah titik awalmu. Saat kamu gak lagi terikat dengan tugas belajar, saat 24 jam waktumu bebas kamu manfaatkan. Kenapa nggak coba dijalankan?
Berhasil enggak urusan nanti yang penting toh USAHA. Bekerjalah biar nanti Allah yang melihat dan tunjukkan hasilnya entar (QS.At-Taubah: 104)
Ya begitulah, akhirnya sedikit-sedikit saat ini saya mencoba 'menyicil' untuk menggapai cita-cita yang tertunda. Doain ya,,
Paling enggak, pun seandainya Allah punya rencana lain buat saya, saya sudah membuktikan bahwa saya sudah berupaya memperjuangkan impian saya. Gak cuma berandai-andai saja.
Jadi paling tidak saat usia saya mencapai 40 tahun *inshaa Allah dan anak-anak saya bertanya "ibu dulu cita-citanya apa?"
Saya gak akan dengan sesal atau mata menerawang menjelaskannya. Tapi dengan mata berbinar dan senyum kepuasaan atas upaya saya memperjuangkannya.
Mudahkah? Tentu saja....enggak!! Perlu banyak usaha,ikhtiar yang tak berputus. Butuh mental baja. Butuh baaanyaaakkk perjuangan dan upaya.
Ya wajar sih ya. Kan katanya 'there is no growth in a comfort zone'
Walaupun kadang masih sering capek, males dan nangis (saat keluar alaynya) tapi....yah semoga saya bisa terus bertahan!
Apa cukup dengan usaha?
Tentu tidak. Doa itu lho sebenarnya senjata utamanya. Doa-doa kita inilah yang bisa mengubah takdir atau ketetapan Allah atas kita *jika Allah meridhoinya.
Walaupun sebenarnya Allah sudah tahu apa yang kita maksud dan inginkan, tapi sebenarnya Allah suka dengan hambaNya yang intens berkomunikasi dan mengingatNya.
Allah sayang dengan hamba yang tawadlu dan merendah serta sadar bahwa segala ikhtiar dan upaya itu hanya bisa GOAL dengan ridhoNya semata. *diah...ileng di! Ojo males males dungo!!
Tapi bener lho. Allah akan mengabulkan tiap pinta kita JIKA hal itu memang yang terbaik untuk kita. Sayang kadang karena tak selalu timing pengabulannya itu kita duga, akhirnya kita lupa dengannya. Akhirnya lupa bersyukur juga.
* ini juga tamparan banget bagi saya.
Akhir-akhir ini saya ribut menggalaukan sesuatu. Tapi saat saya baca lagi peta konsep impian SMA saya dulu, saya jadi tersadar...
"HEY,, Bukannya itu memang yang pernah kamu minta?"
Astaghfirullah,,, emang ya. Allah lebih tahu tentang kita dibanding diri kita sendiri.
Begitulah....postingan panjang nan tidak fokus kali ini. Semoga bermanfaat *jika ada. Ada sih mungkin, buat saya pribadi saat membaca ulang agar memotivasi. Hehe
Se-ma-ngat!!
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin dibagikan belakangan ini tapi....niat berbagi pupus terkalahkan dengan rasa malas dan lelah, dan berakhir membuka youtube dan sosmed *astaghfirullah...ckckck
By the way, tidak terasa sudah 7 tahun berlalu semenjak blog ini pertama kali saya buat. Tepatnya tahun 2010 silam saat masih jadi mahasiswa baru.
Ketika itu saya disarankan mbak army yang baik hati (begitu kalau tidak salah usernamenya kala itu) untuk membuat blog karena saya bercerita saya suka menulis. Tapi belum jelas arah tulisannya kemana, terus masih gak karuan juga tulisannya.
Kata mbak Army 'udah dibiasain aja dulu nulis. Nulis apa saja, asal disempatkan tiap jangka waktu. Biar semakin terlatih dan terasah.
Akhirnya jadilah blog ini saya buat.
Awal niatnya cuma iseng sampai akhirnya...tetep iseng sih. Hahahaha 😂
Sebenarnya blog ini ingin saya buat semacam diary atau buku catatan buat saya pribadi, supaya di suatu hari nanti saat saya buka-buka ulang postingan saya ini, blog ini bisa jadi pengingat dan motivasi atas apa yang pernah saya dapat dan lalui.
tapi kadang terpikir juga, kalau seandainya kita bisa menulis sesuatu yang bermanfaat, berguna lalu bisa menginspirasi dan diamalkan orang lain kan keren jadinya. Seperti saya yang kemudian menemukan jalan hidup melalui buah karya seorang penulis.
Dan dengan demikian kan saya dapat pahala juga. *Aamiin...
tapi kayaknya masih jauh banget ya antara kenyataan saat ini dengan keinginan dan impian.
Yaa... tak mengapa. Yang penting terus berupaya
*ngomong opo toh di...di...
So, 7 tahun bukan waktu yang sebentar. Banyak kejadian yang mengubah dan membentuk diri saya, dari awalnya anak remaja yang baru lulus SMA jadi seorang manusia dewasa. Dan harus saya akui, gak ada yang sesuai prediksi saya sebelumnya. Hahahahahaha
Tapi mashaa Allah ya, Allah memang yang paling tahu yang terbaik bagi kita. Jadi ingat tulisan awal di blog ini. 'Hidup itu ibarat puzzle'
Ya memang benar sekali hidup ibarat puzzle yang belum terselesaikan. karena belum selesai, jadi belum tahu akhirnya, karena belum tahu maka kita harus terus mencoba dan berusaha. Esok lusa akan kita pahami juga.
Yang jelas, saya masih setia dengan prinsip saya dulu: berusaha menjalani hidup yang tidak membuat kita menyesal dikemudian hari.
Dan dalam hal ini saya punya beberapa cerita yang....ehem! Kembali mengingatkan saya bahwa puzzle hidup kita ini adalah Allah yang punya kuasa. Jadi banyak- banyaklah berdoa padaNya. Tentu saja doa dan dijemput dengan gerak upaya.
Contoh kisah nih:
Dulu saat menjelang lulus SMA saya pernah membuat peta konsep hidup saya pasca SMA *begaya
Saya tulis semua impian dan cita-cita. Punya bisnis sendiri, nulis buku, punya butik, bikin sekolah plus asramanya, dll. Pun demikian dalam berdoa sudah banyak sekali permintaan-permintaan yang saya mohonkan.
Mulai dari yang realistis sampai yang gak pake mikir *lol
Daan...peta konsep itu berakhir terlupakan bertahun-tahun. Dan baru-baru ini ditemukan oleh ibu saya dan di baca (malunyaaa...!!! *yasudah tapi mau gimana lagi). Akhirnya setelah bertemu lagi dengannya saya semakin malu
Yaelah ini anak abege bagus banget karangan indahnya yak?
Malu karena pada akhirnya saya belum menjamah sama sekali impian-impian saya itu saat saya lulus kuliah. Sempat berpikir "pada akhirnya hidup saya ya gini-gini aja".
Tapi saya mulai berpikir ulang saat saya menonton salah satu acara yang cukup menginspirasi saya.
