Rabu, 07 Desember 2016

Pejalan Kaki dari Ciamis

Sebuah tulisan yang tulus dibuat Joni A. Koto, seorang alumnus ITB. Kisah ini, sudah diskenario oleh Alloh bagi seorang Joni A Koto, Arsitek Urban planner, alumni ITB '93.

Berikut tulisannya setelah saya edit seperlunya:

Saya anggap dunia adalah soal bagaimana hidup dan cari kehidupan. Bagaimana menikmati dan lebih baik dari manusia lain, bagaimana bisa punya status baik, dihargai dengan apa yang dipunya dan sedikit jalan-jalan menikmati dunia.

Saya anggap orang yang maju dalam agama itu adalah yang berfikiran luas dan penuh toleransi, saya anggap tak perlulah terlalu fanatik akan sesuatu, tak perlu reaktif akan sesuatu, keep calm, be cool. Janganlah sesekali dan ikut-ikutan jadi orang norak. Ikut kelompok jingkrang-jingkrang dan entah apalah itu namanya.

Saya tak ikut aksi bela agama ini itu, kalian jangan usil. Jangan dengan kalian ikut saya tidak, artinya kalian masuk syurga saya tidak! Saya ini beragama lho, saya ikut berpuasa, saya bersedekah dan beramal. Saya bantu orang-orang, bantu saudara2 saya juga,jangan kalian tanya-tanya soal peran saya ke lingkungan. Kalian lihat orang-orang respek pada saya, temanpun aku banyak. Tiap kotak sumbangan aku isi.

Saya masih heran, apa sih salah seorang Ahok? Dia sudah bantu banyak orang, dia memang rada kasar, tapi hatinya baik kok. Saya hargai apa yang sudah dia buat bagi Jakarta.Saya anggap aksi ini itu hanya soal politis karena kebetulan ada pilkada. Saya tak mau terbawa-bawa arus seperti teman-teman kantor yang tiba-tiba juga mau ikut aksi. Saya anggap itu berlebihan dan terlalu cari-cari sensasi. Paling juga mau selfie-selfie.

Sampai satu saat....
Sore itu 1 Desember 2016, dalam gerimis saat saya ada di jalan, dalam mobil menuju tempat miting, dalam alunan musik barat saya berpapasan dengan rombongan pejalan kaki. Saya melambat, mereka berjalan tertib, barisannya panjang sekali, pakai baju putih-putih, rompi hitam dan hanya beralas sendal. Muka mereka letih, tapi nyata kelihatan tidak ada paksaan sama sekali di wajah-wajah itu. Mereka tetap berjalan teratur, memberi jalan ke kendaraan yang mau melintas. Tidak ada yang teriak, berlaku arogan dan aneh-aneh atau bawa aura mirip rombongan pengantar jenazah yg ugal-ugalan. Ini aneh, biasanya kalau sudah bertemu orang ramai-ramai di jalan aromanya kita sudah paranoid, suasana panas dan penuh tanda tanya negatif.

Sore itu, di jalan aku merasa ada kedamaian yang kulihat dan kurasa melihat wajah-wajah dan baju putih mereka yang basah terkena gerimis.

Papasan berlalu, aku setel radio lain. Ada berita: rombongan peserta aksi jalan kaki dari Ciamis dan kota-kota lain sudah memasuki kota. Ada nama jalan yang mereka lalui.Aku sambungkan semua informasi, ternyata yang aku berpapasan tadi adalah rombongan itu!

Aku tertegun.
Lama aku diam. Otakku serasa terkunci. Analisaku soal bagaimana orang beragama sibuk sekali mencari alasan, tak kutemukan apa pun yang sesuai dengan pemikiranku. Apa yang membuat mereka rela melakukan itu semua? Apa kira-kira?

Aku makin sibuk berfikir. Apa menurutku mereka itu berlebihan? Rasanya tidak, aku melihat sendiri muka-muka ikhlas itu. Apa mereka ada tujuan-tujuan politik? Aku rasa tidak, kebanyakan orang sekarang memcapai tujuan bukan dengan cara2 itu.Apakah orang-orang dengan tujuan politik yang gerakkan mereka itu?

Aku hitung-hitung, dari informasi akan ada jutaan peserta aksi, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk itu kalau ini tujuan kelompok tertentu. Angkanya fantastis, rasanya mustahil ada yg mau ongkosi karena nilainya sangatah besar.

Aku dalam berfikir, dalam mobil, masih dalam gerimis kembali berpapasan dengan kelompok lain, berbaju putih juga, basah kuyup juga. Terlihat di pinggir-pinggir jalan anak-anak sekolah membagikan minuman air mineral ukuran gelas, sedikit kue warung ke mereka. Sepertinya itu dari uang jajan mereka yang tak seberapa.

