Kamis, 10 Oktober 2013

Menjalin Hubungan

"Meski yang menghubungkanku dengan seseorang hanyalah seutas benang, akan ku jaga.
 Jika ia ulurkan, akan ku kencangkan. jika ia kencangkan akan kukendurkan"

Menjaga hubungan, apapun bentuk hubungannya memang perlu usaha atau upaya. 
Menjalin hubungan dengan manusia memang perlu selalu menyadari bahwa kita, aku maupun dia adalah manusia, yang tak hanya punya kelebihan namun juga kekurangan. Terlalu menuntutnya untuk menjadi seperti yang kita inginkan itu melelahkan karena perbedaan itu fitrah, dan ia adalah karunia. 

Menjaga hubungan menuntut pengertian yang mendalam. setiap orang menghadapi tantangan yang berbeda, beban yang berbeda sehingga membuat iapun membutuhkan perlakuan yang berbeda. bukan"aku memperlakukanmu seperti aku ingin diperlakukan", tetapi "aku memperlakukanmmu seperti kamu ingin diperlakukan"

Semakin dekat hubungan dengan seseorang mengandung resiko semakin rawan konflik terjadi diantaranya. Bukankah keretakan itu muncul pada satu bagian yang satu? berarti hati kita telah menyatu.^^ itulah kenapa saat bermasalah dengan saudara terasa lebih menyakitkan dibanding bermasalah dengan orang luar. namun yakinlah, karena kita bersaudara maka ikatan kita lebih kuat, sehingga lebih kuat pula daya tarik agar kita kembali bersatu :)

Berhubungan memang butuh bersabar. karena hubungan baik yang bertahan lama adalah upaya penjagaan yang terus menerus, bukan sebab 2 atau lebih karakter yang cocok. karena secocok apapun karakter kita, tak menjamin hubungan akan selalu baik-baik saja.

Berhubungan dapat mengahasilkan rahmat maupun laknat, maka sandarkanlah ikatan hubungan padaNya dan jagalah agar senantiasa berada dalam koridor ridhoNya agam mimbar-mimbar cahaya disurga menjadi milik kita.

*teringat tulisan seorang saudara:
Yang satu dakwah, satunya ukhuwah, dua-duanya adalah pembuktian cinta :)






Sabtu, 05 Oktober 2013

Menilai Manusia

Berilah kesempatan seseorang untuk berubah.
Karena seseorang yang hampir membunuh Rasulpun kini terbaring damai di sisinya : 'Umar bin Khattab

Jangan melihat seseorang dari masa lalunya. 
Seseorang yang pernah memerangi agama Allahpun akhirnya menjadi pedangnya Allah : Khalid bin Walid

Jangan memandang orang dari status sosial atau hartanya.
Karena sepatu emas fir'aun berada di neraka, sedangkan sandal jepit Bilal bin Rabbah terdengar di surga

Jumat, 04 Oktober 2013

Sesuatu Yang bernama…… (part 2)

Dengan berlari-lari kecil ia melewati gerbang sekolah. Ditatapnya pos satpam di samping gerbang, nampak didalamnya penghuninya sedang duduk bersantai sembari melihat televisi di mejanya.


Hmmm,, gak telat alhamdulillah...,batinnya

Langkah kakinya melambat, ditatapnya tiap bagian sekolah yang dilewatinya dengan penuh makna. matanya mengamati sekumpulan siswa yang sedang bergurau menanti bel berbunyi, sekumpulan yang lain nampak serius berdiskusi dengan buku-buku diktat tersebar ditengah-tengah mereka. ia terus berjalan hingga pandangannya bertemu dengan obyek itu, obyek yang membuat hatinya malu bercampur damai. 