"Hey! Kamu masih 20an tahun. Masih panjang perjalananmu *inshaa Allah. Belum juga 40 tahun!. Baru juga masuk tahap dewasa awal, baru juga masuk ke komunitas masyarakat. Gak dianggep anak-anak lagi maksudnya
JUSTRU saat ini adalah titik awalmu. Saat kamu gak lagi terikat dengan tugas belajar, saat 24 jam waktumu bebas kamu manfaatkan. Kenapa nggak coba dijalankan?
Berhasil enggak urusan nanti yang penting toh USAHA. Bekerjalah biar nanti Allah yang melihat dan tunjukkan hasilnya entar (QS.At-Taubah: 104)
Ya begitulah, akhirnya sedikit-sedikit saat ini saya mencoba 'menyicil' untuk menggapai cita-cita yang tertunda. Doain ya,,
Paling enggak, pun seandainya Allah punya rencana lain buat saya, saya sudah membuktikan bahwa saya sudah berupaya memperjuangkan impian saya. Gak cuma berandai-andai saja.
Jadi paling tidak saat usia saya mencapai 40 tahun *inshaa Allah dan anak-anak saya bertanya "ibu dulu cita-citanya apa?"
Saya gak akan dengan sesal atau mata menerawang menjelaskannya. Tapi dengan mata berbinar dan senyum kepuasaan atas upaya saya memperjuangkannya.
Mudahkah? Tentu saja....enggak!! Perlu banyak usaha,ikhtiar yang tak berputus. Butuh mental baja. Butuh baaanyaaakkk perjuangan dan upaya.
Ya wajar sih ya. Kan katanya 'there is no growth in a comfort zone'
Walaupun kadang masih sering capek, males dan nangis (saat keluar alaynya) tapi....yah semoga saya bisa terus bertahan!
Apa cukup dengan usaha?
Tentu tidak. Doa itu lho sebenarnya senjata utamanya. Doa-doa kita inilah yang bisa mengubah takdir atau ketetapan Allah atas kita *jika Allah meridhoinya.
Walaupun sebenarnya Allah sudah tahu apa yang kita maksud dan inginkan, tapi sebenarnya Allah suka dengan hambaNya yang intens berkomunikasi dan mengingatNya.
Allah sayang dengan hamba yang tawadlu dan merendah serta sadar bahwa segala ikhtiar dan upaya itu hanya bisa GOAL dengan ridhoNya semata. *diah...ileng di! Ojo males males dungo!!
Tapi bener lho. Allah akan mengabulkan tiap pinta kita JIKA hal itu memang yang terbaik untuk kita. Sayang kadang karena tak selalu timing pengabulannya itu kita duga, akhirnya kita lupa dengannya. Akhirnya lupa bersyukur juga.
* ini juga tamparan banget bagi saya.
Akhir-akhir ini saya ribut menggalaukan sesuatu. Tapi saat saya baca lagi peta konsep impian SMA saya dulu, saya jadi tersadar...
"HEY,, Bukannya itu memang yang pernah kamu minta?"
Astaghfirullah,,, emang ya. Allah lebih tahu tentang kita dibanding diri kita sendiri.
Begitulah....postingan panjang nan tidak fokus kali ini. Semoga bermanfaat *jika ada. Ada sih mungkin, buat saya pribadi saat membaca ulang agar memotivasi. Hehe
Se-ma-ngat!!
Senin, 29 Mei 2017
Sabtu, 13 Mei 2017
Menyikapi Permasalahan
Sebenarnya dalam hidup ini kita menjumpai berbagai kejadian dan permasalahan yang jika disederhanakan bisa dikelompokkan menjadi tiga kelompok.
kelompok pertama, adalah permasalahan atau persoalan yang bisa kita pengaruhi dan kendalikan.
contohnya adalah permasalahan diri kita sendiri. misalnya, saya malas, saya tidak punya pengetahuan tentang ini dan itu. masalah ini bisa kita kendalikan dan pengaruhi. kita bisa mempengaruhi diri untuk lebih kiat belajar, lebih giat mencari ilmu, lebih giat berlatih. kita juga mempunyai kendali seutuhnya terhadap diri. apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi hal itu serta apa pula yang harus saya hindari dan batasi agar hal yang tidak diinginkan itu tidak menjadi semakin buruk.
Masing-masing dari kita pasti memahami kelemahan atau kekurangan diri, dan kita pun memahami dampak buruk dari kelemahan itu pada hidup kita ke depan, maka untuk menjaga hidup agar dinamis, agar tidak terperangkap pada rutinitas stagnan, dan agar mampu menjadi pribadi yang selalu menjadi insan yang lebih baik, kita harus memiliki targetan-targetan dalam hidup. dan disinilah harusnya kita tempatkan prioritas yang paling utama.
karena meskipun saat ini kita hidup bermasyarakat, saling bahu-membahu, dan tolong -menolong, tapi pada akhirnya nanti kita akan mempertanggung jawabkan segala amal perbuatan kita secara individu, secara personal. tak ada lagi tolong menolong atau campur tangan orang lain. apa yang telah kamu lakukan, untuk apa waktumu kau habiskan dan kepada siapa segala perbuatan itu kau tujukan. apakah realita kehidupanmu sama seperti janji-janji dan ucapanmu disetiap sholatmu.
Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah untukMu, Duhai Tuhan semesta alam.
Sayangnya, hal penting ini selalu diletakkan pada prioritas terakhir *termasuk saya, hiks (T-T)
Kelompok kedua, adalah permasalahan yang bisa kita pengaruhi namun tidak bisa kendalikan. contohnya seperti dakwah, mengajak kepada islam.
“Katakanlah: “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (ilmu dan keyakinan). Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [Yusuf:108].
"Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Rabbku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Rabbku Maha Pemelihara segala sesuatu." (QS. 11:57)
karena di dalam Islam tidak ada paksaan dalam memeluk suatu agama. mengajak manusia lain kepada Islam adalah tugas seluruh muslim. dan jika tugas sudah disampaikan maka gugurlah sudah kewajibannya. seperti yang telah dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul. Nuh As. berdakwah kepada kaumnya hampir 1000 tahun tapi jumlah pengikutnya pun bisa dihitung dengan jari. maka jelas sudah Islam disebarkan tidak dengan kekerasan atau paksaan tapi mengajak dengan hikmah.
lalu apa kaitannya dengan permasalahan kelompok kedua?
kelompok kedua seperti yang sudah disebutkan diawal adalah kelompok permasalahan yang hanya bisa kita pengaruhi tapi tak bisa kendalikan. seperti dakwah kita hanya bisa mengajak, namun apakah hati manusia tersebut mau menerimanya itu sudah tidak bisa kita kendalikan. semua kembali bergantung pada upaya dan kemauan orang tersebut.
