Jumat, 21 April 2017

Karena ujian itu berbeda

Katanya, kita akan diuji dengan hal yang paling kita cintai, kita akan diuji dengan hal yang menjadi kekuatan atau keunggulan kita.

Seperti maryam binti 'imran yang diuji melalui ujian kesucian. Bagaimana tidak, kesucian yang selama ini dijunjungnya kemudian mulai diragukan khalayak ramai tatkala ia datang membawa seorang putra; tanpa ayah. Mungkin begitu menyakitkan bagi Maryam, setidaknya bagi saya jika saya yang merasakan. 
Wanita yang selalu menjaga kesucian dirinya ini lalu di cap sebagai pezina, karena hadirnya karunia yang diberikan Rabbnya.

Belum lagi saat kehamilan semakin besar dan berat, ia pun harus pergi meninggalkan rumah tempat berteduhnya, sendirian.
Dan puncaknya, saat detik-detik kelahiran putranya tiba ia tersiksa diantara sakit dan dahaga. Tubuhnya kesakitan dan ia kelaparan. namun disekelilingnya tiada apapun kecuali gurun yang luas. Bersandarlah ia akhirnya di bawah pohon kurma yang kokoh. Disanalah akhirnya ia sendiri, berjuang diantara hidup dan mati melahirkan sang al masih.

Saat proses melahirkan yang melelahkan itu akhirnya usai, tubuhnya semakin lemas dan makin terasa betapa laparnya ia. Lalu Allah menyuruhnya untuk menggoyahkan pohon kurma itu agar jatuh beberapa buahnya.
Bayangkanlah kawan, maryam bukan seorang laki-laki bertubuh kekar yang kuat tenaganya. Ia hanya seorang wanita dan baru saja melahirkan pula. Sementara pohon itu kokoh dan besar. Seorang laki-laki saja akan cukup kesulitan menggoyahkannya.

Lihatlah bagaimana Allah mengujinya. Dengarlah bagaimana kisah perjuangannya. Tak heran jika ia disebut Rasulullah termasuk ledalam 1 dari 4 wanita dunia paling utama.

beralih pada kisah si gagah Yussuf As . Yang diuji Allah dengan ketampanannya. Dengan wajah yang luar biasa rupawan bisa saja dengan mudah ia mendapatkan banyak wanita, tapi dengan keimanan yang menyala ia ternyata lebih memilih penjara yang sunyi dibanding berdua dengan wanita cantik di kamar seorang diri.

Pun dengan kejamnya fitnah dan perlakuan saudara-saudaranya yang iri kepadanya, saat tanduk kuasa telah ada digenggamnya, saat Allah memberinya kesempatan membalas semua perilaku keji mereka, Yussuf memilih mengubur kenangan menyakitkan itu dalam-dalam, melewatkannya begitu saja cerita itu saat sang Ayah yang baru berjumpa menanyakan tentang perihal dirinya. Dengan hati penuh syukur, kemudian yang ia sampaikan pada ayahnya hanyalah "Tuhanku telah berlaku baik padaku", menceritakan betapa bermurah hati Allah mengijinkannya menjadi pejabat di negeri makmur mesir. Dan sungguh hal inilah yang menjadikan Yussuf lelaki gagah nan tampan yang sesungguhnya.  Hatinya sungguhlah rupawan.

Lantas kita? Patutkah mengeluhkan sulitnya kondisi kita saat Maryam atau Yussuf yang mulia pun juga tetap harus mengalami ujian sebelum akhirnya mendapat kemuliaan di sisi Allah? Ujian kita pasti tak seberapa dibanding mereka, karena keimanan kita pun tak ada nilainya. 
Lantas? Masih secepat itukah kita akan menyerah dan terus mengulang mengeluhkannya?

Sabtu, 18 Maret 2017

masa

Hari ini saya dapat kiriman foto adek-adek akhwat di kampus. semua tampak cantik dengan senyum manisnya ,hanya sayangnya....wajah-wajah itu..sudah tidak ada yang saya kenali. hahahaha...
 
Baiklah sebenarnya ada satu orang yang saya kenali, dan dia sudah tergolong sang 'senior' di kumpulan itu. adik yang sebenarnya hanya saya tahu sekilas. kenal sebentar di bulan-bulan akhir menjelang kelulusan saya. saat itu si adik masih mahasiswa baru yang polos dan lugu. tapi sekarang dia sudah menjadi public figure kampus. pembicara disini dan disitu, tampil disini dan disana.
 
Hehh....waktu sungguh sangat cepat berlalu. setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Yap, itulah kenapa kaderisasi adalah suatu keniscayaan. kaderisasi itu perangkat utama dari amal jariyah.  meski si pelaku silih berganti, tapi niat dan amalnya tetap berlanjut.
 