Sekumpulan gadis berjilbab rapi tengah bercengkerama di halaman masjid sekolah. entah, ia selalu merasa mereka berbeda. meskipun sebelumnya telah ia jumpai pula sekumpulan siswa yang juga bercanda ria, namun gadis-gadis itu selalu membawa aura berbeda bagi dirinya. nampaknya salah seorang dari mereka menyadari kehadirannya. gadis itu memanggil namanya melambaikan tangan sambil tersenyum tulus padanya. ia membalas senyuman dan lambaian tangan itu. 
Yuni, nama gadis itu. gadis yang setengah tahun lalu masih berada dikelas yang sama dengannya, tak hanya itu, yuni juga teman sebangkunya selama hampir setahun. Yuni yang begitu bersahaja, yang tak pernah bosan mengingatkannya untuk sholat Dhuha dan datang ke pengajian sekolah.

"Ayo sholat yuk..."ajaknya

"Aduh...,, laper nih yun. ke kantin dulu yuk, baru abis gitu ke mushalla, gimana?" tawarnya

Yuni mengernyitkan dahi kemudian menggeleng "gak mau, nanti keburu habis waktu istirahatnya"

"Nah..,, justru itu yun. kalo laper khan jadi gak khusyuk sholatnya, jadi mending makan dulu. cepet kok aku makannya" kilahnya lagi

Gadis berjilbab itu kemudian terdiam mengamati wajah sahabat di depannya itu

"Nanti kalo mau masuk surga, kamu ditawarin mau langsung ke surga atau mampir dulu ke neraka, kamu milih yang mana?" ujar yuni akhirnya

tanpa memperpanjang perdebatan ia pun akhirnya mengalah, "oke...oke....ayo sholat dulu aja"

Dan Yuni yang manis pun tersenyum bahagia. 

Ia teringat betapa seringnya yuni mengingatkan dirinya namun ia tetap bergeming, dan selalu mencari-cari alasan untuk menghindar. pernah suatu ketika yuni mengajaknya untuk bergabung dalam kelompok pengajian kecil dari rohis sekolah, ia selalu menolak, selalu disuguhkannya bermacam-macam alasan. alasan kerja kelompok, kumpul teater, hingga ingin pulang cepat. tanpa Yuni tau, alasan sebenarnya kenapa ia menolak adalah karena ia malu, karena ia merasa tidak pantas berada satu lingkungan dengan yuni dan teman-temannya. Allah pasti lebih sayang dengan mereka dibandingkan Hamba sepertiku, batinnya. 

Tanpa terasa ia telah sampai di depan kelasnya. nampak beberapa anak tengah sibuk mengerjakan tugas. diletakkannya tas dan peralatannya di meja. matanya kemudian mulai mencari sesosok gadis, teman dekatnya. 

'Hey..,,' sapa sebuah suara menyadarkannya.

"Eh, disini rupanya. thanks ya bukunya bagus banget..hehe" sosok yang tengah dicarinya ternyata lebih dulu menghampirinya.

"you're welcome. by the way, series keduanya belum terbit. aku juga penasaran pengen segera baca. ntar kalo udah terbit pasti ku kasih tau deh" ucap gadis cantik itu sambil siap beranjak.

"eh,,, mau kemana? mau cerita bentar boleh gak?" cegahnya.

  Temannya itu kembali duduk. ia memang sudah berniat mendiskusikan masalah ini dengan seseorang. sesuatu yang mengganjal pikirannya beberapa hari ini. 

"Aku.... pingin berjilbab" katanya kemudian.

Statement yang menghantui pikirannya selama beberapa hari seorang diri, akhirnya terucap juga. dilihatnya mata gadis jelita di depannya berbinar, wajahnya menunjukkan keterkejutan beserta kebahagiaan.

"Subhanallah.....beneran? kamu udah yakin?" tanya sahabatnya

"Not sure, actually...aku merasa gak pantes untuk berjilbab. aku gak bisa baca al-Qur'an dengan lancar, sholatku belum genap 5 waktu sampai beberapa saat yang lalu, dan......dan..... gak tau sebenarnya aku pingin berjilbab. tapi aku mau memperbaiki diri dulu, biar jadi cewek yang pantes pakai jilbab"  jelasnya panjang lebar.

Sahabatnya tersenyum. digenggamnya tangannya.

