Selasa, 01 November 2011

Agar Bisa menikmati Indahnya...

kehidupan memang memberikan kita banyak pilihan. dan masing-masing dari kita bebas menentukan pilihan yang mana yang akan kita ambil. tetapi, setiap keputusan dan pilihan kita, memiliki konsekuensi yang harus dipertanggung jawabkan. tidak hanya pada orang lain, ataupun pada diri sendiri. tetapi, pada yang memberi kita kehidupan ini.

saya rasa, semua orang pasti pernah merasa ragu atau bimbang dengan pilihannya. tetapi, yang mungkin bisa dilakukan adalah kembali berkaca pada hati, bercermin pada nurani, dan menyandarkannya pada ridho Ilahi.

manusia hanya bisa berikhtiar, karena mereka tertabir dari masa depan.
karena yang bisa memutuskan kebenaran hanyalah Allah SWT. semoga setiap langkah yang kita tempuh diridhoi olehNya.

sebuah notes yang mengingatkan saya, yang sering sekali khilaf. semoga dapat bermanfaat juga untuk kita semua, apapun pilihan hidup kita.

Bismillah.
Engkau hanya memerlukan kesadaran, bahwa yang engkau lakukan seluruhnya dalam dakwah ini adalah untuk Allah. Kerjamu untuk Allah. Keringatmu untuk Allah. Waktu yang engkau habiskan untuk Allah. Harta yang engkau alokasikan dalam dakwah adalah untuk Allah. Pikiran yang engkau curahkan untuk Allah. Tenaga yang engkau sumbangkan untuk Allah.

Berjalanmu dalam melakukan semua kegiatan, berangkat dan pulangnya, untuk Allah. Dudukmu dalam mengikuti rapat dan koordinasi, untuk Allah. Suaramu saat engkau menyampaikan pendapat dan pandangan, untuk Allah. Mengawali dan mengakhiri rapat dan semua pertemuanmu, untuk Allah. Program kerja yang engkau tunaikan, untuk Allah. Berlelah-lelahmu untuk Allah. Berpagi-pagimu untuk Allah. Bermalam-malammu untuk Allah.




Engkau hanya memerlukan kesetiaan, bahwa segala yang engkau pikirkan adalah untuk Allah. Segala yang engkau kerjakan adalah untuk Allah. Segala yang engkau rancang adalah untuk Allah. Segala yang engkau inginkan adalah ridha Allah.

Engkau tidak perlu memusingkan dirimu akan mendapatkan apa dalam jalan dakwah ini, karena itu urusan Allah. Engkau tidak perlu merisaukan posisimu seperti apa dalam organisasi dakwah karena telah diatur oleh Allah. Mungkin saja engkau mengetahui ada sebagian orang yang hasad kepadamu, kepada posisimu, kepada kedudukanmu, namun engkau telah menyerahkan semuanya kepada Allah. Engkau tidak perlu menyimpan rasa iri dengki atas posisi, kedudukan, jabatan, dan harta benda yang dimiliki saudaramu di jalan dakwah, karena engkau lebih menginginkan kedudukan mulia di sisi Allah.

Engkau tidak perlu resah memikirkan omongan dan sikap orang kepadamu, selama engkau selalu bersandar kepada Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk berharap-harap jabatan, posisi, kedudukan, kekuasaan tertentu dalam perjalanan dakwah, karena telah dikelola oleh Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk mencari-cari gemerlapnya pujian dalam mengemban amanah dakwah, karena segala puji hanyalah milik Allah.

Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu membawa kesadaran Rabbaniyah dalam segala langkah. Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu mengingat Allah dalam segala kegiatan. Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk memberikan kontribusi terbaik di jalan dakwah, dengan segala potensi dan kemampuan yang engkau miliki, karena Allah.

Engkau hanya perlu menyadari bahwa kemuliaan itu hanya milik Allah. Bukan pada jabatan, posisi, kedudukan, harta dan materi duniawi. Engkau hanya perlu memupuk dan menguatkan kecintaan kepada Allah, karena pada sisi Allah terdapat segala kekuatan dan kesempurnaan. Tidak ada orang terhina selama dia mendekat kepada Allah. Tidak ada orang mulia dalam menjauhi Allah.