Lihatlah meski saya tidak lagi mengenal mereka, tapi saya kenal betul jaket hitam yang mereka kenakan itu. jaket hitam dengan desain sederhana yang dari tahun ke tahun tak pernah ada perubahan. tidak ada perintah untuk tak mengubah sebenarnya. hanya saja, dengan tetapnya desainnya jadi seolah menyatukan kita. menyatukan saya dengan mereka. karena jaket yang mereka kenakan juga sama persis dengan jaket yang saya punya. Ish kariman Aumut Syahidan.  hidup mulia atau mati syahid. serem ya? hehe...awalnya saya juga berpikir demikian. kok gitu amat nih motto ya? serasa ngajakin mati gitu...hiiyyyy!!!
 
tapi enggak demikian maksudnya. jadi, hidup ini kan pilihan. saya mau hidup seperti apa dan mau jadi apa itu terserah kita. nah jika hidup ini pilihan, mengapa kita tidak memilih hidup menjadi orang mulia? bukan mulia karena harta atau kedudukan, tapi mulia karena amal perbuatan kita, karena akhlak atau perilaku kita, dan karena ibadah. tak peduli kita miskin atau kaya, saat tua maupun muda, kita selalu punya kesempatan untuk menjadi manusia mulia, mulia  dimata Tuhan, bukan sekedar anggapan manusia.
 
dan tak hanya hidup, matipun menyediakan beberapa pilihan. mati dalam kondisi terlaknat, atau khusnul khotimah?. setiap yang bernyawa akan mengalaminya, kematian. jika tiba saatnya, kita tidak akan sanggup menundanya walau sedetik. nah, jika dalam hidup saja kita memilih yang terbaik, mengapa saat mati kita tidak memilih mati dalam kondisi terbaik? dan sebaik-baik kondisi saat kita mati adalah mati syahid, yang dijamin surga, yang dijamin diampuni dosa-dosanya. siapa yang tidak menginginkannya kawan?
 
maka sungguh indah bukan, makna tulisan yang tertulis dijaket hitam itu, Ish kariman, aumut syahidan. hidup mulia atau mati syahid.
 
dan tentu yang juga tak kalah meaningful adalah tulisan yang tertera di bagian punggung si jaket hitam, keluarga besar muslim fakultas......Universitas.....
dibanding menuliskan nama lembaga kami, tulisan keluarga besar muslim itu sungguh menyentuh sekali. menandakan lembaga ini bukan milik anggotanya saja, tapi semua civitas akademia. jaket itu bukan jaket lembaga, tapi jaket seluruh civitas muslim fakultas. karena kita semua saudara, tak ada yang lebih baik atau lebih sholeh, semua bersaudara, semua satu keluarga. ahh.... jadi makin bangga memakainya.
 
btw, ini kenapa jadi bahas jaket ya? hehehe. namanya juga curhat. jadi apa yang terlintas ditulis saja. 
 
mengarungi samudera kehidupan,
kita ibarat para pengembara,
hidup ini adalah perjuangan,
tiada masa tuk berpangku tangan
 
*S.E.M.A.N.G.A.T.!!!! 
 