Kelompok ketiga, adalah permasalahan yang tidak bisa kita pengaruhi dan kendalikan. contohnya adalah ketetapan Allah. adakalanya ketetapan Allah tidak sesuai dengan keinginan atau bayangan kita. kadang takdir Allah berseberangan dengan rencana kita dan hal ini kemudian membuat kita mengeluh meratapi dan kufur nikmat. padahal hal itu telah nyata tak bisa kita hindari atau pengaruhi.
sayangnya, banyak manusia yang salah mengurutkan prioritas permasalahan ini, dan menjadikan kelompok ketiga ini menjadi prioritas utama, sehingga banyak waktu yang akhirnya terhabiskan dengan percuma. padahal Allah menyebutkan dalam firmanNya :
Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang
telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya
kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At Taubah:51)
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan
bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)
karena waktu yang kita memiliki ini terbatas, dan kita tidak pernah tahu kapankah batas akhir dari waktu itu, maka cermat memprioritaskan permasalahan adalah kunci kesuksesan yang harus kita miliki. kadang banyaknya hal yang dikerjakan serta kualitas diri seseorang dapat berbeda jauh antara satu orang dengan orang lainnya. kenapa? padahal waktu mereka sama-sama 24jam/ hari. jawabannya ada pada PENGELOLAAN WAKTU dan efektivitas dan pemrioritasan masalahnya.
*sungguh peEr besar buat saya yang masiiih sangat sering terlena. hehehe...hiks
-sedikit penggalan tausiah dari ust. Ahmad Arqom, semoga tidak ada yang terlewatkan-
Jumat, 21 April 2017
Karena ujian itu berbeda
Katanya, kita akan diuji dengan hal yang paling kita cintai, kita akan diuji dengan hal yang menjadi kekuatan atau keunggulan kita.
Seperti maryam binti 'imran yang diuji melalui ujian kesucian. Bagaimana tidak, kesucian yang selama ini dijunjungnya kemudian mulai diragukan khalayak ramai tatkala ia datang membawa seorang putra; tanpa ayah. Mungkin begitu menyakitkan bagi Maryam, setidaknya bagi saya jika saya yang merasakan.
Wanita yang selalu menjaga kesucian dirinya ini lalu di cap sebagai pezina, karena hadirnya karunia yang diberikan Rabbnya.
Belum lagi saat kehamilan semakin besar dan berat, ia pun harus pergi meninggalkan rumah tempat berteduhnya, sendirian.
Dan puncaknya, saat detik-detik kelahiran putranya tiba ia tersiksa diantara sakit dan dahaga. Tubuhnya kesakitan dan ia kelaparan. namun disekelilingnya tiada apapun kecuali gurun yang luas. Bersandarlah ia akhirnya di bawah pohon kurma yang kokoh. Disanalah akhirnya ia sendiri, berjuang diantara hidup dan mati melahirkan sang al masih.
Saat proses melahirkan yang melelahkan itu akhirnya usai, tubuhnya semakin lemas dan makin terasa betapa laparnya ia. Lalu Allah menyuruhnya untuk menggoyahkan pohon kurma itu agar jatuh beberapa buahnya.
Bayangkanlah kawan, maryam bukan seorang laki-laki bertubuh kekar yang kuat tenaganya. Ia hanya seorang wanita dan baru saja melahirkan pula. Sementara pohon itu kokoh dan besar. Seorang laki-laki saja akan cukup kesulitan menggoyahkannya.
Lihatlah bagaimana Allah mengujinya. Dengarlah bagaimana kisah perjuangannya. Tak heran jika ia disebut Rasulullah termasuk ledalam 1 dari 4 wanita dunia paling utama.
Belum lagi saat kehamilan semakin besar dan berat, ia pun harus pergi meninggalkan rumah tempat berteduhnya, sendirian.
Dan puncaknya, saat detik-detik kelahiran putranya tiba ia tersiksa diantara sakit dan dahaga. Tubuhnya kesakitan dan ia kelaparan. namun disekelilingnya tiada apapun kecuali gurun yang luas. Bersandarlah ia akhirnya di bawah pohon kurma yang kokoh. Disanalah akhirnya ia sendiri, berjuang diantara hidup dan mati melahirkan sang al masih.
Saat proses melahirkan yang melelahkan itu akhirnya usai, tubuhnya semakin lemas dan makin terasa betapa laparnya ia. Lalu Allah menyuruhnya untuk menggoyahkan pohon kurma itu agar jatuh beberapa buahnya.
Bayangkanlah kawan, maryam bukan seorang laki-laki bertubuh kekar yang kuat tenaganya. Ia hanya seorang wanita dan baru saja melahirkan pula. Sementara pohon itu kokoh dan besar. Seorang laki-laki saja akan cukup kesulitan menggoyahkannya.
Lihatlah bagaimana Allah mengujinya. Dengarlah bagaimana kisah perjuangannya. Tak heran jika ia disebut Rasulullah termasuk ledalam 1 dari 4 wanita dunia paling utama.
beralih pada kisah si gagah Yussuf As . Yang diuji Allah dengan ketampanannya. Dengan wajah yang luar biasa rupawan bisa saja dengan mudah ia mendapatkan banyak wanita, tapi dengan keimanan yang menyala ia ternyata lebih memilih penjara yang sunyi dibanding berdua dengan wanita cantik di kamar seorang diri.
Pun dengan kejamnya fitnah dan perlakuan saudara-saudaranya yang iri kepadanya, saat tanduk kuasa telah ada digenggamnya, saat Allah memberinya kesempatan membalas semua perilaku keji mereka, Yussuf memilih mengubur kenangan menyakitkan itu dalam-dalam, melewatkannya begitu saja cerita itu saat sang Ayah yang baru berjumpa menanyakan tentang perihal dirinya. Dengan hati penuh syukur, kemudian yang ia sampaikan pada ayahnya hanyalah "Tuhanku telah berlaku baik padaku", menceritakan betapa bermurah hati Allah mengijinkannya menjadi pejabat di negeri makmur mesir. Dan sungguh hal inilah yang menjadikan Yussuf lelaki gagah nan tampan yang sesungguhnya. Hatinya sungguhlah rupawan.
Lantas kita? Patutkah mengeluhkan sulitnya kondisi kita saat Maryam atau Yussuf yang mulia pun juga tetap harus mengalami ujian sebelum akhirnya mendapat kemuliaan di sisi Allah? Ujian kita pasti tak seberapa dibanding mereka, karena keimanan kita pun tak ada nilainya.
Lantas? Masih secepat itukah kita akan menyerah dan terus mengulang mengeluhkannya?
Sabtu, 18 Maret 2017
masa
Hari ini saya dapat kiriman foto adek-adek akhwat di kampus. semua tampak cantik dengan senyum manisnya ,hanya sayangnya....wajah-wajah itu..sudah tidak ada yang saya kenali. hahahaha...
Baiklah sebenarnya ada satu orang yang saya kenali, dan dia sudah tergolong sang 'senior' di kumpulan itu. adik yang sebenarnya hanya saya tahu sekilas. kenal sebentar di bulan-bulan akhir menjelang kelulusan saya. saat itu si adik masih mahasiswa baru yang polos dan lugu. tapi sekarang dia sudah menjadi public figure kampus. pembicara disini dan disitu, tampil disini dan disana.
Hehh....waktu sungguh sangat cepat berlalu. setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Yap, itulah kenapa kaderisasi adalah suatu keniscayaan. kaderisasi itu perangkat utama dari amal jariyah. meski si pelaku silih berganti, tapi niat dan amalnya tetap berlanjut.