Maka, resapilah setiap hari setiap saat, betapa nikmat berada di jalan dakwah ini. Karena proposalmu adalah kepada Allah, bukan kepada manusia. Proposalmu adalah kerja di jalanNya, bukan untuk posisi dunia.

Selamat menempuh jalan dakwah yang begitu nikmat, setiap waktu setiap saat.
(Ust. cahyadi Takariawan)
http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=1799

Senin, 10 Oktober 2011

Yuks Shadaqah saudaraku...!


عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ نَاساً مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ، وَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ : أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا يَتَصَدَّقُوْنَ : إِنَّ لَكُمْ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً وَنَهْيٍ عَن مُنْكَرٍ صَدَقَةً وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ .
[رواه مسلم]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Dzar radhiallahuanhu : Sesungguhnya sejumlah orang dari shahabat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam:

“ Wahai Rasululullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala yang banyak, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka (sedang kami tidak dapat melakukannya)”.


(Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam) bersabda : Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu untuk kalian yang bisa kalian shadaqahkan?:




Sesungguhnya setiap tashbih (subhanallah) merupakan sedekah, setiap takbir (Allahu akbar) merupakan shadaqah, setiap tahmid (alhamdulillah) merupakan shadaqah, setiap tahlil (Laa ilaa ha ilallah) merupakan shadaqah, amar ma’ruf nahi munkar merupakan shadaqah dan bersetubuh dengan istri merupakan shadaqah. 


Mereka bertanya : “Ya Rasulullah apakah jika diantara kami menyalurkan hasrat biologisnya (kepada istrinya) juga mendapat pahala?”, 
beliau bersabda : “Bukankah jika ia menyalurkan pada yang haram itu berdosa? Maka demikian pula apabila ia menyalurkannya pada yang halal, maka ia juga akan mendapat pahala”. (Riwayat Muslim)

-------------

Subhanallah.., begitu dimudahkannya kita untuk bershadaqah. Jadi, gak ada alasan lagi untuk minder dengan keadaan kita. Baik kaya atau pun miskin, tetap memiliki kesempatan yang begitu luas untuk berlomba-lomba meraih cinta Allah. Yuk berfastabiqul Khoirots ^O^

Minggu, 26 Juni 2011

Senjata terampuh seorang muslim

   
      Senjata terampuh seorang muslim = doa. ketika segala upaya telah diusahakan, ketika segala ikhtiar telah dilakukan, ketika semua kemungkinan sudah berusaha diperjuangkan, namun hasilnya tetap nihil, maka satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menggunakan senjata terampuh kita, yaitu doa

jika usaha kita terbatas, maka ada Allah yang Maha kuasa.

          saya percaya dan yakin itu, selalu berusaha berbaik sangka pada Allah. karena memang Allah sesuai prasangka hamba-hambaNya. dan Allah akan menjawab semua doa yang dipanjatkan pada-Nya.
untuk hal-hal yang tidak kita minta saja Allah tak pernah absen untuk memberi, maka untuk doa-doa yang kita panjatkan, bersiaplah untuk menerima lebih dari yang kita minta.

        dan hari ini lagi-lagi Allah menunjukkan kuasa-Nya, ketika masalah datang, berat, segala hal telah diusahakan, namun, gambaran akan hasil kedepan tidak akan sebaik yang kita inginkan, bahkan kebalikan dari yang kita harapkan,
           ketika hanya pasrah yang bisa kita lakukan, saya hanya bisa meminta pada Allah, atas apa yang saya tidak kuasa mengaturnya, karna Dia-lah yang Maha Kuasa. Dia-lah yang maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.
           dan keajaiban itu datang secara tiba-tiba. dengan begitu mudahnya. rasanya sulit untuk saya percaya, tapi beginilah jika Allah sudah berkehendak, segala tampak begitu mudah, begitulah jika Allah sudah memudahkan. tak terhitung sudah berapa kali sebuah permasalahan teratasi sebuah doa :)

begitu bersyukurnya saya, ada Allah, sebaik-baiknya tempat mengadu,sebaik-baiknya tempat meminta.

sungguh, kenikmatan terbesar bagi seorang muslim adalah, kita punya Allah sebagai Rabb kita.