"tapi kamu tahu kan, kalau perintah berjilbab itu wajib?" tanya temannya "berjilbab gak nunggu kamu udah jadi baik. tapi jika kamu seorang muslimah,maka kamu harus berjilbab. ini perintahNya, sama seperti perintah sholat. kalau kamu muslim, maka kamu harus sholat" terang temannya

ia terdiam. yah, aku tahu, itulah kenapa aku gusar, karena aku tahu ini perintah wajib dan aku harus segera menjawab perintah ini, tak bisa di tunda-tunda lagi. 

"aku cuma takut gak bisa mempertahankannya, bukan hanya jilbab tapi semuanya. berakhlak selayaknya muslimah yang sesungguhnya, menjaga ibadah dan ketaatan padaNya, aku rasa prinsip ini masih terlalu berbeda dengan gaya hidupku selama ini. aku takut gak bisa, takut menyerah" jawabnya lagi

"kamu tahu, surga itu dibuka untuk semua yang mau berlomba mendapatkannya, tak peduli bagaimana latar belakang mereka. entah dia berasal dari lingkungan yang agamis, atau liberal, masing-masing telah diberi kesempatan. hanya maukah kita menjemput dan memperjuangkannya" sahabatnya kembali menguatkannya. ia terdiam mendengar penjelasan sahabatnya. 

gadis cantik berjilbab itupun kembali melanjutkan, "berjilbab bukan akhir, tapi awal berproses menuju akhir yang lebih baik. dengan berjilbab bukan berarti kamu sudah baik, tapi berjilbab berarti kita mulai memperbaiki diri, mensholehahkan diri. karena proses perbaikan diri ini tidak singkat. ia adalah proses yang terus berlanjut selama kita hidup". 

ia menunduk "kamu benar" ucapnya lirih

"percaya deh, aku juga sedang berproses kok. karena kitapun tidak pernah tahu kapan hidup kita akan berakhir. bisa jadi kamu menunda berjilbab hingga lulus SMA nanti, namun ternyata takdir Allah mengatakan kamu akan meninggal besok pagi" tambah sahabatnya.

"heeey....!!! don't scare me like that" potongnya

"hahaha,, enggak gitu maksudnya. tapi benar kan? bisakah kamu jamin kalau kamu masih diberikan kesempatan kedua lain kali?"

"yeah...,, you're right" ucapnya kemudian



"semoga keputusan berjilbab ini menjadi ikrar bahwa kita siap mulai berbenah diri untukNya hingga akhirnya jilbab ini akan menjadi penjaga saat diri ingin menyerah dan lari dariNya" ucap sahabatnya sembari bersiap beranjak

 "karena bukan menutup rambut saja point pentingnya, tapi menutup diri dari segala kemungkaran dan menjaga hati dan keimanan para penggunanya. karena yang kita harap semata-mata ridhoNya.. semangat yah,, aku dukung selalu pokoknya"

ia tersenyum memandang sahabatnya itu. Sosok gadis cantik yang nampak semakin cantik dengan jilbab lebar menjuntai di tubuhnya. karena kecantikan bukan semata dari wajah rupawan, tapi hati jelita yang taat pada TuhanNya yang akan memancarkan cahaya di wajah mereka. kembali ia hayati nasehat sahabatnya itu. tekatnya semakin kuat. ia harus segera berubah. ia ingin menjadi hambaNya yang seutuhnya taat padaNya. 

Akan segera kusampaikan pada mereka,batinnya. ingatanya kembali pada deretan kalimat dari buku yang dipinjamkan sahabatnya :

Dengan berjilbab, seorang wanita mendapat dua pahala, pahala pertama karena ia telah taat menjalankan perintah Rabb-nya, pahala kedua karena ia mencegah orang lain berdosa, akibat melihat yang bukan haknya.

  

(To be Continued *insyaaAllah)






Rabu, 02 Oktober 2013

Hubungan Maksiat dan Musibah

Memang ada hubungannya antara melakukan maksiat dengan mendapatkan musibah?

YA, ADA. Subhanallah...,, ingatkah kamu cerita tentang umat terdahulu kawan? maksudnya kaum para nabi terdahulu. misal kaum sodom, kaumnya nabi Luth 'Alaihissalam, yang melakukan dosa keji berupa perilaku menyimpang  homoseksual. Bagaimanakah akhirnya nasib mereka? ya, mereka binasa karena azab yang dikirimkan Allah berupa hujan batu.