Lihatlah meski saya tidak lagi mengenal mereka, tapi saya kenal betul jaket hitam yang mereka kenakan itu. jaket hitam dengan desain sederhana yang dari tahun ke tahun tak pernah ada perubahan. tidak ada perintah untuk tak mengubah sebenarnya. hanya saja, dengan tetapnya desainnya jadi seolah menyatukan kita. menyatukan saya dengan mereka. karena jaket yang mereka kenakan juga sama persis dengan jaket yang saya punya. Ish kariman Aumut Syahidan. hidup mulia atau mati syahid. serem ya? hehe...awalnya saya juga berpikir demikian. kok gitu amat nih motto ya? serasa ngajakin mati gitu...hiiyyyy!!!
tapi enggak demikian maksudnya. jadi, hidup ini kan pilihan. saya mau hidup seperti apa dan mau jadi apa itu terserah kita. nah jika hidup ini pilihan, mengapa kita tidak memilih hidup menjadi orang mulia? bukan mulia karena harta atau kedudukan, tapi mulia karena amal perbuatan kita, karena akhlak atau perilaku kita, dan karena ibadah. tak peduli kita miskin atau kaya, saat tua maupun muda, kita selalu punya kesempatan untuk menjadi manusia mulia, mulia dimata Tuhan, bukan sekedar anggapan manusia.
dan tak hanya hidup, matipun menyediakan beberapa pilihan. mati dalam kondisi terlaknat, atau khusnul khotimah?. setiap yang bernyawa akan mengalaminya, kematian. jika tiba saatnya, kita tidak akan sanggup menundanya walau sedetik. nah, jika dalam hidup saja kita memilih yang terbaik, mengapa saat mati kita tidak memilih mati dalam kondisi terbaik? dan sebaik-baik kondisi saat kita mati adalah mati syahid, yang dijamin surga, yang dijamin diampuni dosa-dosanya. siapa yang tidak menginginkannya kawan?
maka sungguh indah bukan, makna tulisan yang tertulis dijaket hitam itu, Ish kariman, aumut syahidan. hidup mulia atau mati syahid.
dan tentu yang juga tak kalah meaningful adalah tulisan yang tertera di bagian punggung si jaket hitam, keluarga besar muslim fakultas......Universitas.....
dibanding menuliskan nama lembaga kami, tulisan keluarga besar muslim itu sungguh menyentuh sekali. menandakan lembaga ini bukan milik anggotanya saja, tapi semua civitas akademia. jaket itu bukan jaket lembaga, tapi jaket seluruh civitas muslim fakultas. karena kita semua saudara, tak ada yang lebih baik atau lebih sholeh, semua bersaudara, semua satu keluarga. ahh.... jadi makin bangga memakainya.
btw, ini kenapa jadi bahas jaket ya? hehehe. namanya juga curhat. jadi apa yang terlintas ditulis saja.
mengarungi samudera kehidupan,
kita ibarat para pengembara,
hidup ini adalah perjuangan,
tiada masa tuk berpangku tangan
*S.E.M.A.N.G.A.T.!!!!
Kamis, 23 Februari 2017
Pentingnya Kemandirian Ekonomi Seorang Muslim
Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA.
Said bin Musayyib –rahimahullah- berpendapat bahwa cinta harta itu baik. Bukan semata ‘cinta harta’ yang menjadi ukuran kebaikan. Tapi, kebaikan cinta harta ada pada implikasinya._ Bagi Sayyidu al Tabi`iin yang bergelar ‘alim ahli al madinati itu, cinta harta menjadi baik karena dalam harta ada ibadah, amanah, kehormatan, dan kemandirian.
Kemandirian harta (baca: ekonomi) menjadi perhatian khusus Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallama. Nabi mendorong individu agar mandiri, yang dimulai dari pemanfaatan sumberdaya pribadi, meskipun kecil dan sederhana.
Dikisahkan, seorang sahabat Anshar meminta bantuan Rasulullah, tapi tidak diberi. Oleh Nabi, si sahabat diajak berfikir: sumberdaya apa yang dimiliki?Ia pun menyebutkan beberapa perabot rumah tangga yang sederhana.
Rasulullah menyuruh mengambil perabot-perabot itu dan membantu menjual secara lelang. Setelah terjual dengan harga 2 dirham, Rasulullah mengarahkan agar uang itu digunakan untuk konsumsi keluarga (1 dirham) dan membeli kapak (1 dirham).
Setelah kapak terbeli, Rasulullah berpesan: “Dengan kapak ini carilah kayu, dan jangan menemuiku kecuali setelah 15 hari”. Setelah 15 hari bekerja mencari kayu, si sahabat melaporkan bahwa ia memperoleh 10 dirham.
Nabi pun menanggapi: “Bekerja mencari kayu lebih baik dari pada meminta-minta yang menyebabkan noda hitam di wajah kelak pada hari kiamat”. (HR. Abu Daud).
Dan diriwayat Imam Bukhari disebutkan respon Nabi: “Meskipun hanya bekerja mencari kayu, yang demikian lebih baik daripada bergantung pada orang lain.”
Abdurrahman bin Auf lebih memilih modal sendiri meskipun kecil, hanya 4 dirham (sekitar Rp. 280.000), meskipun mendapat tawaran hibah dari Saad bin Rabi`.
Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallama- juga mendorong umat agar mandiri. Beliau mendorong Usman bin Affan mengambil alih sumberdaya alam (air) yang dikuasai Yahudi.
Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallama- juga mendorong umat agar mandiri. Beliau mendorong Usman bin Affan mengambil alih sumberdaya alam (air) yang dikuasai Yahudi.
Dan Rasulullah juga memilih lokasi strategis sebagai pasar mandiri yang dimiliki umat Islam.
Mandiri ekonomi penting bagi individu, organisasi, bahkan umat.
Mandiri ekonomi penting bagi individu, organisasi, bahkan umat.
Menurut Qardhawi dalam Malamih al Mujtama` al Muslim, umat yang mandiri ekonomi akan memiliki izzah. Tidak mudah didekte oleh bangsa lain, bebas menentukan arah dan masa depannya. Berbeda bila umat bergantung pada negara lain, sangat rentan hidup dalam bayang-bayang bahkan tidak bebas menentukan arah hidupnya.
Demikian pula dengan organisasi, ormas atau orpol. Ormas/orpol yang mandiri ekonomi akan memiliki izzah. Tidak mudah didekte pihak lain dan akan lebih efektif membina umat serta dalam menunaikan fungsi hisbah, yang menjadi esensi keberadaan ormas/orpol.
Individu yang mandiri ekonomi juga akan memiliki izzah, sebagaimana pesan Nabi Muhammad –shallallahu `alaihi wa sallama- kepada Sa`ad bin Abi Waqqash –radliyallahu `anhu,
“Seandainya engkau tinggalkan keturunanmu berkecukupan (mandiri ekonomi), maka lebih baik daripada kekurangan dan bergantung pada orang lain.” (HR. Bukhari)
Wallahu a`lam bisshawab
Malang, 7 Rabiul Awal 1438H.
Malang, 7 Rabiul Awal 1438H.