Aku terdiam makin dalam. Ya Allah....kenapa aku begitu buruk berfikir selama ini? Kenapa hanya hal-hal jelek yang mau aku lihat tentang agamaku? Kenapa dengan cara pandangku soal agamaku?

Aku mampir ke masjid, mau sholat ashar. Aku lihat sendal-sandal jepit lusuh banyak sekali berbaris.

Aku ambil wudhu...
Kembali, di teras, kali ini aku bertemu rombongan tadi, mungkin yang tercecer, muka mereka lelah sekali. Mereka duduk,ada yang minum, ada yang rebahan, dan lebih banyak yang lagi baca Quran.Hmmm.............

Aku sholat sendiri. Tak lama punggungku dicolek dari belakang, tanda minta aku jadi imam. Aku cium aroma tubuh-tubuh dan baju basah dari belakang.

Aku takbir sujud, ada lagi yang mencolek. Nahh kali ini hatiku yang dicolek, entah kenapa hatiku bergetar sekali. Aku sujud cukup lama, mereka juga diam.Aku bangkit duduk, aku tak sadar ada air bening mengalir dari sudut mataku.

Ya Allah,... Aku tak pantas jadi imam mereka.Aku belum sehebat, setulus dan seteguh mereka. Bagiku agama hanya hal-hal manis. Tentang hidup indah, tentang toleransi, humanis, pluralis, penuh gaya, in style...bla bla bla.

Walau ada hinaan ke agamaku aku harus tetap elegan, berfikiran terbuka.Kenapa Kau pertemukan mereka dan aku hari ini ya Allah? Kenapa aku Kau jadikan aku imam sholat mereka? Apa yang hendak Kau sampaikan secara pribadi ke aku?

Hanya 3 rakaat aku imami mereka, hatiku luluh ya Allah. Mataku merah menahan haru.

Mereka colek lagi punggungku, ada anak kecil usia belasan cium tanganku, mukanya kuyu, tapi tetap senyum. Agak malu-malu aku peluk dia. Dadaku bergetar tercium bau keringatnya, dan itu tak bau sama sekali.Ini bisa jadi dia anakku juga. Apa yang telah kuajarkan anakku soal islam? Apakah dia levelnya sekelas anak kecil ini? Gerimis saja aku suruh anakku berteduh, dia demam sedikit aku panik. Aku nangis dalam hati, di baju putihnya ada tulisan nama sekolah:... SMP Ciamis... Kota kecil yang ratusan kilo dari sini. Nampak kakinya bengkak karena berjalan sejak dari rumah.

Lalu anak itu bercerita bapaknya tak bisa ikut karena sakit dan hanya hidup dari membecak. Bapaknya mau bawa becak ke Jakarta bantu nanti kalau ada yang capek, tapi dia larang.

Ya Alloh, aku dipermalukan berulang oleh mereka di masjid ini. Aku sudah tak kuat ya Allah.

Mereka bangkit, ambil tas-tas dan kresek putih dari sudut masjid, kembali berjalan, meninggalkan aku sendirian di masjid. Rasa-rasanya melihat punggung-punggung putih itu hilang dari pagar masjid aku seperti sudah ditinggal mereka yang menuju syurga.

Dan kali ini aku yang norak. Aku sujud, lalu aku sholat sunat dua rakaat. Air mataku keluar lagi. Kali ini cukup banyak, untung lagi sendirian.

Sudah jam 5an, lama aku di masjid, serasa terkunci tubuhku di sini. Miting dengan klien sepertinya batal. Aku mikir lagi soal ke-Islamanku, soal komitmenku ke Allah. Allah yang telah ciptakan aku, yang memberi ibu bapakku rejeki, sampai aku dewasa dan bangga seperti hari ini. Di mana posisi pembelaanku ke agamaku hari ini? Ada di mana? Imanku sudah aku buat nyasar di mana?

Aku naik ke mobil, aku mikir lagi. Kali ini tanpa rasa curiga, kurasa ada sumbat besar yang telah lepas dalam benakku selama ini.Ada satu kata sederhana sekali tanpa bumbu-bumbu: ikhlas dalam bela agama itu memang nyata ada!

Aku mampir di minimarket, kali ini juga makin ikhlas, makin mantap. Aku beli beberapa dus air mineral, makanan kering, isi dompet aku habiskan penuh emosional! Ini kebanggaanku yang pertama dalam hidup saat beramal, aku bahagia sekali!

Ya Allah ijinkan aku kembali ke jalan-Mu yang lurus, yang lapang, penuh kepasrahan dan kebersihan hati....