Contoh selanjutnya kaum nabi Nuh 'Alaihissalam, yang tenggelam dalam banjir besar karena kesombongannya mengacuhkan nabi sang pembawa risalah yang hadir di tengah-tengah mereka. Padahal tak kurang kesabaran Nuh dalam mendakwahi mereka, 950 tahun ia habiskan waktu menyeru kaumnya.

kaumnya berkata pada Nuh:

”Kami tidak melihat kamu dan pengikutmu lebih utama dibandingkan kami. Dalam hal kepintaran, kefasihan, keluasaan wawasan, dalam hal menentukan yang membawa maslahat, dan pengetahuan tentang pridiksi masa depan. Kami mengira kalian adalah para pembohong!” (Yunus: 27).

dan begitulah, banjir bandang datang, gulungan dasyat ombak, petir yang suaranya memekakkan telinga datang melumatkan mereka. 

Tiap kemaksiatan dan keingkaran yang dilakukan kepada Allah akan menimbulkan diturunkannya azab. Lantas bagaimana dengan kondisi kita sekarang?

apakah mungkin karena selama ini tak pernah terjadi musibah luar biasa seperti yang dicontohkan diatas pada kita, berarti kita bukan termasuk hambaNya yang durhaka? apakah karena selama ini kita merasa hidup tentram dan sejahtera berarti siksa Allah jauh dari diri kita?

hmmm...,, bisa jadi,, tapi ada baiknya jangan terlalu kePede-an. Rasulullah Sallahu'alaihi wasalam pernah bersabda dalam hadist riwayat Ahmad:

"Jika engkau dapati Allah Azza wa Jalla memberikan limpahan kekayaan kepada seorang hamba padahal hamba itu tetap berada di dalam kemaksiatan, maka tak lain hal itu merupakan penundaan tindakan dari Nya" (HR Ahmad)


Selanjutnya beliau (Rasulullah saw) membaca ayat yang artinya :
 "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (QS Al-An'aam : 44)


So, Beware!
bisa jadi Allah hanya menunda azab-azabNya, atau bahkan seringnya sebagian azab itu telah diberikan namun kita kurang peka dan tidak menyadarinya.

Ibnul Qayyim Al-Jauziah dalam bukunya "Aatsaarul Ma'ashi wa Adhraaruha" (akibat berbuat maksiat) merumuskan terdapat 26 pengaruh dan bahaya maksiat yang dapat langsung dirasakan oleh tiap diri manusia, (karena terlalu panjang, mungkin disambung ke postingan selanjutnya aja yak ^^)

1. Maksiat bisa menghalangi Ilmu pengetahuan,
Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Namun, kemaksiatan dalam hati dapat menghalangi dan memadamkan cahaya tersebut. Ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi'i yang luar biasa, beliau (Imam Malik) berkata, "Aku melihat Allah telah menyiratkan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.
Nah, saat belajar terasa berat, padahal udah melototin buku or jurnal sampe berjam-jam namun tak sedikitpun ada yang nyangkut di otak, maka curigalah! mungkin ini diakibatkan dari maksiat yang kita lakukan (Istighfar yuk sob...!!!)

2. Maksiat Akan Menghalangi Rizki 
Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rizki. Maka meninggalkannya berarti menimbulkan kefakiran. "Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya" (HR. Ahmad)

3. Maksiat Akan Menimbulkan Jarak Dengan Allah

Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, "Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah (perbuatan dosa itu). Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa diatas dosa." 
Saya pernah baca suatu artikel yang menerangkan seperti ini (kurang lebih), 