Join Telegram:
http://telegram.me/ahmadjalaluddin
http://telegram.me/ahmadjalaluddin
Website :
http://www.tazkiyatuna.com
http://www.tazkiyatuna.com
Silahkan disebarkan channel Telegram ini, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah kita. Aamiin,
Sabtu, 07 Januari 2017
Istimewanya Pemuda
Para pemuda selalu mempesona.
Lihatlah mereka, tidurpun membawa perubahan, apalagi terjaga.
Muda identik dengan "hijau". Masih hijau artinya masih bertumbuh, berkembang. Sementara yang matang berarti akan segera membusuk.
Muda identik dengan 'tidak berpengalaman'. TAPI, jika 'berpengalaman' berarti mengatasi masalah baru dengan cara lama, itu berbahaya!.
Muda identik dengan kebersamaan dalam keprihatinan, solidaritas.
Kadang kita sulit bersatu saat telah banyak ber'punya', luas berdaya. Hingga tiap hubungan yang dijalin menuntut adanya keuntungan dari masing-masing
Muda identik dengan kejelasan sikap.
Hitam dan putih, ya atau tidak. Tidak ada jalan ketiga. Ini hal yang tepat untuk utusan aqidah.
Muda identik dengan gejolak. Titik temu dari semua gejolak ini akan jadi sebuah terobosan. Di situlah masa depan, melampau apa yang dicapai oleh pendalaman bidang.
Muda identik dengan pesona dan ketangguhan fisik. Dua hal inilah yang akan membantu sebuah ide perubahan tampil menarik, segar dan cantik.
Muda identik dengan ketergesaan, inginnya sekilas langsung terwujud. Maka ia disabarkan, 'tidurkan gelora' sembari dengan mempersiapkan perangkat.
Muda identik dengan ketergodaan dan gelimang nikmat. Maka, mereka yang memilih jalan sunyi untuk berjuang, sudah pasti istimewa.
Muda juga identik dengan sedikitnya beban sejarah. Maka mereka lebih merdeka dalam bersikap, sebab tak terbelenggu oleh rekam jejak masa lalu.
Muda identik dengan mempertanyakan. Nah, kecerdasan memang disitulah letaknya, bukan dalam jawaban. Sungguh, satu pertanyaan bermutu dapat membuka jawaban beribu-ribu
*from: menyimak kicau merajut makna by Salim A. Fillah (dengan sedikit editan dari saya)
Streaming youtube sembari mendengarkan ceramah asik dari ustadz Salim. Very recommended to watch! Apalagi kalau kamu pemuda 😊
Lihatlah mereka, tidurpun membawa perubahan, apalagi terjaga.
Para pemuda kahfi memilih kabur dari kampung halaman untuk menyelamatkan keimanan, akhirnya ditidurkan selama beratus tahun kemudian. Dan hal ini jadi pelajaran kelak, betapa hari kebangkitan bukan bualan semata).
Muda identik dengan "hijau". Masih hijau artinya masih bertumbuh, berkembang. Sementara yang matang berarti akan segera membusuk.
Muda identik dengan 'tidak berpengalaman'. TAPI, jika 'berpengalaman' berarti mengatasi masalah baru dengan cara lama, itu berbahaya!.
Muda identik dengan kebersamaan dalam keprihatinan, solidaritas.
Kadang kita sulit bersatu saat telah banyak ber'punya', luas berdaya. Hingga tiap hubungan yang dijalin menuntut adanya keuntungan dari masing-masing
Muda identik dengan kejelasan sikap.
Hitam dan putih, ya atau tidak. Tidak ada jalan ketiga. Ini hal yang tepat untuk utusan aqidah.
Muda identik dengan gejolak. Titik temu dari semua gejolak ini akan jadi sebuah terobosan. Di situlah masa depan, melampau apa yang dicapai oleh pendalaman bidang.
Muda identik dengan pesona dan ketangguhan fisik. Dua hal inilah yang akan membantu sebuah ide perubahan tampil menarik, segar dan cantik.
Muda identik dengan ketergesaan, inginnya sekilas langsung terwujud. Maka ia disabarkan, 'tidurkan gelora' sembari dengan mempersiapkan perangkat.
Muda identik dengan ketergodaan dan gelimang nikmat. Maka, mereka yang memilih jalan sunyi untuk berjuang, sudah pasti istimewa.
Muda juga identik dengan sedikitnya beban sejarah. Maka mereka lebih merdeka dalam bersikap, sebab tak terbelenggu oleh rekam jejak masa lalu.
Muda identik dengan mempertanyakan. Nah, kecerdasan memang disitulah letaknya, bukan dalam jawaban. Sungguh, satu pertanyaan bermutu dapat membuka jawaban beribu-ribu
*from: menyimak kicau merajut makna by Salim A. Fillah (dengan sedikit editan dari saya)
Streaming youtube sembari mendengarkan ceramah asik dari ustadz Salim. Very recommended to watch! Apalagi kalau kamu pemuda 😊
Kamis, 05 Januari 2017
Bersyukurlah
Bersyukurlah karena engkau tidak memiliki semua yang diinginkan,
Jika kau sudah memiliki semuanya, apalagi yang hendak dicari?
Bersyukurlah saat engkau tidak mengetahui sesuatu,
Karena hal itu memberimu kesempatan untuk belajar.
Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang kau hadapi,
Karena disana ada kesempatan mengembangkan diri.
Bersyukurlah atas keterbatasan yang kau miliki,
Karena hal itu memberimu kesempatan memperbaiki diri.
Bersyukurlah atas setiap tantangan baru,
Karena hal itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.
Bersyukurlah atas kesalahan yang kini telah kau sadari,
Karena hal itu memberimu pelajaran yang sangat berharga.
Bersyukurlah ketika engkau lelah dan bosan,
Karena berarti engkau trlah berbuat sesuatu yang berarti.
Mudah mensyukuri hal-hal baik, namun
Kehidupan yang bermakna dinikmati oleh mereka yang juga bersyukur atas kesulitan.
Rasa syukur bisa mengubah hal negatif menjadi positif.
Berusahalah mensyukuri kesulitan yang kau hadapi
Sehingga kesulitan itu menjadi berkah bagimu
-anonymous-
Jika kau sudah memiliki semuanya, apalagi yang hendak dicari?
Bersyukurlah saat engkau tidak mengetahui sesuatu,
Karena hal itu memberimu kesempatan untuk belajar.
Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang kau hadapi,
Karena disana ada kesempatan mengembangkan diri.
Bersyukurlah atas keterbatasan yang kau miliki,
Karena hal itu memberimu kesempatan memperbaiki diri.
Bersyukurlah atas setiap tantangan baru,
Karena hal itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.
Bersyukurlah atas kesalahan yang kini telah kau sadari,
Karena hal itu memberimu pelajaran yang sangat berharga.
Bersyukurlah ketika engkau lelah dan bosan,
Karena berarti engkau trlah berbuat sesuatu yang berarti.
Mudah mensyukuri hal-hal baik, namun
Kehidupan yang bermakna dinikmati oleh mereka yang juga bersyukur atas kesulitan.
Rasa syukur bisa mengubah hal negatif menjadi positif.