Kamis, 23 Februari 2017

Pentingnya Kemandirian Ekonomi Seorang Muslim

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA.
Said bin Musayyib –rahimahullah- berpendapat bahwa cinta harta itu baik. Bukan semata ‘cinta harta’ yang menjadi ukuran kebaikan. Tapi, kebaikan cinta harta ada pada implikasinya._ Bagi Sayyidu al Tabi`iin yang bergelar ‘alim ahli al madinati itu, cinta harta menjadi baik karena dalam harta ada ibadah, amanah, kehormatan, dan kemandirian.
Kemandirian harta (baca: ekonomi) menjadi perhatian khusus Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallama. Nabi mendorong individu agar mandiri, yang dimulai dari pemanfaatan sumberdaya pribadi, meskipun kecil dan sederhana.
Dikisahkan, seorang sahabat Anshar meminta bantuan Rasulullah, tapi tidak diberi. Oleh Nabi, si sahabat diajak berfikir: sumberdaya apa yang dimiliki?Ia pun menyebutkan beberapa perabot rumah tangga yang sederhana.
Rasulullah menyuruh mengambil perabot-perabot itu dan membantu menjual secara lelang. Setelah terjual dengan harga 2 dirham, Rasulullah mengarahkan agar uang itu digunakan untuk konsumsi keluarga (1 dirham) dan membeli kapak (1 dirham).
Setelah kapak terbeli, Rasulullah berpesan: “Dengan kapak ini carilah kayu, dan jangan menemuiku kecuali setelah 15 hari”. Setelah 15 hari bekerja mencari kayu, si sahabat melaporkan bahwa ia memperoleh 10 dirham.
Nabi pun menanggapi: “Bekerja mencari kayu lebih baik dari pada meminta-minta yang menyebabkan noda hitam di wajah kelak pada hari kiamat”. (HR. Abu Daud).
Dan diriwayat Imam Bukhari disebutkan respon Nabi: “Meskipun hanya bekerja mencari kayu, yang demikian lebih baik daripada bergantung pada orang lain.”
Abdurrahman bin Auf  lebih memilih modal sendiri meskipun kecil, hanya 4 dirham (sekitar Rp. 280.000), meskipun mendapat tawaran hibah dari Saad bin Rabi`.
Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallama- juga mendorong umat agar mandiri. Beliau mendorong Usman bin Affan mengambil alih sumberdaya alam (air) yang dikuasai Yahudi.
Dan Rasulullah juga memilih lokasi strategis sebagai pasar mandiri yang dimiliki umat Islam.
Mandiri ekonomi penting bagi individu, organisasi, bahkan umat.
Menurut Qardhawi dalam Malamih al Mujtama` al Muslim, umat yang mandiri ekonomi akan memiliki izzah. Tidak mudah didekte oleh bangsa lain, bebas menentukan arah dan masa depannya. Berbeda bila umat bergantung pada negara lain, sangat rentan hidup dalam bayang-bayang bahkan tidak bebas menentukan arah hidupnya.
Demikian pula dengan organisasi, ormas atau orpol. Ormas/orpol yang mandiri ekonomi akan memiliki izzah. Tidak mudah didekte pihak lain dan akan lebih efektif membina umat serta dalam menunaikan fungsi hisbah, yang menjadi esensi keberadaan ormas/orpol.
Individu yang mandiri ekonomi juga akan memiliki izzah, sebagaimana pesan Nabi Muhammad –shallallahu `alaihi wa sallama- kepada Sa`ad bin Abi Waqqash –radliyallahu `anhu,
“Seandainya engkau tinggalkan keturunanmu berkecukupan (mandiri ekonomi), maka lebih baik daripada kekurangan dan bergantung pada orang lain.” (HR. Bukhari)
Wallahu a`lam bisshawab
Malang, 7 Rabiul Awal 1438H.
Silahkan disebarkan channel Telegram ini, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah kita. Aamiin,

Sabtu, 07 Januari 2017

Istimewanya Pemuda

Para pemuda selalu mempesona.
Lihatlah mereka, tidurpun membawa perubahan, apalagi terjaga. 
Para pemuda kahfi memilih kabur dari kampung halaman untuk menyelamatkan keimanan, akhirnya ditidurkan selama beratus tahun kemudian. Dan hal ini jadi pelajaran kelak, betapa hari kebangkitan bukan bualan semata).

Muda identik dengan "hijau". Masih hijau artinya masih bertumbuh, berkembang. Sementara yang matang berarti akan segera membusuk.

Muda identik dengan 'tidak berpengalaman'. TAPI,  jika 'berpengalaman' berarti mengatasi masalah baru dengan cara lama, itu berbahaya!.

Muda identik dengan kebersamaan dalam keprihatinan, solidaritas. 
Kadang kita sulit bersatu saat telah banyak ber'punya', luas berdaya. Hingga tiap hubungan yang dijalin menuntut adanya keuntungan dari masing-masing

Muda identik dengan kejelasan sikap. 
Hitam dan putih, ya atau tidak. Tidak ada jalan ketiga. Ini hal yang tepat untuk utusan aqidah.

Muda identik dengan gejolak. Titik temu dari semua gejolak ini akan jadi sebuah terobosan. Di situlah masa depan, melampau apa yang dicapai oleh pendalaman bidang.

Muda identik dengan pesona dan ketangguhan fisik. Dua hal inilah yang akan membantu sebuah ide perubahan tampil menarik, segar dan cantik.

Muda identik dengan ketergesaan, inginnya sekilas langsung terwujud. Maka ia disabarkan, 'tidurkan gelora' sembari dengan mempersiapkan perangkat.

Muda identik dengan ketergodaan dan gelimang nikmat. Maka, mereka yang memilih jalan sunyi untuk berjuang, sudah pasti istimewa.

Muda juga identik dengan sedikitnya beban sejarah. Maka mereka lebih merdeka dalam bersikap, sebab tak terbelenggu oleh rekam jejak masa lalu.

Muda identik dengan mempertanyakan. Nah, kecerdasan memang disitulah letaknya, bukan dalam jawaban. Sungguh, satu pertanyaan bermutu dapat membuka jawaban beribu-ribu


*from: menyimak kicau merajut makna by Salim A. Fillah (dengan sedikit editan dari saya)


Streaming youtube sembari mendengarkan ceramah asik dari ustadz Salim. Very recommended to watch!  Apalagi kalau kamu pemuda 😊