Ya Allah ijinkan aku besok ikut Shalat jumat dan berdoa bersama saudara-saudaraku yang sebenarnya. Orang-orang yang sangat ikhlas membela-Mu. Di sana tak ada jarak mereka dengan-Mu ya Allah.Aku juga mau begitu, ada di antara mereka, anak kecil yang basah kuyup hari ini. Tak ada penghargaan dari manusia yang kuharap. Hanya ingin Kau terima sujudku. Mohon Kau terima dengan sangat.

Selasa, 06 Desember 2016

Dimana dirimu saat Kitab Sucimu dinista?

"Dimana posisimu saat agamamu dinista?"





Hanya untuk menjawab satu pertanyaan itu saja banyak dalih dan alasan dikeluarkan.


"Ini bukan masalah simpel. Banyak faktor yang melatar belakangi tragedi ini"


"Ada banyak pihak yang memanfaatkan situasi. Ini hanyalah politisasi"


Tidak. Tidak usah terlalu melebar kemana-mana. Masa bodoh dengan politisasi situasi, atau   argumen-argumen yang saling melengkapi. Cukup sederhana,  tanyalah dalam hati apa yang kau rasa saat kitab sucimu dicaci?


Toleransi? apakah melindungi yang menghina disebut bertoleransi?

Apakah menuntut si penista disebut antipati?
Bukankah toleransi berarti saling menghargai?
Bukankah toleransi itu saling menghormati?
Lalu kenapa yang tidak toleran yang harus dimengerti sementara yang terluka harus kembali "bertoleransi"?

Perdamaian dan kerukunan adalah suatu kondisi yang tercipta dengan "usaha" dan "penjagaan". Ia tak hadir serta merta. percikan kecil permusuhan yang dibiarkan akan berubah jadi bara pertikaian yang besar.

Maka salahkah jika kami ingin percikan kecil itu segera dipadamkan? Sebelum melebar dan terjadi kebakaran? 
Lalu mengapa kami malah disebut pembuat keributan?

Bukankah api itu bukan kami yang nyalakan?

Bukankah menyedihkan saat yang terluka juga difitnah? Apalagi saat yang memfitnah mengaku saudara?

Aah...biarlah. 
toh kami juga tak butuh puji puja.
Toh masih banyak yang berjuang bersama kita. 
Toh yang kita butuhkan hanya bukti kontribusi untuk suatu hari nanti saat kita ditanyai

"dimana kau saat kitab sucimu dicaci?

Semoga dengan hati lapang kami dapat menjawabnya : kami ada dibarisan mereka ya Rabbi, yang berjuang membela kitab suci.

Jumat, 12 Agustus 2016

melted

A song by akdong Musician.
as always, they succesfully picturing the reality around us into song. The melody goes well with the lyrics, and if you watch the music video it would perfect!

The song is about how  adult world is in children`s perspective and how they being very confuse to understand it. 

When i get down sometimes, i really into this song. Hahaha. A simple thing in children's eyes can be very complicated for the adult. When everything is gettin hard, sometimes what you need is only support.


Melted - by akdong musician
The blue ocean that the red sun used to wash is turn black
The white sky that had clouds and rain turn gray
I leave the darkness that found my heart
Even the cold shadow that cover the night start to harden

If the ice melt, a warmer song would have come out
But why the ice is so cold? Why is it so cold?
Why are they so cold?
Why are they so cold?

The blue ocean that the red sun used to wash its face
I look at the past warmth that is buried deeply (too late get it out)
I wish the cold in adult world would be gone too
I wish the frozen love will melt away now

I leave the darkness that found my heart
Even the cold shadow that cover the night start to harden

If the ice melt, a warmer song would come out
But why the ice is so cold? Why is it so cold?
Why are they so cold?
Why are they so cold?




Senin, 21 Desember 2015

dimanakah aku?

Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas keimanan 

keimanan hanya tinggal pemikiran, yang tak berbekas dalam perbuatan

banyak orang baik tapi tak berakal, ada orang berakal tapi tak beriman...

ada lidah fasih tapi berhati lalai,

ada yang khusyuk tapi sibuk dalam kesendirian...

ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis, 

ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat,

dan ada yang menangis karena kufur nikmat

ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat,  

ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi...

ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut...

ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan
dan ada pelacur yang tampil jadi figur...

ada org yang punya ilmu tapi tak faham
ada yang faham tapi tak menjalankan...

ada yang pintar tapi membodohi
ada yang bodoh tak tahu diri...

ada orang beragama tapi tak berakhlak
ada yang berakhlak tapi tak bertuhan
lalu diantara semua itu dimanakah aku berada...???"

(Ali bin Abi Thalib R.A)