Berusahalah mensyukuri kesulitan yang kau hadapi
Sehingga kesulitan itu menjadi berkah bagimu
-anonymous-
Sabtu, 31 Desember 2016
From Mother To Daughter
Malam-malam nemu lagu ini. Aah...saya memang selalu sensitif kalau membahas topik ini : Mother's love.
I always hope that my mum never getting old. I want her to stay young, beautiful, and strong. When i was child my uncle teased me a lot about my mum will getting old one day, and it will be hard for her just for lifting the spoon. And i would end up crying a lot after that. It was just a joke back then.
But one night, when she was sleeping beside me i looked her face closely and found out that she's getting old already. Even tough she still looks pretty but yeah,, it remind me that..my time to be together with her is limited and i still can do nothing for her. I wanna be a daughter that can make her the happiest person on earth but until now, what have i gave to her is only a problem.
hope that God will give us chance to make our mother happy before they left us later. Aamiin 😔😔😔
From Mother To Daughter
(English Translation)
I thought I had just closed my eyes for a brief second
But I've already become old
I thought you would always be a little child
But you're already grown
I still don't know life very well
So I don't have much to say to you
But with this heart wishing you more happiness
I search inside my chest for words to tell you
"Go study" no, that's too mundane
"Always be kind" no, even I couldn't do that
"Love no, that's a hard thing to do
Find your own way in life
I thought I had lived life long enough
But I'm only 15 years old
I wanted to always be that lovely daughter of yours
But I'm already so unlovable
I still don't know life very well
So I have a lot of things I want to learn
But when you just keep repeating the same words to me
I shut the door to my heart more tightly
"Go study" I know how important that is too
"Always be kind" can't you see I'm trying?
"Love" I don't want to hurt myself further
Just let me find my own way in life
"Go study" no, that's too mundane
"Always be kind" no, even I couldn't do that
"Love no, that's a hard thing to do
Find your own way in life
Can you forgive me for not being a better mother?
Can you promise me that you'll be a better mother than me?
Credits:
Eng - WNR KGYONG (Youtube) (Reddit)
Rabu, 28 Desember 2016
Tentang Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia)
This article is so true! I really need to repost this. And please kindly read it with an open minded heart :)
MUI menghimbau jangan pilih pemimpin kafir, ia sewot.
MUI keluarkan fatwa Ahok menistakan agama, ia sewot juga.
Selalu rewel dan sewot sama MUI melebihi emak-emak yang lagi ngerumpi.
Saya merasa ini semacam gangguan mental akut yang barangkali bisa diruqyah.
Saudaraku.
Ulama adalah pewaris kenabian. Mereka tidak berfatwa dengan hawa nafsu.
Mereka adalah orang yang takut pada Allah,
"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama" (QS Surat Fathir: 28)
Mereka berfatwa dengan ilmu. Dengan hujjah. Dengan dalil.
Mereka belajar agama puluhan tahun. Ada yang hingga ke timur tengah. Mereka ahlinya. Mereka sudah mengeluarkan fatwa diantaranya HARAM mengucapkan selamat natal dan HARAM menggunakan atribut natal.
Maka ikutilah mereka. Berdirilah bersama ulama di zaman fitnah ini agar kita selamat dunia akhirat.
Jangan berdiri bersama barisan orang-orang rewel yang tidak tau diri itu. Jangan berdiri bersama para "pelacur pemikiran" dari kalangan liberal sekuler yang menyesatkan umat dengan dalih "Toleransi".
Kalau kita mau tau konsep toleransi yang benar, tanya sama ulama. Baca Qur'an. Jangan tanya sama "Pelacur pemikiran" dari kaum liberalis yang suka mencela ulama dan pandai bermain kata. Karena Islam adalah agama yang penuh dengan toleransi dan ulama adalah yang paling tau tentang itu.
Jangan remehkan masalah agama. Banyak orang yang meremehkan masalah agama. Jika keluarganya sakit kanker, ia pasti cari dokter terbaik biar keluarganya sembuh. Tapi kenapa ia tidak mau cari uztad terbaik (yang benar-benar ulama, paham agama) untuk menyembuhkan ia dari penyakit kebodohan dalam hal agama? Kenapa mengambil ilmu agama dari uztad selebritis di tv yang "fatwakan" boleh pilih pemimpin non Islam? Kenapa ngambil ilmu agama dari kiay liberal? Kenapa bertanya tentang agama dan toleransi pada cendekiawan muslim liberal yang nyantri di negeri kafir yg bolehkan ikut natalan bersama? Kenapa ngambil ilmu dari postingan uztad gadungan di akun fb?
Ini aneh..
Bertanyalah kepada ahli Ilmu jika memang kamu tidak tahu (QS. An Nahl: 43)
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur (benar)!" (At-Taubah:119)
Wallahu'alam.
Rezki Fadillah
(Bukan Uztad. Bukan ahli agama)
. . .
Ada tidak ya, orang yang tidak pernah kuliah di fakultas kedokteran, tidak pernah belajar ilmu kedokteran sama sekali, lalu tiba-tiba datang ke rumah sakit, ketemu sama dokter bedah yang telah kuliah ilmu kedokteran sekian tahun dan jadi dokter puluhan tahun, lalu dia mengkritik dan membully dokter itu, "Dok, bukan begitu cara menangani pasien. Dok, bukan itu obatnya. Dok, jangan sembarangan ngasih resep obat.."
Ada tidak ya? Saya rasa tidak ada kecuali orang itu terkena gangguan mental.
Nah lucunya, banyak orang Islam yang nyinyir dan rewel mengkritik fatwa MUI, termasuk terkait larangan muslim menggunakan atribut natal. Mereka muslim tapi pada gerah dengan fatwa ini. Mulai dari kalangan politisi hingga netizen kurang kerjaan spesialis bully dan caci maki di medsos.
Padahal..
Ilmu agama tidak paham.
Baca kitab hadist belum tamat.
Baca kitab fikih bab Thaharah saja belum kelar.
Jangankan tafsir Qur'an, terjemahan pun tidak. Cuma tau benang merah Qur'an #eh
Baca kitab gundul tidak bisa.
Bahasa arab tau nya cuma "ana antum akhi afwan wassalam"
Belajar agama cuma dari google.
Lalu tiba-tiba mengkritik fatwa ulama? Hallo...anda sehat?
Jika ditegur, ia menjawab, "Memangnya ulama tidak boleh dikritik?"
Boleh. Tapi anda siapa?
Ambil cermin, coba ngaca. Biar tau diri.
Lihat! Ini sangat rasional. Anda tidak mungkin berani mengkritik seorang dokter terkait ilmu kedokteran jika anda bukan ahli ilmu kedokteran. Tapi kenapa anda sewot mengkritik ulama padahal anda bukan ahli agama?
Belajarlah agama yang benar. Ngaji. Datangi majelis ilmu. Baca kitab. Rasakan sulitnya menuntut ilmu. Menuntut ilmu agama wajib bagi setiap muslim. Jangan rewel sama ulama.
Bangsa ini rusak karena banyak orang yang suka rewel dan sok ikut campur dalam bidang yang ia bukan ahlinya. Dan mencampuri wewenang ulama (dalam masalah fatwa) bisa berakibat fatal. Melawan ulama adalah musibah besar.