Alhamdulillah, wa syukurillah laa khaula wa laa kuwwata illa billah.
:D

Minggu, 12 Juni 2011

Satu waktu jadi sholeh, lain waktu...., masih sholeh gag yah??



Saya sering mendengar istilah STMJ (sholat Tekun, Maksiat Jalan), ada lagi istilah tindakan penyeimbangan, misalnya, setelah melakukan penggelapan uang atau korupsi, kemudian sebagian uang itu disumbangkan ke panti asuhan atau yayasan sosial yang lain. dalilnya untuk menghapus dosa katanya.

“biar seimbang, ibadahnya ngimbangi dosanya” dialog seorang pemain dalam film layar lebar yang saya tonton.


Terlepas dialog itu hanya karangan seorang script writer, atau improvisasi dari naskah,  kalimat itu tentunya adalah cerminan dari masyarakat saat ini. Menyindir mungkin maksudnya.
Atau mungkin gak perlu seekstrim itu, contohnya saja, banyak dari kita ini mungkin yang setelah datang ke kajian, atau kuliah agama, atau setelah  ketemu ustadz, semangat ber-islamnya tinggi, menggebu-gebu, serasa diri kembali putih, semangat banget untuk membenahi diri untuk jadi lebih baik.
“Pokoknya setelah ini saya harus jadi orang yang lebih baik, harus berubah!!”
Apalagi para pemuda, yang semangatnya menggelora. Masa muda, masa yang berapi-api..... (koq jadi nyanyi yah?).
 tapi, setelah sehari, dua hari, paling lama seminggu kemudian, disaat sudah gak ketemu ustadz lagi, belom datang kajian lagi, gak dapat kuliah agama karena dosennya berhalangan hadir, ditambah dengan teman-teman disekeliling yang membuat hati bahagia, tertawa lepas, hari jadi penuh warna (sedikit mendramatisir),
Rasa-rasanya semangat memperbaiki iman dan taqwa itu menghilang entah kemana, mungkin menguap bersama udara panas di sekitar kita (jika kebetulan musim kemarau), atau luntur bagai baju yang terlalu lama direndam dan gak segera dijemur karena hujan deres (kalo musim hujan), atau mungkin ketinggalan dirumah ustadznya kali yah?hehe. astaghfirullah.....
Ya memang seperti itulah manusia hakikatnya, imannya gak bisa konstant kayak malaikat yang selalu tunduk patuh pada tihtah Tuhannya, yang selalu senantiasa berdzikir di sisi Rabbnya, yang selalu mendoakan orang-orang mukmin yang berusaha menjalankan perintah Allah, meski kita gak pernah minta mereka untuk selalu mendoakan kita.

Ooh, jadi wajar dong kalo giat sholat, ngaji, datang kajian, puasanya bersiklus, kan sudah fitrahnya manusia.
Jadi kalo lagi futurpun wajar dong?? Namanya juga manusia.....,

Yup, setuju banget. Emang wajar banget sifat kita yang kaya gitu. Iman itu emang kadang bertambah

“…dan jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya)….” (QS. Al-Anfāl(8): 2)

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)….” (QS. Al-Fath(48): 4)  

Dan bisa berkurang, atau bahkan hilang

Iman seseorang berkurang bahkan hilang ketika ia berbuat maksiat (HR Bukhari dan Muslim).

Tapi, kita tidak dibiarkan saja membiarkan iman kita bergejolak ditempat, tidak pasti, and gak ada peningkatan atau Naudzubillahi min dzalik penurunan atau bahkan ilang gitu aja. Emang surga punya nenek moyang Loe apa? Hehe, piss man!
Meskipun keimanan kita gak konstant, tapi ada keunggulannya juga, karena gak konstan, kadar keimanan kita bisa terus meningkat, bertambah levelnya, sesuai perlakuan peng-UpGrade-an yang kiat lakukan.
Caranya gimana? Banyak! Macem-macem, tergantung kita mau pilih cara yang mana, and yang pasti kudu Istiqomah. Ada sebuah cerita di jaman rasulullah dalam riwayat Imam Muslim,
...............
Suatu hari, abu Bakar Ash-Shiddiq berkunjung menemui Hanzhalah ibn Ar-Rabi’ dan menanyakan kabarnya

“hanzhalah telah munafik!” katan Hanzhalah sendu.