Hati itu ibarat wadah yang bisa diisi dengan manisnya cairan ketakwaan serta pahit dan busuknya cairan dosa.  ketika kita melakukan maksiat, maka ibaratnya kita sedang menuangkan cairan pahit nan busuk pada wadah tersebut. meskipun volumenya sedikit, jika ia terus dilakukan atau dialirkan, maka meskipun dalam saat yang sama kita juga mengisi sang wadah dengan cairan manis ibadah, tetap saja rasa cairan yang dihasilkan di wadah menjadi tidak sedap, tidak karu-karuan, tidak terasa manisnya.
Sama dengan orang yang beribadah namun maksiatnya masih rutin dilakukan, ia takkan bisa merasakan manisnya bermunajat dan beribadah kepada Allah. karena ibadahnya telah terkotori oleh maksiat yang dia lakukan. Dan inilah sodara-sodara salah satu wujud azab itu, azab yang langsung diterima karena melakukan perbuatan maksiat. 



terus gimana dong??

maka yang harus dilakukan adalah membersihkan wadah tersebut dari cairan busuk kemaksiatan, sehingga ibadah kan terasa manfaatnya dalam diri kita. Maka ikutilah suatu dosa dengan perbuatan baik sesudahnya, untuk menghapus dosa tersebut.

Dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik tersebut akan menghapus perbuatan buruknya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik” (HR. Tirmidzi dan beliau berkata : “Hadits hasan”, dalam manuskrip lain : “Hadits hasan shahih”)

4. Maksiat Akan Menjauhkan Pelakunya dengan Orang Lain
Maksiat menjauhkan pelakunya dari orang lain, terutama dari golongan yang baik. Semakin berat tekanannya, maka semakin jauh pula jaraknya hingga berbagai manfaat dari orang yang baik terhalangi. Kesunyian dan kegersangan ini semakin menguat hingga berpengaruh pada hubungan dengan keluarga, anak-anak dan hati nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, "Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku." 

5. Maksiat Akan Menyulitkan Urusan 
Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka pelaku maksiat akan menghadapi kesulitan dalam menghadapi segala urusannya. Maksiat Menggelapkan Hati Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gulita. 
Ibnu Abbas ra berkata, "Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rizki dan kebencian makhluk."


Demikianlah kawan, sedikit contoh dari akibat perbuatan maksiat. insyaaallah dilanjut lagi, yuk sama-sama berbenah diri. karena manusia emang tempatnya salah dan lupa, tapi bukan berarti kita harus selalu berada dalam kesalahan dan kelupaan kan? (hehe)

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziah mengatakan, bahwa orang-orang bodoh mengandalkan rahmat dan ampunan Allah swt sehingga mereka mengabaikan perintah dan larangan-Nya serta lupa dengan azab-Nya yang pedih dan tak mungkin dicegah. Barangsiapa yang mengandalkan ampunanNya tetapi tetap berbuat dosa, dia sama dengan orang-orang yang membangkang. 

hmmm,,, memang rahmat dan ampunan Allah itu lebih luas dibandingkan Azab dan siksaNya, namun bukan berarti kita jadi hamba yang gak tau diri kan?
semoga selalu terpatri dalam ingatan kita masing-masing (saya khususnya) kalau semua yang kita perbuat ini akan dimintai pertanggung jawabannya. so, let's give our best effort for Allah!

untuk menutup postingan kali ini, yuk kita hayati lagi sabda Rasulullah yang satu ini:

"Wahai segenap Muhajirin, ada lima hal yang membuat aku berlindung kepada Allah swt dan aku berharap kalian tidak mendapatkannya. 

Pertama, tidaklah perbuatan zina tampak pada suatu kaum sehingga mereka akan tertimpa bencana wabah dan penyakit yang tidak pernah ditimpakan kepada orang-orang sebelum mereka. 

Kedua, tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka akan tertimpa paceklik, masalah ekonomi dan kedurjanaan penguasa. 

Ketiga, tidaklah suatu kaum menolak membayar zakat melainkan mereka akam mengalami kemarau panjang. Sekiranya tidak karena binatang, niscaya mereka tidak akan diberi hujan. 

Keempat, tidaklah suatu kaum melakukan tipuan (ingkar janji) melainkan akan Allah swt utus kepada mereka musuh yang akan mengambil sebagian yang mereka miliki. 

Kelima, tidaklah para imam (pemimpin) mereka meninggalkan (tidak mengamalkan Al-Qur'an) melainkan akan Allah swt jadikan permusuhan antar mereka." (HR. Ibnu Majah)