Ada tidak ya? Saya rasa tidak ada kecuali orang itu terkena gangguan mental.
Nah lucunya, banyak orang Islam yang nyinyir dan rewel mengkritik fatwa MUI, termasuk terkait larangan muslim menggunakan atribut natal. Mereka muslim tapi pada gerah dengan fatwa ini. Mulai dari kalangan politisi hingga netizen kurang kerjaan spesialis bully dan caci maki di medsos.
Padahal..
Ilmu agama tidak paham.
Baca kitab hadist belum tamat.
Baca kitab fikih bab Thaharah saja belum kelar.
Jangankan tafsir Qur'an, terjemahan pun tidak. Cuma tau benang merah Qur'an #eh
Baca kitab gundul tidak bisa.
Bahasa arab tau nya cuma "ana antum akhi afwan wassalam"
Belajar agama cuma dari google.
Lalu tiba-tiba mengkritik fatwa ulama? Hallo...anda sehat?
Jika ditegur, ia menjawab, "Memangnya ulama tidak boleh dikritik?"
Boleh. Tapi anda siapa?
Ambil cermin, coba ngaca. Biar tau diri.
Lihat! Ini sangat rasional. Anda tidak mungkin berani mengkritik seorang dokter terkait ilmu kedokteran jika anda bukan ahli ilmu kedokteran. Tapi kenapa anda sewot mengkritik ulama padahal anda bukan ahli agama?
Belajarlah agama yang benar. Ngaji. Datangi majelis ilmu. Baca kitab. Rasakan sulitnya menuntut ilmu. Menuntut ilmu agama wajib bagi setiap muslim. Jangan rewel sama ulama.
Bangsa ini rusak karena banyak orang yang suka rewel dan sok ikut campur dalam bidang yang ia bukan ahlinya. Dan mencampuri wewenang ulama (dalam masalah fatwa) bisa berakibat fatal. Melawan ulama adalah musibah besar.
MUI menghimbau jangan pilih pemimpin kafir, ia sewot.
MUI keluarkan fatwa Ahok menistakan agama, ia sewot juga.
Selalu rewel dan sewot sama MUI melebihi emak-emak yang lagi ngerumpi.
Saya merasa ini semacam gangguan mental akut yang barangkali bisa diruqyah.
Saudaraku.
Ulama adalah pewaris kenabian. Mereka tidak berfatwa dengan hawa nafsu.
Mereka adalah orang yang takut pada Allah,
"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama" (QS Surat Fathir: 28)
Mereka berfatwa dengan ilmu. Dengan hujjah. Dengan dalil.
Mereka belajar agama puluhan tahun. Ada yang hingga ke timur tengah. Mereka ahlinya. Mereka sudah mengeluarkan fatwa diantaranya HARAM mengucapkan selamat natal dan HARAM menggunakan atribut natal.
Maka ikutilah mereka. Berdirilah bersama ulama di zaman fitnah ini agar kita selamat dunia akhirat.
Jangan berdiri bersama barisan orang-orang rewel yang tidak tau diri itu. Jangan berdiri bersama para "pelacur pemikiran" dari kalangan liberal sekuler yang menyesatkan umat dengan dalih "Toleransi".
Kalau kita mau tau konsep toleransi yang benar, tanya sama ulama. Baca Qur'an. Jangan tanya sama "Pelacur pemikiran" dari kaum liberalis yang suka mencela ulama dan pandai bermain kata. Karena Islam adalah agama yang penuh dengan toleransi dan ulama adalah yang paling tau tentang itu.
Jangan remehkan masalah agama. Banyak orang yang meremehkan masalah agama. Jika keluarganya sakit kanker, ia pasti cari dokter terbaik biar keluarganya sembuh. Tapi kenapa ia tidak mau cari uztad terbaik (yang benar-benar ulama, paham agama) untuk menyembuhkan ia dari penyakit kebodohan dalam hal agama? Kenapa mengambil ilmu agama dari uztad selebritis di tv yang "fatwakan" boleh pilih pemimpin non Islam? Kenapa ngambil ilmu agama dari kiay liberal? Kenapa bertanya tentang agama dan toleransi pada cendekiawan muslim liberal yang nyantri di negeri kafir yg bolehkan ikut natalan bersama? Kenapa ngambil ilmu dari postingan uztad gadungan di akun fb?
Ini aneh..
Bertanyalah kepada ahli Ilmu jika memang kamu tidak tahu (QS. An Nahl: 43)
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur (benar)!" (At-Taubah:119)
Wallahu'alam.
Rezki Fadillah
(Bukan Uztad. Bukan ahli agama)
Rabu, 07 Desember 2016
Pejalan Kaki dari Ciamis
Sebuah tulisan yang tulus dibuat Joni A. Koto, seorang alumnus ITB. Kisah ini, sudah diskenario oleh Alloh bagi seorang Joni A Koto, Arsitek Urban planner, alumni ITB '93.
Berikut tulisannya setelah saya edit seperlunya:
Saya anggap dunia adalah soal bagaimana hidup dan cari kehidupan. Bagaimana menikmati dan lebih baik dari manusia lain, bagaimana bisa punya status baik, dihargai dengan apa yang dipunya dan sedikit jalan-jalan menikmati dunia.
Saya anggap orang yang maju dalam agama itu adalah yang berfikiran luas dan penuh toleransi, saya anggap tak perlulah terlalu fanatik akan sesuatu, tak perlu reaktif akan sesuatu, keep calm, be cool. Janganlah sesekali dan ikut-ikutan jadi orang norak. Ikut kelompok jingkrang-jingkrang dan entah apalah itu namanya.
Saya tak ikut aksi bela agama ini itu, kalian jangan usil. Jangan dengan kalian ikut saya tidak, artinya kalian masuk syurga saya tidak! Saya ini beragama lho, saya ikut berpuasa, saya bersedekah dan beramal. Saya bantu orang-orang, bantu saudara2 saya juga,jangan kalian tanya-tanya soal peran saya ke lingkungan. Kalian lihat orang-orang respek pada saya, temanpun aku banyak. Tiap kotak sumbangan aku isi.
Saya masih heran, apa sih salah seorang Ahok? Dia sudah bantu banyak orang, dia memang rada kasar, tapi hatinya baik kok. Saya hargai apa yang sudah dia buat bagi Jakarta.Saya anggap aksi ini itu hanya soal politis karena kebetulan ada pilkada. Saya tak mau terbawa-bawa arus seperti teman-teman kantor yang tiba-tiba juga mau ikut aksi. Saya anggap itu berlebihan dan terlalu cari-cari sensasi. Paling juga mau selfie-selfie.
Sampai satu saat....
Sore itu 1 Desember 2016, dalam gerimis saat saya ada di jalan, dalam mobil menuju tempat miting, dalam alunan musik barat saya berpapasan dengan rombongan pejalan kaki. Saya melambat, mereka berjalan tertib, barisannya panjang sekali, pakai baju putih-putih, rompi hitam dan hanya beralas sendal. Muka mereka letih, tapi nyata kelihatan tidak ada paksaan sama sekali di wajah-wajah itu. Mereka tetap berjalan teratur, memberi jalan ke kendaraan yang mau melintas. Tidak ada yang teriak, berlaku arogan dan aneh-aneh atau bawa aura mirip rombongan pengantar jenazah yg ugal-ugalan. Ini aneh, biasanya kalau sudah bertemu orang ramai-ramai di jalan aromanya kita sudah paranoid, suasana panas dan penuh tanda tanya negatif.