“subhanallah,” Hardik abu Bakar, “Apa yang engkau ucapkan?”

“Aku sering bersama Rasulullah” kata Hanzhalah, “Beliau mengingatkan tentang surga dan neraka seolah-olah aku melihatnya dengan mata kepala. Namun ketika aku keluar dari sisi beliau, lalu bercengkerama dengan anak-anak serta sibuk dengan pekerjaan, aku pun banyak melupakannya. Semua bayangan tentang Allah, surga dan neraka seakan tak bersisa.”

“Demi Allah! Sesungguhnya kami juga merasakan hal seperti itu!” sahut Abu Bakar membenarkan.
Mereka kemudian mendatangi Rasulullah dan menanyakan urusannya. dengan penuh semangat sekaligus kegelisahan.
mereka mengadukan keadaan dirinya yang serasa berbeda.
Rasulullah tersenyum.
“Demi dzat yang jiwaku di TanganNya” demikian sabda beliau, “Seandainya kalian selalu dalam keadaan sebagaimana ketika kalian ada di sisiku dan berdzikir, niscaya malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat-tempat tidur, dan dijalan-jalan kalian. Akan tetapi sesaat demi sesaat, wahai Hanzhalah! Sesaat demi sesaat wahai Hanzhalah, sesaat demi sesaat!”
..............
Para sahabat nabipun juga mengalami fase-fase penurunan seperti itu, dan Rasulullah pun juga menegaskan, sesaat demi sesaat.
Sesaat demi sesaat, kita berusaha kembali memantapkan hati, meneguhkan tekat, menata niat, untuk selalu istiqomah dalam kebaikan.
Sesaat demi sesaat, kembali mendekatkan diri pada-Nya, melalui ibadah kita, sholat kita, dzikir kita, tilawah kita.
Sesaat demi sesaat menyempatkan diri untuk bergabung dalam majelis-majelis ilmu yang menyadarkan kembali kita akan hakikat hidup di dunia.
Dan yang gak kalah efektifnya adalah, selalu menyibukkan diri dengan kebaikan dan berkumpul dengan orang-orang yang selalu bisa mengingatkan kita untuk selalu dalam kebaikan.

Emang bener-bener bahagia rasanya dikelilingi oleh saudara-saudara yang selalu berlomba-lomba untuk mengamalkan kebaikan.
 Namun yang membuat perlombaan ini indahnya melebihi perlombaan yang lain adalah, masing-masing peseta lomba, tidak saling meninggalkan, berusaha menjatuhkan yang lain untuk membuat dirinya unggul, tidak demikian.
Yang membuat perlombaan ini indah adalah, masing-masing peserta tidak hanya merasa bertanggung jawab menjadikan dirinya unggul, tapi juga merasa bertanggung jawab membuat semua peserta unggul.
Jadi penjagaan diri dalam kebaikan yang juga efektif adalah selalu membersamai orang-orang yang baik. Mau sholeh, yah kumpul sama orang yang sholeh, biar ketularan. Dan bisa nularin temen yang lain.
Semua orang sama, punya potensi kebaikan masing-masing, tergantung gimana kita mau meng-upGrade potensi kebaikan itu supaya meningkat levelnya, and dapat mengurangi dan melemahkan potensi yang gak baik dari diri kita.
Semua tergantung sejauh mana kita mau berusaha. Karena memang

apakah menyangka manusia bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan “kami telah beriman”, padahal mereka tidak kena percobaan?” (QS. Al-Ankabut : 1)

Sebuah pesan pengingat, khususnya untuk saya (hikss...) untuk selalu berusaha istiqomah.

Wahai Zat yang membolak-balik hati. Tetapkanlah hatiku dalam agama-Mu. (HR. Turmudzi dan Ahmad)

Daftar Pustaka
Al qur’an
Al hadist
Dalam dekapan Ukhuwah, Salim a. Fillah