Sore itu, di jalan aku merasa ada kedamaian yang kulihat dan kurasa melihat wajah-wajah dan baju putih mereka yang basah terkena gerimis.
Papasan berlalu, aku setel radio lain. Ada berita: rombongan peserta aksi jalan kaki dari Ciamis dan kota-kota lain sudah memasuki kota. Ada nama jalan yang mereka lalui.Aku sambungkan semua informasi, ternyata yang aku berpapasan tadi adalah rombongan itu!
Aku tertegun.
Lama aku diam. Otakku serasa terkunci. Analisaku soal bagaimana orang beragama sibuk sekali mencari alasan, tak kutemukan apa pun yang sesuai dengan pemikiranku. Apa yang membuat mereka rela melakukan itu semua? Apa kira-kira?
Aku makin sibuk berfikir. Apa menurutku mereka itu berlebihan? Rasanya tidak, aku melihat sendiri muka-muka ikhlas itu. Apa mereka ada tujuan-tujuan politik? Aku rasa tidak, kebanyakan orang sekarang memcapai tujuan bukan dengan cara2 itu.Apakah orang-orang dengan tujuan politik yang gerakkan mereka itu?
Aku hitung-hitung, dari informasi akan ada jutaan peserta aksi, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk itu kalau ini tujuan kelompok tertentu. Angkanya fantastis, rasanya mustahil ada yg mau ongkosi karena nilainya sangatah besar.
Aku dalam berfikir, dalam mobil, masih dalam gerimis kembali berpapasan dengan kelompok lain, berbaju putih juga, basah kuyup juga. Terlihat di pinggir-pinggir jalan anak-anak sekolah membagikan minuman air mineral ukuran gelas, sedikit kue warung ke mereka. Sepertinya itu dari uang jajan mereka yang tak seberapa.
Aku terdiam makin dalam. Ya Allah....kenapa aku begitu buruk berfikir selama ini? Kenapa hanya hal-hal jelek yang mau aku lihat tentang agamaku? Kenapa dengan cara pandangku soal agamaku?
Aku mampir ke masjid, mau sholat ashar. Aku lihat sendal-sandal jepit lusuh banyak sekali berbaris.
Aku ambil wudhu...
Kembali, di teras, kali ini aku bertemu rombongan tadi, mungkin yang tercecer, muka mereka lelah sekali. Mereka duduk,ada yang minum, ada yang rebahan, dan lebih banyak yang lagi baca Quran.Hmmm.............
Aku sholat sendiri. Tak lama punggungku dicolek dari belakang, tanda minta aku jadi imam. Aku cium aroma tubuh-tubuh dan baju basah dari belakang.
Aku takbir sujud, ada lagi yang mencolek. Nahh kali ini hatiku yang dicolek, entah kenapa hatiku bergetar sekali. Aku sujud cukup lama, mereka juga diam.Aku bangkit duduk, aku tak sadar ada air bening mengalir dari sudut mataku.
Ya Allah,... Aku tak pantas jadi imam mereka.Aku belum sehebat, setulus dan seteguh mereka. Bagiku agama hanya hal-hal manis. Tentang hidup indah, tentang toleransi, humanis, pluralis, penuh gaya, in style...bla bla bla.
Walau ada hinaan ke agamaku aku harus tetap elegan, berfikiran terbuka.Kenapa Kau pertemukan mereka dan aku hari ini ya Allah? Kenapa aku Kau jadikan aku imam sholat mereka? Apa yang hendak Kau sampaikan secara pribadi ke aku?
Hanya 3 rakaat aku imami mereka, hatiku luluh ya Allah. Mataku merah menahan haru.
Mereka colek lagi punggungku, ada anak kecil usia belasan cium tanganku, mukanya kuyu, tapi tetap senyum. Agak malu-malu aku peluk dia. Dadaku bergetar tercium bau keringatnya, dan itu tak bau sama sekali.Ini bisa jadi dia anakku juga. Apa yang telah kuajarkan anakku soal islam? Apakah dia levelnya sekelas anak kecil ini? Gerimis saja aku suruh anakku berteduh, dia demam sedikit aku panik. Aku nangis dalam hati, di baju putihnya ada tulisan nama sekolah:... SMP Ciamis... Kota kecil yang ratusan kilo dari sini. Nampak kakinya bengkak karena berjalan sejak dari rumah.
Lalu anak itu bercerita bapaknya tak bisa ikut karena sakit dan hanya hidup dari membecak. Bapaknya mau bawa becak ke Jakarta bantu nanti kalau ada yang capek, tapi dia larang.
Ya Alloh, aku dipermalukan berulang oleh mereka di masjid ini. Aku sudah tak kuat ya Allah.
Mereka bangkit, ambil tas-tas dan kresek putih dari sudut masjid, kembali berjalan, meninggalkan aku sendirian di masjid. Rasa-rasanya melihat punggung-punggung putih itu hilang dari pagar masjid aku seperti sudah ditinggal mereka yang menuju syurga.
Dan kali ini aku yang norak. Aku sujud, lalu aku sholat sunat dua rakaat. Air mataku keluar lagi. Kali ini cukup banyak, untung lagi sendirian.
Sudah jam 5an, lama aku di masjid, serasa terkunci tubuhku di sini. Miting dengan klien sepertinya batal. Aku mikir lagi soal ke-Islamanku, soal komitmenku ke Allah. Allah yang telah ciptakan aku, yang memberi ibu bapakku rejeki, sampai aku dewasa dan bangga seperti hari ini. Di mana posisi pembelaanku ke agamaku hari ini? Ada di mana? Imanku sudah aku buat nyasar di mana?
Aku naik ke mobil, aku mikir lagi. Kali ini tanpa rasa curiga, kurasa ada sumbat besar yang telah lepas dalam benakku selama ini.Ada satu kata sederhana sekali tanpa bumbu-bumbu: ikhlas dalam bela agama itu memang nyata ada!
Aku mampir di minimarket, kali ini juga makin ikhlas, makin mantap. Aku beli beberapa dus air mineral, makanan kering, isi dompet aku habiskan penuh emosional! Ini kebanggaanku yang pertama dalam hidup saat beramal, aku bahagia sekali!
Ya Allah ijinkan aku kembali ke jalan-Mu yang lurus, yang lapang, penuh kepasrahan dan kebersihan hati....
Ya Allah ijinkan aku besok ikut Shalat jumat dan berdoa bersama saudara-saudaraku yang sebenarnya. Orang-orang yang sangat ikhlas membela-Mu. Di sana tak ada jarak mereka dengan-Mu ya Allah.Aku juga mau begitu, ada di antara mereka, anak kecil yang basah kuyup hari ini. Tak ada penghargaan dari manusia yang kuharap. Hanya ingin Kau terima sujudku. Mohon Kau terima dengan sangat.
Langganan:
Postingan (Atom)










